Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Sabar dulu saja


__ADS_3

Part Of View Nadya.


Ini adalah hari pernikahanku. Aku telah menjadi istri orang. Ketika Bang Dika mengucapkan ikrar ijab qabul, kini aku bukan lagi Nadya yang polos dan masih sendiri. Aku telah menjadi milik sekretaris Dika. Lebih tepatnya Bang Dika. Eh, enak manggil abang apa Mas Dika ya?


Tapi, dengan dia berniat serius padaku, dan menikahiku saat ini, aku yakin dan percaya, bahwa Bang Dika memang akan mencoba mencintaiku, walau aku tahu, dia belum sepenuhnya mencintaiku. Kini, aku dan dia sedang duduk di pelaminan dengan anggunnya. Dengan riasan dan gaun yang indah, aku merasa bahagia jadi ratu sehari.


"Terima kasih, Nad ... Aku dan kamu telah SAH menjadi suami istri." Bang Dika memegang tanganku.


Aku hanya tersenyum ketika dia menatapku dan memegang tanganku. Kata-katanya sedikit, tapi mengenai hatiku. Bahagia, hanya itulah yang kurasakan saat ini. mendampinginya di atas pelaminan ini.


Kini sang MC sedang meminta Bang Dika menyatakan perasaannya padaku. Padahal, aku tak menginginkan hal itu, karena aku tahu, Bang Dika adalah orang yang sulit untuk menyatakan perasaannya. Dia salah satu orang yang tak mampu mengucapkan cinta.


Tapi, ternyata Bang Dika mengucapkannya dengan lantang dan meyakinkan semua tamu undangan. Tahukah kalian? Bagaimana rasanya hatiku? Aku, hanya wanita biasa yang tak berharap dicintai, tapi ternyata Tuhan sangat mencintaiku. Tuhan memberiku cinta, Tuhan memberiku laki-laki seperti Bang Dika. Terimakasih, atas semua kebahagiaan ini.


"Wah Bapak pengantin wanita sangat ekspresif sekali ya. Kita diberi hiburan saat ini. Baiklah, kini giliran pengantin wanita yang mengungkapkan perasaannya pada pengantin pria. Ayo, micnya tolong berikan pada mempelai wanita." ucap MC itu padaku.


DEG. Jantungku berdebar ketika aku harus mengungkapkan perasaanku pada Bang Dika. Aku mengambil mic yang dipegang oleh Bang Dika. Aku tersenyum, dan mulai mengatakan apa yang ada dalam hatiku.


"Terima kasih, pada semua yang telah berkenan hadir. Terima kasih juga pada semua yang telah membantu dan mendukung pernikahan kami. Aku sangat bersyukur, memiliki kalian semua. Karena kalian, aku dan suamiku bisa berdiri di atas pelaminan ini. Aku bahagia, bisa bertemu dengannya. Jika kalian bertanya kapan aku mencintainya, jawabannya adalah sejak saat pertemuan pertama kita, aku telah menyukainya. Namun, aku tak mau dia tahu, karena aku ingin cinta itu datang sendiri. Hingga akhirnya, kedekatan itu terus ada, dan aku semakin merasa nyaman dengannya. Alhamdulillah, kita dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Aku bahagia, cintaku terwujud, karena aku sangat mencintainya."


Aku bahagia mengucapkannya, dan semua orang bertepuk tangan padaku. Suamiku pun menatapku dengan penuh cinta. Aku merasa jadi wanita paling bahagia hari ini. Melihat mereka semua tersenyum dan bertepuk tangan, adalah suatu kehormatan untukku.


"Terima kasih, atas cintanya, duhai istriku." ucapan itu tiba-tiba muncul dari Bang Dika, dan semua tertawa, tak menyangka ternyata Bang Dika bisa membuat suasana jadi seru.


"Waduh, pengantin pria-nya sumringah banget ya. Nah, sekarang giliran pengantin wanita, dipersilahkan untuk mengeluarkan gombalan mautnya." ucap MC itu.


