
Nadya sedang memanggang daging bersama Mita. Nadya yang notabene berasal dari kalangan bawah, tak pernah merasakan dan melakukan barbeque party seperti ini. Ia kesulitan memanggang daging yang lengket, apalagi harus membolak-balikan dagingnya dengan sempurna.
"Aww, panas.." tangan Nadya terkena percikan api.
Sekretaris Dika melihat Nadya yang memegangi tangannya karena terkena percikan api, refleks sekretaris Dika segera berlari melihat Nadya yang kesakitan.
"Kamu kalau gak bisa bilang sama saya, kenapa memaksakan diri? Sini, biar kulihat tanganmu," sekretaris Dika meraih tangan Nadya yang kesakitan.
"Kak Nad kecipratan api kecilnya pas mau balikin dagingnya, Kak." ucap Mita.
"Kamu ambilkan salep luka di kotak obat dekat ruang makan. Atau minta tolong bibi didalam, tolong ambilkan kotak obat." ucap sekretaris Dika.
"Baik, Kak." Mita segera berlari.
Nadya melepaskan tangannya, "Maaf, aku gak kenapa-napa kok. Cuma dagingnya lengket sekali, sulit untuk membalikkannya." jawab Nadya.
"Biar aku saja yang membuat daging panggang ini." ucap sekretaris Dika.
"Baik, terima kasih Pak. Maaf, saya jadi merepotkan Pak Dika." Nadya menunduk.
"Tak apa. Ketika Mita datang, segera olesi tanganmu dengan salep luka bakar. Jangan bilang lukanya tak seberapa. Walaupun lukanya tak seberapa, kalau tak diobati pasti akan sakit rasanya." tegas sekretaris Dika.
Apa? Kenapa dia tahu isi hatiku? Kenapa dia tahu apa yang akan aku bicarakan? Apa jangan-jangan, dia mempunyai indra keenam? Oh, tidak! Bahaya kalau hal itu benar adanya. Aku takut dia tahu, kalau aku selalu membicarakan dirinya didalam hatiku. Ya ampun, malunya aku. Batin Nadya.
Tira yang baru kembali dari halaman depan, melihat kejadian antara sekretaris Dika dan Nadya yang terlihat begitu hangat dan romantis. Ia memperlihatkan ekspresi tak suka ketika sekretaris Dika memegang tangan Nadya.
"Kamu cemburu, ya?" tanya Rangga tiba-tiba.
"Cemburu apa sih? Enggak kok!" Tira gelagapan.
"Ada apa sih antara kamu dan Dika? Kenapa aku cemburu melihat kamu memperhatikan mereka?" Rangga jujur.
"Aku tidak ada apa-apa dengannya. Aku hanya tak suka, kalau buaya dikasih nyawa, jadi kelaparan deh kayak gitu!" Tira meninggalkan Rangga dan segera menuju Keyza.
Tira, emosi mu dan emosi sekretaris Dika itu sama. Sebenarnya, ada apa dengan kalian? Kenapa kalian terlihat mempunyai chemistry yang sama? Kenapa aku merasa cemburu melihat Tira seperti itu pada Dika? Tira, mungkinkah aku bisa meraih hatimu? Batin Rangga.
Beberapa jam kemudian, mereka semua telah selesai melakukan barbeque party. Ayam panggang dan sapi panggang telah dihidangkan dan habis dalam seketika. Hingga akhirnya, Alif dan Keyza telah terlelap
karena kekenyangan. Akhirnya, Sekretaris Dika dan Tira memindahkan mereka ke dalam rumah. Anak-anak tak mungkin harus tidur didalam tenda.
Kedua anak itu telah selesai dibawa ke kamar. Mita menemani mereka, karena Mita juga tak mungkin berada diluar. Kini, Dika dan Tira harus segera kembali menuju taman tempat camping dilaksanakan. Sekretaris Dika dan Tira menuruni tangga secara bersamaan. Mereka memang tak pernah akur, selalu saja sinis dan cuek saat bersama.
