
Beberapa hari kemudian.
Hari ini, Arini akan mengunjungi rumahnya bersama Davian. Ia seperti biasa, akan diantar oleh sekretaris Dika. Arini akan membawa beberapa makanan untuk Ibunya. Arini sengaja ingin pulang dulu sebelum ia melahirkan, karena ia sangat merindukan Ibunya. Arini sudah siap, ia akan segera berangkat bersama Davian. Tiba-tiba, dari ruang tamu, Keyza memanggil Arini.
"Aunty, mau kemana?" tanya Keyza.
"Mau ke rumah Aunty sayang, Onty kangen sama rumah Onty." jelas Gita.
"Apa Key boleh ikut Onty?" tanya Keyza polos.
"Ikut? Keyza mau ikut?" tanya Arini.
"Iya, Key mau bersama Kakak Mita dan Kakak Alif," jawabnya.
"Bilang dulu sama Opah kecil, apa boleh?" tanya Arini.
"Opah kecil baik kok, dia pasti mengizinkan.
Tak lama, Rangga datang dari pintu belakang, melihat Keyza dan Arini sedang berbicara bersama.
"Opah kecil....." sapa Keyza dari jauh.
Rangga berjalan mendekati Keyza, "Apa, Nak?"
"Boleh ga Key ikut aunty pergi ke rumahnya aunty?" pinta Keyza.
"Memang Key mau ikut? Ikut saja, silahkan. Opah kecil tak akan melarang," jawab Rangga.
"Benarkah? Apa Opah kecil akan ikut?"
"Tidak, opah kecil banyak sekali pekerjaan sayang, kamu sama Kakak Tira aja ya?" pinta Rangga.
"Baiklah, terima kasih ya, udah izinin Key perfi sama Onty sama Om juga." ucap Keyza.
Arini mengajak Keyza dan Tira untuk segera pergi. Walau Arini tahu, Davian sedikit keberatan anak kecil nan polos ini ikut. Namun, Davian pun sudah berjanji pada dirinya, untuk mulai menyayangi Keyza. Mereka semua pun berangkat bersama, Davian duduk didepan bersama sekretaris Dika, Arini, Keyza dan Tira duduk dibelakang.
...🍂🍂🍂...
Mereka sudah sampai di rumah Arini. Rumah pemberian Davian, yang sangat peduli pada keluarga Arini. Davian sangat bahagia, melihat keluarga Arini yang sekarang. Minimarket semakin maju, bahkan Ibu Arini kini mempunyai dua karyawan baru, yang ditangani oleh Nadya.
"Kakak........" Alif dan Mita menghamburkan pelukannya pada Arini.
"Alif, Mita. Kakak bawakan makanan untuk kalian." ucap Arini.
"Kak Arini perutnya udah besar. Dedek bayi didalam juga pasti sudah besar ya? Kapan Alif bisa bertemu dengan dedek bayi Kak?" ucap Alif polos.
"Bulan depan, Lif. Doakan saja ya, semoga Kakak melahirkan dengan lancar dan semangat." ucap Arini.
"Amin, Kak Arin."
"Amin...." jawab mereka serentak.
Mereka semua makan siang bersama, karena Ibu Arini telah menyiapkan makan siang bersama. Memang kebetulan Arini dan Davian belum makan siang, akhirnya mereka makan bersama dengan Tira, Nadya dan sekretaris Dika.
Selesai makan siang, Tira mencoba membantu Nadya di minimarket, sedangkan anak-anak bermain bersama. Sekretaris Dika hanya melihat pemandangan sekitar saja. Tira dan Nadya kini mulai akrab, mungkin karena mereka saling bertemu pada saat itu, Tira dan Nadya jadi tak asing lagi.
"Kamu udah lama di minimarket ini?" tanya Tira.
__ADS_1
"Lumayan. Awalnya, aku yang pegang semua. Mulai dari kasir sama checking barang, tapi ternyata aku keteteran, jadi Ibu Marni carikan dua pekerja deh, jadi aku bisa handle mereka." jawab Nadya.