Semua tamu undangan bersorak padaku, dan aku bahagia melihat mereka antusias sekali pada orang biasa sepertiku. Aku bahagia, hari ini aku sangat diperlakukan dengan istimewa.


"Bang, kamu tahu gak, bedanya atlet sama kamu?" tanyaku sambil tersenyum.


Suamiku menatapku, "Engga, emang apa bedanya sayang?"


"Kalo atlet, juara di lapangan, kalau kamu, juara di hatiku!" Aku sangat malu, begitu mereka bersorak padaku.


"Ciya, ciya ciya. Emang bukan main ya, jadi pengantin itu sangat membahagiakan. Baiklah, hiburan dari pengantin sudah selesai, dan kita lanjut hiburan live musiknya. Dipersilahkan pada kedua mempelai untuk duduk kembali." ucap MC itu.


Aku dan Bang Dika duduk kembali di kursi pelaminan. Aku istirahat, karena lelah bersalaman dengan ratusan tamu. Baik itu teman sekolahku, maupun rekan kerja Bang Dika. Tiba-tiba, ada tetanggaku yang tak asing lagi, dan membuat Arini pasti akan ketar-ketir tak nyaman. Ya, itu adalah si Adit. Adit yang sangat menyukai Arini, tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama tak menampakkan dirinya.


Jujur saja, aku tak mengundang si Adit sama sekali. Tapi, kenapa dia tiba-tiba datang? Apa mungkin Ibu yang mengundangnya karena si Adit mengontrak dekat rumah Ibuku? Aduh, bagaimana ini? Dia pun naik ke atas pelaminan dan menyalami aku serta Bang Dika. Bang Dika mungkin sadar dengan lelaki yang menyalaminya. Wajahnya berubah, terlihat sangat serius.


Aku berharap, semoga saja tak terjadi apapun dengan kehadiran si Adit di acara pernikahanku. Semoga saja, Arin juga gak liat si Adit. Aku gak mau, kalau Adit gangguin Arini. Aku sangat paham betul, Tuan Davian sangat mencintai Arin, jika si Adit mengganggu, aku tak yakin Tuan Davian akan diam saja.


Ada satu hal yang membuatku sedih, yang tak bisa aku jelaskan pada kalian. Aku bingung bagaimana aku mengatakannya, yang jelas hal ini akan membuat kalian kecewa di pernikahanku. Tapi, semoga saja kalian akan tetap bersabar menanti kisahku.


Pov Nadya selesai.


...🌸🌸🌸...


Arini dan Davian masih duduk di meja khusus VIP. Tiba-tiba, rekan bisnis Davian sesama pengusaha datang menghampiri Davian. Arini mengerti dan ia membawa Callandra pergi. Karena tak mungkin berada ditengah-tengah para pengusaha.


"Mas, aku ke sana dulu ya," ucap Arini.


"Ya, sayang. Aku bicara dulu sama rekan bisnisku." jawab Davian.


Arini menggendong Callandra dan membawanya menuju Mbak Rita yang berada di ruang ganti pengantin. Arini memberikan Callandra pada Mbak Rita, karena ia ingin memotret Nadya yang telah mengenakan gaun kedua.


"Mbak, aku kedepan lagi ya, mumpung Baby Cal lagi bobo." ucap Arini.


"Iya, Nona. Siap." jawabnya.


Arini kembali ke depan pelaminan dan melihat Nadya yang sedang difoto oleh sang fotografer handal. Arini pun mengeluarkan Iphone miliknya, dan segera memotret Nadya dari bawah pelaminan. Tiba-tiba, ketika Arini sedang fokus memotret Nadya, suara tak asing terdengar menyapanya.


"Lama tak bertemu ..."


DEG. Suara yang masih ia ingat sampai saat ini. Rasa bersalah yang mendalam karena sering mengecewakannya berkali-kali. Mas Adit! Ia adaah Mas Adit. Laki-laki yang selalu mengejar Arini dan kini berada di hadapan Arini. Orang yang sangat ingin Arini hindari, ternyata malah ada dihadapannya.


