
Pernikahan Rangga dan Tira.
Hari ini adalah hari pernikahan Rangga dan Tira. semua orang turut bahagia. Kisah cinta mereka berakhir di pelaminan. Tira sangat cantik dengan balutan gaun indahnya. Rangga pun sangat menawan dengan jas dan dasi yang senada. Semua orang mengucapkan selamat pada Tira dan Rangga yang hari ini resmi telah menjadi pengantin baru.
"Selamat ya, Bang. Akhirnya kalian resmi juga! Semoga bahagia selalu. Ingat, nanti malam!" ucap Davian menepuk pundak Rangga.
"Wah, parah lu emang! But, thank u so much, Bro!" ujar Rangga.
"Selamat ya Ra, sayangku ... Aku bahagia, kamu bisa menemukan kehidupanmu yang sesungguhnya." Arini memeluk Tira.
"Makasih Kak Arin," Tira membalas pelukan Arini.
"Selamat Tuan, dan Tira. Saya ikut bahagia melihat kalian. Semoga menjadi keluarga yang SAMAWA ya." Dika menyalami Rangga.
"Makasih ya, Dik. Semoga sesegera mungkin kamu mendapatkan jodohmu." ucap Tira.
"Dik, dibelakangmu siapa tuh?" Rangga menggoda sekretaris Dika.
"Ah, Tuan! Sshhhtt, jangan berisik."
Nadya maju ke depan, karena ia belum mengucapkan selamat pada dua mempelai, "Ah, Tira ... Selamat menempuh hidup baru, selamat menjadi istrinya Bos ya. Hehehe." Nadya tersenyum.
"Ah, kamu Nad, bisa aja. Makasih ya. Kamu juga, kapan mau jadian sama Dika? Kalian kan udah deket sekarang." Tira menggoda Nadya.
"Sshht, Tira. Jangan berisik, aku malu. Aku cuma temenan aja, kok." jawab Nadya.
"Temen tapi demen, gak apa-apa kan Bos, ya?" tanya sekretaris Dika.
"Ciye, Dika. Bucin lu sekarang! Udah, cepet ikutin jejak Tira sama Rangga. Udah move on juga lu ya!" ujar Davian.
"Eh, udah udah. Jangan di pelaminan terus, kasihan tamu undangan nungguin kita selesai. Ayo, turun." ajak Arini.
"Iya, Rin. Ayok."
Mereka pun turun dari pelaminan. Rangga dan Tira bak raja dan ratu sehari. Tira yang terbiasa berpakaian tomboy, kini terlihat sangat cantik dan menawan memakai dress dan make up yang sangat cantik. Rangga sangat terpukau melihat kecantikan wanita yang kini menjadi istrinya.
Tak lupa, Keyza juga turut bahagia atas pernikahan ini. Ia selalu bersama Mbak Rita dan Baby Cal, karena ia tak mau mengganggu Ayah dan Bundanya yang kini sedang menerima tamu di pelaminan. Tak lama, Arini dan Davian mendekati Keyza dan bayinya.
"Halo Onty, halo Om!" ucap Keyza.
"Sayang, udah makan? Di prasmanan ada rolade kesukaan Keyza loh!" ujar Arini.
"Udah dong, kan Mbak Rita yang bawain." Keyza tersenyum senang.
"Iya Nona, tadi dia udah tahu aja kalau ada rolade. Dia langsung mau makan dan makannya lahap sekali." ucap Mbak Rita.
"Bagus kalau gitu.." Arini mengusap rambut Keyza.
Davian melirik Keyza dengan tatapan tajam, "Key, Om mau bicara sama kamu!"
"Apa Om?" jawabnya.
"Nanti malem nginep sama Om yuk? Kita nonton film baru dari disney." ajak Davian.
"Wah, mau banget Om. Key mau nonton filmnya. Apalagi kalau ada princess Elsa." seru Keyza.
"Oke, nanti bobo sama Om ya," Davian tersenyum.
"Tapi, Om ..."
"Kenapa Key?" tanya Davian.
Keyza menatap Rangga dan Tira yang sedang berdiri di pelaminan. Ia tak enak jika harus menginap di rumah Om nya, padahal kini Tira sudah SAH menjadi Ibunya.
