
8 TAHUN KEMUDIAN ...
Kehidupan Arini dan Davian semakin bahagia, karena kini, Davian dan Arini telah di karuniai bayi perempuan juga. Callandra kini mempunyai adik perempuan yang berusia 4 tahun. Saat Arini melanjutkan sekolah kedokterannya, Arini hamil dan melahirkan Callista.
Kebahagiaan Arini terasa semakin nyata, karena ia telah mencapai tujuan hidupnya selama ini. Ia telah menyandang gelar sarjana kedokteran dan sekarang sedang melanjutkan sekolah pendidikan Dokter spesialis. Davian mengizinkan Arini untuk menggapai cita-citanya kembali, namun dengan beberapa syarat khusus yang harus dipatuhi Arini.
FLASHBACK ON.
8 tahun yang lalu ...
"Mas Davi ngizinin aku jadi Dokter gak sih? Kenapa jawabannya selalu gak pasti terus! Bukankah Mas banyak uang? Dan tentunya aku bisa sekolah kembali. Apa sulitnya sih Mas mengatakan iya?" Arini terus mengerek.
"Bukan soal uang! Ini soal hatiku. Kamu pikir, sekolah kedokteran lagi tak menyita waktu apa? Kamu pikir, aku bakal seneng kamu tinggalin? Kamu bakal sibuk dan ngelupain aku sama Callandra. Apa kamu gak sadar akan kewajibanmu menjadi seorang Ibu?" sambar Davian.
DEG. Hati Arini seperti dihujam. Ia sakit, mendengar ucapan Davian. Itu memang benar, tapi cita-cita tetaplah ada. Memang, kini ia telah menjadi seorang Ibu dan seorang istri. Tapi, apakah salah jika ia tetap ingin mengejar cita-citanya? Arini terdiam, lidahnya serasa kelu. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Davian. Semua yang di ucapkan Davian memanglah benar, Arini tak bisa membantahnya.
"Kenapa gak jawab? Memangnya, aku kurang apa? Apa kebutuhan kamu masih belum tercukupi, sampai-sampai kamu memaksa ingin menjadi Dokter dan ingin berpenghasilan sendiri? Aku bisa menghidupi mu dengan mewah dan membahagiakanmu, Arini. Kamu tak perlu susah payah melakukan semua itu." tegas Davian.
Arini terdiam. Ia sulit untuk menjawab ucapan Davian yang begitu pedas melebihi bon cabe level 30. Hingga Arini pasrah dan memutuskan untuk meminta maaf pada Davian. Ia salah, karena lebih memilih egonya dibanding dengan keluarganya. Air mata Arini tak terasa mengalir di pelipis matanya.
"Maafkan aku. Aku terlalu egois." Arini berlalu dan mengusap air matanya.
Davian merasa bersalah karena Arini menangis dan hatinya pun turut menangis karena sang istri terlihat sekali sangat terluka. Davian segera berlari mengejar Arini dan memeluk Arini kedalam dekapannya. Davian mengusap rambut Arini dan mencoba menenangkan Arini yang terlihat begitu sedih.
"Maafkan aku ..." ucap Davian.
Arini tak menjawab. Ia bingung dan hatinya amat kacau. Ia harus berpikir dengan tenang dan merelakan semua ini. Mungkin, menjadi istri seorang Davian Raharsya pun sudah cukup. Arini tak harus bekerja keras menggapai cita-citanya selama ini.
"Aku terlalu cemburu jika kamu fokus dengan sekolah kedokteran mu. Aku takut perhatianmu padaku dan Callandra akan berkurang. Apalagi, jika nanti kamu telah menjadi Dokter." ucap Davian.
Arini tetap tak bergeming. Ia masih bingung dengan hatinya.
"Aku hanya tak ingin kamu terlalu sibuk dan kamu kelelahan. Tapi, jika angan dan cita-citamu sejak dulu adalah menjadi Dokter, rasanya aku terlalu egois jika harus menahan semua itu. Maka, aku putuskan, silahkan kejar cita-citamu, dengan berbagai syarat yang harus kamu patuhi." ucap Davian mengagetkan hati Arini.
Arini mendongak keatas. Ia menatap Davian yang berbicara bahwa mengizinkannya kembali sekolah kedokteran. Arini kini menangis terharu, ternyata Davian mau mendengarkan permintaannya.
"Mas serius?" Arini mengusap air matanya.