"Bagus, bagus. Aku juga dulu pernah jadi kasir. Pusing banget, uang kadang ilang, kan nyebelin." keluh Tira.
"Aku juga pernah mengalaminya, tapi Bu Marni baik orangnya, namanya juga bekerja, pasti ada aja kesulitan katanya. Makanya, aku betah kerja sama Ibunya Arin disini." Nadya tersenyum.
"Kamu sudah menikah Nad? Apa masih sendiri?" tanya Tira tiba-tiba.
"Masih sendiri, Ra. Gak ada cowok yang mau sama cewek biasa kayak aku. Hehe." jawab Nadya.
"Eh, kamu gak boleh gitu, Nad. Mungkin belum, mungkin Tuhan sedang menyiapkan jodohmu, atau jodohmu sedang dalam perjalanan, mungkin saja kan?" Tira tertawa.
"Sebenarnya, aku berharap jodohku udah ada. Yang dekat-dekat saja gitu, biar aku bisa kayak Arin." celetuk Nadya.
"Maksudnya?" Tira mengernyitkan dahinya.
"Eh, Ah enggak kok, Ra. Oh ya, kamu udah punya pacar? Apa udah nikah?" tanya Nadya.
"Gak dua-duanya. Aku gak minat pacaran. Rasanya, ingin segera menikah saja, tapi dengan syarat, aku mencintainya." jawab Tira.
"Lah, gimana kamu bisa saling mencintai kalau kamu gak pacaran dulu atau sekedar dekat dengan orangnya?" Nadya heran.
"Iya juga sih." Tira menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku tanya kalau gitu, adakah laki-laki yang kamu suka, Ra?" tanya Nadya.
"Uhukk, uhukk aduh maaf. A-aku, sepertinya belum ada sih untuk saat ini." jawab Tira.
"Masa sih Ra, kamu cantik loh, pasti banyak yang suka sama kamu!" tambah Nadya.
"Aku sibuk, jagain Keyza sama jadi pelayan Tuan Rangga, mana sempat aku deket sama cowok." jawab Tira.
"Ah, biasa aja. Layaknya pembantu sama majikan, aku menghormati dia sebagai majikan ku. Tapi, Tuan Rangga memang orang yang baik, menurutku." jawab Tira.
"Cie, apa jangan-jangan, kamu suka sama Tuan Rangga ya? Cie, Tira...." Nadya tertawa.
"Ya ampun, enggak Nad. Hanya sebatas majikan dan pembantu saja, tak lebih dari itu." ucap Tira.
"Ngomongin apa sih kalian?" tiba-tiba sekretaris Dika datang tak diundang.
"Kepo aja deh, ini urusan cewek!" jawab Tira.
"Eh, ada Pak Dika..." Nadya tersenyum.
"Nad, daripada ngobrol gak jelas, mending carikan aku minuman dingin deh. Aku mau soft drink," ucap sekretaris Dika.
"Oh, baiklah. Aku akan mengambilnya untuk kita bertiga. Tunggu sebentar ya," ucap Nadya lalu ia berlalu.
Sekretaris Dika menatap Tira dengan tajam. Ia sebenarnya mendengarkan pembicaraan antara Tira dan Nadya, makanya ia segera mendekati kedua wanita itu.
"Kenapa?" Tira merasa terganggu.
"Enggak, gak kenapa-napa." jawab sekretaris Dika.
"Ngapain lihat-lihat?" tanya Tira.
"Aku punya mata, apa salah kalau lihat-lihat?" sekretaris Dika tak mau kalah.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu punya mata! Aku tahu, karena kamu punya mata, jadi kamu bisa melihat! Lalu, yang jadi pertanyaan ku, apa tujuan kamu melihat kearah ku?" Tira mempertegas.
Sekretaris Dika menatap Tira lagi, "Cantik..." ucapnya refleks.
"Uhuk, uhuk.. Apa kamu bilang?" Tira kaget.
Astaga, gue ngomong apa barusan? Gila, nih mulut kayak yang gak disekolain aje sih! Batik sekretaris Dika.
"Eh, eng-enggak, itu kamu lihat deh! Bunga rose putih nya cantik banget!" sekretaris Dika mengalihkan pembicaraan.