"Key gak enak sama Bunda Tira. Dia kan udah jadi Bunda Key sekarang, masa sih Key harus nginep di rumah Om, harusnya kan Key tidur sama Bunda, biar bunda ada temennya." ucap Keyza.
"Keyza, Bunda dan Ayah kamu kan baru sah menikah. Mereka harus melakukan malam per ..." ucapan Davian terpotong, ia keceplosan.
"Mas, KAMU!" Arini melotot pada Davian.
Ya ampun, mulut gue gak bisa di rem. Gue lupa, kalo gue lagi ngomong sama anak kecil. Batin Davian.
__ADS_1
"Apa Om? Kok ngomongnya berhenti sih?" tanya Arini.
"Key, gapapa Bunda Tira nanti kan ada Ayah yang nemenin, Keyza malam ini bobo sama baby Cal aja ya? Gimana? Katanya, baby Cal kangen sama Kakak Keyza," Arini berbohong.
"Oh, gitu yah Onty. Ya udah deh, Key mau nginep di rumah Onty, tapi nanti Key bilang dulu sama Ayah ya!" ujar Keyza.
"Nah, gitu dong sayang. Ya udah, Onty sama Om mau kebelakang dulu Ya! Mbak Rita, baby Cal kalo bangun gendong ya, biar dia gak pegel bobo di stroller terus!" ucap Arini.
"Iya, Nona." jawab Mbak Rita.
"Oke Onty," jawab Keyza juga.
"Mas, Ayo. Kita makan dulu!" ajak Arini.
Davian tak menjawab. Ia mengikuti Arini dari belakang. Davian sudah tahu, Arini pasti mengomeli dirinya. Davian sudah siap memasang telinga dan badannya untuk diceramahi sang istri.
"Mas, jaga dong ucapannya kalo didepan anak kecil. Anak seumur Keyza belum waktunya tahu tentang hal-hal seperti itu!" ujar Arini.
"Iya-iya sayang, aku tahu. Aku hanya ke-cep-lo-san. Tahu kan keceplosan itu apa? Aku gak sadar, aku gak ngeuh. Untung aja aku keburu sadar!" ucap Davian.
"Kamu sadar karena aku melototin kamu!" ucap Arini.
"Iya jangan ngambek gitu dong. Kamu mah gitu, ngambekan deh. Eh yang, berarti nanti malem si Rangga sama Tira bakal belah duren dong ya? Enaknya mereka!" ucap Davian.
"Ya iyalah, Mas. Mereka kan udah nikah, ya pasti melakukan kewajiban sebagai pasangan juga." jawab Arini.
"Tapi, dulu kita kok enggak sih? Padahal, udah SAH, tapi kita gak melakukan malam pertama setelah selesai nikah?" serang Davian.
"Kita kan beda kasus, Mas. Aku dan kamu menikah karena rencana kamu, dan hanya sandiwara. Mana mau aku menyerahkan kesucian ku padamu! Aku takut, kamu akan membuang ku nantinya." ucap Arini.
"Mana mau aku membuang istri cantikku ini, ya gak mungkin lah sayang. Aku pasti mencintai kamu dengan tulus!" ucap Davian.
"Ya itu kan sekarang. Udah ah, ayo makan dulu. Aku laper, Mas." ucap Arini.
"Ayo, kita makan. Busui kayak kamu pasti mudah lapar, aku tahu itu. Makan porsi banyak ya yang, aku pengen baby kita sehat karena ASI-nya juga sehat!" ucap Davian.
"Iya Mas, tentu saja. Semua untuk anak kita. Aku pasti melakukan yang terbaik." jawab Arini.
"Sama-sama, Mas." Arini dan Davian pun segera mencicipi hidangan yang disediakan di acara pernikahan Rangga dan Tira.
...πΈπΈπΈ...
Acara pernikahan telah selesai. Rangga telah memesan kamar di hotel bintang lima. Ia sengaja memesan hotel, karena ia menginginkan malam pertama dengan sang istri agar begitu hangat dan romantis. Keyza malam ini menginap di rumah Davian. Jadi, Rangga dan Tira bisa menghabiskan malam ini hanya berdua, tak ada yang mengganggu.
Tira sedang berada di kamar mandi membersihkan tubuhnya. Ia sedang memanjakan dirinya di bathtub hotel mewah ini. Nyaman dan segar sekali yang dirasakan oleh Tira, karena seharian ini telah bergulat dengan ratusan tamu undangan.