"Sayang, asalkan kamu dengarkan syarat dan ketentuannya. Sini, duduk dulu di sofa, kamu harus mendengarkan ini." ucap Davian.
Davian menuntun Arini kembali duduk di sofa. Mendengar Davian mengizinkan pun hati Arini sudah sangat bahagia. Ia tak peduli, jika banyak syarat dan ketentuan yang Davian berikan, yang terpenting Davian sudah mengizinkannya untuk kembali mengejar cita-citanya yang tertinggal.
"Apa, Mas?" Arini penasaran.
"Jangan jadi Dokter umum. Jadilah Dokter spesialis!" ucap Davian tiba-tiba.
Arini kaget, "Ha? Bukankah untuk menjadi Dokter spesialis itu tidak mudah, Mas? Bahkan, harus sekolah lagi setelah mendapat gelar profesi Dokter." ucap Arini.
"Kalau mau jadi Dokter, jangan setengah-setengah. Aku akan full membiayai sekolah pasca sarjana kedokteran kamu nanti. Pilih spesialis kebidanan dan kandungan. Jadilah dokter kandungan agar kamu ..." ucapan Davian terpotong.
"Agar kamu apa? Jangan bilang kalau kamu cemburu dan sengaja agar aku fokus memeriksa ibu-ibu hamil?" tebak Arini.
Davian terkekeh, "Tentu saja, itu kamu tahu! Belajarlah, dan kejarlah cita-citamu. Tapi, tidak dengan menjadi dokter umum yang bisa mengobati siapa saja. Aku ingin kamu menjadi dokter spesialis kandungan yang fokus memeriksa Ibu hamil. Apa kamu sanggup menjalani sekolah kedokteranmu sampai kamu lulus pendidikan spesialis nanti?"
"Ah, entahlah Mas. Aku jadi ragu kalau harus menempuh pendidikan pasca sarjana. Belum lagi, nanti aku harus menjadi koas dulu, dan internship yang memakan waktu lama." Arini jadi ragu.
"Jika itu keinginanmu, aku pasti mendukungmu. Sekolahlah, dan belajarlah dengan giat, asalkan jangan lupa padaku dan anak kita. Kamu harus tetap ingat bahwa kamu adalah seorang istri dan juga Ibu. Kejarlah cita-citamu, dan tetaplah di sampingku. Maafkan aku, yang egois dan tak memikirkan perasaanmu." Davian mengelus-elus rambut Arini.
"Mas serius?" tanya Arini.
__ADS_1
"Tentu saja, semoga sukses, sayang." Davian mencium kening Arini.
"Terima kasih banyak. Aku sangat terharu ..." mereka larut dalam pelukan.
FLASHBACK OFF.
...πΈπΈπΈ...
Arini akhir-akhir ini sedang sibuk. Biasanya, jika ia sedang cuti kuliah, ia selalu menjemput Callandra ke sekolah, namun sekarang Davian yang menjemput karena Arini tak bisa menjemput anak sulungnya tersebut. Davian yang akan menjemput Callandra sendiri, karena siang ini ia tao banyak kerjaan.
Davian sudah menunggu di depan sekolah Callandra, menunggu anak laki-lakinya pulang. Callandra, sering di panggil Andra, oleh Davian dan Arini sebagai panggilan sayang mereka pada Callandra. Tak lama, Callandra keluar dari kelasnya dan langsung menghampiri Davian yang berdiri di dekat lapang sekolah.
"Daddy ..." Callandra melambaikan tangannya pada Davian.
Davian membalas lambaian tangan si tampan Callandra. Callan segera menghampiri Davian yajg sedang menunggunya. Davian sangat tampan, walau kini usianya sudah kepala tiga. Pesonanya tak dapat terhindarkan, apalagi dengan kacamata yang menempel di atas kepalanya.
"Kok Daddy jemput aku sih? Mammy sibuk ya?" tanya Callandra.
"Iya, sayang. Mommy juga lagi sekolah kayak kamu. Daddy lagi gak sibuk kerjanya, makanya Pak Udin gak Daddy suruh jemput kamu." ucap Davian.
Tiba-tiba, guru Callandra keluar dari kelas, dan melihat Andra sedang bersama Davian. Guru Callandra segera menghampiri mereka berdua dan tersenyum ramah pada Davian.
