
tekan jempol dulu ya, like dulu sebelum membaca π€π₯°
Sekretaris Dika telah menata kembali hatinya. Nadia telah mengingatkan sekretaris Dika, bahwa dirinya jangan terlalu keras pada Elang. Nadia takut, Elang malah akan semakin nekat dan tak mempedulikan keluarganya lagi. Nadia dan sekretaris Dika memutuskan, tak akan ikut campur soal hubungan Elang dan Nisha. Yang sekretaris Dika inginkan, Elang harus segera memutuskan Rena, karena sekretaris Dika tak mau, mempunyai menantu yang kelakuannya seperti Rena.
Mereka sedang sarapan pagi bersama. Wajah Elang terlihat memar dan membiru. Semua karena pukulan sang Ayah yang begitu kecewa dan emosi pada Elang. Jenita tak mengetahui penyebab sang Kakak memar seperti itu.
"Elang, kamu kenapa? Kamu habis berantem? Ayah, lihat tuh kelakuan si Elang. Dia berantem sama siapa coba? Jadi anak sok pemberani banget dia! Kok bisa sih kamu kalah berantem? Cemen banget! Berantem sama siapa sih kamu, Lang?" tanya Jenita penasaran.
"Diam kamu, berisik!" Elang hanya menunduk.
"Dia berantem sama Ayah. Emang kenapa?" tanya sekretaris Dika.
"Ha? sama Ayah? Gak mungkin!" Jenie tak percaya.
"Iya, karena dia melakukan kesalahan. Jenie, jangan sampai kamu terjerumus pergaulan bebas, dan jangan sampai kamu berpacaran dengan laki-laki yang sifatnya seperti Kakakmu!" tegas sekretaris Dika.
"Kalian kenapa, sih?" Jenie heran.
"Ayah, sudah ... " Nadia membuka suara.
"Kamu, lihat aku!" ucap sekretaris Dika pada Elang.
"I-iya, Yah?" Elang menatap sekretaris Dika.
"Minta maaf lah pada Nisha, kamu telah melakukan kesalahan! Minta maaf sendiri padanya secara tulus! Dan untuk wanita jal@ng itu, aku tak mau melihatnya lagi, Elang! Jika kamu masih ingin aku anggap sebagai anakku, tinggalkan dia, dan jangan pernah berhubungan lagi dengannya! Sekarang, keluarkan dompetmu!" tegas sekretaris Dika.
"Ba-baik, Ayah." Elang sudah tak bisa melawan lagi, amarah orang tuanya benar-benar membuatnya takut.
Elang mengeluarkan dompet dari saku celananya, ia memberikannya pada sang ayah. Sekretaris Dika segera mengambil dompet Elang, ia mengeluarkan satu kartu kredit dan dua kartu debit dari dompet Elang. Ada uang sebanyak lima ratus ribu, dan Dika juga mengambilnya. Sekretaris Dika akan membekukan rekening Elang dan mengambil semua fasilitasnya.
"Kamu tak boleh lagi menggunakan kartu-kartu ini. Kamu akan aku beri uang cash. Dan untuk kendaraan, kamu akan diantar jemput oleh supir Mama-mu, kamu harus berangkat dan pulang bersama Jenie. Jangan banyak bertingkah, dan silahkan pergi kuliah!" tegas sekretaris Dika.
"Ta-tapi, Ayah, aku butuh semua itu ...." Elang tak terima.
"Tak ada pembelaan, segera berangkat! Ini uang bekalmu!" bentak sekretaris Dika.
Elang pun berangkat dengan perasaan kesal dan marah. Bagaimana tidak, semua aksesnya telah dicabut dan ia tak bisa berfoya-foya lagi. Sekretaris Dika memberikan uang bekal dua ratus ribu rupiah. Elang hanya bisa pasrah, dan menerima semua hukuman yang diberikan oleh Ayahnya.
...πΈπΈπΈ...
Nisha memaksakan diri untuk pergi kuliah. Arini awalnya menahan Nisha untuk kuliah, tapi Nisha memaksa, karena pagi ini ia ada kelas yang baginya sangat penting.
"Kamu yakin, Nish?" tanya Arini.
"Saya yakin, Bu. Tapi, ini apa gak apa-apa Nisha pakai baju Ibu?" tanya Nisha.
"Gak apa-apa, itu baju saya dulu. Masih ada saja di lemari, karena itu baju kesayangan saya. Kalau kamu suka, simpan saja." Arini tersenyum.
"Mom, biar Andra yang antar Nisha ke kampus! Hari ini, Andra gak ada mata kuliah, jadi Andra bisa nemenin Nisha." ucap Andra.
