
Arini terdiam kaku di sofa Davian. Entah akan bagaimana nasib kehidupan Arini selanjutnya. Ia harus berpura-pura, ia harus bisa melakukan sandiwara ini.
Semuanya Arini lakukan hanya untuk membalas jasa Davian padanya. Arini yakin, pernikahan ini hanya sebatas perjanjian di atas kertas saja. Arini tak perlu benar-benar menjadi istri Davian. Ibunya tak boleh tahu mengenai hal ini. Biarlah Arini membantu Davian untuk saat ini. Jika sudah saatnya, Arini pasti akan keluar dari rumah ini dan menggapai angan serta cita-citanya.
Arini sudah terlalu lama berada di kamar Davian. Arini memutuskan akan pergi ke kamarnya untuk istirahat. Arini berdiri, ketika Arini akan beranjak pergi, Davian mencegahnya.
"Jangan pergi dulu." ucap Davian
"Kenapa?"
"Kita harus membicarakan pernikahan kita." ucap Davian
"Kenapa aku harus membicarakannya? Urus saja pernikahan itu oleh Tuan, aku pasti akan mengikutinya." jawab Arini
"Kenapa kamu tak mau tahu tentang pernikahanmu sendiri?" ucapan Davian terlihat kesal
"Maksud Tuan? Bukankah pernikahan ini sandiwara Tuan? Aku akan mengikutinya. Silahkan Tuan atur dan ketika waktunya sudah tepat, beritahu aku. Aku akan bersiap diri." jawab Arini polos
"Apa tak ada sedikitpun rasa antusias mu akan pernikahan kita? Pernikahan ini memang mendadak, tetapi pernikahannya tetap akan berjalan secara sakral. Dan kita tentunya akan SAH dimata hukum dan negara. Apanya yang kau bilang sandiwara?" Davian terlihat emosi
Arini terpaku. Arini merasa bersalah telah mempermainkan pernikahannya. Davian seperti tak suka kalau Arini hamya menganggap semua ini sandiwara belaka.
"Baiklah, maafkan saya yang menganggap pernikahan ini sepele. Apa yang ingin Tuan bicarakan dengan saya?" tanya Arini
"Kapan lu mau nikah sama gue?" tanya Davian
"Terserah Tuan saja, aku tak mau membebani diriku ataupun Tuan juga." jawab Arini
"Kalau begitu, tiga hari lagi aku akan menikahi mu. Bersiaplah!"
"Saya pasti akan mengikuti perintah Tuan. Tuan Dav tak perlu khawatir, saya pasti akan mengikutinya. Saya lelah Tuan, saya akan istirahat dulu."
Arini berdiri lalu melangkahkan kakinya, Davian lagi-lagi menahan kepergian Arini.
"Kamu mau kemana?" tanya Davian
__ADS_1
"Saya mau istirahat, Tuan. Saya lelah, saya ingin tidur." jawab Arini
"Kenapa nggak tidur disini saja?"
usul Davian
"Kenapa harus disini Tuan? Saya memiliki kamar saya sendiri." jawab Arini
"Lu kan bentar lagi nikah sama gue, kenapa lu gak latihan aja jadi istri gue? Biar nanti elu gak kaku kalau udah nikah sama gue." jawab Davian polos
"Saya sudah biasa melayani Tuan, kenapa saya harus kaku untuk itu? Saya pasti bisa melakukannya. Tuan tenang saja, Tuan jangan khawatir." ujar Arini
"Jadi, lu tetep mau pergi?" tanya Davian
"Iya, saya mau istirahat, Tuan." timpal Arini
"Lu benar-benar keras kepala ternyata. Ya sudah, istirahat sana!" Davian kesal
"Baik, Tuan. Selamat malam. Saya permisi." ucap Arini tak berdosa.
Bahkan, untuk keluar dari kamarku pun dia selalu memaksa, dia tetap ingin keluar. Aku pun sepertinya sudah tahu, ketika nanti dia ingin pergi dari rumah ini, dia pasti benar-benar akan pergi.
Aku tahu, dia memang memiliki kekasih yang bernama Mas Adit. Tetapi, tak bolehkah aku bersikap egois sedikit? Aku kesepian kalau dia tak ada di hadapanku. Ini bukan soal cinta ataupun hatiku, tapi keberadaannya benar-benar membuat hidupku lebih berwarna. Batin Davian dalam hati.
Arini merebahkan tubuhnya di kasur kecilnya. Arini lelah sekali, seharian ini ia sangat sibuk sekali. Ia sampai melupakan handphonenya.
Arini mencari-cari handphonenya. Ia lupa menaruh handphone. Kini, handphone bukanlah prioritas Arini lagi. Arini terlalu sibuk dengan dunia barunya sebagai "Pembantu".