"Selamat siang Andra ganteng, Wah ... Callandra sama Ayahnya ya. Selamat siang, Pak." Bu Intan, guru Andra tersenyum pada Davian.
Davian pun membalas senyuman Guru Andra, "Selamat Siang, Bu."
"Seneng ya Andra dijemput sama Ayah," ucap Bu Intan yang terlihat cari perhatian pada Davian.
"Iya, Bu. Daddy lagi gak sibuk, makanya Daddy jemput aku! Ibu jangan tersenyum pada Daddy, nanti Mommy-ku bisa marah." Andra memang seperti Davian, mulutnya tak pernah di filter.
"Eh, Andra gak boleh gitu. Maafin Andra ya, Bu." Davian jadi tak nyaman.
"Baiklah, kalau begitu saya dan Andra pamit dulu ya, Bu. Permisi, selamat siang ... Andra, ayo Nak!" Ajak Davian.
"Baik, Pak. Hati-hati dijalan ya, Andra." Bu Intan melambaikan tangannya pada Andra dan Davian.
Keren banget. Itu sih namanya Hot Daddy! Beruntung banget yang bisa jadi Ibunya Callandra. Wajahnya udah mirip-mirip kayak aktor Thailand aja. Duh, semoga nanti calon suamiku wajahnya gak jauh beda kayak gitu. Eh, astagfirullah, kenapa aku malah ngelantur kayak gitu. Batin Bu Intan.
Davian dan Callandra segera naik ke mobil. Andra yang terlihat kesal menatap Daddy-nya dengan tajam. Davian heran, mengapa Anaknya menatap seram seperti itu.
"Kamu kenapa? Kok lihat Daddy kayak gitu sih?" tanya Davian.
"Aku bakalan aduin Daddy ke Mommy. Daddy rapih kayak gitu, terus datang ke sekolah Aku cuma buat genit-genit sama guru-guru aku kan? Ayo ngaku! Daddy tak biasanya mau menjemput aku. Awas ya, Daddy. Aku laporkan ulah Daddy ke Mommy nanti." ancam Andra.
"Callandra sayang, kenapa kamu berpikiran begitu? Jangan main adukan Daddy sama Mommy, nanti mommy-mu bisa merajuk sama Daddy. Daddy gak ngapa-ngapain, kok. Kamu aja yang nuduhnya sembarangan." tegas Davian.
"Daddy senyam-senyum sama Bu Intan, apa itu bukan genit namanya? Awas aja kalau Daddy sakitin Mommy, aku yang akan lebih dulu sakitin Daddy!" ancam Callandra.
"Eh, ini anak kalo ngomong sembarangan aja! Udah, kamu mau beli apa? Asal jangan banyak bicara sama Mommy, dia bisa salah sangka nanti, padahal jelas-jelas Daddy gak ngapa-ngapain, cuma senyum sama guru kamu!" Davian kesal.
"Aku mau Tobot Giga Seven yang lengkap sekarang juga. Baru aku gak akan bilang ke Mommy!" tegas Callandra.
"Kamu itu sebenarnya ada maunya aja kan Dra? Kamu mau Daddy belikan mainan, jadi kamu nuduh-nuduh Daddy sembarangan!" tegas Davian.
"Daddy kok nyalahin aku, sih! Tahu ah, aku laporin ke Mommy aja kalo gini caranya." Callandra marah.
"Eh, ini anak sulung, gampang banget marahnya. Ayo, ke tempat mainan sekarang, asal kamu jangan macem-macem!" tegas Davian.
"Hore ... Oke, Daddy, aku gak akan laporkan ulah Daddy ke Mommy." Callandra semangat.
__ADS_1
Ampun ini anak, bahaya kalo lama-lama sama dia, nanti dia bisa nyangka aku yang enggak-enggak, padahal cuma senyum sopan aja dikatain genit. Emang deh anak si Davian. Eh, eh, tapi sifat Callandra itu kayak aku kalo lagi cemburu sama Arini ya? Kadang, aku cemburu yang tak beralasan pada Arini. Kenapa sekarang Callandra juga jadi sensitif seperti itu? Batin Davian.
...πΈπΈπΈ...
Malam hari di Rumah Davian.
Arini Davian sedang bercengkrama bersama, Callandra dan Callista sedang bermain bersama, karena tadi Davian membelikan mainan baru untuk Callista juga. Arini senang, walaupun kini ia masih sibuk meneruskan study-nya, ia masih bisa bersama anak-anak dan suaminya.
