
Apartemen Rangga.
"Mau pulang kapan, Bu?" tanya Rangga.
"Siang ini saja, tapi aku harus bertemu Keyza dulu," ucapnya.
"Baiklah, kita ke Rumah sakit dulu kalau begitu." ucap Rangga.
"Baik, Bos. Terima kasoh, telah mengajak saya pulang ke Indonesia." jawabnya.
"Gak apa-apa. Sudah tiga tahun kan kamu gak pulang?" tanya Rangga.
"Iya, tapi beruntung kali ini aku bisa pulang, berkat kebaikan hati Bos." jawabnya.
"Kamu harus berterima kasih pada seseorang, bukan aku yang sengaja membawamu pulang."
"Pada siapa, Bos? Tentu saja aku akan mengucapkan terima kasih." ucap Rangga.
"Aku ingin pulang karena merindukan seseorang. Berterima kasihlah pada wanita yang membuat aku membawamu kesini. Kamu, Harusnya pulang satu tahun lagi, bukan? Karena suasana hatiku sedang bahagia kemarin, aku mengizinkanmu ikut pulang bersamaku. Aku mengatakan pada pihak transmigrasi bahwa aku akan berlibur, dan mengajak kamu." ucap Rangga.
"Benarkah? Baik Bos, aku akan sangat berterima kasih padanya."
Namanya, Rita. Rita adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Swiss. Saat itu, salah satu pelayan Rangga yang berasal dari Vietnam, telah habis masa bekerjanya, ia memutuskan untuk pulang dan tidak memperpanjang kontraknya. Lalu, pelayan itu menyarankan Rita sebagai penggantinya, karena Rita di pecat oleh majikannya yang dulu. Kebetulan Rita adalah warna negara Indonesia sama seperti Rangga.
Rita adalah Ibu beranak satu, ia memutuskan untuk menjadi TKI karena ingin mengubah perekonomiannya, karena suaminya sakit dan tak bisa bekerja. Jadi, Rita adalah tulang punggung keluarga. Beruntungnya Rita bisa bertemu dengan Rangga, Bos yang merupakan warga sesama Indonesia.
Keyza diasuh oleh Rita selama dua bulan ini. Rangga beruntung bertemu Rita, karena Keyza tak akan kesulitan berbicara dengannya. Keyza memanggilnya dengan sebutan "Ibu" karena Rita adalah sosok Ibu pekerja keras, yang tangguh.
"Rita, ayo kita pamit dulu pada keluargaku." ucap Rangga.
"Bos, tapi ..."
"Kenapa?"
"Kapan saya terbang ke Swiss lagi?" tanya Rita.
Rangga tersenyum, "Di Swiss pelayan tetap ku tinggal satu sekarang, karena Luyen sudah pulang ke Vietnam dan kamu kebetulan juga ikut pulang bersamaku. Aku tak keberatan jika kamu tak ingin kembali ke sana. Aku akan mengurus surat-surat ketenagakerjaan mu jika kamu tak ingin bekerja jauh lagi."
"Saya sebenarnya tak ingin menjadi TKI lagi. Namun, jika saya tak bekerja, anak dan suami saya makan apa? Mau tidak mau, saya harus kembali ke Swiss, Pak Bos." ucap Rita.
Rangga terdiam. Ia teringat, bahwa Arini telah melahirkan. Jika Arini melahirkan, itu berarti yang akan menjadi baby sitternya adalah Tira. Rangga tak ingin hal itu terjadi.
"Aku akan merekomendasikan pada keponakanku, agar kamu bekerja mengasuh bayinya. Asalkan, kamu serius bekerja dan menyayangi bayinya dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu, satu dua minggu sekali, kamu bisa pulang ke Bogor, bukan?" ucap Rangga.
__ADS_1
"Aku pernah bekerja menjadi pengasuh bayi, Bos. Aku sanggup menjalaninya, aku senang sekali jika ternyata aku bisa bekerja disini. Dengan begitu, aku tetap bisa menemui anak dan suamiku." Rita bahagia.
"Aku akan mengurus semua surat-surat kerja mu. Agar kamu tak ilegal, aku harus mengurus semuanya."
"Terima kasih banyak, Pak Bos." Rita bersyukur.
