Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
barang antik


__ADS_3

Arini telah sampai di rumah kembali. Davian yang membawa semua belanjaan Arini masuk kedalam rumah. Semua orang yang ada di rumah terkaget-kaget melihat Davian membawa banyak belanjaan, sedangkan Arini hanya membawa satu kantong belanjaan saja.


"Kakak, belanjaannya banyak banget. Beli apa aja sih?" tanya Sherly yang sedang duduk santai di sofa mewahnya


"Ini bukan punya gue!" jawab Davian


"Punya siapa dong?"


"Punya Kakak Ipar lu." jawab Davian melengos meninggalkan adiknya.


"HAH? KAKAK IPAR?" Sherly dan Sheldy saling melihat satu sama lain


Mereka keheranan melihat Davian dengan sukarela membawa jinjingan Arini. Bahkan, asisten menawari untuk membawakannya pun Davian malah menolak. Davian ingin membawanya sendiri.


Arini malu sekali melihat tingkah Davian. Setelah menyapa keluarganya, ia buru-buru naik ke lantai atas.


"Ma, Kak Dav jadi berubah semenjak nikah sama Kak Arini." seru Sherly


"Bener Ma, Kak Dav jadi baik dan perhatian ya?" timpal Sheldy


"Husshhh! Pelan-pelan. Kalau Kakakmu tahu dia lagi di omongin, bisa ngamuk dia!" jawab Mama Amel


"Tapi Mam, Papa suka perubahan Davian sekarang. Dia terlihat lebih menghargai dan tanggung jawab." ucap Papa Dirga


"Bener Pap, Arini bisa membuat Davian berubah." ucap Mama Amel


"Tapi, Papa kasihan sama Rangga. Sepertinya, dia juga tertarik pada Arini." ucap Papa Dirga


"Arini memang luar biasa, dia hanya pembantu, tapi bisa membuat anak dan adik kita tertarik padanya." ucap Mama Amel


"Selain cantik, dia juga memang baik. Pantas saja, Davian betah satu kamar dengannya. Mam, Davian sudah begitu belum ya dengan Arini?" Papa Dirga berbisik pada Mama Amel


"Hush! Papap! Didepan ada anak-anak kok ngomong begitu. Ya tanya saja sama Davian sana, masa suami istri belum begitu." jawab Mama Amel pelan-pelan


"Tapi, Davian pernah janji sama kita kan, gak akan nyentuh Arini, karena suatu saat nanti, Davian akan melepaskan Arini." ucap Papa Dirga.


"Tapi, Mama gak berharap Arini pergi kalau Davian telah berubah begini, Pap."


"Iya, Ma. Semoga saja mereka benar-benar saling mencintai."


Tiba-tiba, Rangga datang dengan wajah kesal mendengar bisik-bisik kedua kakaknya.


"Hepi banget! Lagi ngomongin apa sih?" tanya Rangga


"Rangga, kamu sudah makan belum? Kenapa gak makan malam bareng?"


"Aku sibuk. Lusa aku akan pergi ke Swiss. Sekitar satu bulan aku di sana."


"Loh, kenapa mendadak sekali?" tanya Tuan Dirga

__ADS_1


"Lebih baik di Swiss. Gak perih mata lihat orang pura-pura menikah!" Rangga pergi meninggalkan keluarganya


"Ga, Rangga! Mau kemana?"


***


Badan Arini rasanya remuk sekali, ia harus segera mandi dan merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Davian membawa masuk belanjaan Arini. Mereka membersihkan diri masing-masing.


Davian mengganti bajunya, setelah selesai mencuci muka. Ia melihat Arini yang sedang memakai masker greentea di wajah mulusnya.


"Pake apaan sih lu?" tanya Davian herana


"Ini masker matcha, Tuan. Adem di kulit, nanti hasilnya akan membuat kulit kita tambah kencang dan bersih." jelas Arini sambil menata masker yang telah menempel


"Lu beli masker?"


"Iya, tadi aku lihat masker ini lagi diskon, jadi alu beli aja. Beli 3 gratis 1, kan lumayan!" ucap Arini sumringah


"Dasar lu modis!"


"Modis? Cuma pake masker aja dibilang modis? Aneh!"


"Bukan arti sebenarnya, modis itu modal diskon!" timpal Davian


"Hahaha, lucu juga! Gak apa-apa aku dibilang modis. Aku itu nggak hanya modal diskon, tapi modal gratisan tau! Kan semuanya Tuan yang bayarin."