"Eh, Mas Adit ..." Arini gugup, ingin rasanya menghindar.


"Apa kabar, Arini? Aku senang bisa bertemu denganmu disini." ucap Mas Adit.


"Baik, Mas. Maaf, aku harus pergi. Anakku takut nangis," Arini berbalik akan meninggalkan Mas Adit.


Seketika Mas Adit menahan Arini, ia refleks memegang tangan Arini. Arini kaget, karena laki-laki itu berani memegang tangannya.


"Arini, aku hanya ingin bicara denganmu. Kenapa kamu harus menghindar dariku?" tanya Mas Adit lagi.


"Mas Adit, maaf sekali. Jangan pegang tanganku. Aku sibuk, aku tak ada waktu. Aku harus menemui anakku sekarang." ucap Arini.


"Apa salahku? Kenapa kamu begitu membenciku, Arini? Kenapa kamu tega padaku? Kalaupun kita tak bisa bersama, bukankah kita tetap bisa berteman?" tanya Mas Adit.


"Mas Adit, bukan begitu. Maksudku, aku ..." ucapan Arini terpotong, ia gugup.


Tiba-tiba Davian datang, "Dia seperti itu karena menghargai aku sebagai suaminya. Wanita yang sudah merupakan istri seseorang, tak boleh dengan mudah dan santai berbicara dengan laki-laki lain. Apalagi, jika suaminya melihat. Kamu tahu? Arini adalah istriku. Aku tak mengizinkan kamu dekat dengannya walaupun hanya sebatas berteman. Paham? Sayang, ayo pergi. Kenapa kamu berkeliaran sendiri? Tahu-tahu, ada singa liar yang akan menerkam dirimu!" sindir Davian.


"Arini, tunggu!" Adit geram melihat tingkah Davian, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


Davian merangkul Arini, kemudian meninggalkan Adit seorang diri. Selalu saja Davian menggagalkan Adit untuk dekat dengan Arini. Davian panas, ia kesal melihat Arini diganggu oleh laki-laki itu. Arini merasa takut, ia takut kalau Davian marah padanya. Arini tahu, ia salah telah menganggap Adit. Tapi, mau bagaimana lagi, jika Adit terus memaksa ingin berbicara dengannya.


"Mas, maafin aku." Arini menunduk.


Davian tersenyum, "Kenapa kamu minta maaf? Kamu gak salah, sayang."


"Aku gak tahu kalau Mas Adit ada di hadapanku. Aku sedang fokus memotret Nadia." Arini menyesalkan perbuatannya.


"Gak apa-apa. Yang penting, kamu tak menganggapnya. Lagipula, kenapa dia harus datang ke acara pernikahan Nadya? Aku kesal sekali pada singa jantan itu. Berani-beraninya dia menyentuh istriku yang berharga!" Davian emosi.


"Aku kira, Mas bakal marah sama aku." ucap Arini.


"Ini salahku. Sudah tahu punya istri seperti berlian, aku malah sibuk dengan rekan bisnisku. Tentu saja, akan ada yang menggoda mu. Karena kamu itu sangat berkilau, sayang. Maafkan aku ya. Aku pasti akan memperketat penjagaanku padamu. Ayo, aku dan kamu harus tetap bersama. Gandeng tanganku, dan jangan pernah lepaskan. Aku takut ada singa liar lagi yang mencoba menggodamu." tegas Davian.


"Suamiku, kamu bisa aja sih!" Arini terpesona dengan ucapan Davian yang membuatnya melambung tinggi.


"Udah, ayo kita bertemu dengan rekan bisnisku. Kamu jangan canggung, gak apa-apa." ajak Davian.


"Ah, baiklah Mas." Arini mengikuti Davian.

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


Beberapa jam telah berlalu. Acara resepsi pernikahan Nadya dan Sekretaris Dika pun telah selesai. Dika membawa Nadya ke apartemen milik Davian yang diberikan padanya. Nadya menolak, ia ingin pulang ke rumahnya, tapi Dika tetap kekeh pada pendiriannya bahwa ingin berada berdua di satu atap yang sama.