Aku akan mengejar lagi cintaku. Aku tak ingin, cintaku menjadi baby sitter untuk anak Davian. Aku ingin, Tira menjadi baby sitter untuk anakku, dan anak kita nantinya. Semoga, perjuanganku tak akan sia-sia. Aku harus bisa meyakinkan Tira, bahwa aku tulus mencintainya. Ternyata, pergi darinya bukan membuat aku bisa melupakannya, aku malah semakin merindukannya. Bahkan, saat ini pun aku belum bertemu dan berbicara dengannya, karena kedatanganku yang mendadak ini, membuat aku masih sibuk. Apalagi, ada Rita yang menjadi tanggung jawabku untuk memulangkannya.
"Bawa semua oleh-oleh ini untuk keluargamu. Aku mengajakmu ke rumahku, agar kamu membawa semua baju dan makanan ini. Ini semua baru ku beli saat sebelum aku terbang ke Swiss. Berikan pada keluargamu ya, Rita." ucap Rangga.
"Baik, Pak Bos. Terima kasih banyak. Aku jadi lupa berbahasa asing jika bicara dengan Pak Bos." Rita tertawa.
"Aku juga tak biasa berbicara bahasa asing jika dengan sesama warga Indonesia. Oh iya, istri dari keponakanku sudah melahirkan. Aku sudah tak sabar ingin melihatnya. Ayo, berangkat sekarang." ajak Rangga.
"Baik, Pak Bos."
...🍂🍂🍂...
Keluarga besar Arini dan keluarga besar Davian telah selesai menjenguk bayi. Satu persatu dari mereka pulang duluan, karena di ruang bersalin tak boleh banyak orang. Keluarga Arini akan ke rumah Davian jika Arini dan bayinya sudah diperbolehkan untuk pulang.
Arini sedang berbaring bersama bayinya. Davian selalu ada di sampingnya. Ia tersenyum senang, melihat bayi miliknya. Arini masih terbayang-bayang episiotomi yang dilakukan oleh Dokter Tika. Bahkan, ketika jalan lahirnya dijahit ulang pun, ia masih bisa merasakan rasa sakitnya. Hal itu membuatnya bergidik nyeri.
"Sayang, apa masih sakit?" tanya Davian.
"Sakit, Mas. Aku merasakan seperti nyawaku akan diambil saat itu juga. Aku kesulitan bernafas, tapi aku harus tetap kuat demi buah hati kita. Yang masih terbayang-bayang didalam pikiranku adalah, ketika aku di jahit. Ya ampun, rasanya itu Mas, di bius pun aku masih bisa merasakan ngilu dan linunya Aarrgghh, ngeri aku membayangkannya." ucap Arini.
"Eh, dasar pikiranmu itu kemana-mana aja, Mas! Jahitan ini itu akan menyatu dengan daging, dan ketika terlepas ketika sudah kering. Intinya, aku jangan sampai kelelahan ketika jahitannya belum kering, nanti lukanya takut terbuka lagi." jelas Arini.
"Aah, aku ngeri dengernya. Udah ah, gak tega aku bahas kayak gitu. Semoga kamu segera pulih lagi ya, istriku. Aku sangat menyayangimu. Kamu adalah wanita hebat yang melahirkan putra yang hebat juga. Apa kita beri nama bayi kita sekarang?" tanya Davian.
"Nanti aja, Mas. Tiga hari setelah lahir, baru kita beri nama. Lihat, Mas! Bayi kita mencari-cari susu. Dia ingin minum sepertinya." ucap Davian.
'Ayo, sayang. Berikan saja, anakku pasti sangat lapar sekali." ucap Davian.
"Mas pergi dulu! Aku malu," ucap Arini.
"Sayang, aku sudah tahu isi tubuhmu. Aku juga sudah pernah memegangnya. Masa kamu masih malu saja pada suamimu sendiri? Ayo, berikan susumu. Bayi kita pasti sangat lapar. Kasihan dia sayang," ucap Davian.
"Ah, Mas. Aku malu padamu! Asal Mas merem dulu, baru aku mau buka bajunya." ucap Arini menggigit bibirnya.
"Ya ampun, lucu banget sih kamu. Iya deh iya, aku merem nih. Nih, aku tutup juga pake tanganku ya!" Davian memejamkan matanya.
Arini membuka bajunya dan mengeluarkan buah dadanya untuk sang buah hati. Bayi mungil itu mencari-cari letak keberadaan dot alaminya. Davian yang gemas ingin mengintip membuka matanya perlahan-lahan. Ia tak tahan, melihat Arini yang gemas karena menahan malu.
