Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Jenis ularmu apa?


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi ini, cuaca cerah sekali. Saat burung telah berkicau dengan merdu, Rangga dan Tira masih terlelap dalam selimut. Saat mentari masuk ke celah-celah jendela, barulah mereka merasakan bahwa hari telah bergeser menjadi siang.


"Sayang, ini sudah siang ..." Rangga membangunkan Tira.


"Mmmh, hoaaam," Tira melenguh dan menguap.


"Kamu kecapean ya, tidurnya nyenyak banget." ucap Rangga.


"Iya Bang, badanku gak enak, sakit semua rasanya." Tira meringis.


"Serius kamu? Aduh, maaf ya, semua ini gara-gara aku," Rangga merasa bersalah.


"Katanya mau pelan, tapi buktinya kamu bohong, auh, perih tahu," Tira mengeluh.


"Ya Maaf, aku baru pertama ngerasain kayak gitu, dan ternyata aku lepas kendali, maaf ya sayang." Rangga mengelus-elus rambut Tira.


"Iya, iya. Semua udah kejadian. Percuma di bahas juga. Ya udah, pokoknya kamu jemput Keyza sendiri ya. Aku gak enak badan, tubuhku remuk rasanya." ujar Tira.


"Baiklah, aku akan segera menjemputnya. Kamu di rumah baik-baik ya istriku, aku mau mandi dulu," ucap Rangga.


Tira melihat punggung itu dari belakang. Ia tak menyangka, ternyata laki-laki itu, kini menjadi suaminya. Masih ada perasaan bahwa ini seperti mimpi, tapi ternyata ini sungguhan. Dimana semalam Rangga mulai menggerayangi tubuhnya, Tira bahkan mengingat setiap perlakuan Rangga.


Rangga yang mulai bermain dengan buah dadanya, kemudian menyusuri mahkotanya, teringat sangat jelas oleh Tira. Dan ketika kini ia membayangkan hal tersebut, sungguh Tira merasa malu dan ingin menjerit. Bagaimana tidak, semalam mereka telah tidur bersama melakukannya sebagai sepasang suami istri. Itu berarti, setelah malam pertama, pasti akan ada malam-malam selanjutnya, yang secara tidak langsung, Rangga pasti akan meminta jatahnya kembali.


Sebenarnya, aku bukan tak ingin menjemput Keyza. Aku terlalu malu bertemu dengan Nona Arini dan Tuan Davian. Mereka pasti menggodaku. Apalagi, bagian sensitifku masih ngilu dan perih, rasanya aku malu kalau berjalan sambil menahan rasa sakit. Batin Tira.


Rangga keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk setengah badan saja. Tira baru bisa melihat dengan jelas tubuh sixpact suaminya. Rangga memiliki postur tubuh yang tinggi dan gagah. Ia pasti sering nge-gym, terlihat sekali dari ototnya yang kekar, dan perutnya yang terlihat seperti roti sobek.


"Bang, anter aku dulu ke apartemen ya, setelah itu kamu baru jemput Keyza." ucap Tira.


"Padahal, kamu ikut aja. Tenang aja, Arini dan Davian gak akan godain kamu, kok. Kamu gak perlu malu," ucap Rangga.


"Aku sakit jalannya Bang, kamu keterlaluan semalem!" keluh Tira.


"Ah, baiklah. Aku akan mengantar kamu dulu ke apartemen, setelah itu aku baru akan menjemput Keyza." Rangga mengalah.


Rangga segera mengganti pakaiannya, sementara Tira beranjak ke kamar mandi. Setelah selesai, Rangga mengeluarkan dompet dari tasnya. Tira sudah menjadi istrinya sekarang, otomatis Rangga harus memberi Tira jatah bulanan.


Sebulan jatah Davian kasih ke Arini berapa ya? Aku harusnya tanya dulu sama dia nanti. Sekarang aku beri seadanya uang di tas ini aja dulu. Istriku, berbahagialah hidup bersamaku. Walau aku tahu, kamu terlihat cuek, tapi aku menyadari, memang begitulah sifatmu. Tapi, aku yakin, kamu pasti mencintai aku. Aku akan menyayangi kamu dengan tulus, Ra. Aku berjanji, hanya kamu yang akan singgah di hatiku selamanya. Batin Rangga.


...🌸🌸🌸...

__ADS_1


Rumah besar Davian.


Rangga telah sampai di rumah Davian. Ia akan segera menjemput Keyza dan membawanya pulang. Tapi, setelah sampai didalam, ternyata Keyza sedang berenang bersama Sherly dan Sheldy. Rangga terpaksa menunggu Keyza hingga selesai.


"Widih, pengantin baru ceria bener lu! Dah dapet lu ya semalem." goda Davian.


"Ah, apaan sih lu." Rangga mengelak.


"Bang Rangga, Tira mana?" tanya Arini sambil menggendong baby Cal.


"Ehm, itu Tira gak enak badan katanya, jadi dia nunggu di rumah aja." jawab Rangga gugup.


