
Elang menunggu Nisha di depan parkiran perumahan elit Grand Residence itu. Elang sedang duduk di motornya, dan ketika melihat Nisha sedang berjalan menuju kearahnya, ia melambaikan tangannya. Awalnya, Elang merasa gengsi pada teman-temannya, karena harus memacari Nisha si anak panti.
Rasa cintanya pada Nisha hanya sebatas kasihan dan tak tega saja. Elang memang keterlaluan, karena sudah membohongi Nisha saat itu. Tapi, akhir-akhir ini, entah mengapa Elang merasa nyaman jika bersama Nisha. Sepertinya, Elang mulai jatuh hati pada Nisha.
"Udah nunggu lama ya? Maaf ya, barusan diajak ngobrol dulu sama yang punya rumah." Nisha sedikit berbohong.
"Oh, kamu ngajar les-nya di perumahan elit ini ya. Papa-ku juga bekerja menjadi kepercayaan salah satu penghuni di rumah elit ini." ucap Elang.
"Wah, Papa-mu keren."Nisha mengacungkan jempolnya.
"Kamu bisa aja! Ayo, berangkat." ajak Elang.
Elang tak memberi tahu dimana Papa-nya bekerja. Mungkin, jika Elang memberi tahu, Nisha pasti kaget. Tapi, mereka melupakan pembicaraan itu dan Elang segera mengantar Nisha pulang.
Setengah jam berlalu, Elang telah sampai mengantar Nisha menuju kontrakannya. Nisha tak pernah membiarkan Elang masuk ke kontrakannya, walaupun seringkali Elang memaksa untuk masuk.
"Aku gak boleh masuk lagi nih?" tanya Elang.
"Enggak, gak boleh. Aku takut di marahi yang punya kontrakan. Kamu pulang aja ya?" ucap Nisha.
"Baiklah, aku pulang ya. Jangan lupa makan dan istirahat, sayang." Elang melambaikan tangannya.
"Iya, kamu juga ya, Lang." Nisha melambaikan tangan pada Elang.
Elang pun berlalu. Nisha segera masuk kedalam rumahnya. Ia meletakan tas nya dan berbaring di ranjang kecil miliknya. Ia terdiam, ia terbayang-bayang wajah menyebalkan Andra ketika sedang berada di kamarnya, ia teringat akan kejadian delapan bulan yang lalu. Saat-saat dimana hidupnya hancur oleh perlakuan Andra padanya.
FLASHBACK ON~
Setelah Andra mencium Nisha, Nisha segera berlari meninggalkan Andra seorang diri. Gelagat seseorang terlihat diujung lorong kampus. Seseorang yang memotret dan memvideokan adegan Andra mencium Nisha. Tak lan dan tak bukan, ia adalah teman dekat Sheila, Mitha dan Nadin.
Mitha tahu, bahwa Nisha adalah anak angkat Pak Adi dan Bu Ani, karena orang tua Mitha kenal dengan orang tua angkat Nisha. Mitha segera memberi tahu Nisha mengenai kabar ini. Hingga muncul ide gila Sheila untuk memberikan video dan foto itu pada kedua orang tua angkat Nisha.
"Kita laporkan saja! Biar wanita tak tahu diri itu dihukum." pekik Sheila.
"Baik, Sheil. Aku akan memberi tahu Mama-ku, agar segera mengirimkannya pada Pak Adi." ujar Mitha.
"Ide bagus." Sheila tersenyum licik.
Sejak kejadian itu, kedua orang tua angkat Nisha murka. Marah pada Nisha dan sangat-sangat kecewa. Nisha sudah menjelaskan pada kedua orang tuanya, namun mereka tetap tak mempercayai Nisha. Penjelasan Nisha sama sekali tak di indahkan nya. Nisha hanya bisa menangis mendengar cacian dan makian yang dilontarkan oleh orang tua angkatnya.
"Kamu memang tidak tahu di untung. Sudah diterima disini dengan baik, sudah kita rawat sejak SMP, tapi kamu malah mencoreng nama baik keluarga!" Pak Adi marah besar.
