Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Membesuk


__ADS_3

"Tuan, aku takut," Tira tak siap masuk ke rumah keluarga besar Rangga.


"Ra, please, jangan panggil aku Tuan, aku ini sekarang calon suamimu. Kamu adalah seorang calon istri pengusaha otomotif sukses di Swiss. Kamu bukan lagi pembantuku, kamu calon istriku, Ra. Aku mohon," Rangga terus memohon.


"Baiklah, maafkan aku, Bang Rangga. Aku nyaman memanggilmu dengan sebutan Abang, apa itu tidak masalah?" Tira tersenyum.


"Tentu tidak, Ra. Asalkan aku tidak mendengar sebutan Tuan lagi. Aku geli dengernya." Rangga terkekeh.


"Iya, Bang. Tapi, aku takut bertemu dengan Ayahmu," Tira menggigit bibirnya.


"Tenang saja sayang, Ayah dan Ibuku bukan orang jahat, kenapa kamu harus takut?" Rangga tersenyum.


"Aku takut dicaci maki oleh kedua orang tuamu." ucap Tira.


"Tidak akan, percayalah padaku! Ayo, kita turun. Aku gak sabar ngenalin kamu ke Ayah sama Ibu." Rangga merasa bahagia.


Mereka berdua turun dari mobil. Rangga sengaja tak membawa Keyza, karena Rangga tak mau Keyza mendengar pembicaraan orang dewasa. Rangga membawa bungkusan makanan yang diperuntukkan untuk kedua orang tuanya. Setibanya di pintu, mereka disambut oleh para pelayan Ayah Rangga.


"Selamat siang, Ayah! Selamat siang, Ibu!" sapa Rangga.


"Tepat waktu juga kamu, tahu ya kalau ini sudah dua bulan dari yang dijanjikan?" ucap Ayah Surya.


"Tentu saja. Ayah bisa melihat buktinya didepan mata Ayah!" tegas Rangga.


Tira tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Rangga dan Ayahnya. Ia hanya mencoba tersenyum pada Ayah dan Ibunya. Ibu Rangga memang tak pernah banyak bicara, namun ia selalu tersenyum. Berulang kali, Tira tersenyum pada Ibu Rangga. Ia harus terlihat ramah didepan calon mertuanya.


"Tapi, sepertinya aku tak asing dengan wajahnya. Bukankah dia pembantunya Davian?" selidik Ayah Surya.


"Memang, awalnya dia menjadi pembantu istri Davian. Lama-lama, setelah aku memutuskan mengadopsi Keyza, aku meminta Tira untuk menjadi baby sitter Keyza." ujar Rangga.


"Apa kamu hanya sandiwara saja? Apa jangan-jangan, hubungan kalian hanya kamuflase agar aku percaya? Padahal sebenarnya kamu dan dia tak ada hubungan apa-apa? Ngaku kamu!" tuduh Ayah Surya.


"Sembarangan saja Ayah kalau bicara! Tanya saja pada Tira, kalau aku benar-benar mencintainya! Akan ku nikahi dia sesegera mungkin. Karena itulah aku membawanya kesini, aku ingin mengenalkannya pada kalian, kalau aku serius padanya dan akan segera menikah dengannya." ucap Rangga mantap.


Ayah Surya menatap Tira dan Rangga, "Istriku, apa kau dengar apa kata anak bungsu kita?"


"Iya, Yah. Mungkin Rangga memang serius ingin segera menikah." ucap Ibu Rangga.


"Denger tuh Yah! Aku serius. Aku mencintai dia, walaupun dia hanya baby sitter Keyza. Aku ingin menikahinya dan menjadikan dia istriku." jelas Rangga.


"Jadi, kamu ngikutin jejaknya Davian, begitu? Kamu ikut-ikutan terjerat cinta sang pembantu juga, iya?" tanya Ayah Surya.


"Iya, Ayah. Walaupun ini takdirku, tapi tak bisa aku pungkiri, ternyata aku mengikuti jejak Davian juga, aku namai terjerat cinta sang pembantu season 2. Keren gak tuh?" Rangga tertawa.


"Bang, apaan sih!" Tira malu.


"Ngarang saja kamu, Ga. Baiklah, Ayo kita makan siang. Aku ingin berkenalan dengan wanita mu." ujar Ayah Rangga.


"Ayo, cantik. Kita makan bersama," ajak Ibu Rangga.


"Ah, i-iya makasih Nyonya," Tira keceplosan.


"Sayang, panggil Ibu saja," tegas Rangga.


"Eh, i-iya maaf." Tira malu.

__ADS_1


"Mungkin belum terbiasa ya, Nak. Tidak apa-apa." Ibu Rangga tersenyum ramah.


