Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Menebus dosaku


__ADS_3

Davian sedang merenung di koridor rumah sakit. Ia duduk terdiam dengan waktu yang lumayan lama. Ternyata, Tira datang dari rumah besar Davian, dan melihat Davian sedang duduk sendirian.


Tira segera menghampiri Davian, dan duduk disampingnya. Tira melihat, Davian sangat sedih sekali.


"Tuan, Nona tidak apa-apa kan?" ucap Tira.


"Dia hanya shock. Aku beruntung." ucap Davian.


"Syukurlah. Aku telah membawa perlengkapan Nona. Kenapa Tuan malah disini sendirian?" tanya Tira.


"Tira, apa aku harus menerimanya?"


"Terima saja, Tuan. Tak ada salahnya." ucap Tira.


"Anak itu. Apa aku harus membawanya menginjak rumahku?" tanya Davian.


"Menurutku, biarkan saja dia tinggal di rumah Tuan. Kasihan dia." ucap Tira.


Tira sudah diberitahu oleh sekretaris Dika perihal Keyza.


"Apa aku harus membawa anak itu dan membiarkan anak itu tinggal di rumahku?"


"Ya memangnya, kenapa tidak Tuan?" tanya Tira.


"Tapi, dia adalah orang yang aku benci juga. Sama seperti aku membenci kedua orang tuanya."


"Yang salah, anaknya apa orang tuanya, Tuan?" tanya Tira.


"Ya orang tuanya lah, anaknya tahu apa?" jawab Davian.


"Nah, anaknya kan tidak tahu apa-apa. Kenapa Tuan harus membencinya?" Tira mencoba meluruskan.


"Entahlah, karena kebencian ku pada keluarganya sudah mendarah daging. Aku sudah muak pada mereka semua." ucap Davian.


"Tuan, saya tak tahu permasalahan Tuan. Tapi, setelah saya pikir dan saya telaah, sepertinya ada keraguan pada diri Tuan. Apa boleh saya meluruskan?" kata Tira.

__ADS_1


"Meluruskan bagaimana?" tanya Davian.


"Kalau Tuan membiarkan anak itu, dan tak mengurusnya, apa bedanya ia dengan orang tuanya? Lambat laun, ia akan mengikuti perilaku kedua orang tuanya. Ia akan beranjak dewasa, ia akan berpikir. Ia akan mengikuti jejak kedua orang tuanya, apalagi jika tidak di didik dengan baik dan benar. Tapi, keadaannya akan terbalik, jika Tuan dan Nona mengurusnya, ia pasti akan patuh pada kalian, dan menjadi anak yang baik. Jika Tuan keberatan, biarkan saya yang mengurusnya. Saya berkenan, karena saya sangat menyayangi Nona Arini. Dika sudah berpesan pada saya, jika Tuan berkenan, saya akan mengurus Anak Tuan Arkan. Karena, anak sekecil itu tahu apa? Dia sekarang pasti kesepian, dan kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Orang tuanya menelantarkan dia, masa kita harus membiarkannya, Tuan? Apa Tuan tak kasihan pada anak kecil itu?" Tira meyakinkan Davian.


"Aku berdosa pada istriku. Allah menegurku dengan cara seperti ini. Aku merasa bersalah, Tira. Baiklah, aku percayakan semuanya padamu dan sekretaris Dika. Aku tak ingin terlalu dekat dengannya, karena dia bukan darah daging ku. Aku hanya menerimanya karena aku kasihan padanya. Tolong urus kedatangannya, tanyakan alamatnya pada sekretaris Dika." ucap Davian tegas.


"Baik, Tuan. Saat ini, saya akan menemui Nona dahulu, saya akan memberikan beberapa pakaian Nona." jawab Tira.


"Oh ya, aku akan memberikan kejutan pada istriku. Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan yang mewah, sekaligus mengadakan babymoon dengan bayiku, karena Arini dan bayiku tak apa-apa, aku sangat bahagia sekali. Rencanakan itu bersama Dika, buat resepsi semewah mungkin. Sekitar dua atau tiga minggu lagi kita laksanakan, paling telatnya 1 bulan kedepan. Aku ingin sekali melihat istriku menggunakan gaun mewah, sebelum perutnya membesar." ucap Davian.


"Baik, Tuan. Saya akan segera membahasnya dengan sekretaris Dika." ucap Davian.


"Ya sudah, saya ke ruangan Nona dulu, Tuan."


"Silahkan. Aku ingin disini dulu."


"Baik, Tuan."


Tira meninggalkan Davian. Tira memang wanita yang pintar. Tira bisa meyakinkan Davian mengenai hal ini. Davian memutuskan untuk menerima anak Arkan, namun tetap saja hatinya masih belum sepenuhnya menerima anak Arkan.