Akhirnya, Nadya hanya bisa mengalah. Dengan rasa canggung dan tak tak nyaman, Nadya mencoba membiasakan diri untuk berada berdua dengan sekretaris Dika. Hatinya merasa bersalah, namun ia bingung harus bagaimana mengatakannya.


"Sayang, ayo istirahat. Kamu pasti lelah," ajak Dika menuju kamar.


"Aduh, tapi, aku bingung Bang. Maaf ya," Nadya tak nyaman.


"Kenapa? Kamu gak usah minta maaf. Ayo, ini malam kita Nad." sekretaris Dika menggenggam tangan Nadya menuju kamar.


"Bang Dika, tapi aku ..." Nadya bingung bagaimana mengatakannya.


"Sayang, ayo..."


Nadya terpaksa turut ke kamar bersama sekretaris Dika. Nadya gugup, ia takut mengecewakan sekretaris Dika kalau sekretaris Dika tahu yang sebenarnya. Nadya takut, jika dirinya mengatakan yang sejujurnya, sekretaris Dika akan kesal dan marah padanya. Tapi, jika tak dikatakan, itu pun tak mungkin, karena sekretaris Dika pasti akan menagihnya malam ini.


"Sayang, sudah siap?" tanya sekretaris Dika sambil mencium tangan Nadya.


"Bang Dika, aku ..." Nadya gugup


"Jangan gugup sayang, aku akan mencobanya dengan sangat pelan. Kamu jangan takut, ya." sekretaris Dika mulai mengelus-elus paha Nadya.


"Bang Dika, bukan begitu. Aku gak bisa, aku ..." Nadya sulit sekali mengutarakannya.


Sekretaris Dika terus mengelus paha mulus Nadya, namun Nadya keberatan dan menepis tangan sekretaris Dika yang mencoba mendekatinya.


"Kenapa Nad? Ada apa? Jangan takut, nanti pasti terbiasa." sekretaris Dika mengusap rambut Nadya.


"Bukan begitu ..." Nadya menunduk.


"Kenapa?" sekretaris Dika sudah menyangka yang tidak-tidak.


Apa mungkin dia sudah tak perawan? Apa mungkin dia sudah melakukannya? Makanya dia takut kalau ketahuan sudah tak perawan? Astaga, aku kecewa sekali kalau itu benar terjadi. Nadya, teganya kamu memberikan perawan pada laki-laki selain suamimu! Batin sekretaris Dika.


"Jujur, Nad! Katakan sebelum aku kecewa padamu!" sekretaris Dika sedikit kesal.


"Maaf..." Nadya menunduk.


"Katakan!" Dika sangat kesal.


"A-aku, aku sedang haid, Mas. Aku tak bisa melakukannya sekarang. Maafkan aku mengecewakanmu," Nadya menunduk lesu.


"Ha? Serius kamu Nad? Aku sudah mengira kamu yang tidak-tidak. Maafkan aku. Baiklah, walau aku kecewa, tapi tak apa. Aku bisa memintanya di lain hari. Ayo, sekarang kita istirahat saja. Izinkan aku memeluk dan mencium mu saja, daripada tak sama sekali." sekretaris Dika mengajak Nadya tidur.


"Makasih, Bang telah mengerti aku."


Mereka pun tidur bersama. Sekretaris Dika memeluk Nadya dengan hangat. Walaupun ada rasa kecewa, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. Yang penting, ia tak mau bukan karena takut sudah tak perawan lagi.


Anaconda, jangan bangun. Tidurlah kembali. Belum saatnya kamu menggigit milik Nadya. Sabar ya, ini takkan lama. Kamu tetap tenang dan jangan membuat masalah. Percuma, Nadya sedang dilanda banjir merah, kita tak bisa masuk. Lebih baik tidur saja, walaupun kecewa, tapi kita masih bisa memeluk dan menciumnya. Batin sekretaris Dika.