"Maaf, Pah. Nisha tidak seperti yang Mama dan Papa bayangkan. Nisha tak tahu apa-apa mengenai hal itu. Sungguh ... Nisha hanya korban." Nisha menangis pilu.
"Alesan aja kamu! Kamu bener-bener udah bikin kita kecewa. Disekolahkan, dibiayai dengan baik den benar, kamu malah begitu. Aku sudah tak ingin menganggap mu sebagai anak angkat ku lagi!" tegas Bu Ani.
"Ma ... Kenapa Mama berkata seperti itu? Jangan begitu, Ma. Nisha benar-benar minta maaf. Sungguh, Nisha menyesal, Nisha sayang sama Mama dan Papa. Hanya kalian yang tulus menyayangi Nisha." Nisa menangis tersedu-sedu.
"Kamu sudah mengecewakan hati kami. Kamu sudah mencoreng nama baik kami, Nisha. Teman kerja ku sudah tahu kelakuan buruk mu itu. Aku sungguh malu dan aku benar-benar muak padamu!" bentak Pak Adi.
__ADS_1
"Pah! Ini bukan salah Nisha. Papa dengarkan penjelasan Nisha. Laki-laki itu memaksa mencium Nisha, padahal Nisha tak mengenalnya. Nisha tak tahu siapa dia. Tolong dengarkan Nisha, jangan menghakimi Nisha. Nisha tak tahu apa-apa. Nisha mohon, kalian mengertilah." Nisa menunduk di kedua orang tuanya.
"Aku sudah tahu siapa laki-laki yang mencium mu. Aku tak ingin berurusan dengan orang seperti mereka. Yang jelas, ini salah kamu, Nisha! Kamu telah mengecewakan kami berdua. Silahkan pergi dari rumah ini, dan anggap aku tak pernah mengadopsi mu!" tegas Pak Adi.
"Papa, kenapa?" Nisha menangis.
"Kamu mengecewakan kami. Kamu membuat hati kami terluka Nisha! Aku sudah tak berharap penuh lagi padamu!" Bu Ani emosi.
"Aku malu pada rekan bisnis dan relasi ku. Mereka semua tahu mengenai perbuatan mu dengan laki-laki itu." bentak Pak Adi.
"Pah, Ma, kenapa kalian hanya memarahiku saja? Kenapa kalian tidak memarahi laki-laki gila yang menciumiku? Kenapa hanya aku, ha?" Nisha memberontak.
"Kamu tak akan bisa melawan dia. Dia anak orang yang paling berkuasa dalam perusahaan. Kita tak berani macam-macam! Harusnya kamu yang tahu diri, Nisha. Kamu wanita kotor dan wanita murahan yang dengan mudah di perlakukan seperti itu oleh laki-laki." ucap Bu Ani.
Nisha sakit hati mendengar orang tua angkatnya berkata begitu. Ia merasa hanya dirinya yang disalahkan, padahal Nisha tak tahu apa-apa. Ia sakit hati dengan perkataan kedua orang tuanya. Berbekal nekad dan tekad, Nisha pergi dari rumah itu tanpa sepengetahuan kedua orang tua angkatnya.
Nisha sadar, karena mereka bukan orang tua kandungnya, pantas saja mereka berani berkata yang menyakiti hati Nisha. Nisha memulai kehidupan barunya, berbekal uang lima juta yang ia sisihkan dan yang pernah orang tua angkatnya berikan padanya. Uang itu ia bayarkan untuk kontrakan, dan sisanya untuk modal jualan di sekitar kontrakan yang ramai penduduk.
Nisha mulai jualan kecil-kecilan di kontrakannya. mulai dari pentol mercon, mie tek-tek, seblak, minuman dingin, gorengan, macam-macan snack dan sebagainya. Ia harus mandiri, dan ia tak boleh putus asa. Ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya, bahwa tak akan ada orang lain yang menyayangi dirinya, selain dirinya sendiri.
Suatu ketika, Nisha dihubungi kembali oleh pihak panti asuhan. Nisha diajak untuk membantu panti menerima donasi dan sumbangan dari sebuah universitas swasta. Nisha pun menyetujuinya, karena walau bagaimana pun, Nisha tetaplah anak panti, yang sejak kecil tinggal dan diurus oleh panti asuhan.