Mereka pun menuju ruang tamu untuk makan bersama-sama. Tira lega dan bahagia, karena kedua orang tua Rangga menyambutnya dengan baik. Hal yang Tira khawatirkan ternyata tidak terjadi. Ternyata, memang benar bahwa keluarga besar ini tidak memandang orang dari jabatan dan hartanya, sekalipun untuk calon istri, mereka tidak seperti kebanyakan orang konglomerat pada umumnya.


...🌸🌸🌸...


Davian sedang bermain bersama Keyza dan Baby Cal. Arini sedang sibuk membantu Mama Amel membungkus makanan di dapur. Tiba-tiba, Davian teringat keinginan Keyza saat Arini akan melahirkan.


"Key?" tanya Davian.


"Iya, Om? Apah?" jawabnya.


"Apa kamu masih ingin mengunjungi Daddy-mu?" tanya Davian.


"Apa Om akan membawa Key ke tempat Daddy?"


"Kalau Key mau bertemu dengannya, akan Om antar." ujar Davian.


"Key ingin bertemu dengan Daddy, tapi Key takut." ucap Keyza.


"Apa yang Key takutkan?"


"Key takut Daddy jahat ..." jawab Keyza.


"Daddy kamu sekarang baik, Key. Daddy kamu gak akan jahat sam Key, dia memang membenci Om, tapi dia tak mungkin menyakiti Key, anaknya sendiri." ujar Davian.


"Benarkah? Om, kapan bisa kita bertemu Daddy kalau begitu? Key hanya ingin bertemu saja dengannya." ucap Keyza.


"Mari, Om antar hari ini. Mumpung Ayah kamu gak ada di rumah." ucap Davian.


"Tapi, bayi Key sama siapa dong? Kasihan kalau dia ikut!" ujar Keyza.


"Ya udah kita ke Onty sekarang," ajak Keyza.


"Ayo, Key duluan, biar Om Davia gendong baby dulu."


Davian merasa, inilah saat yang tepat untuk mempertemukan Arkan dengan Keyza. Semenjak kejadian Arkan menembak dirinya, Davian sudah tak tahu lagi kabar Arkan. Davian sudah tak ingin berurusan dengan Arkan. Namun, karena Keyza ada disini, Davian jadi tak tega, jika Keyza tak bertemu Arkan lagi.


"Sayang, nasi box nya masih banyak kan?" tanya Davian.


"Masih, Mas. Memang kenapa?" tanya Arini.


"Tolong bilang ke Pak Parjo bawakan 50 pcs nasi box nya. Masukan kedalam mobil. Aku akan mengunjungi seseorang." ujar Davian.


"Mas mau kemana?" tanya Arini.


"Mau ke sel tahanan, nemuin Daddy-nya Keyza sayang." ucap Davian.


"Betul itu Aunty ..." tambah Keyza.


"Ha? Ngapain? Aduh, aduh, jangan deh. Aku khawatir, Mas. Aku takut." ucap Arini.


"Tenang aja, aku gak akan ngapa-ngapain, kok! Aku hanya ingin mempertemukannya dengan Keyza. Kasihan Keyza, sudah beberapa kali berkata ingin bertemu dengan Daddy-nya." ucap Davian.


"Iya Onty, plis ... izinkan Key dan Om bertemu dengan Daddy," Keyza memohon.

__ADS_1


Arini tak bisa berbuat banyak selain mengiyakan keinginan Keyza. Sayangnya, sekretaris Dika sedang pergi ke rumahnya untuk mengantar nasi box. Kalau saja sekretaris Dika ada di rumah ini, mungkin saja Arini sedikit lega dan meminta Dika mengantarnya.


Setelah persiapan selesai, Davian dan Keyza berangkat menuju sel tahanan tempat Arkan di penjara. Davian membawa nasi box untuk dibagikan pada penghuni sel. Kini, Davian telah memaafkan Arkan dan anak buahnya. Tak ada lagi dendam di hatinya, karena ia benar-benar sudah melupakan semuanya.


Setibanya Davian di sel, ia meminta bantuan pada beberapa orang untuk membawakan nasi box khusus untuk orang-orang yang berada di sel tahanan yang sama dengan Arkan.


"Om, tempatnya serem. Daddy Key ada disini?" tanya Keyza.


"Iya, kamu jangan nangis ya kalau bertemu dengan Daddy-mu!" pinta Davian.


"Key gak akan nangis. Key cuma mau bilang aja, Mommy udah gak ada, dan Key bahagia hidup bersama Ayah Rangga dan Om Davi." ucap Keyza.


"Bagus sayang."


Davian telah sampai di sel tempat Arkan di tahan. Di sana sudah ada Aldric dan juga yang lainnya. Arkan kaget melihat Davian dan putrinya berada di dekat sel nya. Ia segera berdiri dan menghampiri jeruji besi pembatas antara dirinya dan Keyza.