*Bersambung*


Part Of View Nadya.


Ini adalah hari pernikahanku. Aku telah menjadi istri orang. Ketika Bang Dika mengucapkan ikrar ijab qabul, kini aku bukan lagi Nadya yang polos dan masih sendiri. Aku telah menjadi milik sekretaris Dika. Lebih tepatnya Bang Dika. Eh, enak manggil abang apa Mas Dika ya?


Tapi, dengan dia berniat serius padaku, dan menikahiku saat ini, aku yakin dan percaya, bahwa Bang Dika memang akan mencoba mencintaiku, walau aku tahu, dia belum sepenuhnya mencintaiku. Kini, aku dan dia sedang duduk di pelaminan dengan anggunnya. Dengan riasan dan gaun yang indah, aku merasa bahagia jadi ratu sehari.


"Terima kasih, Nad ... Aku dan kamu telah SAH menjadi suami istri." Bang Dika memegang tanganku.


Aku hanya tersenyum ketika dia menatapku dan memegang tanganku. Kata-katanya sedikit, tapi mengenai hatiku. Bahagia, hanya itulah yang kurasakan saat ini. mendampinginya di atas pelaminan ini.


Kini sang MC sedang meminta Bang Dika menyatakan perasaannya padaku. Padahal, aku tak menginginkan hal itu, karena aku tahu, Bang Dika adalah orang yang sulit untuk menyatakan perasaannya. Dia salah satu orang yang tak mampu mengucapkan cinta.


Tapi, ternyata Bang Dika mengucapkannya dengan lantang dan meyakinkan semua tamu undangan. Tahukah kalian? Bagaimana rasanya hatiku? Aku, hanya wanita biasa yang tak berharap dicintai, tapi ternyata Tuhan sangat mencintaiku. Tuhan memberiku cinta, Tuhan memberiku laki-laki seperti Bang Dika. Terimakasih, atas semua kebahagiaan ini.


"Wah Bapak pengantin wanita sangat ekspresif sekali ya. Kita diberi hiburan saat ini. Baiklah, kini giliran pengantin wanita yang mengungkapkan perasaannya pada pengantin pria. Ayo, micnya tolong berikan pada mempelai wanita." ucap MC itu padaku.


DEG. Jantungku berdebar ketika aku harus mengungkapkan perasaanku pada Bang Dika. Aku mengambil mic yang dipegang oleh Bang Dika. Aku tersenyum, dan mulai mengatakan apa yang ada dalam hatiku.


"Terima kasih, pada semua yang telah berkenan hadir. Terima kasih juga pada semua yang telah membantu dan mendukung pernikahan kami. Aku sangat bersyukur, memiliki kalian semua. Karena kalian, aku dan suamiku bisa berdiri di atas pelaminan ini. Aku bahagia, bisa bertemu dengannya. Jika kalian bertanya kapan aku mencintainya, jawabannya adalah sejak saat pertemuan pertama kita, aku telah menyukainya. Namun, aku tak mau dia tahu, karena aku ingin cinta itu datang sendiri. Hingga akhirnya, kedekatan itu terus ada, dan aku semakin merasa nyaman dengannya. Alhamdulillah, kita dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Aku bahagia, cintaku terwujud, karena aku sangat mencintainya."


Aku bahagia mengucapkannya, dan semua orang bertepuk tangan padaku. Suamiku pun menatapku dengan penuh cinta. Aku merasa jadi wanita paling bahagia hari ini. Melihat mereka semua tersenyum dan bertepuk tangan, adalah suatu kehormatan untukku.


"Terima kasih, atas cintanya, duhai istriku." ucapan itu tiba-tiba muncul dari Bang Dika, dan semua tertawa, tak menyangka ternyata Bang Dika bisa membuat suasana jadi seru.


"Waduh, pengantin pria-nya sumringah banget ya. Nah, sekarang giliran pengantin wanita, dipersilahkan untuk mengeluarkan gombalan mautnya." ucap MC itu.