"Ah, gak usah, aku bisa sendiri, kok." Nisha menolak.
"Biar Nisha sama Pak Udin aja, Dra." ucap Arini.
"Gak usah, biar Nisha sama aku aja. Aku harus jaga dan lindungi dia. Aku takut Elang menyakitinya." ucap Calandra.
"Mom, biarkan saja Andra mengantar Nisha," ucap Davian.
"Daddy ..." Arini keberatan.
"Iya, Pak, saya bisa sendiri, kok. Saya naik angkutan umum saja." ucap Nisha.
"Nish, aku akan mengantarmu. Kamu tak boleh menolak, dan lebih baik kita berangkat bersama, titik!" Calandra memaksa.
"Ah, i-iya. Baiklah, Andra. Terima kasih." Nisha tersenyum.
"Mom, Dad, kita berangkat dulu ya!" Andra menyalami kedua tangan Arini dan Davian.
Calandra memutuskan untuk mengantar Nisha ke kampusnya, karena Andra khawatir, Elang akan berbuat yang tidak-tidak pada Nisha. Elang pun mengajak Nisha untuk berangkat ke kampus dan berpamitan pada Arini dan Davian. Elang dan Nisha kini sudah ada didalam mobil, dan mereka pun berangkat.
__ADS_1
"Padahal kamu gak usah anterin aku segala!" Nisha terlihat kesal.
"Kenapa? Kamu gak mau aku anterin?" tanya Andra.
"Enggak, aku gak mau. Aku bisa sendiri, kok." ucap Calandra.
"Nish, kok kamu jadi cuek lagi sih sekarang?" Calandra heran.
"Memangnya kenapa? Memangnya kapan aku baik sama kamu?" tanya Nisha.
"Semalam! Semalam apa yang kamu lakukan padaku? Memelukku, bukan?" Andra terus melakukan pembelaan.
"Enggak, aku gak meluk kamu. Jangan geer ya, aku cuma bersandar sama kamu, gak lebih. Hanya itu saja." Nisha cemberut.
"Kamu juga semalam megang tangan aku pas kamu tidur!" ucap Calandra lagi.
"Apa? Kapan aku memegang tangan kamu? Gak mungkin! Kamu ngarang aja bisanya. Pantesan aja, semalem kamu mau nemenin aku, ternyata biar kamu punya alasan kayak gini ya." ucap Nisha berapi-api.
"Lah, malah gak percaya lagi. Tadinya, aku mau pergi ke kamarku ketika kamu telah terlelap. Tapi, ketika aku akan beranjak, kamu malah memegang tanganku dengan erat, dan itu membuat aku gak tega ninggalin kamu. Aku jadi ketiduran disitu sama kamu sampe pagi tadi." jelas Calandra.
"Kamu ngarang!" Nisha mengelak, padahal semalam ia memang merasa memegang tangan seseorang dengan lembut, dan tangan itu terasa hangat sekali.
"Aku gak ngarang, aku cuma menjelaskan kejadian semalam. Jadi, kurasa kamu tak perlu lagi membenciku, jangan buang-buang waktu hanya untuk hal yang tak penting, Nish. Aku berjanji, akan menebus semua rasa sakit mu," ucap Andra menatap Nisha.
"Fokus saja mengemudi, jangan menatapku, Andra!" wajah Nisha memerah.
"Kayaknya, aku punya hobi baru sekarang ...." ucap Andra.
"Maksud kamu?" Nisha tak mengerti.
"Hobi mandangin wajah kamu. Kalau dilihat-lihat, kamu itu cantik, Nish. Aku seneng aja lihat wajah kamu." ucap Andra tak tahu malu.
"Sesampainya di kampus, aku mau beli masker kalau gitu!" ucap Nisha.
"Ngapain beli masker?"
"Biar gak ada orang yang iseng dan gak ada kerjaan mandangin wajah aku terus!" tegas Nisha.
"Kamu nuduh aku aneh?" Nisha cemberut.
"Kamu gak aneh, Nish. Kamu cantik." Calandra tersenyum sambil mengemudikan mobilnya.
Wajah Nisha memerah lagi. Ia tak mampu membalas ucapan Calandra. Rasa benci dan kecewa itu perlahan menghilang, karena sifat manis Andra padanya yang tak biasa. Namun, bukan wanita namanya jika ia tak jual mahal, semanis apapun laki-laki merayu, sebisa mungkin wanita tak boleh mudah dirayu. Karena, pada hakikatnya, laki-laki itu pandai merayu, entah itu tulus atau tidak.