"Seneng ya, bisa deket sama majikan!" sindir sekretaris Dika.
"Oh, iya dong. Aku mendapat perlakuan spesial dari majikan ku." Tira merasa puas.
"Kok mau-maunya sih? Karena uang ya?" sindir Dika lagi.
"Ya iya lah karena uang. Dekat dengan majikan, membuat aku hidup enak! Mau apa kamu? Masalah kalau aku mendekati majikan ku sendiri? Lagipula, dia juga masih lajang. Apa salahnya kalau kita dekat? Daripada kamu, bukan mendapat yang lebih, malah dekat dengan kasir minimarket!" Tira merasa menang.
"Kamu jangan menghina profesinya yang sebagai kasir minimarket ya!" sekretaris Dika tak suka.
"Memangnya kamu tak menghinaku? Memangnya, apa yang kamu katakan itu fakta? Kamu pun menghinaku. Berani sekali kamu bilang aku dekat dengan Tuan Rangga karena uang. Siapa bilang begitu? Kalau kamu tak tahu apa-apa, jangan sok tahu! Kalau kamu menjelek-jelekkan aku, aku pun bisa menjelek-jelekkan wanita yang kamu suka!" Tira berlalu meninggalkan sekretaris Dika.
"Siapa wanita yang aku suka? Kenapa kamu sok tahu sekali?" sekretaris Dika tak terima.
"Kamu menyukai kasir itu kan? Bilang saja! Tak perlu mengelak, karena kini aku tahu, selera mu itu seperti apa!" tegas Tira.
Davian datang mengagetkan mereka, "Lu berdua kenapa berseteru melulu sih? Kalau suka, jangan gengsi, kalau cinta jangan munafik, diembat orang baru tahu rasa lu berdua!" umpat Davian.
"Sorry, Bos. Gue gak seperti apa yang lu bayangkan!" tegas sekretaris Dika.
"Maaf, Tuan Davian. Aku rasa, Tuan harus menegurnya. Karena, dia selalu lancang mengganggu saya. Saya tak nyaman, dia terus saja membuat saya kesal. Entah apa keinginannya, namun dia terlihat kurang kerjaan selalu membuat saya marah." jawab Tira.
"Ah, kalian ini. Sudah, sudah. Ayo kita ke taman lagi. Istriku bilang, da permainan kecil yang dia inginkan. Ayo kita segera ke sana, buat dia bahagia." pinta Davian.
"Baik, Bos." jawab Dika.
"Baik, Tuan." jawab Tira.
Arini mengumpulkan mereka semua. Ditengah-tengah, sengaja ada api unggun kecil-kecilan, karena itulah keinginan Arini. Entah apalagi yang akan Arini lakukan malam ini. Sepertinya, ia memang punya rencana malam ini. Mereka ber-enam, bersama-sama. Arini dan Davian, Tira dan Nadya, serta Rangga dan Dika.
"Sayang, kenapa kamu ngumpulin kita disini?" tanya Davian.
"Aku ingin kalian ambil kertas dan bolpoin ini masing-masing satu. Silahkan ambil," perintah Arini.
Mereka semua menuruti apa yang diperintahkan oleh Arini. Satu persatu, mengambil kertas dan bolpoin yang ada didepan mereka.
"Sudah ya. Jadi gini, silahkan kalian tulis definisi cinta secara singkat, padat dan tepat menurut pemikiran kalian sendiri. Nanti, masukkan kedalam toples kosong ini. Ayo, lakukanlah. Aku ingin menguji kekuatan cinta diantara kita." ucap Arini.
__ADS_1
"Non, kekuatan cinta apaan? Diantara kita, yang berpasangan kan cuma Nona Arini dan Tuan Davian. Kenapa kita juga harus ikut-ikutan segala sih?" protes sekretaris Dika.
"Iya, Rin. Ngapain sih, aneh-aneh aja deh ni ibu hamil." ucap Rangga.
