Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Diantar olehmu


__ADS_3

Acara tujuh bulanan Arini berjalan dengan baik. Kini, acara telah selesai. Semua tamu dan Ibu-ibu pengajian telah pulang. Hanya tersisa keluarga Arini dan Davian saja yang masih ada di rumah besar itu.


"Aku dan Keyza akan menginap disini malam ini." ucap Rangga tiba-tiba.


"Yeayyy, Opah kecil baik sekali." Keyza terlihat sumringah.


Arini dan Tira tersenyum melihat Keyza yang kegirangan. Sayangnya, Keyza tak mungkin bisa tidur bersama Arini, karena Davian pasti menolaknya. Namun, itu tak menjadi masalah, karena Arini dan Keyza masih bisa saing bercengkrama sebelum tidur.


Ibu Arini sedang duduk di sofa bersama Arini. Ini sudah waktunya mereka pulang, namun berat rasanya hati Arini membiarkan Ibu dan adik-adiknya pulang. Arini ingin lebih lama lagi bersama Ibu dan adiknya.


"Bu, Ibu nginep aja ya?" pinta Arini.


"Ibu harus pulang Rin, sekarang kan Ibu ngurus dua kucing di rumah. Kasihan Moly sama Loly kalo ditinggalin." ucap Ibu Arini.


"Iya Kak, kita gak bisa nginep. Soalnya, kasihan si duo lily kalau kita gak pulang, gak ada yang kasih makan!" Mita ikut berbicara.


"Sayang, biarkan saja Ibu pulang, kalau nanti kamu mau ke rumah Ibu, datanglah saja. Aku tak akan melarang, aku khawatir dengan kondisi perutmu yang semakin membesar, makanya aku takut jika kamu bepergian jauh." ucap Davian.


"Nak Davian benar, perutmu sudab besar, kamu harus banyak istirahat, jangan banyak bepergian, takutnya kamu kelelahan, Rin. Biar Ibu saja yang mengunjungi kamu kesini." ucap Ibu Arini.


"Baiklah kalau kalian memang mau pulang." Arini sedikit kecewa.


"Kakak Alif sama Kakak Mita gak nginep yah?" tanya Keyza polos.


"Enggak sayang, nanti kapan-kapan ketemu lagi sama Kakak Mita ya," Mita tersenyum.


"Ya sudah, Dika tolong antar Ibuku pulang ya. Ini sudah sore, jangan terlalu cepat mengendarai mobilnya. Pastikan mereka sampai di rumah dengan selamat dan aman." perintah Davian.


"Baik, Bos." sekretaris Dika sigap.


"Ibu, maafkan Davian tak bisa mengantar Ibu, karena Davian harus menemani Arini." ucap Davia sopan.


"Tak apa-apa Nak Davi, Ibu bangga padamu, kamu sangat mencintai Arini. Terima kasih banyak, Nak." Ibu Arini tersenyum.


Tiba-tiba, Mama Davian datang bersama dua pembantunya. Ia membawakan beberapa bungkusan untuk keluarga Arini. Mama Davian menyuruh pembantunya untuk membawakan oleh-oleh untuk keluarga Arini.


"Besan, harusnya menginap saja disini. Kalau besan tak menginap, bawa oleh-oleh ini untuk adik-adik Arini ya, saya sudah menyiapkannya. InsyaAllah, kapan-kapan saya mampir ke rumah besan kalau saya tidak sibuk." Mama Davian cipika-cipiki dengan Ibu Arini.


"Terima kasih, telah menerima kami dengan baik. Keluarga besar Davian memang baik hati dan dermawan. Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu ya," ucap Ibu Arini.


Mereka semua mengantar keluarga Arini ke parkiran. Arini melambaikan tangannya pada mereka. Orang yang sangat dirindukan oleh Arini selama ini. Orang yang selalu membuat Arini tetap semangat dalam menjalani hidup.


"Hati-hati ya," Arini melepaskan kepergian keluarganya.


Sekretaris Dika mengantar keluarga Arini pulang. Nadya duduk didepan bersama sekretaris Dika, sedangkan Ibu dan kedua adik Arini, duduk di jok belakang. Didalam mobil, sekretaris Dika terlihat serius. Ia tak banyak bicara, tak seperti biasanya. Mungkin karena sekretaris Dika tidak begitu mengenal keluarga Arini.


"Nad, kamu nginep gak malam ini?" ucap Ibu Arini.


"Enggak, Bu. Nadya mau pulang aja. Besok pagi baru ke minimarket, udah beberapa hari gak pulang soalnya. Hehe." ucap Nadya.


"Oh, yasudah. Tapi besok datang pagi ya, mobil pengangkut barang katanya datang besok." ucap Ibu Arini.


