Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Merelakan...


__ADS_3

"Sayang, kira-kira, nama yang bagus untuk junior kita, apa ya?" tanya Davian ketika sedang menggendong bayinya.


"Apa Mas sudah punya nama? Aku ada sih, tapi aku masih ragu." jawab Arini.


"Katakan saja. Apa namanya? Nanti kita gabungkan dengan nama pilihanku." ujar Davian.


"Kalandra abigail," ucap Arini tiba-tiba.


Davian merenung, "Aku suka nama Kalandra, tapi nama tengahnya jangan Abigail."


"Iya sih, harusnya dua kata aja ya. Apa ya kira-kira?" tanya Arini.


"Calandra Eizzar Raharsya. Aku ingin nama besar keluargaku ada padanya. Karena dia adalah penerus keluarga besar Raharsya." jawab Davian.


"Bagus, Mas. Panggilannya apa?" tanya Arini.


"Baby Cal. Aku akan memanggilnya baby Cal," jawab Davian.


"Iya, iya. Calandra, nama yang bagus dan gagah."


"Sayang, Baby Cal sepertinya mau mimi nih. Dia sudah mencari-cari, Ayo, beri dia ASI. Aku ingin lihat, jagoan ku minum susu." ucap Davian.


"Kamu ingin lihat bayi kita minum susu, apa ingin lihat susu-ku?" tantang Arini.


"Dua-duanya sayang. Hehehee." Davian tertawa nakal.


"Kamu ya, selalu saja!" Arini geleng-geleng kepala.


"Aku kan harus puasa sayang, kalau sekedar melihat berarti itu sah-sah saja, daripada tidak sama sekali." Davian beralibi.


"Ah, kamu. Udah sana, temenin Dika yang lagi galau." ucap Arini.


"Ah, biarin aja si Dika. Semalem aja dia udah dari rumah kamu, kok!" jawab Davian.


"Hah? Dari rumah aku? Ngapain? Pantesan semalem aku gak lihat dia."


"Dia abis ngecengin temen kamu, gara-gara galau sama si Tira." Davian tertawa.

__ADS_1


"Nadya maksud kamu?" Arini terlihat tak suka.


"Iya, siapa lagi." jawab Davian enteng.


Arini mendelik, "Aku gak mau ya, kalau sekretaris Dika menjadikan Nadya pelampiasannya. Aku gak akan setujui hubungan mereka!"


"Loh, sayang ... Itu urusan mereka, kita gak usah ikut campur. Biarkan aja mereka. Toh, Nadya juga sudah dewasa kan? Dia pasti bisa menjaga dirinya. Kalau si Dika main-main, Nadya juga pasti gak akan mau." ucap Davian.


"Pokoknya, kalau sampai Dika deketin Nadya untuk melampiaskan kesedihannya, karena Tira kembali ke Bang Rangga, aku gak akan segan-segan motong gaji dia, 30%. Aku gak mau Dika manfaatin Nadya aja!" ujar Arini.


"Iya, iya sayang. Nanti aku kasih tahu si kampret Dika." jawab Davian.


...🍂🍂🍂...


Taman Rumah Davian.


Sekretaris Dika sedang tak ada kerjaan saat ini. Davian masih cuti, ia belum mulai bekerja karena ingin menemani Arini sampai beberapa hari kedepan. Ia bosan, lalu ia memutuskan untuk membantu Pak Parjo memotong rumput di taman belakang. Rangga melihat sekretaris Dika yang sedang memotong rumput, lalu Rangga mendekatinya.


"Dik," sapa Rangga ragu-ragu.


Sekretaris Dika menoleh, "Eh, ya Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"


"Padaku?"sekretaris Dika pun ikut duduk.


Rangga dan sekretaris Dika saling menatap satu sama lain. Rangga ingin jujur pada Dika, namun ia sangat takut kalau Dika akan marah padanya. Rangga harus bisa, meyakinkan dirinya, bahwa ia pantas untuk Tira, dan ia tak lupa harus meminta maaf pada sekretaris Dika karena telah melukai hatinya.


"Ada apa, Tuan?" tanya sekretaris Dika.


"Aku ingin minta maaf padamu," ujar Rangga.


Sekretaris Dika tek mengerti, "Minta maaf kenapa, Tuan? Saya gak paham sama sekali,"


"Aku mengambil wanita mu, Tira.. Kamu mencintainya bukan?" Rangga terdiam, lidahnya kelu.


Sekretaris Dika kaget, "Tuan tak perlu meminta maaf pada saya. Saya tak ada hubungan apa-apa dengan Tira."


"Memang, kalian tak ada hubungan apa-apa. Tapi, kamu menyukainya, bukan? Maafkan aku, yang ternyata tak bisa pergi menjauh darinya. Aku mulai mencintainya, aku takut kehilangannya. Aku ingin dia, Dik. Karena itu, aku kembali kesini untuk menemuinya. Awalnya, aku sengaja pergi meninggalkannya, aku akan membiarkan dia bersamamu. Tapi, hatiku tak kuasa menahan rindu padanya. Untuk itu, izinkan aku bersamanya. Aku tahu kamu mencintainya, karena itu, aku ingin meminta izin padamu, untuk memilikinya." ucap Rangga tulus.

__ADS_1


Sekretaris Dika kaget, ia tak menyangka kata-kata itu bisa keluar dari mulut seorang Rangga. Ia pun merasa tak enak karena Rangga telah berkata begitu. Itu sangat tak nyaman untuk sekretaris Dika, namun ucapan Rangga sangat tulus padanya dan lambat laun, Dika pasti bisa menerima semua ini. Tanpa Dika maupun Rangga ketahui, Tira mendengar ucapan itu. Ia akan memanggil Rangga, namun tak sengaja melihat mereka berdua sedang berbicara.


