Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
otw camping


__ADS_3

Bukan tak mau memberikan mahkotanya pada Davian, namun Arini masih takut, ia benar-benar belum siap, ia merasa hatinya belum yakin sepenuhnya pada cinta mendadak yang terjadi antara dirinya dan Davian.


Apalagi, kisahnya bersama Mas Adit sampai saat ini masih diambang kegalauan. Mas Adit selalu saja mengirim pesan pada Arini. Arini bingung, sejak dulu Mas Adit selalu saja mengejarnya, bahkan sudah tak terhitung berapa kali Mas Adit menyatakan cinta pada Arini.


Kali ini, Arini harus berkata jujur pada Mas Adit. Arini tak ingin, laki-laki itu terus berharap padanya. Sedangkan, disini Arini telah SAH menjadi istri dari Davian, sang pewaris tahta keluarga Raharsya Group.


Pagi ini, Arini bingung. Semalam, Davian marah padanya, bukan tanpa alasan Arini menolak Davian, tentu karena Arini merasa dirinya belum siap. Arini masih takut, masih ada beberapa hal yang mengganjal dalam dirinya.


Mas, Davi... Dia masih tidur. Maafkan aku, Mas. Aku belum siap, bahkan tak siap entah sampai kapan aku akan seperti ini terus. Aku akan bersiap berangkat pagi ini. Bagaimana aku membawa jinjingan yang berat dan besar ini ya? Mas Davian pasti nggak mau nganterin aku. Apa aku bisa membawa semua barang-barang ini sampai rumah? Ah, hanya sedikit. Aku mampu kok, aku kuat membawanya. Batin Arini.


Pagi ini, Arini mencoba membuat sarapan yang spesial untuk Davian, suaminya. Ia membuat menu khas sunda yang selalu diinginkan Davian. Soto Bandung, makanan yang khas identik dari kota Bandung.


Arini membuatnya dengan penuh cinta. Ia berharap, Davian akan menyukai soto buatannya dan memaafkan hal yang semalam terjadi.


Arini membawa dua piring untuk sarapan pagi bersama Davian. Arini harus membujuk Davian, agar Davian tak marah lagi padanya.


"Mas? Bangun, ayo sarapan." ucap Arini


Davian menggeliat, ia tak menjawab ucapan Arini. Arini benar-benar bingung harus bagaimana, agar Davian tak marah lagi padanya. Sebisa mungkin, Arini meredakan amarah Davian, agar Ia bisa di izinkan pergi camping.


"Mas, Bangunlah! Ini udah siang." ada nada kesal pada diri Arini


"Ini weekend. Aku mau tidur seharian." jawabnya sedikit malas


"Ya boleh saja Mas, tapi kita sarapan dulu ya? Setelah itu, Mas bisa tidur lagi." bujuk Arini


"Lu sarapan sendiri aja." Davian menarik kembali selimutnya


Arini bingung. Davian masih marah padanya. Ia harus bagaimana membujuk Davian yang masih marah padanya. Arini tak punya banyak waktu, ia harus pulang dahulu ke rumah Ibunya.


Arini harus menggunakan jurus jitu pada Davian. Sepertinya, ia harus menutup urat malunya agar Davian memaafkannya. Arini pelan-pelan naik keatas ranjang, ia tidur di sebelah Davian, memeluknya dari belakang dengan lembut. Ia berharap, agar sang suami mengerti keadaannya, dan tak marah lagi pada dirinya.


"Sayang?" ucap Arini sambil memeluk Davian dari belakang


“Hmmm?" ucap Davian malas


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Arini


"Nggak, aku masih ngantuk," jawabnya


"Sarapan dulu sayang, ayo!" bujuk Arini


"Kami duluan aja." jawab Davian sambil tetap menutup matanya

__ADS_1


"Mas.."


"Apa?"


"Balik sini, lihat aku!"


"Aku ngantuk!" jawab Davian


Arini kesal. Dengan sekuat tenaganya, ia membalikkan tubuh Davian yang kekar itu, ia terus memaksa agar Davian berbalik kearahnya. Davian merasa terganggu dengan perlakuan Arini yang entah apa inginnya.


"Apa sih?" Davian berbalik


"Jangan cuekin aku, dong!" Arini kesal


"Kamu ini kenapa sih? Aku nggak cuekin kamu, aku kan lagi tidur. Apa kamu gak lihat, mataku tertutup dari tadi." ucap Davian


"Tapi aku ngerasa, Mas beda sama aku! Biasanya, tiap pagi aku bangunin Mas untuk sarapan, Mas selalu cepat-cepat bangun!"