"Kok lu gak marah sih? Malah ketawa lagi?"


"Buat elu, apa sih yang engga!" jawab Davian santai


"Kebiasaan deh gombal terus. Udah kebal aku di gombalin terus."


"Gombal? Emang siapa yang gombal? Sejak kapan gue pernah gombalin lu?" tanya Davian


"Lah, barusan! Kemaren-kemaren juga kan? Ucapan Tuan itu kesannya serius, tapi ujung-ujungnya kayak becanda. Makanya, aku gak pernah anggap serius ucapan Tuan." jawab Arini santai


Asal lu tahu, Rin. Ucapan gue yang menurut lu gombal itu bener kok! Gue gak gombal, hanya mungkin penyampaian gue yang enggak serius sama lu, jadi lu anggap gue gombal dan becanda. Gue gak perlu ucapan serius buat ada di sisi lu, cuma kayak gini aja gue udah bahagia banget, Rin. Davian dalam hati.


"Terserah elu deh! Mau percaya, mau nggak sama gue. Gue cuma mau nagih janji gue tadi di mobil."


"HAH? Janji apa?" Arini mencoba mengingat-ingat


"Jangan pura-pura lupa deh!"


"Serius, aku lupa. Emang apaan?" tanya Arini


Davian tersenyum kecut pada Arini.


"Lu udah dua kali nggak sopan sama gue, Rin. Lu bilang 'gue' kan tadi? Sebegitu emosinya ya lu sama gue? Sampe kelepasan pakai bahasa non formal sama gue."

__ADS_1


"Lah, impas dong kita! Bahkan, berat sebelah di Tuan. Tuan aja sama saya setiap hari bahasanya kasar terus! Pake gue elu juga kan? aku hanya dua kali, itupun kelepasan. Jangan nyuruh orang sopan, kalau sendirinya gak bisa sopan! Ngaca deh, Tuan!" timpal Arini


"Elu emang paling pinter kalo ngebantah ucapan gue!"


"Ralat Tuan! Aku bukan ngebantah, aku cuma meluruskan yang harus diluruskan."


"Jadi, lu mau gue gimana?" tanya Davian


"Kalo Tuan gak suka aku bilang gue-gue, Tuan juga harus merubah gaya bicaranya padaku. Aku-kamu, itukan lebih halus, Tuan! Lebih enak didenger juga." jelas Arini


"Aku, Kamu ya? Aku, Davian. Kamu, Arini. Oke, aku bisa melakukannya. Kamu, Arini kan? Begitu?" tanya Davian


"Ya, betul, Tuan. Jadi, kalau aku bahas apapun kan lebih enak kalau gaya bicara kita enak didengar oleh lawan kita." jelas Arini


"Udah belum?" tanya Davian


"Udah apa?" tanya Arini tak mengerti


"Permintaan lu, udah beres belum?" tanya Davian


"Udah, Tuan. Lagipula, apalagi yang ingin aku minta dari Tuan selain barang-barang ini, dan ucapan Tuan yang sedikit lebih ramah padaku." jelas Arini


"Kalo gue minta permintaan sama lu, boleh?" tanya Davian


"Permintaan apa, Tuan? Asal jangan aneh-aneh aja!" jawab Arini


"Lu kan minta beli barang-barang sama gue. Sekarang, gue yang ingin buat permintaan sama lu!"


"Iya, apa itu?"


"Gue minta barang antik lu! Boleh?" tanya Davian


"Barang antik apa sih maksudnya? Aku gak punya apa-apa, Tuan." jawab Arini pasrah


"Lu emang dasar oon apa gimana sih? Ngebantah aja di utamain, tapi kecerdasan lu itu bener-bener kurang." umpat Davian


"Ya habisnya Tuan aneh, barang antik apaan? Aku gak punya apa-apa. Yang jelas dong kalo ngomong! Jangan bikin pusing." Arini kesal


"Lu mau gue ngomong yang jelas?" tanya Davian


"Iya, yang jelas! Sejelas-jelasnya." tantang Arini


"Gue minta keperawanan lu malam ini."


"HAAAAAAAAAAH,"


*Bersambung*


Davian permintaannya aneh-aneh aja ya! 🤣🤣

__ADS_1


Halo gais, jangan lupa like, komen dan vote. Author maksa nih! Ceritanya gak dibayar, jadi tolong kasihani diriku ini wkwkwk


Makasih ya untuk semua pembaca setiaku. I love you full 😘😘😘


__ADS_2