
Man teman, Like dulu ya sebelum membaca, makasih 😘
Kediaman sekretaris Dika dan Nadya.
Malam sudah semakin dingin. Waktu menunjukkan pukul 22.30. Sekretaris Dika baru sampai di rumahnya. Ia melihat rumahnya sudah gelap, sepertinya Elang sudah tidur. Sekretaris Dika segera berjalan menuju kamar Elang, berharap Elang belum tidur.
Dika mengetuk pintu kamar Elang, namun Elang tak juga menyahut. Dika penasaran, mungkin saja Elang sudah tidur. Dibukanya kamar Elang perlahan, ternyata pintunya tak dikunci. Kamarnya gelap, tak ada lampu tidur satu pun yang menyala. Sekretaris Dika menyalakan lampu, dan betapa kagetnya ia, melihat bahwa kamar itu kosong. Kamarnya sangat rapi, dan Elang tak ada. Dika heran, ia segera menuju kamarnya untuk menanyakannya pada Nadya.
Nadya terlihat sudah tidur. Namun, karena Dika penasaran ingin mengetahui kemana perginya Elang, Dika terpaksa membangunkan Nadya.
"Ma, Mama ..." Dika membangunkan Nadya.
"Mmhh, Hoaaaam, apa sih yah? Mama ngantuk." Nadya masih memejamkan matanya.
"Ayah mau tahu, kemana perginya Elang?" tanya sekretaris Dika.
Nadya menggeliat, ia mencoba membuka matanya, "Memangnya Ayah gak tahu? Bukannya Elang sudah bilang sama Ayah?" tanya Nadya.
"Bilang? Bilang apa? Mama cantik, bangun dulu deh. Ada hal penting yang harus Ayah katakan." ucap sekretaris Dika.
Nadya mengucek matanya berkali-kali. Ia pun bangun, karena sepertinya sang suami merasakan ada hal aneh yang membuatnya harus bangun.
"Ada apa, Ayah?" Nadya terbangun dan kemudian duduk.
"Elang kemana?" tanya Dika serius.
"Elang kan mau camping sama teman-temannya. Emang kenapa? Bukankah dia udah bilang sama Ayah? Kan udah Mama suruh dia untuk telepon kamu, Yah!" jawab Nadya.
"Apa? Kapan dia pergi? Anak itu memang kelewatan. Ma, tolong panggil Jenie kesini. Ada hal yang harus Ayah tanyakan padanya." tegas sekretaris Dika.
Jenita, atau biasa disebut Jenie, adalah adik Elang yang hanya berbeda satu tahun. Jenie kuliah di universitas yang sama dengan Elang, namun Jenie baru semester satu. Jenie dan Elang sering kali tak akur, karena sikap mereka yang sama-sama keras kepala, tak ada yang mau mengalah satu pun. Tiba-tiba, Jenie masuk kedalam kamar Dika dan Nadya. Sepertinya Jenie belum tidur, terlihat dari wajahnya yang masih segar.
"Ada apa sih, Yah?" tanya Jenie.
__ADS_1
"Apa kamu tahu, wanita yang bernama Nisha?" tanya Dika serius.
"Nisha? Siapa itu? Aku gak punya temen yang bernama Nisha." jawab Jenie.
"Kamu pernah bertemu dengan Rena? Pacar Kakak kamu?" tanya Dika lagi.
"Kalau si Rena aku sering lihat, karena dia cewek terkenal di kampus!" tegas Jenie.
"Apa Kakakmu suka berduaan di kampus sama Rena?" tanya Dika.
"Mana kutahu, Yah! Si Elang kalau di kampus suka gak kelihatan, dia kan sok sibuk." tegas Jenie.
"Jen, panggil Kakak pada Elang. Dia itu Kakakmu." tegas Nadya.
"Iya, iya, Maa." Jenie kesal.
"Baiklah, kembali ke kamarmu. Sepertinya kamu tak tahu apa-apa." ucap sekretaris Dika.
