
"Aaaarrgghhhhh, Tuan Rangga. Lepaskan!" Arini takut
"Rin, Arini. Kenapa lu harus jual mahal gini sih? Gue juga cuma ngajak lu jalan-jalan kan? Nggak lebih!"
"Tapi Tuan sudah diluar batas! Saya sudah peringatkan, jangan aneh-aneh, kita ini bukan muhrim. Apa saya harus teriak dari sini?" Arini kesal
"Arini, jangan biarkan gue menjadi kejam. Gue cuma pengen ajak lo makan dan jalan-jalan, gak lebih. Gak usah berlebihan seperti ini. Tapi, kenapa lu harus membuat gue jadi orang yang jahat?"
"Tuan, aku mohon dengan sangat! Jangan seperti ini." Arini mencoba tetap kuat meskipun sebenarnya ia takut
"Ya sudah, ayo kita pergi jalan-jalan!" Rangga memaksa
"Nggak, suamiku tak akan mengizinkannya!"
Arini bangkit dan mendorong tubuh Rangga. Arini akan pergi keluar. Namun, tiba-tiba Rangga menangkap tubuh Arini dengan cepat, sehingga Arini jatuh terbentur meja. Rangga terus mendekatinya dengan kesal dan emosi.
"Lu takut HAH? Setelah lu mencoba berani menguatkan diri lu, lu takut kan sama gue?"
"Tuan, lepaskan! Hentikan, jangan macam-macam." Arin menahan tubuh Rangga yang semakin dekat
"Gue udah ajak lu baik-baik, Rin. Tapi, lu malah ngebangunin macan yang lagi tidur. Apa perlu gue buat lu hamil, agar lu bisa jadi milik gue selamanya? IYA? Baiklah, ayo, kita lakukan, agar lu bisa terlepas dari si Davian kalo lu hamil anak gue!!!"
"Arrgghhh, lepaskan baj*ngan! Jangan sentuh aku. Dasar bre*ngsek!!!"
"Semua ini karena ulah jual mahal lu ke gue, Rin. Lu harus mendapatkan balasannya."
Rangga terus memeluk tubuh Arini. Ia memaksa Arini, Ia mencium Arini dengan ganas, Arini meronta meminta tolong, tapi gudangnya sangat luas, tak akan terdengar suara jika pintu gudangnya tertutup.
"Tuan bre*ngsek! Baj*ngan! Lepaskan aku. Aaarrghhhhh, Jangan!!!!!“
BBRUUUUGGGKKKKK
Pintu gudang terbuka, Davian datang tiba-tiba dengan mendobrak pintu gudang. Ia segera menuju Rangga. Tanpa basa-basi, Davian menendang Rangga dengan keras sehingga dia terpental dari tubuh Arini. Tak ada ampun bagi Rangga, Davian terus menghajarnya habis-habisan, sampai Rangga memohon ampun padanya.
"Arini, kamu gak apa-apa? Kenapa baj*ngan itu bisa melakukan hal gila seperti ini?"
"Nggak apa-apa, Tuan. Kumohon, bawa aku pergi dari sini. Aku tak mau melihatnya lagi." Arini ketakutan
Davian mendekati Rangga. Ia menarik kerah Rangga hingga tubuh Rangga terangkat.
"Urusan kita belum selesai, kita bahas ini nanti. Gue peringatkan sama lo Ga, sekali lagi lo sakitin Arini, gue bunuh lo!"
Rangga tak menjawab, ia kesakitan. Davian menendangnya dan memukulnya dengan keras. Arini segera dibawa oleh Davian menuju kamarnya. Davian meminta bantuan pada Bi Lilis, untuk mengobati luka Arini yang terbentur meja.
Keluarga Davian sepi, Mama dan Papanya sedang pergi bertemu relasi bisnis, kedua adiknya sedang pergi sekolah. Hanya tersisa beberapa asisten.
"Aww, perih, Tuan." Kening Arini terluka
"Kamu kenapa bisa sebodoh ini sih?" tanya Davian
"Aku nggak tahu, aku kira Tuan Rangga tak akan berbuat senekad itu."
__ADS_1
"Bi Lilis, apa Bi Lilis gak lihat? Kalau Rangga membawa paksa Arini menuju gudang?" tanya Davian
"Maaf, Den. Bibi teh sedang fokus di dapur, tadi bibi sempet lihat Tuan Rangga berbicara di teras depan sama Arini, tapi kelihatannya bicara wajar saja, jadi Bibi nggak memperhatikan lagi."
"Dia emosi, biarkan aja Tuan. Aku gak kenapa-napa kok."
"Sekarang kamu gak kenapa-napa, kalau aku terlambat datang, akan bagaimana nasibmu?"
"Maafkan aku." Arini menitikkan air matanya
Davian benar-benar geram pada Rangga. Ia pergi keluar, berjalan menuju gudang lagi. Ia harus menemui Rangga. Ia harus meminta penjelasan Rangga.
Namun, Rangga sudah tak ada ditempat. Ternyata, Rangga sudah dibawa oleh supir menuju rumah sakit.
"Sudah dibawa sama supir, Den."
"Oh, yasudah."
Rangga br*ngsek. Gue gak akan biarkan hidup lo tenang. Lo udah mengganggu istri gue, berarti lo mengganggu ketenangan gue. Batin Davian.
Davian tak mempedulikan lagi kondisi Rangga. Ia segera kembali ke kamarnya, melihat kondisi istrinya yang sedang terkapar lemah.