"Mas, makasih udah jemput Andra tadi." ucap Arini.
"Sama-sama, sayang. Kamu gak usah ikut-ikut Pak Udin jemput Andra, biar Pak Udin aja sendiri." jawab Arini.
"Aku gak mau kayak gitu. Aku harus tetap meluangkan waktuku untuk menjemput anakku sendiri." jelas Arini.
"Baiklah, kamu memang keras kepala. Asal kamu harus jaga kesehatan ya sayang, jangan sampai sakit." tegas Davian.
"Iya, Mas. Tentu saja."
Callista dan Callandra menatap Arini dan Davian yang sedang berpelukan. Mereka terlihat hangat, dan membuat Andra juga Lista merasa cemburu. Kedua anak itu pun mendekati Davian dan Arini. Andra duduk di samping Davian, dan Lista duduk di pangkuan Arini.
"Aku sayang Mommy and Daddy!" seru Callista.
"Aku juga ..." jawab Callandra tak mau kalah.
"Sudah, kalian semua anak Daddy, kok." ucap Davian.
"Mommy, mommy ..." ucap Andra.
"Apa, sayang?" tanya Arini.
"Apa Mommy bisa membeli alat canggih seperti alat perekam atau kamera kecil yang fungsinya seperti cctv?" tanya Callandra.
"Kalau di cari tentu saja ada. Memangnya untuk apa?" tanya Arini.
"Buat mengintai Daddy, soalnya biar Mommy tahu, Daddy itu seperti apa orangnya." ucap Callandra.
"Eh, apa maksud kamu, Nak?" Davian tak mengerti.
"Daddy itu genit, Mom. Dia jemput aku dengan pakaian kantornya. Udah gitu, pake kacamata segala di atas kepalanya, terus Daddy juga senyum-senyum sama guru aku. Daddy centil banget, Mom. Kan nyebelin, Daddy malah senyam-senyum sama guru aku!" tegas Callandra.
"Haa? Jadi, Daddy kamu cari perhatian sama guru-guru di sekolah kamu? Begitu?" Arini mulai melotot pada Davian.
"Eh, sayang ... Gak gitu ceritanya, aku cuma nyapa guru Callandra, aku hanya senyum aja gak lebih. Andra yang melebih-lebihkan. Callandra, kok kamu gitu sih! Kan udah Daddy bilang tadi, jangan ngadu ke Mommy, udah di kasih tahu juga, udah dibeliin mainan juga, masih aja di aduin." Davian kesal.
Arini semakin melotot mendengar ucapan Davian, "Oh, jadi kamu nyogok Callandra agar dia gak ngelaporin perlakuan kamu sama guru-guru di sekolahnya? Oh, jadi kamu gitu sekarang Mas? Iya? Callan, Callis, masuk ke kamar! Mommy mau buat perhitungan sama Daddy kalian!" tegas Arini.
"Kaburrrrrrrrrr ..." Callandra berlari diikuti oleh Callis.
Anak itu ... Dasar Callandra. Kenapa aku harus percaya padanya? Dia tetap saja mengadu pada Arini. Batin Davian.
"Sayang, percaya sama aku. Callandra cuma cemburu gak jelas sama aku. Aku gak ngapa-ngapain, kok. Serius deh yang, percaya sama aku!" Davian merayu Arini.
Arini tersenyum sinis, "Callandra itu titisan kamu, Mas! Kamu pikir aja sendiri, dulu juga kamu selalu cemburu tak beralasan padaku! Wajar aja kalo anakmu sekarang kayak gitu. Pokoknya, malam ini aku kesal sama kamu! Jangan harap kita bisa menikmati malam ini. Aku akan tutup semua akses agar kamu tak bisa menyentuhku!" Arini kesal, ia bangkit dan berlalu menuju kamarnya.
"Eh, kamu kok gitu. Mau kemana Rin! Arini, apa kamu mau main kuda secara paksa? Jangan salahkan aku kalau aku memaksamu, ya. Ini hanya salah paham, kamu jangan percaya ucapan Callandra. Hey, Arini ..." Davian menggaruk-garuk kepalanya saking pusing mempunyai anak seperti Callandra.
*Bersambung*
Yang rindu trio somplak, menyusul ya π
__ADS_1
Aku lagi mempercepat waktu pernikahan mereka dulu hehe