Tira enggan segera keluar dari kamar mandi. Selain ia nyaman berendam, ia pun takut untuk cepat-cepat bertemu dengan Rangga. Ia sengaja berlama-lama didalam kamar mandi, agar waktu semakin cepat berlalu.
Aku tahu, aku telah sah menjadi istrinya.Tapi, aku takut. Aku takut akan hal yang ia inginkan dariku malam ini. Aku benar-benar tak siap. Batin Tira.
Rangga telah menyiapkan pakaian yang harus dipakai Tira malam ini. Rangga menyiapkan piyama yang sexy untuk digunakan oleh Tira. Rangga sebenarnya tahu, Tira pasti akan menolak, namun ia hanya ingin tahu, sanggupkah Tira menerima permintaan istrinya itu.
Rangga yang kesal menunggu Tira, segera memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi, karena Rangga pun belum membersihkan dirinya. Rangga tahu, Tira sengaja melakukan hal ini. Tapi, Rangga tak bisa tinggal diam, ia sudah kegerahan, ia harus segera mandi.
Aku tahu, kamu sengaja kan berlama-lama didalam? Kamu gugup kan, Tira? Aku pun masih merasa asing. Padahal, kita sudah menjadi suami istri, tapi aku masih merasa malu padamu. Semoga, nanti aku siap menghadapimu." Batin Rangga.
"Ra, Tira? Aku kebelet pipis, nih! Udah belum? Lama amat mandinya." keluh Rangga.
"Bentar, Bang. Aku belum beres." Tira beralasan.
Rangga membuka pintu, "Aku punya kunci dari luar yang bisa buka pintu kamar mandinya. Apa harus aku buka biar kamu cepet keluar?" ancam Rangga.
Tira terbelalak kaget, "Eh, Bang! Apa-apaan sih kamu? Nyebelin banget."
"Ya makanya ayo, aku mau mandi sekarang." ujar Rangga.
"Iya, iya. Ini aku mau bersihin badanku!" ucap Tira.
Rangga tersenyum nakal, "Aku masuk ya?"
"ABANG JANGAN!" Tira berteriak.
__ADS_1
"Iya enggak kok, takut banget sih. Cepetan!" ucap Rangga.
Lima menit kemudian Tira keluar dari kamar mandi. Ia menggunakan handuk kimono yang sedikit tipis. Terlihat belahan dada Tira yang membuat Rangga menelan ludahnya. Tira yang menyadari tubuhnya diperhatikan oleh Rangga, segera membenarkan posisi kimono nya.
"Ra, pakai baju tidur pemberian Arini ya, bajunya ada di atas kasur!" perintah Rangga.
"Baik, Bang." Tira segera berjalan menuju ranjangnya.
Rangga segera masuk ke kama mandi dengan tertawa geli membayangkan Tira menggunakan piyama sexy yang telah disiapkannya. Rangga ingin sekali melihat ekspresi Tira jika mengetahui dirinya harus menggunakan pakaian seksi seperti itu.
Tira melihat pakaian yang Rangga bilang. Ia kaget melihat betapa piyama tidur itu sangat tipis sekali. Tira tak mengerti, kenapa bisa-bisanya Rangga menyuruhnya untuk memakai pakaian kurang bahan seperti ini. Tira kesal dan menggerutu dalam hatinya.
Kenapa dia seenaknya sekali menyuruhku memakai pakaian seperti ini? Heran deh sama cowok, seneng banget kalo liat cewek pake baju seksi. Ya ampun, kesel banget aku. Kalau gak dipake, Bang Rangga pasti kecewa. Tapi, aku pun tak ingin memakai pakaian seperti ini. Mm, aku kan bawa blazer tipis, aku pakai blazer saja agar tak terlalu terbuka. Batin Tira.
Tak lama, Rangga keluar dan mereka makan bersama. Rangga melihat Tira memakai piyama yang ia inginkan. Namun, Tira tak kalah pintar, ternyata ia juga memakai blazer agar tubuhnya tertutup. Mereka makan malam bersama hingga selesai, dan sesekali membicarakan betapa melelahkan nya pernikahan dan resepsi.
Hingga malam pun semakin larut, Rangga dan Tira tak mungkin terus duduk di sofa dan menonton televisi. Hingga muncul hasrat dalam diri Rangga untuk mengajak Tira melakukan kewajibannya menafkahi batinnya.
