
Davian sedang berada di tempat kerjanya. Ia benar-benar sibuk. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. Minggu-minggu ini, ia harus menyelesaikan proyek hotel bintang lima di Bali dengan rekan bisnisnya.
Suasana perusahaan sangat tenang. Semua karyawan Davian benar-benar sibuk, tak ada waktu untuk sekedar bercanda, karena Davian meminta semua karyawannya bekerja dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan proyek besar perusahaan mereka.
Tak ada waktu becanda, Davian benar-benar serius. Ia harus menyelesaikan proyek ini dengan cepat, agar ia bisa meninjau pembangunan hotel di Bali.
Tak lama, handphonenya berdering, sang istri tercinta memanggilnya. Davian segera mengangkat telepon Arini, karena takut Arini marah, atau ternyata ada hal-hal penting.
[Halo, sayang. Ada apa?]
[Mas, lagi apa?]
[Lagi kerja dong sayang, ngapain lagi.]
[Mas bohong!]
[Aku gak bohong Arini-ku. Aku memang sedang bekerja, apa kamu mau bukti?]
[Mas bohong! Mas gak lagi kerja kok!]
[Loh, kata siapa? Kenapa kamu nebak asal-asalan gitu?]
[Mas itu lagi gak kerja! Mas kan lagi telponan sama aku! Tuh, hal sepele kayak gini aja kamu bisa bohongin aku, gimana kalau dibelakang aku, kamu pasti sering berbohong. Yang jelas-jelas ketahuan aja kamu malah bohong, gimana kalau dibelakang aku coba!]
[Ealah sayang, aku kan memang sedang bekerja sebelum kamu meneleponku. Makanya, aku bilang lagi kerja. Kalau sekarang, iya jelas aku lagi nelepon kamu!]
[Kamu memang ya! Bisa aja bantah istri. Kenapa sih kamu gak mau ngalah sama aku? Kenapa kamu malah keras kepala begini? Mas Davi nyebelin banget deh!]
Genderang perang mulai digaungkan. Dav, tarik nafaaaaaas... Hmmmmm, buang perlahan-lahan, haaaaahhhhhhh, biar hati dan pikiran gue tetap tenang dan waras. Jangan marah, jangan emosi, istri manjaku sedang dalam fase perubahan hormon lagi, aku harus siap dengan segala perubahannya. Batin Davian.
[Eh, eh Arini-ku. Kamu jangan marah gitu dong! Maaf, maaf! Aku salah, aku gak ngertiin kamu. Maafin aku ya bumilku sayang. Jangan sensitif gitu dong, aku kan gak maksud bikin kamu sakit hati.]
[Bodo amat ah! Aku malas sama Mas!]
__ADS_1
[Jangan gitu dong sayang, kamu mau apa? Biar aku bawakan nanti setelah pulang kerja.]
[Aku mau es krim.]
[Oke, sayang. Nanti sepulang kerja aku bawakan ya, khusus buat kamu!]
[Kok pulang kerja sih?]
[Loh, memangnya kenapa?]
[Aku maunya sekarang.]
[Sekarang aku sedang sibuk istriku, aku banyak kerjaan, nanti jam 2 aku usahakan pulang lebih cepat kok.]
[Kalo jam 2 aku gak mau es krimnya. Gak usah jadi aja.]
[Kenapa gak jadi sayang?]
[Aku maunya sekarang.]
[Gak mau. Maunya es krim dari kamu.]
[Baiklah, aku akan membeli eskrim di kantin, lalu biar sekretaris Dika yang mengantarkannya padamu.]
[Loh, kok sekretaris Dika sih? Pokoknya, aku mau Mas Davi yang beliin eskrim nya, dan Mas sendiri yang membawakannya untukku! Sekarang.]
[Eh, eh sayaaaang! Kok kamu gitu sih! Iya, iya sayang, aku akan membawakannya sekarang untuk,]
TUT, TUT, TUT,
Arini mematikan teleponnya. Lagi, lagi, Davian harus menerima bahwa Arini kesal lagi padanya. Terpaksa, pekerjaan ia tinggalkan. Istrinya lebih penting dari segalanya, ia tak boleh mengecewakan Arini dan buah hatinya.
Dengan gagah dan tampan, Davian keluar dari ruangannya, hingga sang sekretaris kaget dan bertanya,
__ADS_1
"Pak, Pak Davian mau kemana? Bukankah Pak Davian sedang banyak kerjaan, dan tak bisa diganggu?" tanyanya.
"Pekerjaanku memang banyak, tapi ini adalah panggilan alam. Aku harus segera menyelesaikannya. Ini tentang hidup dan mati ku. Aku harus segera mendahulukannya, sebelum genderang perang berbunyi lagi. Aku pergi." Davian berlalu meninggalkan sekretarisnya.
"Ah, iya-iya, Pak. Hati-hati dijalan."
***
Davian melajukan mobilnya sendiri menuju rumah Ibu Arini. Davian tak mau mengecewakan istrinya, Davian harus bisa menjadi laki-laki yang baik dan bisa diandalkan. Tak peduli pekerjaan di perusahaan yang sangat banyak. Arini membuatnya harus pulang dan rela meninggalkan perusahaan.
Davian segera membelikan beberapa macam eskrim, ia tak mau kalau salah membelikan es krim untuk istrinya yang sedang sensitif itu.
Tak lama, Davian telah sampai di rumah Ibu Arini. Davian melihat, Arini sedang membantu Nadya di minimarketnya. Davian segera menghampiri Arini dan menyapanya.
"Arini, sayang. Suami tampan-mu ini sudah datang. Kemari lah, dan sambut aku!" Davian tersenyum senang.
"MAS?" Arini kaget.
"Ini, es krim untukmu." jawab Davian.
"Kok Mas malah kesini sih?" tanya Arini.
"Katanya kamu mau sekarang sayang, jadi aku putuskan untuk pulang dan memberikan kamu es krim, seperti yang kamu mau."
"Buang-buang waktu aja! Udah tahu kerjaan Mas banyak dan Mas lagi sibuk, kenapa gak tolak aja permintaanku tadi, aku kan jadi ngerasa gak enak kalau udah gini." Arini malu.
Istriku benar-benar menguji adrenalin, rasanya seperti aku sedang naik roller coaster saja, selalu memusingkan dan menegangkan. Oh, Arini-ku, kenapa sekarang aku harus mengalah padamu? Padahal, dulu kamu yang selalu mengalah dan menuruti keinginanku. Bayi kecil, apa kamu balas dendam pada Papa? Apa kamu kesal, Mamamu selalu Papa jajah ketika dahulu? Kini, kamu dengan semangatnya membuat aku takluk dan jadi penurut pada Ibumu. Bayi kecilku, itu sangat membunuh karakter Ayah yang sangat tegas dan cool. Ayah tuh gak bisa diginiin, Bayi kecil. Batin Davian.
***
Mohon maaf, up sedikit. Tapi, kalau lanjut season 2 pastinya akan lebih panjang lagi ya gais..
Teman-teman apa ada yang mau lanjut season 2? Kalau mau, komentar ya, 50 komentar aja, aku langsung UP season 2. Kenapa aku bilang season 2? Karena, pembahasannya bertambah, kita akan membahas lebih banyak kisah yang lain, bukan hanya Arini dam Davian saja. Tapi, tetap kok, Arini dan Davian jadi tokoh utama, hanya ada beberapa part tambahan tentang tokoh yang lain juga.
__ADS_1
Please, kalau ada yang mau lanjut, berikan komentarnya, dan komentar apa saja, yang aku butuhkan adalah dukungan kalian. Terima kasih banyak.. 😘