"Siap, Bu."


Setengah jam berlalu. Ibu Arini telah sampai di rumahnya. Sekretaris Dika mengantarkan mereka tepat didepan gerbang rumah baru Ibu Arini.


"Bu, Nad pulang sekarang ya, takut terlalu malam. Besok pagi pasti datang kesini." ucap Nadya.


"Baiklah, kamu gak mau bawa beberapa makanan ini dulu?" tanya Ibu Arini.

__ADS_1


"Besok saja Bu, ini udah bawa bingkisan tamu kok, hehe. Aku pulang ya, assalamualaikum." Nadya berlalu.


"Waalaikumsalam, Nad. Hati-hati."


Sekretaris Dika segera berlalu ke bagasi mobil, dan membawakan barang-barang bawaan untuk keluarga Arini.


"Bu, biar saya bantu membawakan barang bawaan tadi." ucap sekretaris Dika.


"Terima kasih, Nak Dika." jawab Ibu Arini.


Mereka semua turun, dan Dika segera membawa barang bawaannya sampai kedalam rumah keluarga Arini. Setelah selesai, sekretaris Dika kembali pulang. Ia pamit pada Ibu Arini, dan segera melajukan mobilnya kembali.


Dalam perjalanan dihari yang semakin gelap, sekretaris Dika melihat Nadya yang sedang berjalan sendirian. Karena kasihan melihat Nadya yang berjalan sendiri, sekretaris Dika menghentikan mobilnya tepat di pinggir Nadya. Nadya kaget, mobil itu berhenti lagi. Sekretaris Dika membuka kaca mobil sebelah kirinya.


"Rumah kamu dimana? Biar aku antar. Ini sudah malam." ucap sekretaris Dika.


"Dari rumah Arini yang dulu, kebawah lagi. Tidak apa-apa Pak, terima kasih. Saya biasa jalan kaki, kok." tolak Nadya dengan halus.


"Gak usah nolak, gak apa-apa. Naik aja, aku pastikan kamu sampai di rumah dengan selamat." ucap sekretaris Dika.


"Eh, ba-baiklah. Terima kasih banyak." Nadya segera naik ke mobil sekretaris Dika.


Dengan gugup dan ragu, akhirnya mereka berada didalam satu mobil bersama. Nadya gugup, karena baru kali ini ada laki-laki yang menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Sebagai wanita, pasti ada perasaan tersanjung diantar pulang oleh laki-laki, yang walaupun laki-laki itu terlihat dingin dan cuek.


"Ini rumah Arini yang dulu, kemana lagi?" tanya sekretaris Dika.


"Kebawah lagi, sekitar 1km." jawab Nadya.


"Masih lumayan jauh, kenapa mau-maunya jalan kaki." ucap sekretaris Dika.


"Saya biasa seperti ini, Pak. Karena sudah biasa, jadi terasa dekat saja." Nadya tersenyum.


Akhirnya, sekretaris Dika sampai didepan rumah Nadya. Nadya terlihat salah tingkah, karena didepan rumahnya ada Kakak laki-lakinya dan juga kedua orang tuanya. Betapa malunya kalau mereka tahu Nadya diantar okeh seorang sekretaris orang kaya.


"Pak, terima kasih." Nadya akan keluar dari mobilnya.


"Tunggu." tahan sekretaris Dika.


"Eh, ada apa Pak?" Nadya tak mengerti.


Sekretaris Dika melihat di sekitar rumah Nadya. Keluarganya melihat-lihat mobilnya. Sekretaris Dika tak mungkin tidak sopan langsung berlalu begitu saja. Ia memutuskan ikut keluar dari mobilnya.


"Ayo, keluar." perintah sekretaris Dika.


Nadya tak mengerti, kenapa sekretaris Dika mau ikut turun bersamanya. Nadya keberatan, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Dengan gugup, ia pun turun dari mobil mewah milik Davian itu.


"Selamat malam, Om dan Tante. Saya sekretaris pribadi Nona Arini, saya diintruksikan untuk mengantar Nona Nadya sampai di rumahnya." ucap sekretaris Dika.


"Oh, baiklah terima kasih Pak sekretaris. Anda sangat baik hati sekali." ucap Ibu Nadya.


"Baiklah, kalau begitu, saya permisi. Selamat malam." sekretaris Dika membungkukkan badannya.


"Pak Dika, terima kasih banyak." Nadya melambaikan tangannya.


Dika hanya menoleh, lalu kembali masuk kedalam mobilnya. Nadya malu pada keluarganya. Padahal, kejadian dirinya diantar oleh sekretaris Dika hanyalah kejadian tak terduga.