"Sayang, masa kita mau disini terus?" tanya Rangga.
"Ya udah, Abang maunya gimana?" tanya balik Tira.
"Tidur yuk," ajak Rangga dengan tatapan nakal.
Sekedar tidur kah? Apa ada yang akan ia lakukan sebelum tidur? Ya Tuhan, aku takut. Batin Tira.
"Mm, A-ayo." jawab Tira gugup.
Rangga menggenggam tangan Tira dan mengajaknya ke ranjang. Tira gugup dan sangat takut, namun ia harus tetap menerima semua ini dengan pasrah, karena kewajiban seorang istri yang telah menikah adalah memberikan mahkotanya pada sang suami. Tira dan Rangga pun telah berada di ranjang yang sama.
Jangan tanya bagaimana perasaan mereka. Yang jelas, mereka tak pernah sedekat ini, hingga kini mereka bisa berdekatan, dua-duanya sama-sama canggung dan gugup. Rangga pun demikian, ia tak menyangka, bersama Tira berada dalam satu ranjang yang sama, membuat jantungnya berdegup sangat cepat.
"Ra, aku gugup dekat denganmu. Kita tak pernah sedekat ini sebelumnya, karena kita belum pernah pacaran." ucap Rangga.
"Ah, i-iya Bang. Kita memang tak dekat."
"Kamu siap?" tanya Rangga.
DEG. Jantung Tira kaget mendengar ucapan Rangga barusan. Kata-kata ku siap adalah kata-kata mematikan yabg membuat Tira takut. Mau bagaimanapun, ia tak akan siap melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Si-siap apa? Tidur? Ayo, Bang." Tira mengalihkan pembicaraan.
"Bukan. Siap untuk itu, hubungan suami istri. Malam pertama kita, Ra." Rangga jujur.
"Aku takut, Bang." Tira menggigit bibirnya.
"Ra, jangan takut, kita sudah sah, jika kita melakukannya tentu akan menjadi ibadah."
"Ta-tapi ..."
Rangga tak ingin mendapat penolakan dari Tira. Dengan sigap, bibirnya mendarat di bibir Tira dan segera menciuminya dengan lembut. Tira kaget dan tak siap mendapat ciuman itu. Namun, Tira tak bisa menolak, ia merasa ada yang aneh dalam dadanya, mungkin ia sudah terbawa oleh buaian Rangga.
Rangga menjatuhkan Tira perlahan pada kasur yang empuk, dengan bibir yang tetap saling berpagut. Kini, Rangga berada di atas tubuh Tira. Perlahan tapi pasti, Rangga meyakini dirinya bahwa ini harus dilakukan. Rangga menjelajah tubuh Tira, yang membuat Tira malu dan sedikit menolak.
Rangga mulai menaikkan piyama Tira, namun Tira sangat keberatan. Ia takut, ia belum siap, "Bang, jangan, aku takut."
"Tenang aja Ra, aku gak akan nyakitin kamu. Aku akan melakukannya dengan lembut."
Tangan Rangga terus menaikkan piyama Tira hingga terbuka lah bagian atas tubuh Tira. Rangga tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera membuka pakaian dalam Tira untuk melahap gunung kembar yang Tira miliki. Ia terus memainkannya hingga terdengar suara Tira yang melenguh keenakan.
Hingga saatnya telah tiba, malam pertama itu pun dimulai. Rangga memberikan serangan fajarnya pada Tira. Membuat Tira menangis kesakitan. Rangga sudah memelankan ritmenya, namun karena ini pertama kalinya, Tira tetap kesakitan dan menangis.
Rangga tersenyum bahagia ketika melihat bercak merah di seprai yang mereka pakai saat ini. Ia percaya, bahwa Tira adalah gadis baik-baik dan tentu saja mahkotanya hanya untuk dirinya. Rangga puas, telah mengambil kesucian istrinya dengan sempurna. Bahagia, itulah yang mereka rasakan saat ini, walaupun pada akhirnya Tira menangis kesakitan.
*Bersambung*
Hai
Udah ya segitu aja pemanisnya π€π€
Tamatin jangan ceritanya? Kalo yang mau lanjut, komentar dong. π€ππ
__ADS_1