"Iya, iya, Nak. Silahkan." ucap Dika.
Jenie pun berlalu. Nadya semakin bingung dibuat Elang. Ia kesal dan marah dengan perilaku Elang. Sekretaris Dika terpaksa menghubungi intel dan beberapa anak buahnya, agar segera menemukan keberadaan Elang sekarang juga. Ia menelepon beberapa orang kepercayaannya, karena Dika sadar, ia telah lengah mengurus anaknya.
"Ayah, nelepon siapa sih? Kenapa harus seperti itu pada anak kita? Ayah jangan begini, Yah. Elang melakukan kesalahan apa padamu sehingga kamu semarah ini? Dia sedang camping, percayalah padaku." ucap Nadya.
"Ini karena kamu terlalu memanjakan Elang sejak kecil. Mentang-mentang Elang anak yang diidam-idamkan dan anak kesayangan kamu, kamu jadi membuat dia lebih spesial dibanding Jenita. Hingga akhirnya, Elang bersikap semaunya dan begini jadinya! Istriku, asal kamu tahu, Elang telah menyakiti hati seorang wanita! Elang hampir membuat nyawa seseorang terluka. Aku tidak pernah mengajarkan Elang untuk begitu. Aku kecewa dengan kelakuan anak itu! Aku harus menemukannya sekarang juga. Aku menyesal, terlalu sibuk dengan pekerjaanku, hingga aku tak fokus pada anakku sendiri. Aku hanya melihat Elang bagus diluar, karena ia terlihat pintar dan aktif di kampus, tapi aku tak tahu bagaimana didalam hatinya. Ia keterlaluan, Mam! Akan ku beri dia pelajaran saat ini juga!" tegas sekretaris Dika.
"Benarkah? Ya Tuhan, maafkan aku, aku kira Elang adalah anak yang penurut dan tak mungkin seperti itu. Aku tak menyangka kalau anak kita
akan begitu, Ayah." Nadya menyesal.
"Maafkan aku telah kesal padamu. Ini semua karena Elang. Aku sedang menunggu kabar dari anak buah ku, aku akan segera menemukannya malam ini juga." tegas sekretaris Dika.
Ya, Elang adalah anak yang dinanti-nantikan oleh Nadya dan sekretaris Dika. Dahulu, Nadya ingin segera hamil, tapi masih belum diberi juga. Jika Arini dan Tira langsung diberi kepercayaan, Nadya masih belum juga. Baru di bulan keenam Nadya bisa hamil, dan saat itu, betapa bahagianya Nadya bisa hamil dan hingga melahirkan Elang.
__ADS_1
Nadya terlalu bahagia, hingga Elang begitu di manja dan apapun yang Elang inginkan pasti di kabulkan. Hingga mereka tak menyadari, perbuatan di masa lalu yang selalu memanjakan Elang, kini berdampak saat Elang dewasa. Elang malah semaunya, dan merasa bahwa Elang pasti bisa mendapatkan segalanya.
Setengah jam kemudian, sekretaris Dika mendapat panggilan dari anak buahnya. Ia berbincang dengan orang tersebut, hingga sekretaris Dika mengepalkan tangannya berkali-kali pertanda ia begitu kesal dan emosi. Nadya merasa ada yang tak beres, karena sekretaris Dika terlihat kesal dan emosi sekali.
"Mam, baru kali ini aku menggunakan alat penyadap ponsel untuk mengecek keberadaan anakku, biasanya aku sangat takut menggunakannya, dan aku menggunakan itu hanya untuk keadaan darurat saja. Hati kecilku tak salah, karena menurutku ini tak bisa dibiarkan. Dia sudah keterlaluan, istriku. Ayo, ikut aku dan kita temui anak sialan itu." sekretaris Dika marah besar.
"Kenapa, Ayah? Ada apa dengan Elang? Elang dimana? Kenapa Ayah terlihat marah sekali?" Nadya benar-benar tak menyangka, suaminya bisa semarah itu.