"Oh, itu. I-iya, cantik memang." jawab Tira.
Gak jelas banget nih orang! Batin Tira.
...🍂🍂🍂...
Davian dan Arini sedang berada didalam rumah. Mereka sedang duduk santai di sofa rumah Ibunya. Davian duduk, dan Arini tidur di paha Davian. Sesekali, Davian mengusap-usap rambut lembut milik Arini. Aroma bunga terhirup oleh penciumannya, rambut cantik itu sangatlah wangi.
"Sayang, prediksi lahiran kapan sih? Sebentar lagi, kita akan bertemu baby kita.." ucap Davian.
"Sekitar 1,5 bulan lagi, Mas. Aku juga deg-degan banget menanti kelahirannya. Its my first time, bagi aku." jawab Arini.
"Apa melahirkan memang sangat menyakitkan sayang?" tanya Davian.
"Tentu saja, mana ada orang melahirkan bisa tersenyum gembira. Kamu bayangkan saja, jalan lahir yang sempit, mengeluarkan kepala bayi, apa itu mudah?" tanya Arini.
"Auwh, jangan dijabarkan, ngeri aku dengernya. Terus, nanti kamu bakal kesakitan dong? Astaga, aku gak akan tega membiarkan kamu menangis kesakitan karena melahirkan anak kita." Davian khawatir.
"Itu memang sudah kodratnya wanita, Mas. Perjuangan seorang Ibu, demi buah hatinya. Aku yakin, aku kuat dan aku akan melahirkan dengan baik." Arini yakin.
"Bukankah kita bisa meminta agar melakukan tindakan section caesarea? Lebih baik kamu SC saja, agar tak sakit ketika melahirkan nanti. Bagaimana?" usul Davian.
"Mas, kalau kita bisa melahirkan normal, kenapa harus SC? Kecuali, kalau kita punya keluhan, atau bayi sungsang, atau plasenta previa, barulah tak ada jalan lain selain melakukan tindakan operasi sesar." tegas Arini.
"Tapi, kalau melahirkan normal, aku gak sanggup melihatmu menangis ketika mengeluarkan bayi kita. Aku kan gak bisa nolongin kamu, selain bantu doa." ucap Davian.
"Tetap berada di sampingku, dan pegang tanganku saat aku akan melahirkan, itu adalah kekuatan terbesar untukku, dan aku akan sangat bahagia, ketika suamiku mendampingi aku." Arini tersenyum.
"Tapi, aku takut melihatnya." ucap Davian.
"Apa yang kamu takutkan, Mas?" tanya Arini.
"Aku takut nangis lihat kamu melahirkan." jawabnya polos.
Seketika Arini tergelak, ia tak kuasa menahan tawanya mendengar seorang Davian berkata takut menangis. Sangat tidak cocok sekali, dengan tubuhnya yang besar berkata seperti itu.
"Hahaha, bolehkah aku tertawa?"
"Kok kamu gitu sih?" Davian sedikit kesal.
"Ya ampun, Mas. Kamu itu lucu tahu gak, tubuh bidang, badan kekar, lengan berotot, tapi kamu takut nangis kalau aku melahirkan! Sangat tidak cocok dengan kepribadianmu yang narsis dan penuh kharisma itu!" Arini masih tertawa.
"Gini-gini juga aku lelaki yang lembut penuh kehangatan, aku takut istriku terluka ataupun kesakitan, aku sangat khawatir akan hal itu. Aku takut," Davian terdiam.
"Mas, percaya padaku, tidak akan sakit kalau Mas selalu ada di sisiku. Pegang tanganku dan semangati aku, hanya itu permintaanku." Arini tersenyum tulus.
"Iya sayang, aku sudah berkata padamu, bahwa aku akan menjadi lelaki siaga untuk kamu, dan buah hati kita. Semoga kalian selalu sehat ya, kita berjuang sama-sama nanti. I love u, Arini..." Davian membisikkan kata itu di telinga Arini.
__ADS_1
"Love u too, Mas-ku..."
*Bersambung*