
Sekretaris Dika melajukan mobilnya menuju rumah Ibu Arini. Ia akan menjemput Nadya, karena tadi Nadya berpesan, akan mengunjungi Arini, jika pekerjaannya sudah selesai. Sekretaris Dika menawarkan dirinya untuk menjemput Nadya, dan Nadya pun tak menolaknya. Davian mengabari Dika bajwa Rangga akan akan pulang. Ya, Rangga, orang yang secara tak langsung menjadi saingannya dalam mendapatkan cinta Tira.
Didalam perjalanan, ia merenung sendiri. Ia memikirkan nasib cintanya. Baru saja ia mendapat angin segar akan kedekatannya dengan Tira, kini ada saja lagi halangan untuk mencoba lebih dekat lagi dengan Tira. Dika memang kurang cepat, saat itu ia dan Tira diselimuti rasa benci dan tak suka, sehingga menyebabkan ego mereka saling berpadu satu sama lain.
Kalau saja bisa aku minta, Tuan Rangga tak perlu kembali. Tuan Rangga tak perlu datang kesini. Aku ingin bahagia, mencoba mendekati cintaku. Tapi, kenapa rasanya sulit sekali? Kenapa Tuan Rangga selalu mencoba menggagalkan semuanya? Apa mungkin dia memang untukku? Batin sekretaris Dika.
Nadya telah menunggu sekretaris Dika dipinggir jalan. Tak lama, mobil yang dinaiki sekretaris Dika pun berhenti tepat didepan Nadya. Nadya segera masuk, karena ia tak sabar ingin segera menuju Rumah sakit. Nadya ingin segera bertemu dengan sahabat kecilnya yang sedang berjuang.
"Pak, Arin masih belum melahirkan, ya?" tanya Nadya.
"Ya, belum. Nona masih kontraksi." jawab sekretaris Dika.
"Lama sekali ya, kasihan Arin." ucap Nadya.
"Ya, kita doakan saja yang terbaik untuk Nona."
"Iya, Pak."
Nadya merasa bahwa sekretaris Dika sedang ada masalah. Ia terlihat murung dan kesal. Nadya tak mau banyak bicara, ia tak berhak mengetahui masalah pribadi sekretaris Dika. Nadya memainkan handphonenya, karena ia merasa bosan.
"Aku sudah menyimpan nomor handphone-mu!" ucap sekretaris Dika mengagetkan Nadya.
"Ah? Oh, iya Pak Dika, makasih. Padahal, tadi aku bisa sendiri kok, kasihan Pak Dika pasti lelah antar jemput Ibu Marni dan juga aku." Nadya.
"Gak apa-apa, kamu teman baik Nona, sudah sepantasnya aku menjemput dan mengantarmu." jawab sekretaris Dika.
"Ah, baiklah terima kasih, Pak." Nadya tersenyum.
Lima belas menit berlalu, akhirnya mereka telah sampai di parkiran Rumah sakit. Nadya antusias ingin segera keluar dari mobil, namun sekretaris Dika menahannya. Ia masih mengunci pintu mobil dan enggan membukanya.
__ADS_1
"Pak, kok masih dikunci?" Nadya mencoba membuka pintu mobil.
"Jangan dulu turun," ucap sekretaris Dika.
"Oh, baiklah. Memangnya kenapa, Pak?" Nadya bertanya-tanya.
"Bolehkah aku sedikit bercerita padamu?" tanya sekretaris Dika.
"Tentu saja, Pak. Silahkan, cerita saja. Bapak bisa mempercayai aku," ucap Nadya.
Sekretaris Dika terdiam. Ia bingung dengan hati dan perasaannya karena mendengar kabar Tuan Rangga akan kembali. Rasanya, mendapatkan Tira akan terasa semakin sulit, jika ada Tuan Rangga disisi Tira.
"Kenapa cinta tak pernah berpihak padaku? Apa aku tak pantas dicintai?" tanya sekretaris Dika tiba-tiba.
Nadya kaget, ternyata sekretaris Dika malah membicarakan masalah pribadi padanya. Ia mencoba berpikir, dan mengerti tentang apa yang sedang dialami oleh sekretaris Dika. Itung-itung ucapan terima kasihnya karena telah dijemput oleh Dika.
"Memang apa yang sudah Pak Dika lakukan untuk mengejar cintanya Pak Dika?" Nadya memberikan pertanyaan menohok pada sekretaris Dika.
"Gini ya, Pak. Maaf, bukannya saya menggurui, ketika kita berpikir kenapa cinta tak datang, dan pantaskah kita dicintai, lihat dulu diri kita. Apakah kita sudah mengejar cinta itu dengan baik? Apakah kita sudah mencintai dengan sungguh-sungguh? Jangan bertanya soal tak pantas dicintai, jika kita sendiri belum mencintai dengan sepenuh hati. Apa yang telah kita lakukan untuk cinta kita? Apakah perjuangan kita sudah layak untuk sang terkasih? Apa perjuangan kita sudah layak untuk mendapatkan cinta itu? Cinta itu soal perjuangan dan pengorbanan, siapa yang berani berjuang, dialah yang akan mendapatkannya." jelas Nadya dengan sangat rinci.