Semua tamu undangan bersorak padaku, dan aku bahagia melihat mereka antusias sekali pada orang biasa sepertiku. Aku bahagia, hari ini aku sangat diperlakukan dengan istimewa.


"Bang, kamu tahu gak, bedanya atlet sama kamu?" tanyaku sambil tersenyum.


Suamiku menatapku, "Engga, emang apa bedanya sayang?"


"Kalo atlet, juara di lapangan, kalau kamu, juara di hatiku!" Aku sangat malu, begitu mereka bersorak padaku.


"Ciya, ciya ciya. Emang bukan main ya, jadi pengantin itu sangat membahagiakan. Baiklah, hiburan dari pengantin sudah selesai, dan kita lanjut hiburan live musiknya. Dipersilahkan pada kedua mempelai untuk duduk kembali." ucap MC itu.


Aku dan Bang Dika duduk kembali di kursi pelaminan. Aku istirahat, karena lelah bersalaman dengan ratusan tamu. Baik itu teman sekolahku, maupun rekan kerja Bang Dika. Tiba-tiba, ada tetanggaku yang tak asing lagi, dan membuat Arini pasti akan ketar-ketir tak nyaman. Ya, itu adalah si Adit. Adit yang sangat menyukai Arini, tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama tak menampakkan dirinya.


Jujur saja, aku tak mengundang si Adit sama sekali. Tapi, kenapa dia tiba-tiba datang? Apa mungkin Ibu yang mengundangnya karena si Adit mengontrak dekat rumah Ibuku? Aduh, bagaimana ini? Dia pun naik ke atas pelaminan dan menyalami aku serta Bang Dika. Bang Dika mungkin sadar dengan lelaki yang menyalaminya. Wajahnya berubah, terlihat sangat serius.


Aku berharap, semoga saja tak terjadi apapun dengan kehadiran si Adit di acara pernikahanku. Semoga saja, Arin juga gak liat si Adit. Aku gak mau, kalau Adit gangguin Arini. Aku sangat paham betul, Tuan Davian sangat mencintai Arin, jika si Adit mengganggu, aku tak yakin Tuan Davian akan diam saja.


Ada satu hal yang membuatku sedih, yang tak bisa aku jelaskan pada kalian. Aku bingung bagaimana aku mengatakannya, yang jelas hal ini akan membuat kalian kecewa di pernikahanku. Tapi, semoga saja kalian akan tetap bersabar menanti kisahku.


Pov Nadya selesai.


...🌸🌸🌸...


Arini dan Davian masih duduk di meja khusus VIP. Tiba-tiba, rekan bisnis Davian sesama pengusaha datang menghampiri Davian. Arini mengerti dan ia membawa Callandra pergi. Karena tak mungkin berada ditengah-tengah para pengusaha.


"Mas, aku ke sana dulu ya," ucap Arini.

__ADS_1


"Ya, sayang. Aku bicara dulu sama rekan bisnisku." jawab Davian.


Arini menggendong Callandra dan membawanya menuju Mbak Rita yang berada di ruang ganti pengantin. Arini memberikan Callandra pada Mbak Rita, karena ia ingin memotret Nadya yang telah mengenakan gaun kedua.


"Mbak, aku kedepan lagi ya, mumpung Baby Cal lagi bobo." ucap Arini.


"Iya, Nona. Siap." jawabnya.


Arini kembali ke depan pelaminan dan melihat Nadya yang sedang difoto oleh sang fotografer handal. Arini pun mengeluarkan Iphone miliknya, dan segera memotret Nadya dari bawah pelaminan. Tiba-tiba, ketika Arini sedang fokus memotret Nadya, suara tak asing terdengar menyapanya.


"Lama tak bertemu ..."


DEG. Suara yang masih ia ingat sampai saat ini. Rasa bersalah yang mendalam karena sering mengecewakannya berkali-kali. Mas Adit! Ia adaah Mas Adit. Laki-laki yang selalu mengejar Arini dan kini berada di hadapan Arini. Orang yang sangat ingin Arini hindari, ternyata malah ada dihadapannya.


