Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Season 2. Tante Meisya?


__ADS_3

"Kenapa kita harus ke sana?" tanya Davian.


"Mas, Mama minta kita ke sana. Tante Meisya ingin bertemu kamu dan juga aku. Mungkin dia mau minta maaf dan menyadari kesalahannya." ucap Arini.


"Masa bodoh. Aku tak peduli. Biarkan saja dia. Kamu tak boleh kemana-mana." ucap Davian.


"Mas, jangan begitu. Kita boleh marah sama mereka, tapi kita juga harus memaafkannya, kita jangan dendam berlarut-larut pada mereka. Kumohon, Mas."


"Kamu jangan maksa. Aku bilang tidak, ya tidak!" bentak Davian.


"Kamu membentak aku, Mas? Baiklah, jika kamu tak mau, biar aku yang berangkat sendiri!" Arini bergegas mengambil blazernya.


Davian tak tahan jika Arini marah padanya. Dengan sigap, Davian segera berdiri dari duduknya, dan langsung berjalan kearah Arini. Tanpa basi-basi, ia memeluk Arini dari belakang. Arini tersentak kaget, tak menyangka Davian akan seperti itu.


"Maaf, aku gak suka kamu marah-marah gini. Aku hanya takut, Tante Meisya mengata-ngatai kamu lagi, sayang. Aku hanya ingin melindungi kamu dari iblis-iblis itu." Davian mengecup pundak Arini.


"Mas, aku kan perginya sama kamu, kamu gak boleh berpikiran jelek terus. Siapa tahu kan Tante Meisya memang berniat minta maaf sama kita."


"Iya, aku paham. Baiklah, ayo kita ke sana. Aku akan memastikan, apa yang dia inginkan." ucap Davian.


"Makasih, Mas."


"Aku akan menuruti semua keinginanmu, jika kamu memaksa. Maafkan aku yang keras kepala ini ya."


"Mas tidak keras kepala, Mas hanya takut aku kenapa-napa kan, aku yakin, tidak akan terjadi apa-apa Mas. Kita coba memaafkan masa lalu saja." ucap Arini.


"Baik, sayang. Istriku yang baik hati."


***


Davian dan Arini seperti biasa diantar oleh sekretaris Dika. Sekretaris Dika selalu siaga menemani Davian dan Arini kemanapun mereka akan pergi.


"Dik, kalau gini terus lu bakal sudah dapetin cewek! Sekali-kali lu cari cewe lah, jangan kerja mulu. Minta libur atau cuti gitu sama gue." ucap Davian didalam mobil.


"Gue kan pekerja keras, Bos. Kalau gue udah kaya, gak perlu nyari cewek, ntar juga pada ngantri sama gue."


"Pede banget lo, Dik! Kalo gak lo cari juga cewe mana tahu kalo elu sekarang udah tajir!" ucap Davian.


"Iya sih, Bos. Hehehehe." sekretaris Dika cengengesan.


"Dika, kenapa kamu gak coba deketin Tira aja? Dia cantik dan juga pintar. Aku tahu, Tira juga belum punya pacar loh. Kalau kamu deket sama dia, kamu gak perlu repot-repot ngambil cuti. Kerja bareng kita juga termasuk pacaran buat kalian." tambah Arini.

__ADS_1


"Apaan sih, Non. Gak ah, si Tira bukan level saya. Cewek galak kayak gitu kok, malesin banget." bantah sekretaris Dika.


"Heh lu, jangan benci-benci sama orang, nanti lu bisa suka sama dia! Kemakan omongan lu sendiri, baru rasa lu." tambah Davian.


"Kayak elu ya Bos? Persis elu, yang kemakan omongan lu sendiri." ucap sekretaris Dika.


"Sialan lu. Kenapa bawa-bawa gue!"


"Gue gak akan kayak Bos, bisa-bisanya dulu maki-maki Nona Arini, sekarang aja Bos malah bucin banget kan? Bos malah berlebihan sama Nona Arini. Padahal, dulu itu Bos sering banget ngedumel jelek-jelekin Nona Arini." uca sekretaris Dika.


