
Kakek dan Nenek Davian telah pergi. Tante Meisya terlihat sangat puas mendengar ucapan Davian. Kini, Davian telah duduk diantara kedua orang tuanya.
Mama dan Papa Davian tahu, bahwa Davian merencanakan ini semua, namun Mereka tak tahu, kalau dengan mudahnya Davian akan memberikan perusahaan pada Arkan.
"Kenapa kamu langsung memutuskan sendiri? Kenapa kamu gak nanya persetujuan Papa?" Papa Davian kesal
"Pap, tak ada pilihan lain. Biarkan aku dan sekretaris Dika yang akan membongkar perusahaan busuknya. Dia terlalu serakah. Dia ingin mendapatkan semua. Coba saja, kalau Rangga mendirikan perusahaan dari saham yang diberikan Kakek, pasti Arkan juga mengincar Rangga. Sayangnya, Rangga tak tertarik dengan warisan, ia lebih memilih berdiri sendiri."
"Papa tak menyalahkan Arkan. Kenapa kamu harus begitu? Kenapa kamu tak memperjuangkan perusahaan? Kenapa malah memberikannya pada Arkan?" tanya Papa Davian
"Inilah strategi ku. Aku membiarkan Arkan bermain dengan perusahaan ku. Dengan begitu, mudah bagiku untuk membeberkan bukti bahwa dia telah menggelapkan banyak uang perusahaan. Baik perusahaan Kakek, maupun perusahaan relasi bisnisnya. Dia adalah penipu ulung berkedok pebisnis. Kita harus menjatuhkan Arkan tanpa sisa." jelas Davian
"Kenapa kamu mengorbankan perusahaan kita, Dav?" Mama Davian membuka suara
"Aku tidak mengorbankan nya, aku hanya memberi kesempatan padanya untuk memegang perusahaan ku sementara."
"Apa kamu yakin, kamu akan berhasil? Bagaimana kalau kamu gagal Dav?" tanya Papa Davian
"Pa, jangan pesimis. Aku yakin, aku bisa membuatnya jatuh. Aku telah mengumpulkan beberapa berkas. Itu adalah bukti kejahatannya. Lambat laun, aku akan menyerahkannya pada Kakek, dan Arkan pasti tertangkap."
"Baiklah, Papa percaya padamu. Ingat, jangan sampai perusahaan mu jatuh padanya. Kamu harus tetap fokus, kamu tak boleh lengah sedikitpun." saran Papa Davian
"Baik, Pa. Tentu saja."
"Dav? Arini mana? Mama harus bertemu dengannya sebelum dia pergi." pinta Mama Davian
"Dia di rumah Ibunya. Aku akan menjemputnya, Ma. Tentu saja, dia akan berpamitan pada kita." jawab Davian
"Ya sudah, cepat jemput istrimu."
"Baik, Ma."
Tak terasa, besok Arini akan meninggalkan Jakarta, dan pergi ke kampung. Ini adalah hari-hari terakhir Arini bersama Davian. Davian harus menghabiskan waktu terakhirnya bersama Arini, sebelum mereka benar-benar menjalani hubungan long distance relationship.
"Bos, hati-hati." ucap sekretaris Dika
"Tentu, Dik. Kamu mau kemana sekarang?"
__ADS_1
"Aku akan menemui pihak management Rumah sakit, untuk mengecek berkas-berkas Nona, serta mengecek lokasi Nona di sana, aku akan mengatur semuanya sekarang. Aku juga akan bertemu dengan asisten pribadi Nona, yang akan menjaga Nona di sana. Pihak Rumah sakit telah setuju bekerja sama dengan kita, asalkan Arini tak macam-macam dan mereka tak terbawa-bawa urusan kita. Data Arini akan tetap ada di rumah sakit, walaupun Arini bukan Dokter mereka." jelas Dika.
"Baiklah, aku percaya padamu, Dik. Kamu harus tetap waspada dan hati-hati."
"Tentu, Bos. Bos, nikmati hari terakhirmu dengannya. Jangan sia-siakan momen berharga ini. Ingat Bos, kalian akan menjalani hubungan LDR, dan suatu saat nanti Bos akan jadi seperti Dilan. Semoga Bos kuat menghadapinya." ucap Sekretaris Dika
"Apaan maksud lu?" Davian tak mengerti
"Jangan rindu, rindu itu berat. Biar aku saja, kamu nggak akan kuat. Eaaaaaa," sekretaris Dika menggoda Davian
"Sialan lu! Gue kira apaan. Gue bukan ABG lagi. Gue udah dewasa, kalau gue rindu sama Arini, gue tinggal berangkat menuju tempatnya. So simpel,
kan Dik?"
"No, Bos. Justru, rindu itu adalah salah satu kekuatan cinta. Kalo lu rindu sama Nona, dan lu langsung datang gitu aja ke tempatnya, rindu itu jadi gak ada arti apa-apa. Cinta dan rindu lo itu gak akan ada gregetnya sama sekali, Bos."
"Sok tahu lu! Kayak yang pernah ngerasain jatuh cinta aja lu!" umpat Davian
"Sorry, Bos. Cewek banyak yang antri sama gue, cuma gue belum mau menjalani sebuah hubungan."