"Ah, bawel kalian. Yang cewek aja kalem dan diem aja kok! Kenapa kalian yang berisik kayak cacing kepanasan?" Arini sewot.
"Iya nih, lu berdua! Ikutin aja apa kata istri gue! Dia yang jadi ratunya malam ini." tegas Davian.
"Baiklah, raja bucin." Rangga pasrah.
"Baiklah, raja gombal." balas Dika.
"Eh, rese lu berdua!" Davian kesal.
"Udah, udah. Kita mulai ya. Tulis definisi cinta menurut pribadi masing-masing. Jangan panjang-panjang, singkat aja. Oke? Ready? Lets, go! Tiga menit ya." perintah Arini.
Mereka semua menulis apa yang diperintahkan oleh Arini. Hingga mereka selesai, satu persatu memasukan kertas yang telah dilipat kedalam toples kosong. Setelah selesai, Arini mulai mengundi kertas tersebut.
"Ini aku kocok ya, jadi diantara kita gak ada satupun yang tahu ini kertas punya siapa. Karena ambilnya random ya!" Arini mengocok-ngocok toples yang berisi kertas.
Setelah selesai, Arini menyuruh mereka mengambil kertas secara acak dengan menutup mata. Mulai dari dirinya yang mengambil pertama, kemudian Davian, terus ke Rangga, lalu pada Dika, dan terakhir pada Nadya dan Tira.
"Kalian sudah dapat satu persatu ya. Mulai dari suamiku tercinta. Buka kertasnya, dan baca apa yang ditulis didalamnya. Lalu, kita simpulkan itu milik siapa." tegas Arini.
"Oke, mulai." Davian mulai membaca isi kertasnya.
❤Cinta adalah hasrat yang menggebu, pada satu asa yang menjelma dan terpatri didalam hati, hingga tak ada satupun yang mampu melepaskan kekuatannya.❤
"Wow, punya siapa tuh?" ucap Rangga takjub.
"Eh, itu punya aku! Ya ampun, ternyata ada pada Mas Davi-ku. Aaah, kekuatan cintaku padamu memang nyata, Mas." Arini bahagia.
"Ciye, Arin. Bisa kompak gitu deh. Keren-keren. Coba, buka punyamu." ucap Nadya.
"Iya, Nona. Penasaran, Nona pegang kertas punya siapa." tambah Tira.
"Buka, buka, buka, buka," Rangga dan Dika bersorak.
"Oke, aku buka ya." Arini perlahan membuka kertas itu.
❤Cinta adalah ketika aku dan kamu berada dalam deruan nafas yang membara. Cinta adalah hasil dari keduanya, yang kemudian bersatu padu menjadi buah hati didalam kehidupan ini.❤
"Hahaha, parah otak lu Bos. Cinta menjurus kearah sono mulu ya!" umpat sekretaris Dika.
"Bukan maen, si Davian emang! Pikirannya, gak nyampe gue!" Rangga tertawa.
"Sayang, kamu itu ya! Tapi, aku bahagia, ternyata kita memang sehati. Kekuatan cinta kita itu nyata sekali. Kalian lihat kan? Aku dan suamiku, bisa pas begini? Aku yang mengambil kertas miliknya, dan dia pun mengambil kertas milikku." Arini senang.
"Memang kebetulan, tapi kebetulan yang mendasar. Kalian memang cocok," Nadya mengacungkan jempolnya.
"Iya, makanya aku cek kebetulan ini, akankah menjadi kebetulan semata, atau memang kebetulan yang didasari kekuatan cinta. Oke guys, lanjut sama Om Rangga. Ayo, Om." ucap Arini.
"Gue ya, gue? Oke! Punya siapa nih," ucap Rangga.
Semoga saja, ini kertas milik Tira, amin. Batin Rangga.
Rangga membuka kertasnya perlahan. Ia terbelalak kaget, karena melihat kertas miliknya sendiri yang ia pegang.