"Emangnya Mas Davian dulu bilang apa tentang aku? Gimana dia jelek-jelekin aku?" tanya Arini.


"Sayang, jangan didengerin si Dika ini. Mulutnya udah persis kayak air comberan deh, kotor banget! Aku gak pernah maki-maki atau ngedumel sama kamu, aku hanya memuji kecantikan dan aura kamu, walaupun kamu pembantu di rumahku, tapi kamu bener-bener beda dari yang lain, sayang." Davian merayu Arini.


"Aku gak ngomong sama kamu. Aku ngomong sama Dika. Dika jawab!"


Ah, Dika kampret. Kenapa lu bangunin macan yang lagi tidur? Dia lagi jinak, malah lu bangunin. Gimana kalau ni macan menerkam gue? Oh, tidak. Jangan sampai macan cantik ini marah. Gila, gak akan dapet jatah dong gue nanti. Udah dibatas, bakal gak dapet sama sekali kalau kagak begini. Batin Davian.


"Mm, a-anu, Non. Ah, enggak deh. Gak apa-apa kok, Bos gak pernah ngomongin Nona, Bos amat sayang sama Nona." sekretaris Dika takut melihat sorot mata Davian yang tajam dan menakutkan.


"Kamu takut ya sama suamiku? Tenang aja, dia gak akan berani marahin kamu kok. Aku yang bakal marahin dia, kalau dia berani marah-marah sama kamu." ucap Arini.


"Sayang, jangan mengungkit masa lalu dong! Kok kamu jadi sensitif gitu sih. Sekretaris Dika mulutnya keseleo, sayang. Dia jadi salah bicara. Nanti biar aku bawa dia ke dokter."


"Maaf sayang, istri chubbyku, itu kan dulu, sebelum aku jatuh cinta padamu. Coba saja tanya Dika setelah aku jatuh cinta padamu, apa yang aku katakan tentangmu, dan apa yang selalu aku lakukan." ucap Davian.


"Sayangnya aku tak tertarik untuk itu, karena aku sudah tahu, Mas."


"Hehehe, I love you istriku.. Kamu sangat menggemaskan." Davian mencium pipi Arini yang mulai terlihat chubby.


"Ih, Mas Davi, gak kasihan apa sama sekretaris Dika, jangan mesra-mesraan didepan dia, kalau dia ngebet gimana? Kan kasihan, dia belum punya istri." ucap Arini.


"Aduh, Nona. Sungguh terlalu ucapan mu, gini-gini aku banyak digilai oleh wanita di akun sosial mediaku, lho!"


"Wajar aja lu digilai cewek-cewek di IG atau FB lu, karena foto-foto lu keren-keren semua. Mulai dari pake mobil Ferrari gue, trus pake mobil range rover gue. Foto di Swiss, foto di Aussie, foto di Tokyo, lu kan keliatan keren banget. Jadi cewek-cewek pada ngebet sama lu, lu suka caper sih, padahal itu semua milik gue!" balas Davian.


"Hehehe, gak apa-apa dong, Bos. Kan gue cari orang yang bener-bener sama gue, kalau cewek-cewek yang ngebet dan demen ama gue karena semua itu, gue tinggalin, karena gue cari yang setia, dan apa adanya.".


"Basi lu ah,"


"Yeee, Bos mah gitu."

__ADS_1


***


Arini dan Davian telah sampai di rumah sakit. Mereka segera masuk ke ruang tempat Tante Meisya di rawat. Mama dan Papa Davian sudah berada di sana. Kondisi Tante Meisya sangat mengkhawatirkan sekali.


"Dia ini kenapa?" tanya Davian tiba-tiba.


"Tante mu sakit jantung dan diabetes. Penyakitnya komplikasi, dan ini terjadi sudah lama, namun kali ini kondisinya benar-benar drop. Dia mungkin depresi dan banyak pikiran. Kasihan sekali dia, Dav." ucap Mama Davian.


