
Keesokan harinya.
"Aku lapar, Ra." ucap Rangga.
"Baiklah, Tuan. Tunggu sebentar ya, akan ku buatkan nasi goreng untuk sarapan." ucap Tira.
"Akan ku tunggu."
Beberapa menit kemudian, Tira selesai memasak nasi goreng untuk mereka sarapan. Tira telah memisahkan nasi goreng untuknya sendiri. Setelah itu, ia menyiapkan untuk Rangga dan Keyza makan. Nasi goreng telah tertata rapi di meja makan.
"Tuan, silahkan sarapan, nasi gorengnya sudah di meja makan." ucap Tira sopan.
"Ayo, sarapan bersama." ajak Rangga.
DEG. Lagi-lagi, Rangga terus-menerus mengajaknya sarapan, Tira benar-benar tak nyaman dengan perlakuan Rangga yang selalu seperti ini padanya. Tira takut, tak bisa mengontrol hatinya karena perbuatan Rangga yang selalu hangat padanya.
"Ta-tapi, Keyza belum bangun, Tuan." ucap Tira sedikit gugup.
"Enggak apa-apa, kita sarapan berdua saja. Nanti kan kamu bisa leluasa menyuapi Keyza karena sudah sarapan." jawab Rangga.
Tira bingung menolaknya, "Ah, i-iya Tuan. Baiklah," Tira pun ikut duduk dan sarapan bersama Rangga.
Rangga dan Tira pun sarapan bersama. Rangga terlihat biasa saja, namun berbeda sekali dengan Tira yang sangat gugup jika Rangga mengajaknya untuk selalu bersama. Kini, Tira dan Rangga sarapan bersama, sampai akhirnya mereka selesai sarapan, tak ada satu suara pun yang keluar dari mulut Rangga maupun Tira.
"Tira, belikan beberapa snack dan minuman untuk Keyza. Aku akan mengajaknya jalan-jalan ke taman nanti setelah ia bangun," ujar Rangga.
"Baik, Tuan. Setelah membersihkan ini saya akan membelinya." jawab Tira.
Tira segera membersihkan bekas sarapan ia dan Rangga. Dan hanya menyisakan untuk Keyza nanti sarapan. Setrlah selesai, ia segera pamit dan mengambil uang yang telah Rangga simpan di meja makan.
"Tira, tunggu!" Rangga menahan Tira.
"Ada apa, Tuan?" tanya Tira.
"Jika ada sisa, belikan juga apa yang kamu inginkan," tambahnya.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu," Tira segera keluar dari apartemen.
Rangga tak sibuk, Selama beberapa minggu ini Rangga akan stay di Jakarta. Karena ini hari libur, Rangga ingin mengajak Keyza pergi jalan-jalan. Keyza baru bangun, dan segera duduk di sofa bersama Rangga yang sedang menonton televisi.
"Opah kecil sudah bangun?" tanya Keyza.
"Tentu saja, dari pagi Opah kecil sudah bangun Key." jawab Rangga.
"Kakak Tira mana? Kok gak ada?" Keyza celingukan.
"Kakak Tira opah kecil suruh pergi ke supermarket sebentar." jawab Rangga.
__ADS_1
"Key laper, Opaah." Keyza memegangi perutnya.
"Kakak Tira sudah buatkan nasi goreng untuk kita sarapan. Ayo, Keyza segera sarapan." ucap Rangga.
"Memangnya, Opa kecil sudah sarapan?" tanyanya.
"Tentu saja sudah, tadi pagi aku lapar sekali, jadi makan bersama Kakak Tira. Key gak apa-apa kan makan sendiri?" tanya Rangga.
"Gak apa-apa, tapi aku pengen disuapin sama opah kecil deh kalau gitu!" Keyza menyeringai.
"Boleh dong sayang, ayo cuci muka dulu, nanti opah kecil suapin ya!"
"Baik, laksanakan." Keyza tertawa.
Rangga menyuapi Keyza dengan senang hati. Ia benar-benar tulus menyayangi gadis malang ini. Fakta bahwa Ayahnya akan mendekap selamanya di penjara, membuat Rangga sangat iba padanya. Tak lama, setelah Keyza selesai makan, Tira datang.
"Assalamualaikum," sapa Tira.
"Waalaikumsalam, Kakak sudah pulang, ucap Keyza.
"Iya, udah. Kamu udah bangun cantik," Tira mengusap rambut Keyza.
"Tira, kamu dan Keyza mandi gih, kita hari ini mau jalan-jalan. Kita ajak Keyza bersenang-senang hari ini." ajak Rangga.
Kita? Berarti bersamaku? Oh, tidak. Kenapa Tuan Rangga harus selalu saja seperti ini, ya Tuhan. Aku bingung, aku takut dengan hatiku yang akan jatuh padanya jika aku seperti ini terus. Kenapa dia tak membiarkan aku di rumah saja, sih? Batin Tira.
"Tentu saja, karena tak mungkin hanya aku dan Keyza yang pergi. Kamu juga harus ikut, Ra." jawab Rangga.
