Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Hari ini...


__ADS_3

"Ra, kalau lembut gini kamu terlihat sangat cantik. Berbeda kalau kamu dingin dan jutek seperti biasa." sekretaris Dika mencoba menghibur Tira.


"Ah, kamu. Gak mempan aku dibujuk rayu seperti itu. Tuan Rangga sudah sering merayuku dengan kata-kata manisnya." ucap sekretaris Dika.


"Memang Tuan Rangga sangat membekas ya di hati kamu? Sampe kamu gak mempan aku rayu." ucap sekretaris Dika.


"Enggak kok, bukannya begitu," Tira merasa tak enak.


"Gak apa-apa kok, gak usah merasa gak enak kayak gitu." ucap sekretaris Dika.


"Ah, i-iya, syukurlah." Tira kikuk.


Ia meneruskan memakan baksonya. Ia lupa, kalau dirinya sedang bersama sekretaris Dika, kenapa pula ia harus membahas Rangga dihadapannya. Tira jadi tak enak, entah kenapa dirinya kini jadi selalu teringat pada Rangga. Memang, setelah tiada seseorang itu akan sangat membekas di hati. Sekretaris Dika menatap Tira yang sedang makan bakso, ada cipratan kuah bakso yang menempel di pipinya, sekretaris Dika sangat terganggu akan hal itu.


"Ra, Tira?" ucap sekretaris Dika.


"I-iya, apa?"


"Maaf, itu di pipimu ..." sekretaris Dika mengelap pipi Tira yang terkena cipratan bakso.


"Ehm, maaf, makasih." Tira gugup.


"Ya, kamu makan baksonya santai aja dong Ra, sampe belepotan gitu!" sekretaris Dika tertawa.


"Enak sih baksonya, aku terlalu menikmati, sampe gak sadar kalau kuahnya kena pipiku." Tira malu.


"Benar kan apa kataku, baksonya walaupun dipinggir jalan seperti ini, rasanya tetap enak, Ra." seru sekretaris Dika.


"Bener kamu, Dik."


Tiba-tiba, Ibu Arini dan Nadya datang menghampiri Tira dan sekretaris Dika yang sedang makan bakso.


"Sekretaris Dika, neng Tira!" sapa Ibu Arini.


Sekretaris Dika dan Tira berbalik bersamaan melihat mereka.


"Eh, Ibuk. Kok Ibu bisa ada disini, Buk? Duduk dulu, Buk." sekretaris Dika menggeser duduknya.


"Hay, Nad. Abis dari mana? Kebetulan kita ketemu disini." ucap Tira.


"Iya, Ra. Aku abis antar Ibuk Arin beli pakaian bayi, untuk bayi Arin nanti." jawab Nadya.


"Buk, kenapa Ibuk gak telepon Dika aja? Kan Dika udah bilang, kalau Ibu mau kemana-mana, bilang Nona Arini saja, biar nanti Dika yang antar dan jemput." ucap sekretaris Dika.


"Aduh, gak apa-apa Nak Dika, Ibuk sambil mau jalan-jalan sama Nadya, mumpung toko ada beberapa pelayan. Tanpa di telepon juga kebetulan kan ketemu disini," Ibu Arini tersenyum.


"Iya juga sih, Buk. Ya udah, Dika antar pulang ya, Dika bawa mobil Bos Davian kok. Kebetulan, kita udah selesai makan baksonya. Kita pulang bareng saja." ucap sekretaris Dika.


"Iya, Nak Dika, antar Ibu pulang saja ya, soalnya angkutan umum sudah jarang terlihat kalau sore begini." ucap Ibu Arini.


"Oke, Buk. Ra, gak apa-apa kan? Kita antar Ibu sama Nadya dulu?" ucap sekretaris Dika.

__ADS_1


"Iya, gak apa-apa kok, Dik. Dengan senang hati, kita antar Ibu dulu aja." Tira tersenyum.


"Buk, apa mau Dika bungkus kan baso? Buat Alif sama Mita, siapa tahu mereka pengen bakso." ucap sekretaris Dika.


"Oh, boleh Nak Dika, mereka memang suka Bakso. Tapi, apa kamu gak keberatan membelikan untuk anak-anak?" Ibu Arini merasa tak enak.


"Enggak, Bu. Dengan senang hati Dika membelikannya, karena uang yang Dika miliki juga berasal dari menantu Ibu kan, hehe." sekretaris Dika tersenyum.


