
"Mas, sakit!" Lirih Arini.
Davian terus memegang tangan Arini, "Iya sayang, sabar ya, tahan ya. Aku mendoakan yang terbaik untukmu."
"Auwwh, aduh, sakit ... Gak tahan, Mas. Sakit banget," Arini terus merintih kesakitan.
Dokter spesialis kandungan dan beberapa bidan memeriksa Arini. Namun, sangat disayangkan, Arini baru pembukaan 4, itu tandanya dia harus tetap rileks, karena belum waktunya melahirkan. Davian selalu setia mendampingi Arini, walau dalam hatinya ia merasa takut dan khawatir karena Arini terus meringis kesakitan.
"Tuan, ini tas Nona. Tadi saya membawanya dari kamar Nona." ucap Tira.
"Pegang saja olehmu, aku percaya padamu. Jika ada keperluan untuk membeli sesuatu, pakailah uang ini." Davian memberikan Tira uang.
"Baik, Tuan. Nona, sabar ya, sebentar lagi Nona pasti akan melahirkan. Ibu dan kedua adik Nona sedang dijemput oleh sekretaris Dika, mereka pasti tiba sebentar lagi." ucap Tira.
"Tira, sakit, perutku sangat sakit." Arini masih merintih kesakitan.
"Sabar ya, Nona. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Tira memegang tangan Arini.
Davian kebingungan. Pembukaannya lambat sekali. Ingin rasanya segera menuju pembukaan 10, agar Arini bisa segera melahirkan. Karena Davian tak tega melihat Arini merasakan sakit akan kontraksi seperti ini. Tiba-tiba, Mama Amel datang ke ruang bersalin Arini, ia menatap dan menguatkan menantunya.
"Kamu harus ikhlas, ini memang kodrat kita sebagai wanita. Kamu wanita yang hebat, sayang. Mama doakan yang terbaik untuk kamu. Sabar ya, sayang." Mama Amel mengusap lembut rambut Arini.
"Makasih, Ma." jawab Arini dengan suara yang lemas.
Mama Davian mengajak Davian kekuar sebentar. Beliau ingin mengajak Davian berbicara, namun tak didekat Arini.
"Tira, aku ada perlu dengan Davi. Kamu jaga Arin dulu ya sebentar," ucap Mama Amel.
"Baik, Nyonya." jawab Tira.
"Sayang, sebentar ya, kamu minum teh hangat agar rileks, Mama nanti kembali. Ada hal yang harus Mama bicarakan sama Davi." pinta Mama Amel.
"Ya, Ma."
"Tunggu ya sayang, aku takkan lama." Davian mencium tangan Arini.
__ADS_1
Rasa sakit kontraksi itu kadang hilang kadang muncul, jika sakitnya muncul lagi, wajah Arini sangat lemas dan berkeringat, jika sakitnya sedikit mereda, Arini bisa diajak berbicara. Saat ini, Mama Amel berani meninggalkan Arini, karena sakitnya sedikit mereda, Mama Amel memutuskan untuk keluar dan duduk di ruang tunggu.
"Ada apa sih, Ma?" Davian tak mengerti.
"Kamu sadar gak sih, Dav? Ini hukuman buat kamu!" Mama Amel terlihat marah.
"Maksud Mama apa?" Davian tak paham.
"Kamu pernah menyakiti hati anak kecil. Mama rasa, itu sebab pembukaan Arin lama sekali majunya. Kamu berdosa pada anak kecil, kamu telah menyakiti hatinya. Kamu harus minta maaf padanya!" bentak Mama Amel.
"Anak kecil? Siapa? Aku rasa, aku tak pernah menyakiti hati anak kecil." jawab Davian.
"KEYZA! Dia adalah anak kecil yang kamu sakiti hatinya, Dav. Selama ini, apa kamu pernah minta maaf dengan tulus secara langsung padanya? Selama ini, kamu seperti tak menganggap keberadaannya.. Minta maaflah padanya, agar istrimu melahirkan dengan lancar. Kasihan Arini, pembukaannya tak berjalan terus." jelas Mama Davian.
"Ya Tuhan, apa mungkin seperti itu? Aku barus sadar, kalau aku tak pernah meminta maaf dengan tulus pada anak itu. Aku jadi merasa bersalah padanya. Aku harus bagaimana, Ma? Keyza tak ada disini, dia di luar negeri. Mungkinkah aku harus meminta maaf padanya?" tanya Davian.
"Tentu saja, Dav. Kamu harus meminta maaf pada Keyza. Telepon Rangga, dan berbicaralah pada Keyza. Dulu, kamu telah menyakiti hatinya, kamu harus mengobati hatinya yang terluka. Minta maaflah dengan tulus, agar istrimu bisa melahirkan dengan segera. Feeling Mama berkata begitu. Arini begini, karena kamu berdosa pada anak kecil." tegas Mama Amel.
"Baiklah. Kini aku sadar, Ma. Aku akan segera menelepon Rangga. Jika saja, Keyza masih disini, mungkin aku bisa meminta maaf dengan baik dan tulus secara langsung padanya."