"Udah Bi Lilis?" tanya Davian
"Sudah, Tuan."
Bi Lilis pergi meninggalkan Davian dan Arini. Davian memegang tangan Arini lembut. Davian tahu, ia melakukan kesalahan. Ia melupakan Rangga yang tega melakukan hal seperti itu pada Arini.
"Tidak apa-apa, Tuan. Ini bukan kesalahan Tuan kok," ucap Arini
"Kenapa Rangga berbuat seperti itu padamu?" tanya Davian
"Tuan Rangga mengajakku pergi keluar, tapi aku tak mau. Dia memaksa, aku takut, aku terus menolaknya, namun dia malah marah, dan membawaku ke gudang. Dia membekap ku, aku tak menyangka dia bisa berbuat seperti itu padaku."
"Dasar Rangga brengsek. Akan ku beri dia pelajaran nanti."
"Jangan, Tuan. Biarkan saja dia. Aku tidak apa-apa kok."
"Rangga ngapain kamu aja?" tanya Davian
"Dia cium paksa aku," Arini menggigit bibirnya
"Dasar brengsek. Lelaki biadab!"
"Tuan, jangan marah sama Tuan Rangga. Walau bagaimanapun, dia adalah Om Tuan sendiri kan, kalian tak boleh bertengkar, apalagi bertengkar karena aku." ucap Arini
Davian marah dia benar-benar tak menyangka bahwa Rangga akan berbuat tak adil seperti itu pada Arini. Wanita yang harusnya ia jaga, malah seenaknya di jamah oleh Rangga. Nasib baik datang pada Arini, Davian memaksa ingin segera pulang, ternyata Arini dalam masalah.
Davian mengelus-elus rambut Arini. Ia meletakkannya di dadanya. Ia ingin Arini tenang, Davian tahu, bahwa Arini sangat shock, namun Arinu tetap tegar. Ia tak mau terlihat menyedihkan.
"Tuan?"
__ADS_1
"Apa? Arini, sekarang aku ini adalah suamimu, jangan panggil aku Tuan lagi. Panggil aku 'Mas'."
"Eh, ta-tapi aku tak biasa." ucap Arini
"Biasakan memanggilku Mas, aku adalah suamimu. Anggap aku, apapun yang terjadi dengan hubungan kita, anggap aku suamimu." pinta Davian.
"Baiklah, Tuan, Ehh, Mas. Maaf, aku belum terbiasa."
"Kamu ingin bicara apa?"
"Mas, aku mohon, jangan menaruh dendam pada Tuan Rangga. Aku tak mau, terjadi masalah diantara keluarga kalian. Aku sungguh ingin kalian berdamai. Kumohon." ucap Arini
Davian memeluk Arini, ia bahagia, Arini adalah wanita yang baik, dan tak pernah dendam pada siapapun. Davian benar-benar khawatir akan terjadi hal serius pada Arini.
Beruntungnya, Davian datang tepat waktu, sebelum sampai Rangga melakukan perbuatan jahatnya pada Arini. Wanita yang ia cintai, masih bisa ia lindungi.
Davian mengambil teh hangat, lalu ia memberikannya pada Arini. Arini harus tenang, ia harus rileks kembali.
Tiba-tiba, pintu kamar Davian didobrak oleh Papa Davian. Ia datang dengan wajah marah dan kesal.
"DAVIAN! Kamu apakan Rangga sampai ia bisa masuk rumah sakit?" tanya Papa Davian
"Apa yang Papa dengar dari Rangga? Kenapa bisa marah seperti ini padaku? Jelas-jelas Rangga yang salah!" Davian membela diri
"Kenapa kamu memukulnya?"
"Dia membekap Arini, dia akan melakukan tindakan senonoh pada Arini. Tanyakan saja pada istriku. Lihatlah wajahnya, ia pun terluka. Ia di lemparkan oleh Rangga sampai membentur meja. Bahkan, lihatlah tangan dan kakinya, ia luka-luka, karena sifat kasar Rangga padanya." ucap Davian
Papa Davian mengernyitkan dahinya. Ia mendengar penjelasan yang berbeda dengan apa yang diucapkan Rangga dan Davian. Tapi, jika melihat luka-lula di tubuh Arini, Papa Davian lebih mempercayai anaknya sendiri daripada adiknya sendiri.
"Arini, kamu terluka, Nak. Ya ampun, sini aku lihat." Mama Davian mendekati Arini
"Apa itu benar, Arini?" tanya Papa Davian
"Be-benar, Tuan. Tapi, jangan sampai Tuan menghukum Tuan Rangga. Aku telah memaafkannya." ucap Arini
"Jadi, benar begini ceritanya?" papa Davian bingung
"Memang kenapa Pa? Apa yang Rangga bilang?" tanya Davian
"Rangga sepertinya membuat masalah baru, Mam! Davian, Kakek mu sangat marah padamu! Rangga berkata, bahwa dia hanya mengajak Arini berbincang, lalu kamu menghajarnya habis-habisan, kamu cemburu buta, lalu kamu pun menyiksa Arini. Itu yang Rangga katakan pada kakek mu!"
"Apa? Beraninya Rangga. Aku harus segera menemuinya."
*Bersambung*
Hai.. selamat siang, selamat membaca ya😘
Maaf updatenya telat, ini hari minggu sih, aku ada acara dulu hehe
Jangan lupa LIKE, KOMEN, DAN VOTE YA. 💓💓💓
__ADS_1