Tiba-tiba, ponsel Nisha bergetar, tanda pesan masuk memenuhi layar ponselnya. Nisha pun segera membuka ponselnya, dan wajahnya seketika murung, mendapat pesan dari seseorang yang tak ia inginkan.
π© Message from (081298765432)
~Nish ... Nisha, aku ingin bertemu denganmu. Aku harus bicara sesuatu. Aku tunggu kamu di gerbang utama sekarang. Kuharap, kamu dapat menemui aku. Kumohon, Nisha. Aku tunggu sekarang.~
Nisha menghela nafas. Ia sudah malas sekali, dan tak ingin berhubungan lagi dengan Elang yang telah membuat kesalahan fatal, yaitu membohongi dirinya. Nisha enggan membalas pesan Elang, ia mematikan ponselnya dan menggenggam ponsel kesayangannya itu.
Andra bisa merasakan bahwa Nisha sedang sedih lagi. Melihat dari ekspresi Nisha yang terlihat sedih dan kecewa.
"Kenapa?" tanya Calandra sambil melirik kearah ponsel Nisha.
"Gak apa-apa." jawab Nisha.
"Itu Elang?" tebak Andra.
Nisha hanya mengangguk.
"Biar aku yang menemui dia!" ucap Calandra.
"Jangan, kamu tak perlu ikut campur dengan masalahku. Jangan melibatkan dirimu, Calandra." ucap Nisha.
"Aku peduli padamu, aku tak bisa membiarkan dia menyakitimu lagi." ucap Andra.
"Aku akan menemuinya, kamu tak perlu khawatir. Kamu tak ada hubungannya dengan semua ini, kumohon jangan libatkan dirimu. Biar aku yang mengatasinya." ucap Nisha.
__ADS_1
"Baiklah, aku menuruti permintaanmu." Andra mengalah.
Nisha telah sampai di kampusnya. Dari dalam mobil, Nisha bisa melihat Elang yang telah menunggunya. Calandra segera keluar dari mobilnya, ia membukakan pintu mobil untuk Nisha. Nisha merasa malu, karena Calandra memperlakukannya tak seperti biasanya. Elang sangat kaget mendapati Calandra membukakan pintu mobil untuk Nisha.
Sial, itu bukannya anak Bos bokap gue? Itu bukannya si Calandra? Kenapa Nisha bisa diantar oleh dia? Pantas saja Ayah tahu mengenai Nisha, ternyata dia ada hubungannya dengan si Calandra. Berani-beraninya Nisha dekat dengan laki-laki lain. Padahal, aku baru memutuskannya tadi malam. Brengsek, Calandra ... Berani-beraninya kamu mendekati wanitaku! Batin Elang ketika menatap Andra dan Nisha.
Nisha menatap Calandra, "Calandra, makasih ya udah anterin aku. Seperti yang kamu lihat, sudah ada yang menungguku. Aku harus segera menemuinya."
Nisha berlalu, tapi Andra menahan tangannya, "Tunggu, Nish."
Nisha kaget, lagi-lagi, Andra memegang tangannya, "Ada apa?"
"Aku minta nomor ponsel mu. Izinkan aku khawatir padamu, Nisha." Andra mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Nisha bingung, tapi ia segera memasukkan nomor ponselnya sesuai permintaan Andra, "Sudah, ini handphone-nya."
"Makasih, jaga dirimu baik-baik. Jangan mudah terlena dengan segala ucapannya. Aku pergi dulu, Nish. Nanti aku jemput lagi." Andra tersenyum pada Nisha.
DEG. Jantung Nisha berdebar tak karuan ketika Calandra berkata akan menjemputnya. Kenapa Nisha merasa bahagia Andra berkata begitu. Tapi, sebisa mungkin Nisha harus terlihat biasa saja.
"Hati-hati, Andra ..."
"Ya, Nish. Terima kasih," Andra pun berjalan, lalu masuk kedalam mobilnya.
Wajah Elang dari pintu gerbang kampus sudah terlihat tak mengenakkan. Elang cemburu, Elang kesal pada Nisha yang dengan mudahnya diantar oleh laki-laki lain. Apalagi, laki-laki itu adalah anak Bos Ayahnya sendiri. Nisha kemudian menghampiri Elang, dan terlihat datar tanpa ekspresi.
"Ada apa?" tanya Nisha.
"Siapa dia?" Elang pura-pura tak tahu.
"Dia anaknya Bu Dokter, Kakak dari anak yang aku ajari les." jawab Nisha.
