
Halo sayang, budayakan LIKE sebelum membaca ya, takut kalian lupa karena keasyikan baca hehehe
makasih atas like, komen dan votenya juga 🤗🤗🤗
Perasaan canggung kian memuncak antara Arini dan Davian. Mereka tak melakukan malam pertama, karena Davian pun tak mau menghancurkan masa depan Arini. Davian sadar dirinya menikahi Arini hanya karena perusahaan.
Arini dan Davian tidur bersama di satu ranjang. Nafsu Davian kian memuncak, namun Davian menahannya, Davian tak boleh merusak masa depan Arini. Ini hanya pernikahan sandiwara, tak boleh terjadi sesuatu di antara Arini dan Davian.
Pagi hari, Davian telah bangun lebih dulu, karena Davian teringat semalam dirinya memeluk Arini saat tidur, ketika dia teringat akan hal itu, Davian kaget dan langsing membuka matanya cepat-cepat.
Davian melihat Arini yang masih tertidur pulas, Davian mendekati Arini. Arini memang pembantu yang sangat cantik, dan menawan. Ketika tidur pun dia masih tetap menggoda.
Arini, lu itu cewek nyebelin, tapi lu juga cantik! Wanita kayak lu gini, jarang ada. Entah kenapa gue bisa nyaman kalo ada didekat dia, tapi gue pun sadar, gue gak mungkin bisa bersama Arini, jalam hidup kita terlalu berbeda. Arini juga udah punya pasangan. Batin Davian dalam hati.
Davian melihat wajah cantik Arini, perlahan Davian memegang halus wajah Arini, Davian mengusap pipi Arini yang lembut. Aroma wangi rambut Arini, benar-benar membuat Davian nyaman berada didekatnya.
"Wangi vanila milk, gue suka wangi aroma rambut Arini. Benar-benar indah."
Davian mencium rambut Arini berkali-kali, Davian menyukai aroma rambut Arini. Lelaki itu entah kenapa ketika dekat dengan Arini merasa nyaman sekali. Davian tak menyadari, ternyata Arini telah bangun, perlahan Arini membuka matanya, betapa kagetnya Arini melihat Daviam sedang memegang rambutnya.
"Tuan?"
"HAH, kamu sudah bangun!" Davian melepaskan rambut Arini lalu menjauh
"Tuan sedang apa? Kenapa memegang rambut saya?" Arini bingung, ia segera duduk dari tidurnya
"Ehm, i-itu Rin, barusan gue liat ada kutu di rambut lu! Serius deh! Gue gemes banget jadinya, gue cari-cari deh kutu di rambut lo." Davian gugup, namun ia berhasil menemukan ide untuk ngeles
"HAH? Kutu? Masa sih? Sejak kapan aku berkutu?" Arini merasa jijik
"Serius, Rin. gue lihat dia jalan-jalan gitu di rambut lu. Dih, geli banget." Davian merasa lega bisa membohongi Arini
"Aish, masa sih Tuan? Terus, kutunya mana? Dapet nggak?" tanya Arini
Davian terdiam. Itu hanya akal-akalan Davian yang malu ketahuan jika sedang mencium rambut Arini, Davian tak melihat kutu sama sekali. Davian mulai gugup lagi.
"Eh, itu tadi kutunya lari kenceng banget Rin! Gue gak sempet dapetinnya, padahal gue gemes banget deh." jawab Davian
"Ya ampun, jijik banget dong rambut aku kutuan! Tuan, apa Tuan hari ini mengizinkan saya libur bekerja? Saya mau ke salon, saya mau beli obat kutu! Saya nggak tahan. Pasti nanti akan gatal-gatal." Arini menjelaskan
__ADS_1
"Ngapain beli obat kutu?" tanya Davian
"Ya buat kutu di rambut aku, Tuan! Bukannya barusan Tuan bilang, kalau aku berkutu?" tanya Arini
"Eh, iya bener. Gue lupa."
"Aku mau mandi dulu ya, Tuan. Aku akan pergi beli obat kutu, hanya sebentar kok, aku janji." ucap Arini
"Gue anterin lo." ucap Davian tiba-tiba
"Maksud Tuan?" tanya Arini
"Gue juga mau beli pomade, sekalian aja lu pergi bareng gue." jawab Davian
"Baiklah kalau begitu, Tuan."
"Jangan ge-er lu ya! Gue nggak maksud nganterin lu, cuma kebetulan aja gue juga ada perlu beli cream buat rambut gue." ucap Davian
"Iya, Tuan. Saya mengerti, saya nggak kepedean kok. Mana mungkin Tuan mau mengantar saya membeli obat kutu!" ucap Arini lalu berlalu menuju kamar mandi.
