
Davian akan membuka pintu mobilnya. Ia akan segera masuk ke dalam rumahnya. Namun, Arini melarangnya. Arini melarang Davian untuk keluar. Arini menahan genggaman erat tangan Davian.
Davian merasa terganggu dengan pegangan tangan yang Arini lakukan. Davian tak paham isi hati wanita ini. Sejujurnya, hati Davian berdegup lebih kencang ketika Arini memegang tangannya. Dirinya tak bisa berkonsentrasi, tangan Arini sangat hangat ditubuh Davian. Davian mulao terlena dengan Arini
"Apalagi sih? Lu ini kenapa?" Davian kesal
"Tuan, ada yang nggak beres sama hati dan perasaanku. Aku mengerti Tuan marah karena hal ini. Akan kulakukan sekarang."
Arini mengecup bibir Davian. Arini bermain-main dengan lidahnya pada Davian. Davian kaget mendapat perlakuan Arini, Davian tak menyangka Arini berani menciumnya lagi. Padahal, Arini selalu cuek dan tak suka dengan pernikahan ini, namun ternyata Arini malah lebih agresif dari Davian.
Arini masih terus mencium Davian. Davian yang terangsang dengan Arini, membalas ciuman Arini dengan romantis. Entah mengapa, mulut mereka bisa berbohong, namun hati dan perasaan ingin terus bersatu padu seperti ini.
Arini tersadar. Ia melepaskan ciumannya dengan paksa. Arini benar-benar malu pada Davian, sudah dua kali Arini mencium Davian lebih dulu. Entah apa yang harus Arini katakan pada Davian, apa lagi, ciuman ini, Arini benar-benar menikmatinya.
"Maaf, Tuan. Bukankah, hal itu yang tadi Tuan inginkan?" Arini malu-malu
"Kenapa lempar batu sembunyi tangan? Elu yang mulai, elu yang nuduh gue!" ucap Davian
"Kan tadi Tuan bilang pada saya, cium gue, katanya!" ucap Arini
"Itukan tadi, ketika di cafe! Sekarang, didalam mobil. Gue udah gak mau. Eh, malah elu yang nyosor duluan! Ternyata, elu suka ditempat-tempat sepi seperti ini ya? Mau gue cium lagi? Ayo! Terlanjur gue udah kepancing nih!" Davian nakal
"Ish, Tuan. Jawab dulu! Aku sudah mencium Tuan. Sekarang, izinkan aku pergi camping minggu depan." ucap Arini
"Cium gue lagi, baru gue izinin." Davian terus saja mengerjai Arini
"Tuan, jawab dulu. Nanti, baru aku cium lagi."
"Gue izinin lu. Dan sekarang, izinin gue untuk mencium lu habis-habisan!"
"Aughh, pelan-pelan Tuan." Arini tak siap menerima ciuman Davian.
***
Makan malam kali ini, Arini dan Davian makan bersama keluarganya. Karena, Arini terlalu lelah untuk memasak. Davian memakluminya, akhirnya mereka makan bersama.
__ADS_1
Sudah hadir di sana, Mama dan Papa Davian, adik Davian Sherly dan Sheldy, serta Rangga, adik dari Tuan Dirga. Pandangan Rangga terhadap Davian dan Arini seperti tak suka. Rangga kesal, Davian dan Arini terlibat sebagai sepasang suami istri yang menunggunya
"Pengantin baru, baru pertama kali ini ya makan bareng kita! Cie, cie!" goda Sherly
"Arini kelelahan memasak, karena kita sudah jalan-jalan tadi. Aku jadi nggak tega, ya sudah, kita makan bersama saja." jawab Davian
Arini hanya tersenyum manis merespon perlakuan adik perempuan Davian tersebut.
"Dav, kenapa lu terlihat seperti mencintai Arini? Bukankah pernikahan kalian terjadi karena keterpaksaan ya?" selidik Rangga yang terlihat tidak suka pada Davian dan Arini
"Rangga, kamu gak boleh begitu! Davian menikahi Arini memang karena terpaksa, tapi sepertinya perlahan-lahan cinta itu tumbuh diantara mereka." ucap Mama Amel
"Davian tak tulus mencintai Arini, aku sudah tahu itu kak!" Rangga membela diri
"Ga, kenapa lu jadi sok tahu gitu sih? Bilang aja kalau lu cemburu karena Arini jadi istri gue. Biarpun dia dan gue memang menikah karena keterpaksaan, tapi gue mulai nyaman deket Arini. Gue mulai bahagia berada disampingnya." ucap Davian
Arini kaget. Ia menoleh Davian. Tak menyangka, didepan orang tuanya, Davian berani berkata jujur seperti itu. Arini merasa tersanjung, namun ia pun takut melihat ekspresi orang tua Davian.
