Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 12


__ADS_3

Hai...


Jangan lupa like dulu sebelum membaca ya 😘😘


Davian sudah memberi tahu Arini perihal kemarahan Calandra pada sekretaris Dika. Arini pun heran, karena saat Calandra masuk kedalam kamar, ia memarahi Nisha dan kesal padanya. Arini sudah setuju, untuk menanyakan hal yang sebenarnya pada Nisha. Sekretaris Dika hanya diam, ia tak banyak bicara, ia belum bisa memutuskan, karena banyak hal yang masih belum ia ketahui.


Semua sudah berkumpul di kamar tamu. Sekretaris Dika, Davian, dan Arini telah berada di satu tempat yang sama. Nisha heran, kenapa mereka semua berkumpul lagi, Nisha semakin tak enak dan merasa merepotkan mereka terus-menerus.


"Maafkan Nisha, Bu. Ibu istirahat saja. Nisha bisa pulang besok pagi." ucap Nisha.


Davian menatap Arini, "Apa perlu Calandra aku bawa kemari?"


"Jangan, dia tak tahu apa-apa. Jangan libatkan anak kita. Biarkan sekretaris Dika yang bertanya sendiri. Apa maksud dari ucapan Calandra." tegas Arini.


Nisha bingung, ia juga sedikit takut, "Ibu, ada apa? Kenapa kalian lihat Nisha seperti itu?"


"Nisha, ada hal yang harus kami tanyakan padamu. Apa kamu bersedia menjawab pertanyaan kami dengan jujur?" tanya Arini.


"Baik, Bu. Nisha bersedia." jawab Nisha.


"Kamu tadi habis dari mana? Kenapa malam-malam ada diluar? Dengan siapa? Kenapa kamu bisa keujanan? Kenapa kamu memaksakan diri berjalan disaat hujan deras? Apa kamu ada masalah?" pertanyaan Davian berbondong-bondong.


"Mas, nanya nya satu-satu. Kamu ini, bikin Nisha jadi pusing. Udah, biar aku yang nanya, Mas sama sekretaris Dika nyimak aja, cukup aku yang bertanya." tegas Arini.


"Iya, Bos. Kita dengarkan saja dulu." ucap sekretaris Dika.


"Ah, iya-iya. Baiklah." Davian mengangguk.


Nisha heran, ia tak mengerti dengan mereka semua. Nisha merasa, dirinya akan di interogasi oleh Arini dan Davian. Nisha sedikit takut, karena mereka pasti bertanya penyebab Nisha pingsan seperti ini.


"Nisha, kenapa kamu bisa seperti ini? Apa kamu ada masalah? Ceritakan sama Ibu, Nak. Ibu akan menjadi pendengar yang setia untuk kamu." ucap Arini.


"Nisha hanya sedang ada masalah dengan kekasih Nisha, Bu. Hanya masalah sepele, kok. Maafkan Nisha yang merepotkan kalian semua." ucap Nisha. oh


"Siapa kekasihmu?" tanya sekretaris Dika tiba-tiba.


DEG. Kenapa Nisha menjadi tak enak mendengar ucapan sekretaris Dika. Sekretaris Dika penasaran, siapa kekasih Nisha yang sebenarnya, karena Calandra begitu marah padanya.


"Dika, tunggu dulu. Nisha, masalah apa? Kenapa kamu sampai tak berpikir jernih, sayang? Kenapa kamu harus menyakiti dirimu sendiri?" tanya Arini.


Kenapa mereka harus bertanya siapa kekasihku, kenapa Bu Arin bertanya masalah sensitif ini padaku. Apa semua ini gara-gara Andra? Apa dia yang menyuruh kedua orang tuanya dan sekretarisnya untuk mengintrogasi ku? Tapi, apa urusannya dengan mereka? Mereka tak perlu ikut campur urusanku dengan Elang. Mereka tak berhak, mengetahuinya. Aku malu, aku malu kalau mereka tahu, aku diputuskan karena kedua orang tua Elang tak menyetujui ku. Batin Nisha.

__ADS_1


"Mm, i-itu, masalah anak muda, Bu. Aku sudah tak bisa lagi berpacaran dengannya. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya. Sudah cukup, bagi kita. Aku hanya terlalu sedih, jadi aku tak berpikir jernih tadi, maafkan aku membuat kalian khawatir." ucap Nisha.


"Apa itu masalah besar? Kenapa kamu putus dengannya?" tanya Arini.


"Nisha, katakan saja, jangan ragu. Kami akan melindungi mu." ucap Davian.


"Maaf, Bu, Pak. Itu masalah pribadi. Nisha tak bisa membicarakannya pada kalian. Maafkan Nisha." ucap Nisha.


"Tapi, apa saya boleh tahu, siapa nama kekasih Nona Nisha?" tanya sekretaris Dika yang dari tadi begitu penasaran.