"Terima kasih, Nak Dika."


Ternyata, Pak Dika itu selain tampan, dia juga baik hati dan pengertian ... Batin Nadya.


Dik, ternyata kamu sangat baik dan perhatian ya ... Batin Tira.


Sekretaris Dika memesan beberapa bungkus baso, sekaligus membayar baksonya dengan Tira tadi. Setelah selesai, sekretaris Dika mengambil mobil di parkiran taman kota, dan mereka pulang bersama. Tira duduk di depan, Ibu Arini dan Nadya duduk di belakang.


Sekretaris Dika melajukan mobilnya menuju rumah Ibu Arini. Sepanjang perjalanan mereka berbincang bersama, sesekali mereka tertawa silih berganti membahas topik mengenai Arini dan kelahiran bayinya.


"Makasih ya Nak Dika, udah mau antar Ibu pulang," seru Ibu Arini.


"Ya, sama-sama Buk, udah seharusnya Dika anterin Ibu." jawab Dika.


"Iya, kamu memang anak baik. Waktu itu juga kamu Nganterin Nadya ke rumahnya kan? Ibu kira, kamu tak akan peduli pada Nadya, ternyata kamu sangat peduli padanya. Orang tua Nadya sangat berterima kasih pada kamu, karena telah mengantar Nadya pulang. Katanya titip salam dari mereka buat kamu, Dik. Waktu itu, Mamah Nadya sempat datang ke minimarket, jadi kita berbincang." jelas Ibu Arini.


Wajah sekretaris Dika memerah, ia tak enak pada Tira, karena ternyata dirinya pernah mengantar Nadya pulang. Namun, Tita terlihat biasa saja. Ia tak merasa kesal ataupun bagaimana, ia hanya tersenyum mendengarkan ucapan Ibunya Arini.


"Ah, Ibu ... Nad malu, ngapain dibicarain, kan itu udah lalu." ucap Nadya.


Dua puluh menit berlalu, akhirnya sekretaris Dika sampai di rumah Ibu Arini. Ibu Arini berpamitan pada sekretaris Dika dan Tira. Ia sangat berterima kasih, karena sekretaris Dika mau mengantarnya pulang.


"Makasih ya, Dik sudah antar Ibu dan Nadya." ucap Ibu Arini.


"Sama-sama, Bu."


"Neng Tira, katakan pada Arin, jaga kesehatan, jangan terlalu capek, jangan terlalu banyak aktifitas, karena perutnya sekarang pasti sudah besar. Katanya padanya, salam dari Ibu, nanti Ibuk akan menemuinya. Sekali lagi, makasih ya kalian mau mengantar Ibu." ucap Ibu Arini.


"Ya, Buk. Pasti Tira sampaikan pada Nona." Tira tersenyum.


"Tira, Pak Dika, makasih ya, kami duluan." Nadya tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Dika dan Tira.


Aku malu. Ibuk Arin kenapa sih harus ngasih tahu sama Pak Dika kalau Mamah aku bilang makasih sama ngucapin salam buat dia? Aduh, aku malu banget kan jadinya. Batin Nadya.


Sekretaris Dika melajukan mobilnya menuju ke rumah, karena Tira sudah tak ingin jalan-jalan lagi, karena waktu pun sudah malam. Akhirnya, mereka segera bergegas pulang. Didalam perjalanan pulang, sekretaris Dika merasa gugup dan tak enak pada Tira, mereka pun diam membisu tanpa kata.


...🍂🍂🍂...


Kamar Arini dan Dan Davian.


Arini merasa tubuhnya sangat tak enak. Kakinya pegal, ulu hatinya pun sangat sakit. Baby dalam perutnya sangatlah aktif. Davian yang melihat Arini merasa sangat kasihan pada istrinya itu. Sebagai suami siaga, ia segera memijat Kaki Arini yang pegal-pegal. Davian melakukannya dengan sepenuh hati.


"Mas, lihat, baby kita gerak-gerak. Aduh, linu sekali kulit perutku ini." ucap Arini.

__ADS_1


"Oh benar sekali sayang. Aku bisa melihatnya meliuk-liuk di tubuhmu." ucap Davian.


"Dia sedang bermain didalam. Mas, coba sapa bayi kita. Mungkin saja dia ingin mendengar suara Ayahnya." ucap Arini.