Ternyata, handphone Arini terselip dibawah Bantal. Arini membuka handphone yang telah lama tak ia mainkan. Terlihat, ada 7 panggilan tak terjawab, dan beberapa pesan masuk dari Mas Adit. Arini benar-benar merasa bersalah, melupakan teman yang dulu selalu menemaninya.
Arini memanggil nomor kontak Mas Adit. Arini lupa, kalau di kehidupan biasanya ia mempunyai Mas Adit. Lelaki baik hati yang tulus menemani Arini kemana pun Arini pergi.
"Halo, Mas Adit? Maaf, aku baru bisa menelepon mu sekarang." ucap Arini lewat telepon
"Sesibuk apa sih kamu Rin? Sampai teleponku aja kamu gak bisa angkat!" Mas Adit terlihat kesal
__ADS_1
"Maaf Mas, di rumah ini tadi kedatangan keluarga besar Tuan Dirga, jadi aku benar-benar sibuk. Aku baru selesai loh ini." jawab Arini
"Memangnya kamu tak bisa memainkan handphone ya saat bekerja?" tanya Mas Adit
"Bisa saja sih, tetapi aku lupa membawanya. Oh ya, ada apa Mas Adit telepon? Maaf ya baru aku hubungi sekarang!" ujar Arini
"Aku ingin mengajakmu pergi liburan nanti minggu depan! Anak-anak akan pergi camping. Kamu ikut ya? Sekalian temani aku, karena ini acara bebas, guru-guru yang lain juga diperbolehkan membawa teman atau pasangannya." jelas Mas Adit.
DEG. Arini terdiam. Minggu depan? Minggu depan Arini pasti sudah SAH menjadi istri Davian. Apakah Arini bisa pergi bersama Mas Adit? Kalau menolak, Arini tak enak padanya. Lelaki itu, sering menolong Arini dan keluarganya, terutama pada Alif, Mas Adit adalah malaikat bagi Arini.
"Rin? Kamu denger aku kan?" Mas Adit memanggil Arini
"Eh, iya Mas! Maafkan aku, aku sedang berpikir barusan. Emh, bagaimana ya? Minggu depan ya? Aku belum tahu, Mas. Aku tak bisa menjanjikan, aku takut kalau majikan ku melarang. Karena, di rumah ini selalu saja ada kejutan setiap harinya." keluh Arini
"Yah, Rin! Aku mohon! Temani aku, sekali ini saja! Aku malu pada rekan guru yang lain, aku malu kalau ada acara apa-apa, aku selalu sendirian." keluh Mas Adit
"Duh, aku tak bisa menjanjikannya Mas! Aku akan mencoba mengatakan pada Majikan ku, agar beliau mengizinkanku untuk libur selama dua hari. Tetapi, aku tidak janji ya Mas? Aku pasti mengusahakannya dahulu!" kata Arini
"Kamu ini kenapa sih Rin? Udah aja, keluar dari rumah besar itu. Jadi pembantu itu capek tahu nggak! Kamu pasti kelelahan, belum lagi waktumu dan adik-adikmu pasti semakin sedikit. Apa kamu tega melihat Mita dan Alif seperti ini terus?" tanya Mas Adit
"Ya nggak sih, Mas. Arini hanya belum menemukan waktu yang tepat saja untuk keluar dari rumah ini." kata Arini
"Rin, keluar saja dari rumah itu! Aku akan bertanggung jawab padamu. Aku akan berusaha lebih keras untuk bisa menghidupi kamu dan keluargamu. Percayalah padaku, aku serius padamu!" kata Mas Adit.
Arini terdiam. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Mas Adit padanya. Memang, dari dulu Mas Adit selalu mendekati Arini, tetapi Arini tak mau pacaran, apalagi menikah buru-buru. Arini masih harus mengejar cita-citanya. Arini bertekad kuat untuk sukses dahulu sebelum menikah.
"Rin? Kenapa sih? Kenapa kamu tak mendengarkan aku?" ucapan Mas Adit mengagetkan Arini.
"Eh, iya Mas. Maaf, kenapa barusan? Aku lupa." Arini gugup
"Rin, dengarkan aku! Sekarang, aku sudah memiliki tabungan untuk kita. Hiduplah denganku, kamu tak perlu bersusah payah menjadi pembantu. Aku tak tega melihatmu seperti ini. Apa kamu mau memulai hidup bersamaku? Arini? Aku butuh jawabanmu sekarang juga." Mas Adit penuh harap
"Mas Adit...." Arini terdiam kaku.
*Bersambung*
__ADS_1
Readers, karya aku ini kekurangan like dan komen. Yang berkenan, bagi like dan komentarnya ya di cerita aku ini. Kalau kalian bingung komentar, komentar emoticons aja gak apa-apa kok, tanda bahwa kalian telah membaca ceritaku, kalau pun malas berkomentar, klik jempol aja plis, like ceritanya. Aku hanya minta dihargai dengan itu. Thanks ya semuanya sudah mau membaca cerita recehku ini 🥰❤