Pertemuannya dengan Elang, membuat Nisha mulai menyukainya. Elang dan temannya mendekati Nisha, tapi hanya Elang yang membuat Nisha tertarik. Hingga mereka pun lambat laun menjadi dekat dan akrab. Setelah beberapa minggu setelah pertemuan mereka, Elang memberanikan diri menyatakan cintanya pada Nisha.
"Nisha, aku ingin menjadi lebih dari sekedar teman untukmu. Aku ingin lebih dekat denganmu. Mungkinkah, jika aku mencintaimu, kamu akan menerimaku?" tanya Elang.
"Entahlah. Kamu hanya bertanya, bukannya mengungkapkan." ucap Nisha.
"Tanyakan saja pada dirimu sendiri." ucap Nisha.
Elang pun mengutarakan perasaannya pada Nisha. Nisha memang terpesona akan kebaikan Elang padanya. Elang tak malu, berkenalan dan dekat dengannya. Padahal, Nisha hanyalah anak panti yang tak punya siapa-siapa.
"Memangnya kamu gak malu, pacaran sama cewek kayak aku?" tanya Nisha.
"Kenapa aku harus malu? Aku juga bukan orang kaya. Aku hanya laki-laki yang berasal dari keluarga yang sederhana. Jangan terus merasa seperti itu. Aku tak sedikitpun mempermasalahkan asal-usul kamu, Nish." Elang tersenyum.
"Terima kasih, Elang."
Akhirnya, aku dapetin dia juga. Itu berarti aku yang menang. Aku pasti dapet sepuluh juta dari si Dio dan Andre. Batin Elang.
Elang, Gio dan Andre, bertaruh, bagi siapa yang bisa mendapatkan Nisha, akan mendapatkan imbalan. Mereka taruhan satu orang lima juta. Tak ada maksud lain pada Nisha, hanya sekedar iseng saja.
Kisah percintaan itu dimulai dari sini. Nisha sangat bersyukur mempunyai Elang, karena Elang selalu ada untuknya, walaupun Nisha tak tahu, Elang hanya menjadikannya bahan taruhan saja.
FLASHBACK OFF~
Tiga hari kemudian ...
Nisha sedang mengajar Livia seperti biasa. Nisha mengajar dari pukul satu hingga pukul setengah tiga. Setelah itu, Nisha akan mengajari Calista, dari pukul tiga hingga pukul empat. Nisha menyetujui permintaan Calista, karena Calista terus merengek pada Nisha.
__ADS_1
"Neng Nisha, Nona Calista barusan telepon Bibik, dia kena macet di jalan. Mungkin, dia akan terlambat. Neng Nisha di suruh tungguin aja katanya. Soalnya Nona Calista ada tugas yabg dia gak ngerti, dan dia ingin Neng Nisha yang ngajarin. Tunggu sekitar setengah jam . Kalau neng Nisha mau berkeliling, boleh saja. silahkan." ucap pembantu di rumah Arini.
"Oh, begitu ya, baiklah Bi. Saya akan menunggu di halaman saja."
Nisha keluar dari rumah besar itu. Ia berkeliling di sekitar taman rumah mewah ini. Livia tidur siang, karena sudah selesai belajar. Jadi, Nisha hanya sendiri, tak ada yang menemaninya. Arini masih bekerja di rumah sakit, dan Andra pun untung saja tak ada di rumah. Nisha sangat berharap, ia tak akan bertemu dengan Andra lagi.
Rumah yang mewah dan nyaman. Pasti mereka sangat betah tinggal di rumah bak istana ini. Nasib hidup seseorang tentu saja berbeda-beda. Ada mereka yang digariskan untuk hidup kaya dan mewah, ada pula orang sepertiku yang digariskan hidup tanpa kedua orang tua. Sedih, tapi inilah hidup. Sepahit apapun, aku harus ikhlas menerimanya. Karena aku yakin, suatu saat nanti, aku pasti akan bahagia juga, walaupun bahagiaku sederhana. Aku tak boleh iri dengan apa yang mereka punya, aku harus bersyukur, walaupun hidupku seperti ini, aku masih diberi kesehatan. Terima kasih, ya Allah. Batin Nisha.