Nisha bingung. Haruskah Nisha memberi tahu nama kekasihnya? Oh, tidak-tidak, Nisha kini tak punya kekasih. Nisha telah berpisah dengan Elang. Elang bukan lagi kekasih Nisha. Kenapa Pak sekretaris ini penasaran sekali? Kenapa dia ingin tahu aku berpacaran dengan siapa? Apa jangan-jangan, dia akan memukul Elang? Apa jangan-jangan, Elang akan disakiti oleh Pak Davian? Biasanya, tugas sekretaris itu kan seperti itu? Hanya menyebut nama saja mereka pasti langsung tahu dan langsung bertindak. Aduh, harus bagaimana aku? Eh, tapi, apa sepenting itukah aku di mata keluarga ini? Tak mungkin aku di spesial kan seperti itu. Batin Nisha.


"Nish, Nisha ... kenapa kamu melamun? Siapa nama mantan pacarmu itu? Apa Ibu boleh tahu?" tanya Arini dengan lembut.


Tiba-tiba, Calandra datang, ia sudah berada di depan pintu. Calandra kesal karena Nisha terlalu lama menyebutkan nama Elang. Ingin rasanya Andra membocorkan semuanya.


"Nisha, katakanlah, siapa kekasihmu itu. Perlu kamu tahu, pria yang kini sedang bersama kedua orang tuaku adalah Ayah dari kekasihmu!" tegas Calandra yang kemudian masuk kedalam kamar tamu.


DEG. Semua terdiam mendengar ucapan menggelegar yang dilontarkan oleh Calandra. Andra sudah kesal, dan tak tahan pada Nisha. Nisha pasti terluka oleh Elang, Nisha pingsan pasti penyebabnya adalah Elang. Walaupun Andra belum tahu, apa penyebab permasalahan Nisha dan Elang yang sebenarnya. Andra hanya bisa menebak bahwa Nisha sampai ujan-ujanan dan pingsan seperti ini, karena ulah Elang, sang anak dari sekretaris Dika.


"Andra. Kamu selalu membuat kita kaget. Mommy gak mau denger kamu bicara. Nisha, katakan yang sejujurnya. Apa yang dikatakan oleh Andra itu benar? Apa benar kamu terluka oleh anak dari sekretaris Dika?" tanya Arini.


"A-apa? Be-benarkah?" air mata Nisha mengalir tak tertahankan.


"E ... Elang." ucap Nisha sambil menutup wajahnya yang mulai basah karena air mata.


Elang? Elang kekasih Nona Nisha? Bukankah satu minggu kemarin dia membawa seorang wanita ke rumah. Rena namanya, kenapa sekarang dia mengaku sebagai kekasih anakku? Mungkinkah Elang mendua? Kurang ajar sekali dia, aku sudah menerima kekasihnya yang bernama Rena, dan sekarang aku mendengar gadis ini juga mengatakan bahwa dia kekasih Elang. Anak itu, semakin menjadi saja. Batin sekretaris Dika


"APA? Elang? Jadi benar, anakku telah membuatmu terluka. Kurang ajar sekali dia. Nona Nisha, sebagai orang tua Elang, saya, sekretaris Dika, mengaku salah, dan ingin meminta maaf secara tulus dari hati saya. Mohon maafkan kesalahan anak saya." sekretaris Dika menunduk.


Nisha kaget, mendengar Sekretaris Dika meminta maaf padanya. Ia jadi ragu dan bingung, apa yang dikatakan oleh Elang mengenai kedua orang tuanya yang tak menyetujui dirinya. Jika benar sekretaris Dika adalah orang tua Elang, kenapa ia sangat sopan dan baik seperti ini? Ya Allah, kenapa semuanya jadi rumit begini? Apa Elang membohongiku? Apa mungkin Orang tua Elang tak tahu aku? Kenapa hal ini sangat membuatku pusing? Batin Nisha.


"Nish, kamu diputuskan oleh Elang? Karena apa? Katakan saja, sekretaris Dika adalah Ayahnya mantan kekasihmu. Kamu tak perlu takut. Jika dia melukaimu, aku tak akan tinggal diam." tegas Calandra.


"Sekali lagi, maafkan saya, Nona Nisha. Baiklah, saya tak perlu tahu apa alasannya. Saya akan menanyakan langsung kepada Elang. Nona Nisha, saya berjanji akan membuatmu sembuh dan mengganti semua kerugian yang kamu alami. Bos, Nyonya, Saya pamit pulang sekarang. Saya benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya." ucap Sekretaris Dika.


"Minta anakmu menjelaskan semuanya! Dan bawa ia besok kehadapan Nisha agar semuanya selesai." tegas Davian.


"Baik, Bos." sekretaris Dika berlalu.


Nisha pusing, kepalnya berputar. Ia memikirkan ucapan sekretaris Dika yang hangat dan begitu tenang. Berbeda sekali dengan yang Elang katakan. Nisha menangis, air matanya tak bisa ia hentikan, ia merasa bahwa Elang membohonginya.

__ADS_1


"Ah, Nisha ... maafkan aku membuatmu begitu terluka." ucap Arini.


Davian hanya bisa merenungi hal ini. Ia menepuk pundak anak sulungnya, Davian mengerti, bahwa Calandra memang sudah mengetahui semuanya, namun Calandra ingin mengungkapkannya disaat yang tepat. Tiba-tiba, pembantu yang mengurus Livia datang menemui Arini.