"Tuan Rangga, saya dan Tira tak ada apa-apa. Silahkan, jika Tuan mencintainya. Memang benar, jika saya pernah tertarik padanya. Tapi, saya rasa itu bukan karena saya mencintainya, itu hanya sebatas rasa ambisi karena awalnya saya dan Tira selalu tak akur, kami seringkali terjadi perdebatan. Karena perdebatan itu membuat kami sedikit akrab, lambat laun mungkin perasaanku berubah jadi simpati padanya. Padahal, aku tak mendekatinya, walau aku tertarik dengannya. Aku tahu, perjuangan Tuan untuk Tira sangatlah besar, Untuk itu, kapasitasku hanya sampai disini, dan aku bahagia, Tira menemukan lelaki yang sangat mencintainya. Tuan sangat pantas mendampinginya." ucap sekretaris Dika tegar.


"Dik, kamu tak menyimpan dendam padaku? Aku takut, kamu kecewa karena aku mengambil Tira." ucap Rangga.


"Tidak, Tuan Rangga. Tidak sedikitpun. Ini murni perasaan tulusku. Aku bahagia, jika Tira bersama Tuan. Aku bisa menjamin ucapanku, karena Tuan sosok yang sempurna, Tuan bisa membahagiakan Tira dengan baik. Aku percaya pada Tuan. Semoga kalian bahagia." ucap sekretaris Dika.


"Terima kasih, Dik. Walau sampai saat ini, dia belum menjawab iya, tapi aku berharap semoga secepatnya dia mau menerimaku." ujar Rangga.


"Saya yakin, Tira pasti menerima Tuan. Ketika Tuan pergi, dia sangat sedih dan kesepian. Dari sifatnya yang seperti itu, bisa aku lihat betapa dia sangat merindukan Tuan Rangga. Karena itulah, saya tak berani mendekatinya, karena saya rasa dia hanya menunggu Tuan. Walau dia terlihat cuek, tapi saya rasa, dia juga mencintai Tuan Rangga."


"Benarkah dia sedih ketika aku pergi?" Rangga merasa bahagia mendengar sekretaris Dika mengucapkan hal itu.


Tira yang mendengar bahwa dirinya dibicarakan, benar-benar memalukan, dan Tira segera menghampiri mereka berdua, agar mereka menghentikan omong kosong tentang dirinya.


"Ekhmm, ehmm, maaf mengganggu. Tuan Rangga, bisakah ikut dengan saya? Keyza memanggil Tuan, dan meminta Tuan segera ke kamarnya." ucap Tira ingin segera mengakhiri perbincangan mereka.


"Eh, begitu ya? Baiklah, aku akan segera ke sana sekarang. Dik, terima kasih atas semuanya. Aku permisi dulu," Rangga berlalu.


"Iya Tuan, silahkan." sekretaris Dika tersenyum.


Tira menatap sekretaris Dika dengan sedikit kesal, karena sekretaris Dika membeberkan rahasianya pada Rangga ketika Rangga pergi jauh ke Swiss. Sekretaris Dika sadar, sepertinya Tira mengetahui pembicaraannya dengan Rangga.


"Kebuka ya kartunya? Hehe, maaf ya Ra. Udah, jangan galak-galak, bentar lagi kamu bakal jadi pengantin, harusnya kamu bahagia." sekretaris Dika tersenyum.


"Hush, kamu! Aku gak marah. Aku cuma mau bilang, makasih ya Dik, kamu ikhlaskan perasaanmu demi aku dan Tuan Rangga. Aku minta maaf juga, karena aku mengecewakanmu." ucap Tira.


"Ra, gak usah dipikirin. Dalam hubungan itu, ada yang harus merelakan, dan ada yang harus diperjuangkan. Aku merelakan mu, karena ada Tuan Rangga yang memperjuangkanmu. Aku berhenti, karena Tuan Rangga yang memulai kembali. Aku mengerti, karena dia sangat mencintaimu. Beruntungnya, aku dan kamu belum terlalu jauh, jadi aku bisa merelakan kamu untuk Tuan Rangga. Selamat berbahagia, Tira. Jika kamu bahagia, aku pun akan mencari kebahagiaanku. Selamat menjadi calon Nona Raharsya." sekretaris Dika tersenyum tulus.


Mata Tira berkaca-kaca, ia tak menyangka sekretaris Dika akan legowo seperti ini. "Ya ampun, Dik. Aku terharu dengan ucapanmu. Terima kasih banyak, kamu adalah laki-laki yang hebat."


"Iya, iya. Sudah ya, jangan merasa bersalah terus padaku. Aku pun akan segera menemukan tambatan hatiku yang sesungguhnya. Sudah sana, calon suamimu sudah menunggu kamu." ujar sekretaris Dika.


"Ah, iya. Aku hampir lupa. Ya udah, aku pergi dulu ya, Dik. Makasih banyak atas semuanya ..." Tira berlalu,


Ya, aku merelakan kamu demi laki-laki yang sangat mencintaimu. Untungnya, perasaanku padamu belum terlalu dalam, Tira. Aku tak begitu sakit ketika Tuan Rangga kembali mengambilmu. Kamu memang pantas bersamanya, karena dia pasti bisa membahagiakanmu, baik dari segi materi, maupun dari segi moril, karena dia sudah dewasa dan sangat pantas untuk menjadi imam-mu. Doakan aku, semoga secepatnya aku bisa menemukan kebahagiaanku juga, Ra.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2