
Peluru dengan kecepatan tinggi yang menusuk tubuh Davian, benar-benar mematikan. Dokter beberapa kali melakukan tindakan, agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Davian pendarahan hebat saat dokter melakukan operasi bedah peluru.
Tembakannya mengenai dada, dekat dengan jantung dan pembuluh darah. Tubuh Davian sangat shock berat, apalagi luka tembak pada tubuhnya menyebabkan kerusakan jaringan dan kerusakan organ tubuh.
Dokter benar-benar melakukan tindakan yang sangat luar biasa, berharap Davian bisa sembuh dan terselamatkan. 10 jam Davian mendapat tindakan operasi dan bedah oleh dokter-dokter spesialis dan dokter-dokter handal, namun sampai kini, sampai Arini sudah datang melihatnya, Davian masih belum sadarkan diri juga. Davian koma, entah akan sampai kapan koma ini berakhir.
"Arini, sudah. Kita pulang saja. Besok Dokter sudah mengizinkan kami masuk kedalam. Ini sudah malam, biarkan pengawal yang menjaga Davian." pinta Mama Davian.
Sambil menangis, Arini menguatkan dirinya, "Kalian semua pulang saja, aku akan tetap disini menunggu Mas Davian sadar, aku tak akan pernah meninggalkannya walau sedetik pun." Arini tetap menatap suaminya dibalik jendela tebal itu.
"Arini, kamu bisa sakit. Berdoalah, agar Davian segera sadar kembali, yakinlah bahwa Davian akan sembuh dan baik-baik saja. Jangan menyiksa dirimu seperti ini terus, Arini." Ibu Arini menasihati.
"Kumohon, kalian pulang saja. Aku masih ingin disini, aku pun tahu batasan, aku akan pulang, namun tak sekarang. Aku masih ingin disini bersama Mas Davian, kumohon kalian mengerti dan jangan menggangguku." ucap Arini sambil berlinang air mata.
Keluarga Arini memahami sifat keras kepala Arini. Akhirnya, mereka meninggalkan Arini bersama kedua asistennya. Sekretaris Dika dan Tira. Ditambah lagi, pengawal yang menjaga di sekitar pintu Davian, agar tak ada sembarang orang yang masuk kedalam ruangan.
***
Kakek dan Nenek Davian ikut pulang ke rumah Davian. Kakek Surya ingin meminta penjelasan mengenai kejadian ini. Semuanya benar-benar membuatnya pusing. Ia tak mengerti dengan kejadian ini.
Sesampainya di rumah Davian, Kakek dan Nenek Davian meminta kedua orang tua Davian untuk ikut duduk. Akan banyak hal yang ingin Kakek Surya katakan dan tanyakan pada Mama dan Papa Davian.
"Kalian sudah tahu?" tanya sang Kakek.
"Iya, Pah. Maafkan aku, tak memberitahumu." Papa Davian menunduk
"Kenapa kamu membiarkannya? Kenapa tak berbicara padaku sebelumnya?" tanya Kakek lagi.
"Karena, Davian yang memaksa. Kalau Papah yang tahu, urusannya akan panjang, Davian ingin menjebloskan Arkan dengan tangannya sendiri. Karena, Arkan sudah tak bisa di maafkan lagi, ia sudah keterlaluan, membuat perusahaan bangkrut, dengan menyadap rekening pribadi perusahaan. Dia sudah seperti mafia yang berkedok pebisnis, Pah." jelas Papa Davian.
__ADS_1
"Kalau sudah begini, siapa juga yang repot? Aku kan?" Kakek Surya terkesan menyalahkan.
"Maafkan kami, Pah. Kami tak menyangka akan seperti ini." Mama Davian membuka suara.
"Lalu, wanita itu juga tak bercerai dengan Davian? Semua hanya sandiwara, begitu?" selidiknya lagi.
"Maafkan kami, Pah. Keinginan Davian tak bisa dihindarkan. Papah tahu sendiri kan? Bagaimana sifat Davian?" tanya Papa Davian
"Kenapa harus pura-pura bercerai?" tanyanya
"Karena, Arkan tahu, Davian sudah mulai tulus mencintai Arini. Davian tak ingin kehilangan Arini, karena itu Arkan akan menghancurkan Davian lewat Arini. Ketika Arini musnah, bukankah Davian juga akan musnah? Arkan berfikir begitu, informasi itu Davian dapatkan dari Detektif Jo." jelas Papa Davian
"Arkan dan Meisya memang kurang ajar. Mereka tak tahu di untung. Sudah bagus aku mau merawat anak itu, sekarang malah semena-mena pada cucuku yang berharga!" umpat Kakek Surya.
Ya, Kakek Surya kurang menyukai Arkan. Karena, Arkan dari dulu tak pernah menunjukan prestasinya. Arkan hanya pembuat onar, dan lelaki bejad yang menghamili anak orang. Namun, Arkan tak berkaca pada dirinya, Arkan selalu mengklaim bahwa dirinya layak memimpin perusahaan.
