
Bagaimana ini? Aku tak mungkin bisa pergi, tanpa seizin Tuan Davian. Tuan, tolong aku, kumohon tolong aku. Bagaimana aku bisa menolak permintaan Tuan Rangga? Dia terus memaksaku, dia tetap tak memberiku celah untuk menolak.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa!" tolak Arini halus
"Pasti karena Davian ya?" tanya Rangga
"Tentu saja, Tuan. Aku tak mungkin pergi, kalau suamiku tak mengizinkannya." ucap Arini
"Aku akan telepon Davian, agar mengizinkanmu pergi."
"Tuan, saya yakin Tuan Davian tak akan mengizinkannya. Saya sudah pernah seperti ini waktu itu."
"Rin, ayolah. Jangan seperti ini. Apa gue harus maksa lu?"
"Kita bisa salng berbincang di rumah ini, tanpa harus bepergian kan Tuan?"
"Kamu bener-bener nolak aku, Rin?" Rangga menaikkan suaranya
"Tuan, aku minta maaf. Jangan seperti ini. Aku bukannya tak mau, tapi tuan tahu sendiri kan, kalau Tuan Davian it...."
"Aarrrhhhhhhhh, ttoo..loonnggg..."
Rangga membekap Arini membawanya menuju gudang rumah Davian. Arini berteriak minta tolong, tapi bekapan Rangga terlalu kuat, sehingga suara Arini tak terdengar oleh siapapun.
***
Davian telah selesai meeting dengan kliennya. Kini, ia sedang bersantai di ruang kerjanya. Davian teringat akan memori card kecil yang ia bawa di saku depannya. Davian membuka memori tersebut. Ia tergelitik ingin segera membukanya.
Davina mendekatkan laptop yang berada di mejanya. Ia mengambil card reader dari laci meja kerjanya. Sejujurnya, Davian tak tahu mengenai perilaku Arini selama di kamarnya, namun karena Arini telah jujur, Davian jadi tertarik ingin membuka kartu memori ini.
Dimasukannya card reader itu kedalam laptop Davian. Ia segera mengecek tanggal yang berdekatan dengan waktu Arini mulai tidur di kamarnya.
Di klik beberapa rekaman. Mulai dari Arini berbicara sendiri di ranjang Davian. Davian memutar video itu. Davian tertawa sendiri melihat wajah kesal Arini. CCTV Davian sangat canggih, videonya ada suaranya. Davian ingin mendengarkan apa yang Arini ucapkan.
Suara Arini dalam camera CCTV Davian.
__ADS_1
"Kamar segede ini, dia tidur sendiri? Apa dia nggak takut yaa? Ah, mungkin saja dia memang takut, makanya terus-terusan maksa aku untuk tidur dengannya."
"Kenapa sih Tuan Davian itu menyebalkan? Coba saja kalau dia lebih ramah dan baik, mungkin dia sudah jadi paket lengkap deh. Sudah ganteng, gagah, berwibawa, coba saja kalau ramah, dia pasti terlihat sempurna."
"Memang, tuan Davian itu sangat tampan. Siapapun pasti jatuh cinta pada Tuan, termasuk aku. Ehhh, keceplosan! Di kamar ini gak ada kamera kan ya? Aku lihat sih gak ada. Gak akan ada yang tahu, kalau aku bilang jatuh cinta sama Tuan Davian.Tapi, aku sudah janji pada diriku sendiri, aku tak akan kalah dengannya, aku akan buktikan, bahwa dia yang akan tergila-gila padaku! Aku juga cantik kok! Hai cermin, aku cantik kan? Aku pantas disukai oleh Tuan! Ehh, kenapa aku jadi ngomong gini sih? Malu-maluin aja! Shhhhtt, udah deh, jangan ngomongin Tuan Davian terus. Entar dia geer lagi."
Davian tertawa terbahak-bahak, ia sangat bahagia, Arini ternyata jatuh cinta pada ketampanannya. Arini hanya jual mahal saja padanya. Tak henti-hentinya, Davian menatap layar monitornya. Tanpa sadar, ia mengusap-usap layar monitor laptopnya yang sedang memperlihatkan video cantiknya wajah Arini.
"Wanita pembangkang ini, ternyata lucu juga! Gue jadi kangen sama dia."
Heh? Gue ngomong apa barusan? Kenapa kata kangen malah keluar dari mulut gue! Gak mungkin, gue kangen sama Arini. Ada juga si Arini kali yang kangen sama gue. Iye kan Rin? Batin Davian.
Davian melanjutkan membuka folder demi folder. Ada satu hal yang membuat Davian tergelitik lagi. Video yang memperlihatkan Arini keluar dari kamar mandi. Davian tertarik dengan video itu.