"Gue gak yakin kalau kalian punya perasaan yang sama! Arini pasti tak tahan hidup dengan lo, Dav!" Rangga terus mempermainkan Davian
"Rangga hanya heran, kenapa semudah itu Davian mencintai Arini? Bukankah Davian sangat mencintai Tasya? Karyawan HRD di perusahaannya?" Rangga terus saja membuat Davian kesal
"Apa maksud lu ngomong kayak gitu sama gue? Lu cemburu sama gue gitu? Lu suka kan sama Arini? Sayangnya, gue telah lebih dulu mendapatkannya! Makanya, lu jatohin gue terus dari tadi." Davian melawan Rangga
"Sudah, cukup! Jangan diteruskan. Kenapa kalian harus ribut terus sih? Rangga, jangan ganggu rumah tangga Arini dan Davian, mereka sudah menikah dengan SAH secara hukum dan agama. Kalau pun kamu menyukainya, harusnya kamu selangkah lebih cepat dari Davian. Kamu menyukai Arini, tapi kamu diam saja." Mama Davian kesal dengan tingkah Rangga
Sherly dan Sheldy hanya melihat pertengkaran orang dewasa itu. Mereka tak mengerti seluk beluk pembicaraannya. Mereka tetap fokus makan, tak ingin ikut campur urusan orang dewasa.
Ya Tuhan, apalagi ini? Baru tadi, aku berbaikan dengan Tuan Davian. Sekarang, Tuan Rangga membuat masalah baru. Sebenarnya, Tuan Rangga ini kenapa? Aku bingung berada di rumah ini. Aku ingin kehidupanku yang normal. Kenapa mereka selalu saja membuatku masuk dalam masalahnya? Aku ini tak tahu apa-apa.Kenapa aku harus dibawa-bawa? Batin Arini
"Kakak ipar, aku beritahu pada kaka ipar ya! Aku memang kalah start oleh anak kesayangan kakak ipar itu, namun aku tak akan kalah. Mereka tak akan bertahan lama. Aku yakin, mereka akan berpisah, karena pernikahan mereka hanya sandiwara. Mereka tak akan bisa bertahan selamanya. Aku yakin. Lihat saja nanti." Rangga menatap sinis pada Davian
"Awalnya, perkataan mu memang benar. Tapi, sekarang aku tertarik dengan ucapan itu. Akan ku buktikan pada kalian terutama Rangga! Aku akan mencintai dan menyayangi Arini setulus hatiku. Juga, aku tak akan pernah membiarkannya terluka. Aku tak akan biarkan dia pergi meninggalkanku. Lu bisa pegang ucapan gue, Ga! Semoga, ucapan gue ini sedikit membuat lu paham tentang hubungan kita."
"Davian, Rangga, CUKUP!" Tuan Dirga mulai memberi peringatan
__ADS_1
"Arini, ayo kita masuk ke kamar. Biarkan dia merasakan sakitnya ucapan ku." Davian memegang tangan Arini, lalu mengajaknya ke kamar lagi.
Dengan perasaan bingung dan tak mengerti, Arini ikut Davian naim ke kamarnya. Davian terpaksa melakukan hak tersebut, karena Rangga terus saja memancingnya. Davian kesal dengan ucapan Rangga.
Di kamar, Arini duduk di ranjang Davian. Davian menggosok giginya ke kamar mandi, lalu Davian kembali lagi ke kamar Arini. Davian pun sedikit canggung terhadap Arini, Davian sadar, ucapannya tadi pada Rangga terlalu berlebihan.
Ucapan Davian, terkesan banyak bohongnya. Karena, Davian dan Arini pada kenyataannya memang melakukan pernikahan sandiwara.
"Rin, maafin gue."
"Maaf kenapa, Tuan?" tanya Arini
"Gue tersulut emosi. Rangga buat gue marah. Gue gak bisa kontrol emosi gue." ucap Davian
"Gak apa-apa, Tuan. Aku mengerti. Dalam kondisi seperti itu, kita harus bisa menang melawan lawan kita." jawab Arini
"Gue gak suka kalau Rangga terus ikut campur hubungan kita. Mau dibawa kemanapun hubungan kita, terserah gue dan elu yang menjalaninya." jelas Davian
"Tuan?"
"Hem?"
"Tapi, saya sedikit penasaran. Apa yang Tuan ucapkan tadi pada saya itu benar-benar sungguhan? Apa hanya untuk membalas perkataan tuan Rangga saja?" tanya Arini pelan-pelan
"Menurut lu gimana? Apa lu mau kalau hubungan kita terjalin seperti yang gue bilang ke Rangga tadi?"
"......."
*Bersambung*
Halo guys..
Jangan lupa LIKE dan Komentarnya ya.. Apalagi yang berkenan memberi vote sama aku. 🥰
Oh iya, sekarang aku sudah punya grup chat. Kalian bisa gabung di sana. Masuk grup chat aku ya, kita ngobrol bareng ❤❤❤
__ADS_1