"Iya dong Kakak, Kakak juga harus ikut bersama kita. Key mau Kakak Tira ikut, ya ya.." rayu Keyza pada Tira.
"Ah? I-iya baiklah, Key. Kakak akan ikut denganmu." jawab Tira.
"Yeaaaaayyyy!" Keyza senang.
Tira segera mempersiapkan segalanya. Ia sebenarnya malas sekali untuk ikut, namun ia benar-benar tak bisa menolak permintaan Keyza maupun Rangga. Setelah selesai, mereka pun naik mobil Rangga, dan akan bersiap berangkat.
"Opah kecil, Key gak mau ke taman. Key maunya ke timezone aja!" ucap Keyza.
"Loh, kenapa gak bilang dari, kasihan dong Kakak Tira sudah membawa snack untuk kamu di taman." ucap Rangga.
"Eh, gak apa-apa kok Tuan,"
"Iya kan bisa ke timezone dulu, baru ke taman. Bagaimana?" tanya Keyza.
"Baiklah peri kecil, let's go! Kita berangkat," ucap Rangga.
"Horeeeee.." Keyza amat senang.
__ADS_1
Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di Mall terbesar di Jakarta. Rangga segera memangku Keyza dan membawanya menuju tempat permainan yang ia inginkan. Rangga senang, bisa membahagiakan Keyza. Ia berjanji, tak akan ada satupun orang yang akan menyakiti Keyza, selama Keyza ada disisi Rangga.
Keyza bermain-main dan mengajak Rangga untuk membantunya. Tira hanya melihat mereka, dan sesekali mengabadikan momen kebersamaan Rangga dan Keyza. Rasanya, hangat sekali, walaupun Tira hanyalah bekerja pada Rangga untuk merawat Keyza.
***
Davian dan sekretaris Dika ternyata berada didalam Mall yang sama dengan Rangga dan Tira. Davian telah selesai meeting dengan rekan bisnis nya di sebuah restoran mewah di Mall tersebut. Davian dan sekretaris Dila telah selesai meeting, dan mereka memutuskan untuk pulang.
Davian berjalan di sekeliling Mall, dan ia melihat ke sekeliling timezone. Rasanya, Davian sudah tak sabar ingin segera bayinya launching, agar Davian bisa membawa anaknya bermain-main di tempat ini.
"Dik, lu lihat timezone disini. Ramai sekali, bukan? Padahal, ini bukan weekend, tapi banyak saja orang yang bermain ke tempat itu. Aku jadi ingin anakku segera lahir dan tumbuh besar, agar aku bisa mengajaknya bermain kesini." ucap Davian.
"Amin, Bos. Gue doain yang terbaik buat elu." ucap sekretaris Dika.
"Tumben otak lu normal, Dik." umpat Davian.
"Kurang ajar banget si Bos, udah gue baik-baikin juga." baals sekretaris Dika.
"Dik, tahan!" Davian menahan langkah sekretaris Dika.
"Apaan, Bos?" sekretaris Dika heran.
"Coba lu lihat, yang ke tempat basket di timezone sana! Itu si Rangga kan?" Davian menunjuk Rangga yang berada di tempat bermain basket.
Sekretaris Dika benar-benar kaget. Betapa terkejutnya ia, melihat Tira sedang tertawa bersama Rangga dan Keyza. Mereka bertiga terlihat akrab dan dekat sekali, benar-benar seperti seorang keluarga yang sedang mengajak bermain anaknya.
Gila tuh es batu, centil banget kalo didepan Tuan Rangga. Memang dasar di caper sama Bos! Dasar cewek matre! Umpat sekretaris Dika.
"Dik, Dika! Lu denger gue ngomong gak!" ucap Davian yang merasa tak dianggap.
"Eh, i-iya Bos. Gue denger kok. Biarin aja lah, ayo kita pulang." sekretaris Dika terlihat tak nyaman.
"Lu kok aneh gitu sih? Dik, lihat deh mereka! Kok kayak udah akrab banget ya si Rangga sama si Tira, udah kayak keluarga bahagia aja gue lihatnya!" Davian terkekeh.
"Bodo amat deh, gue gak peduli, Bos." sekretaris Dika acuh.
"Kenapa lu sensitif amat sih? Lu cemburu ya, Dik?" tanya Davian.
"Dih, amit-amit deh gue musti cemburu sama cewek kayak dia!" balas sekretaris Dika.
"Ya udah, kalau lu gak cemburu, ayo kota temuin mereka dulu, gue mau nyapa si Rangga!" ajak Davian.
"Eh, eh Bos! Ngapain lu! Kok lu malah mau ke sana sih, ogah ah Bos, ayolah pulang aja!" sekretaris Dika menahan Davian, namun Davian tak mendengarkannya.
"Bos, ah elah! Tungguin gue napa. Ngapain juga musti nemuin mereka sih, kan bikin males aja jadinya! Aarrgghh, dasar Bos kurang kerjaan emang!" gerutu sekretaris Dika.
*Bersambung*
__ADS_1