"Wah, wah, wah, ternyata lu maen kasar ya Ga? Sampe istri lu langsung gak enak badan! Gercep emang lu kalau soal malam pertama!" Davian geleng-geleng kepala.


"Eh, Mas. Kamu ini, seneng banget godain Abang sendiri." ujar Arini.


"Abisnya pengantin baru, kan seneng godainnya! Ga, gimana rasanya?" tanya Davian.


"Ah ampun deh laki-laki malah bahas kayak gitu. Mending aku ke kamar aja sama baby, daripada dengerin kalian bicara!" Arini berlalu, karena Arini tahu, mereka berdua akan membicarakan apa.


"Yang, sayang. Eh, mau kemana?" tanya Davian.


"Elu sih, Dav! Nanya aneh-aneh terus, bikin gue puyeng. Jadi aja istri lu juga pergi." tegas Rangga.


"Ah, mantap Dav! Emang deh, tahu gitu gue nikah dari dulu." Rangga terbahak-bahak.


"Hahaha, baru tahu lu ya. Makanya, gencarkan lagi senjata," ujar Davian.


Datanglah sekretaris Dika yang sedang membawakan minuman untuk Davian dan Rangga.


"Senjata apaan, Bos?" tanya sekretaris Dika.


"Senjata cobra, kalo si Rangga senjata phyton. Kalau lu, senjata apaan Dik?" tanya Davian.


"Lagi ngomongin apaan sih, Bos?" sekretaris Dika tak mengerti.


"Jawab aja! Senjata lu apa namanya?" ucap Davian.


Rangga hanya bisa terkekeh mendengar Davian mengerjai sekretarisnya. Pantas saja sekretaris Dika tak mengerti, karena dia belum menikah dan tentu saja belum merasakannya.


"Dik, jangan dengerin si Davian. Udah stress emang dia!" tegas Rangga.


"Jawab aja, Dik! Jangan kebanyakan nyerocos!" Davian memaksa.

__ADS_1


"Gue senjata ular welang aja deh!" celoteh sekretaris Dika.


"Heh, welang kan kecil. Berarti, punya lu kecil ya, Dik?" Davian tertawa terbahak-bahak.


"Bos, lagi ngomongin apaan sih?" sekretaris Dika garuk-garuk kepala.


"Dik, gue bilang jangan dengerin dia! Dia tu lagi ngomongin ular yang lu punya, diibaratkan dengan ular asli itu segede apa!" jelas Rangga.


"Et dah, Bos gila emang lu. Kalau gitu, gue senjata anaconda aja, biar menggigit Bosss!" sekretaris Dika menanggapi.


"Hahaha, gak mau kalah dia! Kalo lu punya senjata anaconda, percuma aja! Lu gak akan bisa kasih serangan, orang lu belum punya istri kayak kita-kita!" Davian sangat puas sekali.


"Dav, parah emang lu. Kasihan si Dika, lu sabar ya Dik, moga cepet dapet jodoh!" Rangga menepuk-nepuk pundak Rangga.


"Tau nih, Bos gue emang udah kurang setengah ons otaknya. Lu liat aja ya Bos, bentar lagi gue pasti dapetin cewek! Gue lagi deket sama seseorang." jawab sekretaris Dika.


"Cielah, palingan juga si Nadya. Iya kan?" Davian menebak.


"Kok tahu sih lu? Perasaan gue gak pernah cerita sama lu kalo lagi deket sama dia!" ujar sekretaris Dika.


"Lu pura-pura bego apa emang bego beneran sih? Gue tanya sama lu, Nadya itu kerja dimana? Nadya itu kan kerja di rumah istri gue. Di rumah istri gue itu ada mertua gue. Setiap elu dateng ke sono, ngecengin si Nadya, mertua gue tuh selalu bilang sama Arini. Pantesan aja kalo sore si curut Dika suka gak ada, tahunya lu ngecengin si Nadya ya! Ngaku lu, curut! Pura-pura aja, beraninya maen belakang. Payah lu." Davian mengumpati Dika habis-habisan.


"Ah? Apa iya, Bos? Duh, jiper gue. Hehe, gue kira Bos gak tahu," sekretaris Dika garuk-garuk kepala.


"Tau lah, apa sih yang gue gak tahu!" Davian menyeringai.


"Sukses ya, Dik. Semoga segera menyusul kita." ujar Rangga.


"Ah, iya Tuan. Terima kasih banyak," sekretaris Dika tersenyum.


*Bersambung*


Hai..


Mungkin, cerita untuk tiga pasangan ini akan selesai.


Aku mau tanya, kalau aku lanjutkan kisah anak Davian, tentang Calandra, ada yang setuju gak?


Aku gak mau nambah konflik antara Davian atau Arini, atau Rangga dan Tira, aku tuh kalo udah nikah ya udah aja bahagia, gak mau ada konflik apalagi pelakor wkwk.


makanya, mau buat kisah anaknya Davian aja biar lebih fresh. Ada yang mau lanjutin kisah anak Davian Arini gak nih? Kalo ada, komentar ya.. 🥰


Baca cerita temenku juga ya, bagus loh🤗❤

__ADS_1



__ADS_2