"Nyonya, nyonya ... Nona Livia ingin tidur ditemani Nona, barusan ia terbangun, dan gak mau sama saya. Dia mau sama Nyonya katanya. Saya sudah membujuknya, tapi ia tak mau. Maafkan saya, Nyonya." ucap Bik Ani.


"Ah, ya ampun. Aku sampai lupa dengan gadis kecilku. Sebentar ya, Bik." Arini mendekati Nisha, "Nish, jaga kondisimu, jangan banyak pikiran, istirahatlah yang cukup. Tenangkan dirimu, biarkan laki-laki itu pergi. Kamu pasti akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya. Percayalah, Allah akan memberikan yang terbaik, untuk hambaNya yang senantiasa bersyukur dan menerima cobaan dengan ikhlas. Saya pergi ke kamar Livia dulu ya, kalau ada apa-apa panggil saja, nanti saya akan suruh Bik Lilis untuk menemani kamu." ucap Arini.


Nisha mengusap air matanya, "Makasih, Bu. Maafkan Nisha yang selalu merepotkan Ibu dan keluarga."


"Tidak apa-apa sayang, jangan banyak pikiran ya." Arini pun berlalu.


"Sayaaaaang, aku ikut ... jangan tinggalkan suami tampan mu ini." Davian pun berlalu.


Hanya tersisa Calandra seorang diri yang berada di kamar itu. Calandra menatap Nisha, lalu duduk di kursi yang tadi Arini duduki. Ia menatap Nisha dengan tatapan menyejukkan. Andra tahu, hati Nisha sakit. Andra juga tahu, Nisha butuh sandaran untuk meluapkan kesedihannya.


"Sudah, jangan sedih. Masih banyak orang yang menyayangimu, Nisha. Orang tuaku pun begitu menyayangimu. Jangan pikirkan dia yang mempermainkan mu. Ada aku, yang pasti melindungi mu. Percaya padaku, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku pasti melindungi kamu, dan menjaga kamu." Calandra tersenyum pada Nisha.


Nisha terharu dengan ucapan Andra. Namun, ia sangat terluka dengan ucapan Elang yang membohonginya.


"Calandra .... " sapa Nisha perlahan.


"Ya, Nish. Ada apa?"


"Apa sekretaris Dika tak mengenalku?" tanya Nisha tiba-tiba.


"Tentu saja tidak. Buktinya, tadi dia kaget begitu tahu bahwa kamu adalah pacar anaknya. Dia terlalu sibuk mengurus perusahaan bersama Daddy-ku. Dia tak mungkin ikut campur urusan anaknya." jelas Calandra.


Air mata Nisha jatuh lagi. Berarti benar, Elang telah membodohi nya. Ucapan Elang sama sekali tak bisa dipercaya. Sakit, terluka, merasa jadi wanita yang paling bodoh, Nisha tak menyangka hal itu bisa terjadi pada dirinya. Mencintai lelaki yang ternyata tak mencintainya.


"Nish, kenapa menangis lagi? Katakan saja padaku apa kesulitan mu. Aku akan setia mendengarmu." Calandra mencoba menenangkan Nisha.


"Elang mengatakan, kalau ia memutuskan aku, karena kedua orang tuanya tak menyetujui dia berhubungan denganku, karena aku adalah anak yang tak tahu asal-usul keluarganya. Secara kasarnya, aku adalah anak terbuang, yang tak diinginkan." Nisha menangis sesegukan, rasa sakitnya tak bisa ditahan lagi. Hanya air mata yang bisa menunjukkan rasa sedihnya.


DEG. Calandra tak menyangka Elang menyeret kedua orang tuanya untuk membohongi Nisha. Calandra sangat marah, dan kesal pada Elang. Ingin rasanya Andra memukulnya saat ini juga. Tapi, melihat Nisha yang terus menangis, membuatnya semakin tak tega. Wanita mana yang mau dibohongi oleh seseorang yang begitu dicintainya?


Calandra mendekati Nisha, dan perlahan duduk di pinggir ranjang Nisha. Andra meraih punggung Nisha, menepuknya perlahan-lahan. Hingga tangan Andra mendorong tubuh Nisha kedalam pelukannya. Nisha kini dalam pelukan Andra. Nisha bisa merasakan detak jantung Andra yang semakin memacu dengan cepat.


"Jangan sungkan. Menangis lah di pangkuanku, luapkan lah semua rasa sakit mu. Bagikan padaku kekecewaan itu. Aku sudah berjanji padamu, Nisha. Bahwa aku akan menjaga dan melindungi mu, sebagai penebus dosaku yang telah membuat hidupmu hancur. Menangis lah sepuasnya, dan tetaplah berada di pelukanku, seperti ini .... " Calandra mengusap rambut Nisha.


Maafkan aku, aku menerima pelukan ini. Aku butuh tempat untuk bersandar, aku butuh seseorang yang bisa menenangkan ku, dan menghapus rasa sedihku. Sungguh, pelukan ini begitu hangat, dan membuat aku merasa nyaman. Maafkan aku, Calandra. Batin Nisha.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2