Namun, Kakek Surya tak sebodoh itu. Kakek tahu, bahwa yang berpotensi memegang kendali perusahaan adalah Davian. Davian anak yang cerdas, ia tekun dan teliti. Karena hal itulah, Arkan dendam pada Davian. Arkan ingin menghancurkan Davian sebagaimana mestinya. Arkan terlalu serakah, sehingga semuanya ingin dia miliki.
"Karena itulah, aku minta maaf. Tak berdiskusi dengan Papah perihal masalah ini. Aku mengira, Davian akan berhasil menjalankan rencananya. Aku kira, Davian tak akan terluka, tapi ternyata perkiraan ku salah. Anakku malah terluka disaat hari penangkapan Arkan. Aku benar-benar tak mengantisipasinya. Maafkan aku yang lengah ini, Pah." Papa Davian menitikkan air mata, jika mengingat Davian yang terkapar lemah.
"Sudahlah, menyalahkan diri sendiri pun tak ada gunanya. Kita doakan saja, Davian akan segera siuman." ucap Kakek Surya.
"Iya, Pah. Semangatku hilang, jiwaku hampa. Anakku yang terbaik, kini malah berbaring di ranjang Rumah sakit." Papa Davian menarik nafas panjang.
"Tak perlu bersedih hati. Davi-ku adalah anak yang kuat. Cucuku yang terhebat. Aku yakin, dia akan segera siuman. Kuharap, dia akan segera membaik, saat sebelum waktu dengan pertemuan investor berlangsung. Waktunya tinggal dua minggu lagi." tegas Kakek Surya.
"Bagaimana, kalau hal buruk menimpa Davianku?" ucap kakek Gilvan tiba-tiba
Semua mata tertuju pada Nenek Davian. Mereka tetap berharap, Davian akan segera sembuh dan menjalankan perusahaan kembali. Meskipun, mereka tahu, bahwa kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.
__ADS_1
Mama dan Papa Davian kaget. Dua minggu lagi? Pertemuan dengan investor asing? Bagaimana jika Davian masih dalam pemulihan dan dia belum benar-benar sembuh? Mama dan Papanya khawatir akan hal itu. Mereka tetap berdoa, agar Davian segera sadar dan segera pulih.
***
Malam ini, Arini masih di Rumah sakit. Waktu sudah sangat larut. Arini benar-benar tak ingin meninggalkan Davian. Arini ingin tetap bersama Davian, suaminya.
"Non, nona. Ayo kita pulang, saya tak bisa membiarkan Nona seperti ini terus. Saya tak ingin nona sakit, Besok pagi kita kemari lagi. Bagaimana?" rayu sekretaris Dika.
"Aku ingin menemaninya. Aku ingin selalu ada untuknya, disisinya, sampai dia melihatku dan tersenyum padaku." ucap Arini dengan tatapan sendu.
"Non, sekretaris Dika benar. Non Arin tak bisa terus-terusan seperti ini. Tuan Dav pasti sangat sedih jika Non sakit, ayolah, istirahatkan tubuh Nona. Nona Arin belum istirahat sama sekali kan sejak kita sampai disini? Bahkan, Nona Arin juga belum makan apa-apa kan? Aku tak ingin Nona kenapa-napa, kumohon jaga kesehatanmu, agar Nona bisa terus mendampingi Tuan, sampai Tuan siuman." Tira terus merayu Arini.
Arini menghela nafas, matanya yang sembab, dan tubuhnya yang sangat kelelahan, dia tetap semangat menanti sang suami siuman.
"Tira, sekretaris Dika, maafkan aku merepotkan kalian. Tapi, untuk saat ini aku benar-benar hanya ingin menatap suamiku, dan melihatnya dari jauh, meskipun aku tau, dia tak menyadari kehadiranku. Bahkan, jika ini adalah kali terakhirku melihatnya, aku akan tetap bahagia karena aku selalu ada si sampingnya. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Menemaninya, menunggunya, dan menantinya hingga ia sadar, atau ia...."
Bruggghhhhh
Arini jatuh tersungkur. Ia benar-benar lemas, ia tak dapat berkata-kata lagi. Tubuhnya lemah, kepalanya sakit, ia benar-benar kesakitan, hati dan jiwanya rapuh, kini tubuhnya pun ambruk. Ia tak bisa menopang lagi untuk berdiri tegap.
Seketika itu pula, Tira dan Sekretaris Dika segera meminta pertolongan pada perawat, agar segera memeriksa kondisi Arini. Mereka khawatir, Arini pasti mengalami shock berat akan kejadian ini. Arini tetap menguatkan dirinya, meskipun Arini sangat rapuh, hingga kini ia tak bisa apa-apa, hanya terdengar suara sendu yang keluar dari mulutnya. Matanya sayup-sayup, sambil mengeluarkan air mata.
"Mas, Mas Davian.. Sadarlah, ada aku yang sangat terluka melihat keadaanmu."
"Mas, aku mencintaimu. Aku tak bisa kehilanganmu, aku tak siap akan semua ini."
"Kamu sangat berarti untukku, sadarlah."
Hati Arini tetap teringat Davian, meskipun raganya sangat lemah. Ia tetap berharap, Davian akan segera siuman.
__ADS_1
*Bersambung*