"Dia berbohong padamu! Dia tidak camping bersama teman-temannya. Apa kamu tahu dia ada dimana sekarang? Dia sedang berada di sebuah hotel! Untuk apa anak brengs*k itu di hotel? Rupanya, dia main-main dengan kepercayaan ku. Anak itu memang harus aku habisi." Sekretaris Dika menggunakan jaketnya kembali, ia memasukkan sebuah pistol didalam jasnya. Ia amat marah dan kecewa.
"Astagfirullah, Elang. Aku sungguh tak menyangka Ayah. Baiklah, ayo kita temui dia. Sedang apa dia di sebuah hotel. Benar-benar anak yang mengecewakan." Nadya menggunakan mantel panjangnya, karena ia pun ingin ikut dengan suaminya.
Sekretaris Dika pamit pada Jenie dan pembantunya. Mereka pun diantar oleh supir pribadi Nadya. Karena sekretaris Dika tak mungkin mengemudikan mobil dalam keadaan emosi yang sedang tak stabil. Sekretaris Dika telah menghubungi anak buahnya agar memberikan akses masuk untuk kamar hotel yang didalamnya tentu saja ada Elang.
Pukul dua belas malam, sekretaris Dika telah sampai di hotel yang di maksud. Sang supir segera membisikkan sesuatu pada resepsionis, dan ia pun mengerti. Resepsionis itu mengantar mereka menuju kamar yang dituju. Sekretaris Dika sudah benar-benar sangat emosi dan kecewa, karena anaknya sudah sangat diluar batas.
Sesampainya di kamar hotel, sekretaris Dika menyuruh resepsionis itu pergi, dan meminta kuncinya. Dengan hati yang penuh amarah dan kecewa, sekretaris Dika memberanikan membuka kunci pintu kamar hotel dan segera mendobraknya. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Dan,
BRAKKKKKKKK, Pintu kamar hotel di dobrak oleh sekretaris Dika. Betapa kagetnya Elang dan Rena yang tengah bercumbu. Dengan posisi Rena berada di bawah dengan dada telanjang, dan Elang berada di atasnya seperti sedang melakukan hubungan suami istri. Elang sepertinya sedang memainkan bagian buah dada Rena, terlihat Rena yang begitu kaget dan segera menutupi bagian tubuhnya karena malu.
"Anak sialan! Anak brengsek! Anak tak tahu rasa bersyukur. Dasar kamu biadab, Elang! Persetan dengan semua yang telah kau lakukan! Turun kamu! Anak brengsek seperti kamu harus aku beri pelajaran." sekretaris Dika mengeluarkan pistol dari jas nya, "Angkat tangan dan berdiri sekarang juga. Jika tidak, aku tidak akan segan-segan menembak mu! Aku tak peduli dengan wanita murahan itu, angkat tanganmu dan diam di sana!" pistol mengarah tepat pada Elang dan Renata.
"Ayah, hentikan! Cukup!" Nadya menangis.
"Ayah, ampun. Maafkan aku, Ayah. Sungguh, aku hanya khilaf." Elang mengangkat tangannya kemudian berdiri, sesuai instruksi sang Ayah yang sedang marah besar.
"Persetan dengan ucapan mu! CEPAT KAU JAL@NG, BERDIRI SEKARANG JUGA!" emosi sekretaris Dika benar-benar memuncak.
"Aaarrrhh, ampun, Pak, ampun. Maafkan saya," Rena ketakutan, dan segera memakai bajunya kembali, dan turut berdiri mengikuti Elang.
Amarahnya tak tertahan. Bagaimana tidak, melihat sang anak melakukan hal keji yang sudah diluar batas. Elang sangat membuat sekretaris Dika begitu emosi dan marah. Entah apa yang akan sekretaris Dika lakukan setelah melihat Elang seperti ini.
*Bersambung*
__ADS_1