"Eh, Mas Adit ..." Arini gugup, ingin rasanya menghindar.


"Apa kabar, Arini? Aku senang bisa bertemu denganmu disini." ucap Mas Adit.


"Baik, Mas. Maaf, aku harus pergi. Anakku takut nangis," Arini berbalik akan meninggalkan Mas Adit.


Seketika Mas Adit menahan Arini, ia refleks memegang tangan Arini. Arini kaget, karena laki-laki itu berani memegang tangannya.


"Arini, aku hanya ingin bicara denganmu. Kenapa kamu harus menghindar dariku?" tanya Mas Adit lagi.


"Mas Adit, maaf sekali. Jangan pegang tanganku. Aku sibuk, aku tak ada waktu. Aku harus menemui anakku sekarang." ucap Arini.


"Apa salahku? Kenapa kamu begitu membenciku, Arini? Kenapa kamu tega padaku? Kalaupun kita tak bisa bersama, bukankah kita tetap bisa berteman?" tanya Mas Adit.


"Mas Adit, bukan begitu. Maksudku, aku ..." ucapan Arini terpotong, ia gugup.


Tiba-tiba Davian datang, "Dia seperti itu karena menghargai aku sebagai suaminya. Wanita yang sudah merupakan istri seseorang, tak boleh dengan mudah dan santai berbicara dengan laki-laki lain. Apalagi, jika suaminya melihat. Kamu tahu? Arini adalah istriku. Aku tak mengizinkan kamu dekat dengannya walaupun hanya sebatas berteman. Paham? Sayang, ayo pergi. Kenapa kamu berkeliaran sendiri? Tahu-tahu, ada singa liar yang akan menerkam dirimu!" sindir Davian.


"Arini, tunggu!" Adit geram melihat tingkah Davian, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


Davian merangkul Arini, kemudian meninggalkan Adit seorang diri. Selalu saja Davian menggagalkan Adit untuk dekat dengan Arini. Davian panas, ia kesal melihat Arini diganggu oleh laki-laki itu. Arini merasa takut, ia takut kalau Davian marah padanya. Arini tahu, ia salah telah menganggap Adit. Tapi, mau bagaimana lagi, jika Adit terus memaksa ingin berbicara dengannya.


"Mas, maafin aku." Arini menunduk.


Davian tersenyum, "Kenapa kamu minta maaf? Kamu gak salah, sayang."


"Aku gak tahu kalau Mas Adit ada di hadapanku. Aku sedang fokus memotret Nadia." Arini menyesalkan perbuatannya.


"Gak apa-apa. Yang penting, kamu tak menganggapnya. Lagipula, kenapa dia harus datang ke acara pernikahan Nadya? Aku kesal sekali pada singa jantan itu. Berani-beraninya dia menyentuh istriku yang berharga!" Davian emosi.


"Aku kira, Mas bakal marah sama aku." ucap Arini.


"Ini salahku. Sudah tahu punya istri seperti berlian, aku malah sibuk dengan rekan bisnisku. Tentu saja, akan ada yang menggoda mu. Karena kamu itu sangat berkilau, sayang. Maafkan aku ya. Aku pasti akan memperketat penjagaanku padamu. Ayo, aku dan kamu harus tetap bersama. Gandeng tanganku, dan jangan pernah lepaskan. Aku takut ada singa liar lagi yang mencoba menggodamu." tegas Davian.


"Suamiku, kamu bisa aja sih!" Arini terpesona dengan ucapan Davian yang membuatnya melambung tinggi.


"Udah, ayo kita bertemu dengan rekan bisnisku. Kamu jangan canggung, gak apa-apa." ajak Davian.


"Ah, baiklah Mas." Arini mengikuti Davian.


...🌸🌸🌸...


Beberapa jam telah berlalu. Acara resepsi pernikahan Nadya dan Sekretaris Dika pun telah selesai. Dika membawa Nadya ke apartemen milik Davian yang diberikan padanya. Nadya menolak, ia ingin pulang ke rumahnya, tapi Dika tetap kekeh pada pendiriannya bahwa ingin berada berdua di satu atap yang sama.