"Aduh, sekarang gebetan lu sekretaris pribadi nih!" ledek Kakak Nadya.


"Ih, aku cuma dianterin aja Bang! Sembarangan aja kalau ngomong kamu!" Nadya tak terima.

__ADS_1


"Nad, masa dia sopan sekali sama kita. Apa dia menyukaimu?" Ibu Nadya ikut bicara.


"Ya ampun, Ibu. Aku baru kenal dia tadi. Karena mereka juga mengantar Ibu dan adik-adik Arini. Bukan hanya aku!" Nadya tak terima.


"Ah, gitu aja sewot. Lumayan lu Nad, kalau dapetin sekretaris pribadi macam dia, lu bisa kecipratan kaya. Lihat tuh si Arini, mujur banget kan dia. Nasibnya bisa kayak gitu. Beruntung kalo lu bisa dapetin sekretarisnya." Kakak Nadya terkekeh lagi.


"Aaah, apaan sih Bang. Nyebelin. Tau ah, aku masuk dulu."


"Sudah, kalian jangan menggoda Nadya terus." ucap Bapak Nadya.


Nadya masuk kedalam kamarnya. Entah kenapa, ia sangat tersanjung akan perlakuan sekretaris Dika padanya. Padahal, hanya diantar saja. Itu pun tak ada pembicaraan spesial selama didalam mobil. Tak ada apapun, hanya sekedar mengantar saja. Tapi kenapa? Wajah Nadya merah merona, Nadya senang dan bahagia.


Apa aku berlebihan? Kenapa sekretaris Arini baik sekali padaku? Aduh, kenapa aku harus begini sih, baru aja ketemu kenapa aku merasa senang? Kenapa aku se-murahan ini? Ya ampun, jangan berlebihan Nadya! Lupakan! Aku gak akan ketemu dia lagi kan? Syukurlah, itu yang terakhir kalinya aku bertemu Pak Dika.


...***...


Arini sedang beristirahat di kamarnya. Acara tujuh bulanan membuat dirinya lelah. Davian memijat-mijat punggung Arini. Davian tak mau, Arini kelelahan. Davian harus menjadi suami yang siaga untuk istrinya.


"Sayang, perut kamu semakin besar. Apa kamu tidak berat membawanya?" tanya Davian.


"Enggak kok, Mas. Emangnya aku bawa apa sampe kamu bilang berat." Arini tertawa.


"Bayi kita sudah semakin besar. Aku tak sabar ingin menanti kehadirannya. Kamu harus tetap sehat ya sayang. Aku gak mau kamu kenapa-napa." ucap Davian.


"Iya, Mas. Terima kasih. Aku pasti menjaga diriku demi buah hati kita." Arini tersenyum.


Davian melingkarkan tangannya ke perut Arini dari belakang. Davian mengelus-elus perut Arini dengan lembut. Istrinya kini semakin seksi, karena perutnya yang membesar.


"Sayang?" tanya Davian.


"Ya, Mas?" jawab Arini.


"Ngomong-ngomong, soal air susumu, apa sudah keluar?" tanya Davian ragu.


"Belum, Mas. Aku belum melakukan praktek yang Dokter Tika sarankan. Karena saat ini aku masih sibuk." jawab Arini.


"Apa mau aku bantu?"


"Enggak usah! Sendiri juga aku bisa kok, kalau sama Mas Davi, yang ada malah keterusan dan gak bisa berhenti." Arini menjulurkan lidahnya.


"Gak apa-apa dong, sayang. Kalau usia kandungan sudah besar, bukankah kita harus sering melakukannya?" Davian mulai lagi.


"Untuk saat ini, enggak ya Mas. Aku lelah, aku mau istirahat. Apa kamu gak lelah apa? Seharian kita mengadakan acara tujuh bulanan!" gerutu Arini.


"Iya-iya deh maaf sayang. Baiklah, ayo kita tidur malam ini. Aku ingin memelukmu dan anak kita. Aku ingin malam ini bermimpi indah, karena kalian di sampingku. Ayo, berbaringlah. Aku ingin menghangatkan diriku dengan tubuhmu." Davian membaringkan Arini.


"Jangan macem-macem ya, Mas. Aku mau istirahat! Awas aja kamu." ancam Arini.


"Cuma satu macem kok, meluk kamu aja sayang. Galak banget sih." Davian menyelimuti tubuhnya dan tubuh Arini.


"Tangan kamu diem ya, awas kalo gak bisa diem!"


"Cuma di belahan dada aja kok! Biar hangat." Davian terkekeh.


"Mas, kan geli akutuh!!!"


"Hangat, sayang....." Davian memejamkan matanya.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2