"Itu balasan atas semua perbuatannya." ucap Davian.


"Dav, jangan begitu."


Tante Meisya perlahan-lahan membuka matanya. Ia melihat Davian dan Arini dengan mata sayu dan wajah yang pucat.


"Da-Davian.. Maafkan Tante, maafkan semua kesalahan Arkan dan Tante. Sungguh, tante bersalah pada kalian semua. Ma-maafkan Tante, Dav. Tante salah." ucap Tante Meisya dengan suara lemah dan terbata-bata.


"Aku sudah memaafkan mu dan anakmu. Sudah, aku pergi." Davian menggenggam tangan Arini, dan akan beranjak pergi.


"Da-Dav, Davian. Tunggu..." Tante Meisya dengan suara lemahnya mencoba bangkit ingin menahan Davian.


"Apalagi?" tanya Davian ketus.


"Mas, sabarlah, jangan terlalu emosi. Tante mu sedang sakit." ucap Arini.


"Dav, tenang." ucap Mama Davian.


"Davian, A-Arini, kamu pantas mendampingi Davian. Dari semua keluarga ku dan keluarga Davian, sepertinya aku ha-hanya akan percaya pada Arini. Mungkin, umurku tak akan lama lagi. Aku mempunyai satu hartaku yang paling berharga, Arini. Da-Davian, izinkan aku meminta pada istrimu, untuk menjaga cucuku, Keyza. A-aku ingin, Keyza dirawat dan diasuh oleh istrimu, a-aku percaya pada istrimu, dia wanita yang baik, Davian. Kasihan nasib cucuku, kumohon... Terima cucuku, dan jaga dia.."


"Tidak bisa! Tidak bisa seperti itu. Kau tahu kan? Cucumu adalah anak haram! Dan aku, aku tak sudi istriku mengurus anak haram hasil perzinahan Arkan dan Meliza. Cuih! Ayo, Arini. Kita pergi. Aku tak ingin mendengar ocehan wanita tua itu lagi." Davian benar-benar emosi.


"Mas, jangan seperti itu, Ma-Mas, Auwh, sakit. Lepaskan." Arini terpaksa mengikuti Davian, karena genggaman tangan Davian sangat kencang.


"Dav, Davian." Papa Davian pun turut emosi dengan ucapan Davian.


"Kak Meisya, sabarlah dulu. Tenangkan dirimu, mungkin Davian syok mendengar ucapan itu. Kuharap, jangan meminta hal seperti itu pada istri Davian, karena Davian tak mungkin akan mengizinkannya. Kenapa tak kita coba cari Meliza? Keyza pasti ingin dengan Ibunya, bukan dengan wanita lain." Mama Davian menenangkan Arini.


"A-aku, aku sudah tak ingin Keyza diurus oleh Ibunya. Ibunya tega meninggalkannya, a-aku takut, suatu hari nanti cucuku akan dia tinggalkan lagi. Aku tak percaya pa-pada menantuku itu, makanya, aku ingin menantu mu yang mengurus cucu-ku, di-dia adalah wanita yang tulus. Aku percaya padanya."


"Kak, cukup! Anakku sangat keras kepala. Tak mungkin melunakkan dia dengan cara apapun! Sudah, jangan berharap cucumu bisa berada di pangkuan menantuku." ucap Papa Davian.


"Dirga, kenapa kamu setega itu pada keluargaku? Hanya Keyza penerus ku, kenapa kamu tak mau membantuku sedikitpun? A-aku, memohon padamu, tolong aku, anak kecil itu tek berdosa, kumohon..."

__ADS_1


Tante Meisya menangis. Air matanya tak terbendung lagi, betapa ia menangisi nasib cucunya, yang kini tak terurus, dan tak ada yang mengasihinya selain pembantunya. Keyza, gadis cilik berusia 4 tahun itu, sangat memprihatinkan, gadis kecil yang tak berdosa, harus menanggung akibat dari semua perbuatan yang dilakukan Ayahnya. Gadis kecil yang malang..


*Bersambung*


__ADS_2