"Lah, ini punya gue sendiri. Gak asyik deh jadinya." Rangga sedikit kecewa.
"Gak apa-apa. Baca aja, berarti cinta belum berpihak pada elu, Om." Arini tertawa kecil.
"Jones sih, jones!" Davian tertawa puas.
"Ah, berisik lu, Dav! Nih, gue baca milik gue sendiri." ucap Rangga.
❤Cinta adalah ketika kita merasakan sebuah kenyamanan pada seseorang. Cinta juga, perasaan dimana kita tak sanggup untuk jauh darinya, apalagi kehilangan dirinya. Cinta berarti, perasaan yang tak boleh kita abaikan begitu saja.❤
"Wis, wis, wis, itu sih ungkapan hati yang terdalam ya, Ga?" Davian tertawa puas.
"Ah, berisik lu." Rangga sedikit kecewa, karena ia memegang kertas miliknya sendiri.
"Eh, eh, Nadya dong Nadya, giliran kamu sekarang!" pinta Arini.
"Oke, aku ya sekarang." Nadya mulai membuka kertasnya.
"Yah, Ini kertas milikku juga!" ucap Nadya.
"Duh, Rangga sama Nadya, cinta belum berpihak pada kalian ternyata." ucap Arini.
__ADS_1
"Ayo, baca, baca."
Nadya mulai membaca surat tulisannya sendiri.
❤Cinta itu, perasaan yang bisa timbul kapan saja, dan tenggelam kapan saja. Cinta itu, mudah datang dan mudah pergi. Cinta yang tulus, pastilah bertahan disini, tanpa berpikir untuk tenggelam ataupun pergi.❤
"Wiiih, Nadya jago merangkai kata juga. Puitis loh kamu," puji Tira.
"Bener ya, Nadya udah kayak pujangga-pujangga!" Arini tersenyum.
"Gue penasaran si curut Dika nih. Giliran elu sekarang! Ayo, tinggal elu sama Tira nih. Pembuktian kekuatan cinta antara kalian! Hahahah." Davian tertawa puas.
"Berisik lu, Bos bucin!"
Sekretaris Dika segera membuka isi suratnya. Matanya terbelalak kaget, ketika melihat isi didalam kertas tersebut. Ternyata, itu adalah kertas milik Tira. Sekretaris Dika tak menyangka, bahwa ia akan memegang kertas milik rival debatnya tersebut.
"I-ini, milik gue, Bos. Tulisan gue sendiri juga!" tegas sekretaris Dika menutupi kebohongannya.
"Ah, masa sih? Kok gak ada yang berjodoh satupun diantar kalian! Ya sudah, baca aja sekarang, Dik." perintah Arini.
❤Cinta adalah hal yang tak bisa dihindari. Perasaannya terus menggebu hingga ia berhasil mendapatkannya. Namun, tak ada jaminan bahwa cinta itu akan bahagia ketika dua insan telah bersama merajut kasih.❤
"Dik, elu kok galau sih isinya? Lagi galau lu ya?" ledek Davian.
"Kagak, lah!" timpal sekretaris Dika.
Kenapa dia harus menulis kalimat seperti ini? Ditujukan untuk siapa tulisannya itu? Kenapa kesannya, seperti seseorang yang sedang ragu? Batin Dika.
Tira refleks melotot dan melihat kearah sekretaris Dika. Ia sadar, bahwa itu adalah tulisannya. Tapi, ia tak menyangka, kenapa sekretaris Dika berbohong, bahwa itu adalah kertas miliknya sendiri. Tira tak habis pikir, kertasnya berada ditangan Dika. Itu berarti, kertas yang ia pegang pun, adalah kertas milik sekretaris Dika. Sekretaris Dika hanya menunduk ketika Tira menatapnya tajam.
Rangga merasa, ada yang aneh dari gelagat sekretaris Dika dan Tira. Mereka terlihat tak nyaman satu sama lain. Namun, Rangga tak mau terlalu mencurigai keduanya, hingga acara kembali fokus pada definisi cinta yang terakhir.