"Sekarang aku masih ngantuk. Memangnya, harus selalu sama ya?" tanya Davian


"Aku gak mau kamu marah, Mas."


"Aku gak marah, Arini." ucap Davian


"Hmm?"


Arini memegang pipi Davian, lalu menciumnya dengan lembut. Arini lagi-lagi melahap bibir Davian. Arini memang tak tahan jika melihat bibir manis Davian. Namun, jika untuk melakukan hal yang selalu diinginkan Davian, Arini benar-benar takut. Hatinya belum sepenuhnya siap.


Davian kaget, lagi-lagi istri menyebalkan nya itu memberikan serangan pada dirinya yang masih setengah sadar. Arini selalu berani menciumnya, sehingga membuat tubuh Davian bereaksi, namun jika Davian teruskan lebih lanjut, Arini selalu menolak.


Davian menikmati ciuman mesra yang Arini berikan. Perlahan, Davian mulai mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal akibat sentuhan bibir manis itu.


"Cukup." Davian menghentikan ciumannya


"Kamu masih marah ya, Mas?" Arini menggigit bibirnya


"Nggak, aku gak mau meneruskan ciuman kita ini." jawab Davian


"Kenapa?"


"Aku heran sama kamu, kamu yang selalu memancingku mencium-ciun seperti ini, tapi jika aku minta lebih padamu, kamu selalu menolak dengan alasan belum siap."


"Maaf, Mas." Lagi-lagi, ucapan maaf Arini sangat menggemaskan

__ADS_1


"Kalau kamu tak mau aku berbuat lebih gila dari ini, jangan sembarangan nyosor-nyosor aku terus."


"Aku ingin kamu memaafkan aku, Mas."


"Kapan kamu akan siap memberikannya padaku?" tanya Davian lagi


"Setelah selesai camping, aku janji."


"Kalau sampai janjimu meleset lagi, aku putuskan untuk tidak meniduri mu selama-lamanya."


Davian bangun dari tidurnya, lalu ia beranjak masuk ke kamar mandi. Ada perasaan sakit yang mengganjal di hati Arini.


"Mas.."


Mas, apa kamu serius dengan ucapan mu? Apa maksudmu, kamu akan menceraikan ku, jika aku tak mau berhubungan denganmu? Kenapa aku jadi tak rela jika berpisah dengan Mas Davian? Apa aku mulai jatuh cinta padanya? Gumam Arini.


***


Davian telah selesai mengantarkan Arini menuju rumahnya. Davian tak mau terlalu lama di rumah Arini, karena jika Davian terlalu lama bersamanya, ia akan berat hati meninggalkan istrinya itu.


"Makasih, Mas. Udah nganterin aku." ucap Arini


"Jaga dirimu, hati-hati saat camping nanti. Aku tak mau terjadi sesuatu padamu, Arini." ucap Davian lembut


"Iya, Mas. Kamu juga hati-hati dijalan, jangan ngebut-ngebut ya." ucap Arini


Dalam perjalanan pulang, hati Davian sangat sedih meninggalkan istrinya untuk pergi camping. Davian sangat kesal, namun Davian tak bisa berbuat apa-apa, karena Arini terus saja memaksa ingin pergi.


Ketika Davian sedang mengemudikan mobilnya, handphonenya berbunyi. Ia melihat nomor yang tertera. Ia tahu, siapa yang meneleponnya. Itu adalah Tasya, sang cinta pertama Davian.


Davian mengabaikan telepon Tasya, karena Davian sudah tak mau berhubungan dengan Tasya. Namun, panggilan itu terus berdering sampai beberapa kali. Panggilan Tasya, membuat Davian terganggu. Akhirnya, Davian mengangkat telepon Tasya, karena Davian pun penasaran, ada apa lagi Tasya meneleponnya berkali-kali.


"Halo, ada apa Sya?" ucap Davian lewat telepon


"Davi, Davian!!! Tolong aku, aku takut. Ada tiga orang jahat yang mengurungku, aku takut Dav.. Tolong aku, aku takut mereka akan menyakitiku. Davian, kumohon, hanya kamu yang bisa menolongku." Tasya menangis di ujung telepon


"Kenapa harus aku, Sya? Kamu dimana?"


*Bersambung*


Pagi, jangan lupa like dan komentar juga ya biar aku semangat nulisnya.. Kalau penasaran, ketik komentar kalian, karena ini akan menuju panas-panasnya nih. Arini dengan Mas Adit, dan Davian dengan Tasya. Apa yang akan terjadi pada mereka?


Yang mau crazy up, silahkan ketik di komentar ya😘

__ADS_1


__ADS_2