__ADS_1
"Mas, jangan ngintip! Aku tahu ya, kalau kamu ngintip!" ujar Arini.
Davian membuka matanya. Ia tersenyum nakal pada Arini. Arini malu, karena Davian melihat buat dadanya yang terbuka. Arini menutup buah dadanya dengan bajunya, agar sedikit lebih tertutup
"Nah, tuh kan. Kamu gak perlu malu sama aku! Aku kan suami kamu sayang, masa malu sama aku." ucap Davian.
"Kan gak biasa terbuka gini, Mas. Aku harus beli penutup pay*dara. Ternyata, aku lupa membelinya." ujar Arini.
"Iya, iya sayang. Nanti aku belikan. Yang boleh melihat isi kamu itu hanya aku dan bayi kita. Orang lain gak boleh, tentu saja kalau kamu menyusui harus memakai penutup pay*dara!" jelas Davian.
"Kamu juga termasuk yang gak boleh lihat, tahu!" Arini. cemberut.
"Gak gitu dong sayaaaaaang-ku." Davian tersenyum pada Arini.
...🍂🍂🍂...
Keyza telah disuapi makan siang oleh Tira. Keyza tak ikut pulang, karena ia menunggu Rangga datang menjemputnya. Tira yang menemani Keyza, karena Tira diminta untuk menjaganya. Tira dan Keyza akan kembali ke ruang Arini. Namun, tiba-tiba,
"Key, Keyza ..." Rangga memanggil dari kejauhan.
"Ayah ..." Keyza bahagia sekali.
Rangga bersama Rita berjalan dengan cepat menemui Keyza. Dari jauh, Rangga sudah fokus menatap Tira yang terlihat semakin cantik dan mempesona. Tira melihat Rangga bersama wanita itu, membuat Tira kesal dan ingin segera pergi meninggalkannya.
"Key, Kakak disuruh Aunty ke ruangannya. Kakak pergi dulu ya, kan itu ada Ayah sama Ibu Key. Nanti kita ketemu lagi ya, bye sayang. Kakak pergi dulu," Tira berlalu
Tira pergi berjalan meninggalkan Rangga. Rangga yang melihat Tira berlalu, segera berlari mengejarnya. Rangga berlari hingga melewati Keyza, dan dengan sigap tangan Rangga menahan tangan Tira agar tak terus menghindar.
"Ra, Tira! Tunggu ..." Rangga ngos-ngosan, karena berlari mengejar Tira.
Tira berbalik, "Lepas, Tuan!"
"Ra, kenapa kamu pergi? Bukankah aku sudah bilang padamu, bahwa aku merindukanmu! Ada apa denganmu? Kenapa kamu berubah seperti ini, Ra?" Rangga tak mengerti.
"Jangan katakan rindu padaku, jika kamu telah memiliki wanita. Jangan kecewakan wanita mu dengan bualan mu padaku, Tuan. Maaf, aku harus pergi." Tira ingin melepaskan genggaman tangan Rangga.
Rangga tak kuasa mendengar ucapan Tira yang seperti sedang cemburu padanya dan juga pada Tira. Seketika itu pula, Rangga menarik tangan Tira, hingga Tira berada dalam dekapannya. Rangga memeluk Tira dengan hangat.
"Lepas, Tuan! Ini memalukan!"
"Tira, aku merindukanmu. Kamu keliru, kamu membuat aku semakin tertarik padamu. Maaf, aku pergi meninggalkanmu. Kukira, dengan aku pergi jauh, aku bisa melupakanmu dengan cepat. Tapi ternyata, jauh darimu membuat aku merasakan rindu yang teramat dalam. Rinduku semakin bertambah ketika aku jauh darimu. Kemarin, ketika aku mendengar suaramu, seketika itu pula, aku tak tahan lagi. Pertahanan ku hancur, aku ingin segera bertemu denganmu! Aku tak kuat lagi menahan rinduku ini. Soal Ibu Keyza, aku bisa jelaskan. Dia kesini untuk berterima kasih padamu, jangan salah paham." Rangga melepaskan pelukan itu perlahan-lahan.
Hati Tira terenyuh mendengar ucapan yang Rangga lontarkan padanya. Ia mengangkat wajahnya, dan menatap Rangga dengan tatapan yang tak bisa diartikan apa maksudnya.
__ADS_1
Benarkah ucapan itu? Sebegitu berartinya kah aku di hatimu, Tuan Rangga?
*Bersambung*