Davian yang masih duduk di ranjangnya, menyesali perbuatannya yang mencium halus rambut Arini. Untung saja, Davian bisa berbohong dengan cepat.
***
Davian membawa mobil sendiri tanpa sekretaris Dika. Davian mengajak Arini menuju salon langganan keluarganya yang telah dipilihkan oleh manager Linka. Jaraknya cukup jauh, karena salonnya berada dipusat kota.
Jakarta macet, Arini cemberut kesal melihat kemacetan yang ada. Tak biasanya Arini bermacet-macetan seperti ini, karena Arini biasanya naik ojek online.
"Tuan, apa gak ada jalan lain yang lebih cepat, gitu?" tanya Arini
"Udah gak bisa, udah kelewat. Gue kira gak macet parah kayak gini. Ternyata macet ya." ucap Davian
"Yah, pasrah deh kalau gini."
"Tenang aja, bentar lagi nyampe kok!" ucap Davian.
Setengah jam kemudian, Arini dan Davian telah sampai di salon mewah langganan keluarga Davian. Davian teringat, tujuan Arini datang ke salon ini adalah untuk membeli obat kutu.
Davian malu kalau sampai Arini mengatakan mencari obat kutu. Davian segera mencegah Arini untuk mengatakan itu pada pekerja salon.
__ADS_1
"Rin, lu gak usah beli obat kutu!" ucap Davian
"Loh, kok gitu?" tanya Arini
"Lu mending creambath sama rebonding aja. Biar rambut lu terawat, dan kutu pun pasti mati. Kalau lu beli obat kutu di salon mewah seperti ini, malu-maluin banget tahu." ucap Davian
"Nggak ah. Salon ini terlihat mewah sekali, harga perawatan rambutnya pasti mahal, uangku tak akan cukup. Aku beli obat kutu aja deh, Tuan." tolak Arini
"Eh, lu gak usah mikirin itu. Biar gue yang bayar, sekarang kan gue suami lu!" ucap Davian yang berlalu sambil bertanya pada pegawai salon untuk melakukan creambath pada rambut Arini.
"Eh, iya. Ba-baiklah, Tuan. Terima kasih." Arini tersenyum
Suami? Hahaha! Kenapa aku dengernya lucu ya? Gue yang bayar, sekarang kan gue suami lu! Tuan bilang gitu? Xixixi, ya ampun aku pengen banget ketawa kalau bukan ditempat umum. Lucu sekali ketika dia mengatakan suami padaku, rasanya seperti benar saja aku ini adalah istrinya. Batin Arini dalam hati.
Sesuai janjinya, Agar Davian tak malu pada Arini, Davian membeli beberapa pomade keluaran terbaru untuk menunjang penampilan rambutnya. Davian memilih-milih pomade yang bagus.
Sementara menunggu Arini yang sedang di creambath, Davian melihat-lihat majalah rambut wanita. Davian fokus pada penampilan model rambut wanita yang ada dalam majalah itu.
Rambut yang panjang, namun menggunakan catok untuk curly, ikal pada bagian bawah. Davian melihat pada Arini, sepertinya tipe rambut itu cocok untuk rambut Arini yang panjang.
"Mbak?" panggi Davian pada pegawai salon yang sedang mengurus rambut Arini
"Iya, Tuan?" tanya pegawai itu
"Gak usah di rebonding. Rambutnya seperti model dalam majalah ini saja. Rambutnya di curly saja." ucap Davian
"Baik, Tuan. Curly sementara apa permanen?" tanya pegawai salon
"Sementara saja. Biar gampang mengubah tatanan rambutnya lagi." jawab Davian
"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar."
Arini pasrah, ia tak menjawab ucapan Davian yang ingin mengatur-atur rambutnya. Terserah Davian saja, pikir Arini. Karena yang membayar biaya perawatan ini pun Davian.
Davian menunggu cukup lama. Setelah dirasa selesai, Arini dipersilahkan berdiri, dan rambutnya di rapi-rapi oleh pegawai tersebut. Arini terlibat lebih modis, dengan gaya rambut barunya. Arini terlihat lebih fresh untuk dilihat.
Davian melongo melihat Arini. Arini benar-benar memukai. Rambutnya yang indah, ditambah dengan gaya curly yang kekinian, membuat Arini terlihat semakin segar dan cantik. Davian benar-benar terpesona dengan Arini.
*Shit, kenapa wanita ini cantik sekali? Sampai kapan aku akan kuat menghadapinya? Aku khawatir, kalau benteng hatiku bobrok karena Arini. Itu jangan sampai terjadi, aku benar-benar tertarik dengan pembantu ini. Batin Davian dalam hati.
__ADS_1
*Bersambung