"DAV, DAVIAN ... KEY, KEYZA ... Anak Daddy, Daddy sangat merindukanmu. Davian, ku yakin kamu datang kesini untuk melepaskan aku bukan? Kau pasti akan mencabut gugatanmu bukan? Dav, aku merindukan putriku. Key, Keyza, ini Daddy, apa Key merindukan Daddy? Sayang, maafkan Daddy yang terkurung disini dan tak bisa menemui Keyza. Daddy sangat mencintaimu, maafkan Daddy ..." Arkan terisak, ia tak kuasa menahan air matanya yang jatuh.


"Silahkan habiskan seluruh hidupmu di penjara ini. Kamu pantas mendapat balasan setimpal atas perbuatanmu, Khan! Aku kesini hanya untuk membawa Keyza bertemu denganmu." tegas Davian.


"Maafkan aku, Dav. Maafkan aku. Sungguh aku menyesal. Aku ingin menata kembali hidupku dengan baik." Arkan menangis lagi.


Keyza hanya terdiam melihat sang Ayah memohon dan menangis berharap pada Davian. Tapi, tak sedikitpun Keyza terlihat sedih melihat Arkan menangis.


"Daddy, aku mau bilang, Mommy sudah gak ada. Mommy pergi ninggalin Key sendiri. Key sedih. Tapi, ternyata sekarang Key sudah bahagia bersama Om Davi dan Ayah Rangga. Key cuma ingin, Daddy sehat-sehat disini. Karena kata Om Davi, rumah Daddy sekarang disini." ucap Keyza.


"Daddy tahu, mommy pergi. Daddy menyesal sayang, sungguh maafkan Daddy. Nak, bisakah kita kembali bersama? Daddy sangat merindukanmu. Bisakah kita kembali hidup satu rumah?" Arkan terus memohon.


"Enggak Daddy. Key sudah bahagia bersama Ayah dan Bunda Key yang baru, Key bahagia sekali Daddy." Keyza tersenyum.


"Key, sudah. Kita pulang," ajak Davian.


"Iya, Key pulang dulu ya Daddy. Semoga Daddy bahagia. Key kesini karena Key merindukan Daddy. I love you, Daddy." Keyza melambaikan tangannya.


Arkan hanya bisa tertunduk lesu mendengar ucapan gadis kecil yang sangat ia cintai. Kini, hanya penyesalan yang Arkan dapatkan. Davian beranjak pergi, namun tiba-tiba, Aldric memanggilnya.


"Pak Dav, tunggu." Aldric memegang jeruji besi.


Davian menoleh, "Ada apa?"


"Tasya dimana? Aku ingin bertemu dengannya. Bisakah Pak Dav membawa Tasya kemari?" pinta Aldric memohon.


"Kamu siapa?" tanya Davian.


"Saya Aldric. Saya adalah orang yang pertama yang mengambil kesucian Tasya. Setelah dia menghilang, saya menyesali perbuatan saya, Pak. Saya ingin bertemu dengannya dan meminta maaf padanya. Saya menyesal," ucap Aldric.


"Tasya menghilang juga dari kehidupanku. Bayangkan saja oleh lelaki biadab sepertimu. Tasya sudah seperti boneka dimata kalian. Dimana hati nuranimu? Masih pantaskah kau menerima maaf darinya?"


Pak, enam tahun lagi saya keluar dari penjara ini. Saya hanya dipenjara 8 tahun. Setelah saya keluar, saya akan bertanggung jawab pada Tasya, saya akan mencarinya dan menikahinya. Saya menyesal membuat hidupnya berantakan. Kini, saya mengerti, bahwa dia begitu berarti dalam kehidupan saya, Pak." Aldric terus memohon.


"Aldric, walaupun kamu menyesal, kurasa Tasya tak mungkin bisa memaafkan dirimu. Dan aku mohon maaf, Tasya sudah menghilang dari kehidupanku. Aku tak tahu dia dimana sekarang. Jangan ungkit dia lagi. Biarkan dia hidup bebas dan menemukan kebahagiaannya." tegas Davian.


"Saya bertekad, setelah saya keluar dari penjara ini, saya akan mencari Tasya dan bertanggung jawab padanya. Saya akan meminta maaf dan bersujud di kakinya. Saya benar-benar dengan ucapan saya, Pak. Mohon jangan sembunyikan Tasya." ucap Aldric.


"Aku tak menyembunyikannya. Dia menghilang, Arkan." tegas Davian.

__ADS_1


"Baiklah. Suatu saat nanti aku pasti bisa menemukan Tasya, dan aku akan bersimpuh di hadapannya untuk menebus semua dosa-dosaku." Aldric menunduk..


*Bersambung*


__ADS_2