Akhirnya, Nadya hanya bisa mengalah. Dengan rasa canggung dan tak tak nyaman, Nadya mencoba membiasakan diri untuk berada berdua dengan sekretaris Dika. Hatinya merasa bersalah, namun ia bingung harus bagaimana mengatakannya.


"Sayang, ayo istirahat. Kamu pasti lelah," ajak Dika menuju kamar.


"Aduh, tapi, aku bingung Bang. Maaf ya," Nadya tak nyaman.


"Kenapa? Kamu gak usah minta maaf. Ayo, ini malam kita Nad." sekretaris Dika menggenggam tangan Nadya menuju kamar.


"Bang Dika, tapi aku ..." Nadya bingung bagaimana mengatakannya.


"Sayang, ayo..."


Nadya terpaksa turut ke kamar bersama sekretaris Dika. Nadya gugup, ia takut mengecewakan sekretaris Dika kalau sekretaris Dika tahu yang sebenarnya. Nadya takut, jika dirinya mengatakan yang sejujurnya, sekretaris Dika akan kesal dan marah padanya. Tapi, jika tak dikatakan, itu pun tak mungkin, karena sekretaris Dika pasti akan menagihnya malam ini.


"Sayang, sudah siap?" tanya sekretaris Dika sambil mencium tangan Nadya.


"Bang Dika, aku ..." Nadya gugup


"Jangan gugup sayang, aku akan mencobanya dengan sangat pelan. Kamu jangan takut, ya." sekretaris Dika mulai mengelus-elus paha Nadya.


"Bang Dika, bukan begitu. Aku gak bisa, aku ..." Nadya sulit sekali mengutarakannya.


Sekretaris Dika terus mengelus paha mulus Nadya, namun Nadya keberatan dan menepis tangan sekretaris Dika yang mencoba mendekatinya.


"Kenapa Nad? Ada apa? Jangan takut, nanti pasti terbiasa." sekretaris Dika mengusap rambut Nadya.


"Bukan begitu ..." Nadya menunduk.


"Kenapa?" sekretaris Dika sudah menyangka yang tidak-tidak.


Apa mungkin dia sudah tak perawan? Apa mungkin dia sudah melakukannya? Makanya dia takut kalau ketahuan sudah tak perawan? Astaga, aku kecewa sekali kalau itu benar terjadi. Nadya, teganya kamu memberikan perawan pada laki-laki selain suamimu! Batin sekretaris Dika.


"Jujur, Nad! Katakan sebelum aku kecewa padamu!" sekretaris Dika sedikit kesal.


"Maaf..." Nadya menunduk.


"Katakan!" Dika sangat kesal.


"A-aku, aku sedang haid, Mas. Aku tak bisa melakukannya sekarang. Maafkan aku mengecewakanmu," Nadya menunduk lesu.


"Ha? Serius kamu Nad? Aku sudah mengira kamu yang tidak-tidak. Maafkan aku. Baiklah, walau aku kecewa, tapi tak apa. Aku bisa memintanya di lain hari. Ayo, sekarang kita istirahat saja. Izinkan aku memeluk dan mencium mu saja, daripada tak sama sekali." sekretaris Dika mengajak Nadya tidur.


"Makasih, Bang telah mengerti aku."


Mereka pun tidur bersama. Sekretaris Dika memeluk Nadya dengan hangat. Walaupun ada rasa kecewa, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. Yang penting, ia tak mau bukan karena takut sudah tak perawan lagi.


Anaconda, jangan bangun. Tidurlah kembali. Belum saatnya kamu menggigit milik Nadya. Sabar ya, ini takkan lama. Kamu tetap tenang dan jangan membuat masalah. Percuma, Nadya sedang dilanda banjir merah, kita tak bisa masuk. Lebih baik tidur saja, walaupun kecewa, tapi kita masih bisa memeluk dan menciumnya. Batin sekretaris Dika.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2