Davian melihat di sekitar ruangannya. Davian berjalan menuju pintunya, ia segera mengunci pintu. Agar tak ada yang masuk keruangan nya saat ia sedang memutar video Arini.
Layar laptopnya kembali ia lihat. Perlahan, ia membuka video tersebut. Rasanya, Davian seperti sedag menonton video tak senonoh, ia sangat gugup dan sedikit takut.
Terlihat, Arini mengeringkan bagian badannya, ia mengeringkan rambut hingga kakinya. Kemudian, Arini menanggalkan handuknya perlahan-lahan, dan hanya lima detik bertahan, Davian melihat Arini tak memakai apapun.
Davian menutup laptopnya dengan cepat. Ia kaget, ia benar-benar kaget dengan apa yang ia lihat. Sungguh, baru pertama kali, melihat Arini tanpa memakai apapun. Davian mengatur nafasnya, tak terasa juniornya memberikan reaksi karena melihat video Arini.
Davian segera menarik nafas panjang, membuat dirinya rileks kembali. Ia benar-benar shock, melihat apa yang Arini lakukan di kamarnya.
"Kenapa itu, itunya Arini besar sekali? Kenapa bisa begitu? Padahal, setiap hari aku melihatnya seperti tak menonjol sebesar itu. Tapi kenapa, saat tak memakai apapun?"
Aaarrgggghhhhh,
"Kenapa gue jadi terbayang-bayang tubuhnya? Gila bener, padahal gue cuma lihat sebentar. Kurang lebih lima detik, gak lebih! Tapi, kenapa gue teringat terus?"
"Gue penasaran. Kenapa bisa sebesar itu saat di video? Kenapa saat gue perhatikan aslinya, Arini tak terlihat sebesar itu. Apa itu efek baju yang dipakainya?"
Davian berpikir. Kenapa otaknya tak bisa berpikir jernih saat ini. Yang ia pikirkan hanyalah keindahan tubuh Arini. Ia kira, video Arini ganti baju itu tak seperti itu. Ia kira, Arini masih memakai dalaman. Davian sungguh kaget dan tercengang.
"Kenapa gue gak tahan gini? Kenapa gue rasanya ingin cepat-cepat pulang saja."
__ADS_1
"Apa hari ini gue free ya? Gue harus tanya Liana, apa ada meeting lanjutan apa tidak."
Davian keluar dari ruangannya. Ia bertanya pada Liana, mengenai jadwal meeting Davian selanjutnya.
"Li, gue ada meeting atau jadwal ketemu clien lagi gak sih?" tanya Davian
"Gak ada, Pak. Hari ini jadwal Pak Davian kosong. Hanya tinggal tandatangan beberapa proposal saja." jawab Liana
"Kalau gitu, gue bisa pulang sekarang dong?"
Liana heran, tak biasanya Bosnya ingin pulang dengan cepat. Biasanya, Davian paling setia di perusahaan.
"Tentu saja, Pak. Kalau Pak Dav akan pulang, biar saya bereskan ruangan Bapak nanti." jawab Liana
"Baik, terima kasih."
Davian masuk kembali ke ruangannya. Ia masih berpikir tentang kemolekan Arini.
"Gue ngapain sih malah ingin pulang ke rumah sekarang?" Davian berbicara sendiri
"Gue ingin cek kebenaran bola dunia itu. Apa memang seperti yang ada di video, apa tidak. Tapi, bagaimana gue ngecek bola dunia Arini? Itu pasti sulit kan?"
"DAV! DAVIAN! Sadar lo! Kenapa gue malah jadi omes gini sih? Heran gue sama diri gue sendiri.Terserah lah, yang terpenting gue sekarang harus segera pulang, dan menemui istri gue, Arini yang seksi."
EHHH, kenapa gue malah bilang dia seksi sih! Otak oh otak, berfungsi lah dengan baik, jangan macam-macam!!!
Davian segera mengambil kunci mobil perusahaan, karena sekretaris Dika membawa mobilnya pergi mengantar barang pesanan klien.
Davian ingin sekali segera pulang ke rumahnya, entah karena ingin bertemu dengan Arini, apa karena sesuatu terjadi pada Arini.
*Bersambung*.
Halo, selamat malam.. Selamat membaca ya..
Semoga kalian selalu bahagia dan sehat selalu yaa💓
__ADS_1
Makasih, udah jadi pembaca setia aku. Jangan lupa like dan komentarnya, apalagi yang berkenan memberikan koin atau poinnya, aku ucapkan beribu-ribu terima kasih 😘