Nisha melamun, sambil berjalan-jalan di sekitar taman rumah Arini yang sangat indah. Ia melihat-lihat, bunga dan pepohonan yang sangat rapi dan menyegarkan. Tiba-tiba, Nisha kaget ketika seseorang memanggil namanya.
"Nisha ..." Calandra tiba-tiba ada dibelakang Nisha.
Nisha kaget, ia berbalik. "Kenapa harus ada dia? Bukankah tadi dia tak ada di rumah ini. Kenapa dia terus saja menemui ku? Sebetulnya, apa yang dia inginkan? Ya Allah, hilangkan lah rasa benciku pada laki-laki ini. Aku tahu, semua terjadi atas kehendakMu, tapi aku juga manusia biasa yang bisa kesal dan marah. Aku begitu benci pada laki-laki ini. Aku harus bagaimana?" Batin Nisha.
"Ada apa?" hanya itu yang mampu Nisha katakan. Ia kesal dan tak suka melihat Andra selalu mengajaknya bicara.
"Jangan menghindari aku terus. Jangan pergi, beri kesempatan aku bicara padamu." ucap Andra.
"Bicara apa? Tak ada yang perlu dibicarakan." jawab Nisha.
"Kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu tak ada di kampus? Kamu pindah? Kamu berhenti?" tanya Andra.
"Apa urusanmu bertanya hal yang bersifat pribadi seperti ini?" Nisha sedikit kesal.
"Sudah kubilang, aku menyesal. Aku ingin meminta maaf padamu. Kenapa kamu jual mahal sekali?" Andra mulai kesal.
Nisha kesal Andra menyebutnya jual mahal. Ini sudah sangat membuatnya emosi. Bisa-bisanya Andra berkata begitu. Padahal, semua ini penyebabnya adalah dirinya. Hanya saja, Nisha sudah tak mau mengungkitnya kembali. Kecewa dan kesal, hanya itu yang Nisha rasakan saat ini.
"Ah, sudahlah. Terserah apa katamu, aku tak ingin lagi berurusan denganmu. Permisi." Nisha berlalu.
Andra kesal. Lagi-lagi, Nisha pergi meninggalkannya untuk yang kedua kalinya. Sulit sekali untuk berbicara dengannya. Refleks Andra berlari mengejar Nisha dan menggenggam tangan Nisha. Nisha kaget, tangan Andra mencengkeram tangannya dengan cepat. Lagi-lagi, Nisha merasa itu perbuatan menjijikan jika Andra menyentuhnya kembali.
"LEPAS! Bisa gak sih kamu sopan sedikit!" Nisha menepis tangan Andra.
Andra melepaskan genggamannya, "Maaf. Aku hanya ingin kamu tak pergi ketika aku bertanya."
"Sudah kedua kalinya kamu memperlakukan aku seenaknya. Sudah cukup, hidupku hancur hanya karena ulah yang menurutmu sepele. Kumohon, aku tak ingin hancur untuk yang kedua kalinya. Lepaskan aku, dan biarkan aku tenang. Jangan ganggu aku, kumohon ..." Nisha hampir saja menangis.
"Apa maksudmu, Nisha? Aku tak mengerti." Andra bingung.
Nisha terdiam. Ia tak ingin membicarakan hal itu lagi. Ia ingin menguburnya dalam-dalam. Untungnya, belum sempat Nisha menjawab ucapan Andra, Calista dari jauh melihat Nisha dan segera memanggilnya.
"Kak Nisha ..." teriak Calista sambil melambaikan tangannya.
"Ah, maaf. Calista sudah pulang. Aku akan segera memulai les-nya. Permisi."
Nisha berlari dan meninggalkan Andra seorang diri. Meninggalkan pertanyaan yang tertinggal di kepala Andra, karena ucapan Nisha.
Apa maksudnya Nisha berkata begitu? Batin Andra.
__ADS_1
*Bersambung*