"Nona, apa Nona baik-baik saja?" tanya Tira.


"Tentu saja, Ra. Aku sudah membaik. Aku tak apa-apa, kok. Kamu bawa perlengkapan ku kan?" tanya Arini.


"Iya, tentu saja, Nona. Aku membawanya. Tadi, saya berbincang dengan Tuan Dav." ucap Tira.


"Berbincang apa Tira?" tanya Mama Davian penasaran.


"Tuan mengizinkan Keyza tinggal di rumah besar, dan aku yang akan merawatnya." ucap Tira.


"Alhamdulillah, aku turut senang mendengarnya. Hati Mas Dav mulai luluh." ucap Arini.


"Arini, kehamilan mu membawa berkah pada diri Davian. Akhirnya, dia bisa luluh juga. Padahal, jika dia sudah berkata tidak, biasanya hal itu tak akan pernah terjadi." ucap Mama Davian.


"Iya, Ma. Alhamdulillah, aku bahagia kalau Mas Davian luluh juga dan mau menerima Keyza. Tapi, maafkan Arini, Arini tak bisa mengurus Keyza. Arini harus bedrest selama dua minggu. Semuanya, Akan Arini pasrahkan pada Tira." ucap Arini.

__ADS_1


"Tenang saja, Arini. Mama juga akan membantu mengurusnya. Kamu tak perlu khawatir."


"Baik, Ma. Terima kasih."


***


Orang tua Davian telah kembali ke rumahnya. Tira dan Dika kembali juga, karena harus segera membawa Keyza ke rumah besar Davian. Tante Meisya ditinggalkan sendirian, karena Kakeknya sudah tak peduli dan kesal padanya, tante Meisya tak diperbolehkan ditunggu oleh pengawal. Entah kenapa, Kakek Surya jadi acuh pada anaknya sendiri.


Davian sedang menunggu Arini. Esok Arini di perbolehkan pulang. Davian benar-benar tak mau lagi keras kepala pada Arini. Ia kapok, ia benar-benar tak menyangka. Kalau saja janin dalam kandungan Arini gugur, entah apa yang akan terjadi pada Davian.


"Mas, kenapa ngeliatin aku terus?" tanya Arini.


"Aku masih merasa bersalah sampai saat ini. Maafkan aku, Arin." ucap Davian.


"Sudahlah, Mas. Aku gak kenapa-napa kok. Kamu jangan merasa bersalah terus."


"Aku benar-benar malu padamu, Arini. Aku tak pernah merasa bersalah seperti ini sebelumnya." jawab Davian.


"Mas, makasih. Kamu mau mengalah dan menerima anak Arkan."


"Kamu harus berterima kasih pada Tira. Dia yang meyakinkan aku, sayang."


"Baguslah, aku percaya padamu, Mas. Kamu memang terbaik." Arini tersenyum.


"Sayang? Aku punya kado spesial untukmu." ucap Davian.


"Kado apa, sayang?" tanya Arini.


"Bulan depan, kita adakan resepsi pernikahan kita. Bukankah kamu menginginkan menjadi ratu sehari? Dengan gaun mewah dan make up yang sangat menawan? Aku akan mengabulkannya sayang. Lalu, kita laksanakan babymoon kita, karena sekarang sudah terlambat untuk mengadakan honeymoon."


"Mas, ternyata Mas benar-benar mendengarkan aku? Terima kasih, sayang. Aku sangat menginginkan hari itu terjadi. Aku mengira, pernikahan aku dan kamu tak akan sampai seperti ini. Aku pernah bermimpi dalam hidupku. Jika suatu saat nanti, aku akan menikah dengan orang yang aku cintai, dan aku akan menjadi wanita paling cantik di acara itu. Aku akan berjalan si pelataran menuju pelaminan. Aku menginginkan semua itu, Mas. Ternyata, ini akan terkabul ketika aku menikah denganmu."


"Ini sebagai penebus dosaku padamu, sayang. Aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia, dan kita benar-benar resmi telah menikah. Aku akan mengenalkan dirimu pada semua orang yang ada dimuka bumi ini. Cintaku benar-benar telah kuberikan semua untukmu. Aku tak akan bisa mencintai orang lain lagi. Untuk itu, mari kita laksanakan resepsi pernikahan kita yang sesungguhnya, bersama bayi mungil yang ada di perut kamu, Arini-ku. I love u so much, you are my endless love in this world, Arini Syafira."


"Thank u so much, my Davian. Mee too, I love u more than words, Davian Raharsya."

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2