Davian sangat antusias pada bayinya. Ia mendekatkan kepalanya ke perut Arini. Ia mengusap lembut perut yang buncit itu. Sesekali, bayinya bergerak lagi, entah bagian tubuh mana, namun sepertinya itu gerakan kaki sang bayi.


"Halo, baby. Ini Daddy-mu, Daddy senang, kamu sangat aktif didalam sana. Kamu bahagia, Nak? Kamu pasti bayi yang sehat dan lincah. Daddy sangat menyayangi kamu, sayang. Semoga, kita cepat bertemu yaa. Daddy ingin memelukmu dan mencium mu. Baby sayang, apakah kamu bisa memelankan gerakan mu? Jangan terlalu keras menendangnya ya, kasihan Mommy-mu. Dia pasti sangat kesakitan. Nanti, kalau kamu sudah diluar perut Mommy, kita menendang bola bersama, kita bermain bersama. Sekarang, pelankan tendangannya ya sayang," Davian mendekatkan kepalanya sangat dekat pada perut Arini, dan ia pun mengusap dengan lembut perut istrinya itu.


"Geli, Mas." Arini kegelian.


Tiba-tiba, Buuggghhhhh. Baby Davian menendang kepala Davian yang menempel di perut Arini. Tendangannya membuat Davian kaget, karena sangat kencang dan keras sekali. Arini sampai mengaduh kesakitan.


"Aduh, sakit dong sayang." Arini mengaduh.


"Ya ampun, sayang. Aku kaget sekali. Ternyata baby kita sangat kuat. Tendangannya benar-benar keras. Aku bisa merasakannya. Dia menendang tepat di pipiku yang menempel." Davian pun kaget.


"Nah, setiap hari itu begini Mas. Anak kita memang sangat aktif, ulu hati ku sering sekali sakit." jawab Arini.


"Mungkin, baby kita protes kali ya? Tadi, aku menasihatinya, mungkin dia tak suka aku menasihatinya. Maafkan Daddy ya sayang, Daddy sangat mencintai kamu, percayalah, hanya kamu yang Daddy sayang. Jangan marah lagi ya, cup-cup, Daddy sangat menyayangi kamu." Davian mengelus-elus perut Arini lagi.


"Makanya, hati-hati Mas kalau bicara, baby kita sangat sensitif. Sama sepertimu!" ucap Arini.


"Tuh kan, kamu nyalahin aku terus. Kalo jeleknya aja, dibilang mirip sama aku. Kalau bagusnya, baru kamu bilang mirip kamu terus!" Davian cemberut.


"Eh, Mas ngambek ya? Jangan ngambek dong. Nanti tampannya hilang." Arini menggoda Davian.


"Ganteng ku gak akan hilang. Kodrat ku sejak lahir, adalah menjadi lelaki tampan. Mau aku ngambek, mau enggak, aku tetap tampan!" Davian mulai lagi.


"Cih, selalu saja si narsis itu datang tak tahu waktu." Arini geleng-geleng kepala.


"Yang, kalau kita bermain, apa baby akan marah?" tanya Davian.


"Ya iya lah. Kamu hanya menasehatinya saja, dia sudah kesal dan menendang mu. Bagaimana kalau kamu meminta jatah? Dia pasti sangat terganggu. Jadi, kamu mau mengganggu anakku? Iya?" tantang Arini.


"Eh, begitu ya? Jadi, Baby didalam perut kita, akan tak nyaman ya?" Davian garuk-garuk kepala.


"Tentu saja. Apa Mas gak kasihan sama bayi kita?" Arini ingin sekali tertawa, namun ia tahan.


"Ah, tidak tidak. Ayo, kita tidur saja. Aku akan memeluk kamu dan bayi kita. Aku tak mau mengganggunya. Sini, sini. Daddu Dav peluk kalian berdua." Davian memegang tubuh Arini, lalu merebahkannya di ranjang, mereka pun tidur berpelukan.


"Hangat, Mas. Tanganmu sangat hangat." Arini memegang tangan Davian.


"Selamat tidur ya, istriku dan anakku..." Davian mulai memejamkan matanya.


Xixixi, aku selamat. Baby, tendangan mu membuat Daddy-mu tak jadi melancarkan serangannya. Sering-sering menendang ya, biar Daddy-mu takut melakukan hal itu. Arini bahagia, karena Davian mudah sekali di bohongi.


*Bersambung*



__ADS_1


__ADS_2