"Ja-jadi, selama ini kamu mengajar les di tempatnya Calandra? Kenapa kamu gak bilang dari awal, ha?" Nada bicara Elang meninggi.
"Apa urusanmu? Kenapa kamu marah? Kamu gak salah, Lang? Kamu bilang padaku semalam, bahwa orang tuamu tak menyetujui aku, iyakan? Tapi, apa buktinya? Orang tuamu bahkan tidak tahu kalau aku adalah pacarmu! Kamu yang salah di sini. Masih saja berani menyalahkan aku. Kamu pikir, aku bodoh, Elang? Ayahmu sama sekali tak mengenalku. Kenapa bisa-bisanya kamu bilang mereka tak menyetujui aku? Pintar sekali mulutmu berbohong. Kenapa kamu harus berbohong, Lang? Apa kamu sudah memiliki wanita lain? Tak begitu caranya, kamu bisa jujur padaku, tanpa harus membohongi aku!" Nisha berapi-api.
"Nish, berani sekali kamu membentak ku! Kamu pikir, kamu siapa, ha? Awalnya, aku berniat meminta maaf padamu, tapi kenapa sekarang kamu malah keras kepala? Apa karena kamu merasa di atas angin bisa dekat dengan anak orang kaya? Nish, ngaca kamu! Kamu itu siapa! Dia tak mungkin tulus mendekatimu! Wanita si Calandra itu banyak, kamu saja yang tak tahu! Mau saja dibodohi oleh laki-laki itu!" ada nada cemburu dari ucapan Elang.
PLAKKKKK, Nisha menampar Elang sekuat tenaganya.
Elang memegangi pipinya, "Nisha! Berani-beraninya kamu menamparku!"
"Hentikan omong kosong mu. Tutup mulutmu dan jangan banyak bicara, Elang! Percayalah, walaupun aku bukan wanita yang sempurna, walaupun aku bukan anak orang kaya, walaupun aku hanya anak miskin dan tak punya siapa-siapa. Tapi, akan aku pastikan suatu saat nanti, kamu pasti menyesal telah membuang aku yang pernah begitu tulus mencintaimu! Camkan itu!" Nisha marah, ia sakit hati oleh perkataan Elang. Nisha pun berlari meninggalkan Elang sendiri.
"Nish, Nisha! Tunggu! Mau kemana kamu!!!" Elang meneriaki Nisha, namun Nisha tak mempedulikannya.
Sialan, Nisha sudah berani menantang dan menamparku. Rupanya, dia mulai main-main denganku. Dia punya keberanian juga ternyata. Elang mengepalkan tangannya karena kesal.
Tiba-tiba, wanita yang tak ingin Elang temui, turun dari taksi, dan ia sangat sumringah mendapati Elang ada di pintu gerbang. Ya, dia adalah Rena. Si wanita ular yang sedang senang bermain-main dengan Elang. Rena segera menghampiri Elang. Rena terlihat biasa saja, dan menganggap hal semalam itu bukanlah masalah besar.
"Pagi, sayaaaang ... Kamu nungguin aku, ya? Ya ampun, kamu kenapa? Wajahmu, sayang. Pasti semua karena Ayahmu." Rena melingkarkan tangannya di tangan Elang.
"Diam kamu, Re! Aku tak ingin berbicara denganmu." Elang memalingkan wajahnya.
"Elang! Jahat sekali kamu. Setelah apa yang kita lakukan semalam, teganya kamu mengacuhkan aku!" Rena kesal.
"Apa maksudmu? Kita tak melakukan apapun semalam. Aku hanya mencium mu saja. Seenaknya saja kamu bicara!" Elang berapi-api.
"Elang, kamu kenapa sih? Slow down, baby. Aku kangen sama kamu, jangan cuek gini dong. Kenapa sih! Lupakan saja kejadian semalam. Kalau pun ketahuan, kamu kan bisa nikahin aku, Lang!" Rena menggoda Elang.
"Rena, berani-beraninya kamu berkata begitu!" Elang tak menyangka.
"I love u, my handsome boyfriend." bisik Rena ditelinga Elang.
Sungguh, rengekan manja dari Rena, selalu membuat Elang luluh. Entah kenapa, Elang rasanya sudah dibutakan oleh cinta. Bahkan, ia tak bisa memutuskan Rena, ia sengaja mengabaikan instruksi dari Ayahnya. Berat baginya, meninggalkan Rena, karena Rena adalah cinta pertamanya.
"Maafkan aku, Rena. Aku hanya sedang kesal pagi ini." Elang pun mengalah.
*Bersambung*
__ADS_1