"Alasan klasik lu! Bilang aja gak laku. Udah, gue berangkat sekarang, mau jemput permaisuri gue."
"Apa lu bilang?" Davian melotot
"Lu dulu mau balas dendam karena Nona Arini itu keras kepala, pembangkang, dan lu akan buat perhitungan sama dia, lu akan nyakitin dia dan buat dia suka sama lu, niar lu bisa siksa Arini. Ternyata lu sendiri yang kemakan omongan itu. Cinta emang luar biasa, dia bisa merubah si Singa yang meraung-raung menjadi seekor kucing yang mengeong-ngeong! Hahahah. Udah ah, gue takut kucingnya berubah jadi singa lagi. Dadah Bos, gue berangkat duluan." Sekretaris Dika berlari segera masuk kedalam mobilnya
"Sekretaris sialan lo! Gue potong gaji lo bulan ini. Lihat saja nanti." Davian berbicara sendiri
Davian sangat kesal dengan perkataan sekretaris Dika. Bisa-bisanya dia mengumpati Bos nya sendiri. Davian memutuskan untuk segera berangkat ke rumah Ibu Arini, ia masuk kedalam mobiljya dan segera melajukan mobil ferrari miliknya tersebut.
Davian benar-benar merindukan Arini. Benar kata Dilan, rindu itu berat. Baru beberapa jam tak bertemu saja, hati Davian sudah dilanda rindu yang berat terhadap Arini. Bagaimana nanti? Mampukah Davian jauh dari istrinya yang cantik itu?
***
Davian sudah berada di ruang tamu rumah Ibu Arini. Arini masih sibuk membantu Nadya di mini marketnya. Opening sudah 3 hari, dan toko sangat ramai. Terpaksa, Davian harus menunggu Arini selesai.
Tak lama, Arini muncul di hadapannya dengan wajah cantik dan berseri-seri. Davian menatap wajah Arini Wajah itulah yang nanti akan Davian rindukan setiap saat. Terbayang, Davian tak akan bisa menyentuhnya setiap malam, tak akan bisa memeluknya setiap malam, bahkan tak akan bisa melakukannya setiap malam.
__ADS_1
"Ayo, Mas. Aku udah pamit sama Ibu."
"Iya, sayang. Ayo. Aku juga harus pamit pada Ibu."
"Ya, kita ke toko dulu. Ibu di dalam toko."
"Baik."
Davian dan Arini berpamitan pada orang tua Arini. Ini benar-benar hari terakhir Arini bersama keluarganya. Ia harus tegar dan kuat, ia harus yakin, semua ini dilakukan untuk masa depan dirinya dan Davian.
Kalau saja Arkan tak akan menyentuh Arini, Davian tak akan berbuat sejauh ini. Kalau saja Arkan meminta dengan tulus, Davian pasti akan memberikan sebagian sahamnya untuk Arkan. Sayangnya, Arkan terlalu serakah sehingga ia ingin menguasai semuanya.
"Kita kemana sayang? Kok jalan sini?" tanya Arini
"Kita nikmati waktu kita berdua, ini hari terakhir kita. Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu." ucap Davian
"Baiklah, aku sedih jadinya kalau dengar Mas melow seperti ini." Arini menatap Davian
"Sepertinya, aku akan menjadi Dilan hari ini."
"What?" Arini tak mengerti
"Aku ingat, Dilan pernah berkata, Tenang saja, perpisahan itu tak menyedihkan. Yang menyedihkan adalah, bila habis perpisahan itu, kita malah saling lupa. Aku ingin kamu mengingat ku terus, ketika kita berpisah. Aku tak ingin kamu melupakan sedikitpun memori tentang kita. Untuk itu, akan ku buat hari ini sangat berkesan untukmu, agar kamu selalu mengingatnya setiap saat, agar kamu selalu mengingat aku, yang membuatmu bahagia. Karena, kebahagiaan bukan dicari, tapi diciptakan. Itulah yang dikatakan Dilan pada Milea. Arini-ku, bolehkah aku menjadi Dilan-mu hari ini?" ucap Davian
Arini menatap Davian. Sesungguhnya, ia ingin tertawa melihat ekspresi Davian. Sungguh, Davian tak cocok menjadi Dilan.
Wajahmu sangar, Mas. Kamu nggak pantas jadi Dilan, kamu lebih pantas jadi Mas-Mas di sinetron Azab, cocok sekali dengan wajah dan tubuhmu yang kekar itu, hihihi. Batin Arini.
Tapi, sepertinya suaminya ini terlalu bucin, sehingga ia ingin menirukan beberapa quotes adegannya Dilan bersama Milea. Agar Davian tak kecewa, Arini harus mengikuti perannya.
"Tentu saja, Mas. Jika Mas adalah Dilan-ku, maka izinkan juga aku untuk menjadi Milea-mu hari ini."
*Bersambung*
Author say "Owwwww, So sweet! wkwkwk,"
Selamat sore
__ADS_1
Jangan lupa like setelah membaca ya 😍🥰😘