Davian segera membuka handphone nya. Ia menelepon Rangga via chat WhatsApp. Namun, beberapa kali Davian menelepon, Rangga tak kunjung mengangkatnya. Mungkin saja, data selulernya dimatikan. Davian mencoba meneleponnya berkali-kali, namun tak juga diangkat oleh Rangga. Davian bingung, namun tak lama Dokter spesialis kandungan memanggil Davian agar menuju ke ruangannya. Davian pun segera mengikuti suster yang memintanya ke ruangan sang Dokter.
Keluarga Arini dan sekretaris Dika telah tiba di parkiran Rumah sakit. Sekretaris Dika menghubungi Tira agar ke depan, karena dinihari tadi sekretaris Dika tak ikut ke ruangan bersalin, karena langsung pergi menjemput keluarga Arini.
"Oke, aku ke sana sekarang." ujar Tira dalam teleponnya.
"Baik," jawab sekretaris Dika.
Tira meminta izin Mama Davian untuk menjemput keluarga Arini di parkiran Rumah sakit. Ia berlari dan segera menuju parkiran. Tira sudah melihat Ibu Arini dari jauh. Ibu Arini datang dengan kedua adiknya. Ia pun melambaikan tangannya pada mereka.
"Tira, bagaimana? Apa Arini sudah melahirkan?" tanya Ibu Arini sangat khawatir.
"Belum, Buk. Nona Arin masih di pembukaan 5. Pembukaannya sulit sekali maju, entah apa penyebabnya. Kasihan sekali, Nona Arin meringis kesakitan menahan kontraksi. Ayo, lebih baik kita segera ke sana." ajak Tira.
Sekretaris Dika mengikuti langkah Tira yang cepat. Mereka khawatir pada Arini. Semuanya sangat menyayangi Arini. Tira menunjukkan ruang bersalin Arini. Ia mempersilahkan orang tua dan kedua adik Arini untuk masuk kedalam. Tira menunggu di luar, karena sudah ada keluarga Arini yang menunggu didalam.
__ADS_1
Davian sedang berada di ruang dokter spesialis kandungan. Dokter menjelaskan sesuatu pada Davian. Davian menyimak dan mendengarkan.
"Kita tunggu sampai 24 jam. Semoga pembukaannya cepat berjalan. Posisi bayi sudah bagus, sudah mapan, ia sudah siap untuk keluar. Namun, permasalahannya pembukaan yang tak kunjung maju." ucap Dokter Tika.
"Ya, Dok. Semoga saja. Tadi, sudah saya sarankan, agar Nona Arini berjalan-jalan jika sakitnya sedikit menghilang, itu akan mempercepat pembukaan. Namun, jika dalam waktu yang ditentukan pembukaan tak kunjung naik, mungkin tak ada pilihan lain, jika saya menyarankan operasi sesar. Bisakah dipertimbangkan? Ini hanya kemungkinan, kita tetap berdoa saja, semoga sebelum itu bayi sudah bisa dilahirkan." jelas Dokter Tika.
"Apapun yang terbaik untuk istri saya, saya menyetujuinya, Dok. Asalkan lahir dengan selamat dua-duanya." ucap Davian.
"Baiklah, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Jangan putus berdoa, teruslah berdoa, minta kepadaNya, agar dimudahkan proses melahirkannya." saran Dokter Tika.
"Baik, Dokter. Terima kasih banyak."
...🍂🍂🍂...
"Aku deg-degan menanti kelahiran Nona. Semoga Nona segera melahirkan." ucap Tira.
"Aku juga. Kasihan si Bos, hatinya pasti gak karuan." tambah sekretaris Dika.
Tira dan sekretaris Dika sedang berada di koridor Rumah sakit. Mereka sengaja menunggu diluar, karena didalam sudah ada kedua orang tua Arini dan Davian. Tiba-tiba, didalam tas Arini ada suara handphone berdering. Tira kaget, ia segera membuka tas milik Nona nya tersebut, karena Davian pun telah mempercayainya. Dilihatnya layar handphone itu, namun nomor kontak yabg tak ada namanya. Tira pun segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo?" sapa Tira.
"Halo, Rin. Gimana? Kamu sudah melahirkan belum? Aku khawatir, tadi Davian meneleponku, namun aku sedang sibuk. Aku menelepon dia kembali, tapi tak diangkat. Syukurlah, kalau kamu yang mengangkatnya."
"Tu-tuan Rangga?" Tira benar-benar kaget mendengar suara itu. Suara yang sangat ia rindukan. Suara yang mengingatkan kebersamaan mereka.
"Ti-Tira?" Rangga pun kaget, mereka bisa saling mendengarkan suaranya satu sama lain.
Sekretaris Dika yang mendengar Tira menyebut nama 'Tuan Rangga' seketika langsung melirik kearah Tira. Dika melihat ekspresi Tira yang terlihat bahagia ketika menyebut nama Rangga.
*Bersambung*
Hai..
Jangan lupa LIKE , KOMENTAR, VOTE.
__ADS_1
Makasih🌸