Sekretaris Dika hanya bisa terdiam mendengar ucapan tajam Nadya. Ia tak habis pikir, dari mulut polosnya bisa keluar kata-kata se-kritis itu
"Aku bukannya tak mau berjuang, aku hanya kesulitan mengejarnya. Karena ada satu hal yang menghalangiku, hingga tak ada ruang bagiku untuk mendapatkannya." ucap sekretaris Dika.
"Kenapa gak terus berjuang aja? Kalau hanya diam, sampai kapanpun cinta itu tak akan bisa berpihak pada kita, Pak. Selalu ada jalan menuju Roma, begitu pula cinta. Selalu ada jalan untuk bisa bersamanya, asal ada kemauan dengan tekad yang kuat." ucap Nadya.
"Kamu malah menggurui aku. Aku jadi merasa bodoh saat ini." jawab sekretaris Dika.
"Jadi, Pak Dika tak melakukan apa-apa untuk cintanya Pak Dika? Mau sampai kapan, Pak? Kalau hanya diam, pasti akan segera diambil orang!" ucap Nadya.
__ADS_1
"Aku bingung bagaimana memulainya. Aku tak tahu, apa dia mau padaku atau tidak. Aku tak ingin mendengar penolakannya. Aku tak siap akan hal itu." sekretaris Dika jujur.
"Kuncinya, terus kejar, jangan menyerah walau berulang kali menelan pil pahit. Kalau baru sekali mencoba sudah menyerah, tentu saja cinta itu akan meninggalkan Pak Dika!" ucapan Nadya selalu membuat sekretaris Dika menohok tak percaya.
"Kamu kok paham banget sih teori cinta. Kenapa sampai saat ini kamu belum juga punya pacar kalau gitu? Harusnya, kalau kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan, sekarang juga kamu pasti udah punya pacar dong? Ini, buktinya kamu malah aku yang antar, bukan pacarmu!" sekretaris Dika membalikkan pertanyaan.
"Saya tak mengejar cinta, dan saya pun tak berharap mendapatkan cinta saya. Karena saya sadar, saya tidak melakukan apa-apa untuk cinta saya, dan saya pun mengerti, kalau saya tak bisa mendapatkannya, makanya saya pasrah saja, tak muluk-muluk harus mendapatkannya, karena aku dan dia bagaikan langit dan bumi. Aku hanya menunggu lelaki yang mau menerima saya apa adanya. Karena pada dasarnya, kodrat wanita itu dipilih, bukan memilih. Saya pasti menerima, kalau ada orang yang memilih saya. Karena saya gak spesial, saya gak cantik, gak menarik, saya hanya wanita biasa yang tak punya kelebihan untuk dipamerkan. Ada yang mau sama saya pun, saya sudah sangat bersyukur, Pak." ucap Nadya.
"Kurasa, kamu punya kelebihan." ujar sekretaris Dika.
"Ah, Bapak. Pak Dika hanya sedang menghiburku saja kan? Aku tak sepantasnya percaya pada ucapan Pak Dika saat ini." jawab Nadya.
"Ini serius. Kamu punya kelebihan. Kamu pintar, Nad! Itu adalah kelebihan yang kau punya! Jarang sekali, wanita yang berpikir cerdas sepertimu. Mungkin, orang yang kamu cintai belum tahu sifat kamu, Nad. Kalau dia sudah tahu bahwa kamu cerdas, aku yakin dia pasti akan menerimamu," ucap sekretaris Dika.
"Ah, sepertinya tidak. Tak akan berpengaruh, karena lelaki yang saya cinta, mencintai wanita yang lebih baik dari saya." tambah Nadya.
"Sedih sekali kamu, Nad. Memangnya siapa lelaki itu? Kalau aku kenal, aku pasti bisa membantumu!"
KAMU, PAK DIKA, KAMU! Lelaki yang aku maksud itu KAMU. Batin Nadya dalam hati.
"Woy, Nad. Kamu kok ngelamun sih?" sekretaris Dika membuyarkan lamunan Nadya.
"Ah, Pak Dika. Maaf! Aku sedang memikirkannya, maaf sekali. Hehe." Nadya malu.
"Dasar kamu ya, aku yang bercerita, malah kamu yang memikirkan laki-laki yang kau maksud. Ayolah, kita ke ruang bersalin sekarang, setelah bercerita padamu, aku sedikit lega. Suasana hatiku membaik, Ayo!" ajak sekretaris Dika.
"Ah, i-iya Pak Dika. Ayo, aku sudah sangat ingin bertemu dengan Arini." jawab Nadya.
*Bersambung*
__ADS_1
Hai, selamat siang menuju soreπ
Dukung aku ya, dengan memberikan like, vote dan komentarnya. Aku seneng kalau kalian aktif dan suka dengan cerita ini. Walau sekarang, ada beberapa kubu yang kecewa ya π€£π€ Semua akan ku jelaskan di akhir cerita ya, aku punya alasan untuk alur ceritaku ini. Beberapa hari lagi, ini akan tamat, stay sampai akhir ya π€π€π€