"Oke, berarti Tira juga memegang kertasnya sendiri ya. Bacain aja, biar seru. Kita juga pengen denger, apa arti cinta bagi seorang Tirani dwitasari." ucap Arini.
Tira malas, namun ia paksakan membuka kertas tersebut. Bagaimana ia tidak malas, kalau ternyata ia memegang kertas milik Dika. Dika sesekali menatap Tira, ia merasa bersalah pada Tira, karena telah membohongi dirinya dan juga yang lainnya.
"Aku baca ya," ucap Tira datar.
❤Cinta, adalah hati yang berawal dari tatap. Cinta juga bisa berawal dari benci. Benci yang menggebu, akan mendatangkan cinta yang indah suatu saat nanti.❤
Mereka bersorak. Tira ditertawai oleh Arini dan Davian.
"Ra, kamu kayak yang perasaan pribadi itu sih. Hihihi," Arini tertawa.
"Ah, enggak, Non. Biasa saja, kok." Tira malu.
Sial, kenapa kata-katanya harus seperti ini. Dasar sekretaris kurang ajar! Berani-beraninya! Tira kesal.
"Baiklah, karena tak ada yang berpasangan diantara kalian selain aku, aku saja yang akan bicara ya. Maksud aku buat kayak gini itu, biar ada kedekatan diantara kita. Syukur-syukur kalau kalian bisa berjodoh, seneng rasanya jodoh-jodohin kalian. Coba saja diantara kalian ada yang memegang kertas orang lain, itu tandanya Tuhan sedang mendekatkan kalian. Ternyata, hanya aku dan Mas Davi yang sedang dimabuk cinta. Ayo dong, kalian kapan? Baby-ku banyak maunya. Salah satunya, jodoh-jodohin kalian." Arini tertawa.
"Sayang, kamu memang luar biasa. Cinta kita sudah tak perlu diragukan lagi." Davian memeluk istrinya.
"Emang deh lu berdua, bikin gue iri." ucap Rangga.
"Arin, kamu bisa banget deh! Heheheh." Nadya turut senang.
Berbeda hal dengan Tira dan sekretaris Dika, yang terlihat saling kikuk mendengar ucapan Arini. Kalau memegang kertas orang lain, tandanya Tuhan sedang mendekatkan kalian? Hal itu yang membuat Tira dan sekretaris Dika merasa aneh dan tak nyaman sama sekali.
Untung aja, gue bohong. Ada faedahnya gue berbohong kali ini. Selamet, selamet! ucap sekretaris Dika dalam hati.
Tira menatap sekretaris Dika dengan pekat. Sebenarnya, ada baiknya juga sekretaris Dika berbohong, namun Tira tetap kesal dan tak suka dengan isi dari kertas yang sekretaris Dika buat.
Ada bagusnya juga dia berbohong. Kalau dia tidak berbohong, habis aku jadi bulan-bulanannya Nona sama Tuan. Tapi, yang membuat kesal adalah kenapa tulisannya harus seperti itu? Kenapa tulisan dia seakan-akan ditujukan untukku? Apa ini hanya perasaanku saja? Gumam Tira dalam hati.
Rangga memperhatikan Tira yang sedang melamun dan menatap sekretaris Dika.
Ada apa dengan mereka? Batin Rangga.
Davian pun tak kalah dari pandangan mereka bertiga.
Rasa hangat karena api unggun, terkalahkan oleh sifat dingin mereka yang seperti es di kutub utara! Kenapa mereka ini? Batin Davian.
*Bersambung*
Sebenarnya, siapa suka siapa sih? Nanti, mereka bakal sama siapa sih? Apa Tira bakal sama Rangga? Apa Tira bakal sama sekretaris Dika? Tetap nantikan saja ya, karena kisah cinta itu tak semudah membalikkan telapak tangan 😅
Temen-temen, baca karya temen aku yuks, bagus banget🤗
__ADS_1