
Malam hari di kediaman Davian.
Acara makan malam keluarga telah selesai. Kakek dan Nenek Davian telah kembali pulang. Rangga, Keyza dan tira pun telah meninggalkan rumah ini. Arini terlihat sedih, namun ia tetap menguatkan dirinya. Semua ini juga demi kebaikan Keyza dan Davian.
"Sayang, kamu marah padaku?" tanya Davian.
"Enggak kok, Mas. Aku justru lega sekarang. Kamu tak akan sensitif lagi padanya." jawab Arini.
"Maafkan aku yang masih tak bisa menerimanya." Davian menunduk.
"Aku mengerti perasaanmu, Mas. Luka itu benar-benar menancap di hatimu. Aku paham, namun ada satu hal yang kuharap kamu jangan melarangnya." ucap Arini.
"Apa, itu?" Davian memicingkan matanya.
"Izinkan aku mengunjungi Keyza, kapanpun aku ingin." ucap Arini.
"Baik, sayang. Aku tak akan melarang mu. Aku hanya tak ingin dia dekat denganku, karena dia pasti akan jadi korban kemarahan ku, maafkan aku yang belum bisa memaafkan mereka."
Arini mendekat, ia menepuk-nepuk bahu tegak Davian. Arini mengerti, ia mencoba memahami perasaan suaminya yang benar-benar tak bisa menerima kehadiran keluarga Arkan disisinya.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti perasaanmu. Maafkan aku yang terlalu memaksakan kehendak." jawab Arini.
"Tidak sayang, kamu tak salah, aku yang terlalu egois."
Tiba-tiba,
Tokk.. tokk.. tokk..
"Siapa ya, biar aku yang buka," ucap Arini.
"No, sayang. Diam lah istriku, kamu jangan sampai kelelahan, biar aku saja yang membuka pintunya." Davian memegang dagu Arini.
"Baiklah, Mas." Arini duduk selonjoran di sofa.
Davian berjalan mendekati pintu. Ternyata, sekretaris Dika yang mengetuk pintu. Davian mempersilahkan sekretaris Dika masuk. Rupanya, sekretaris Dika baru pulang dari perusahaan. Davian mengajak sekretaris Dika duduk di sofa.
"Lu baru pulang jam segini?" tanya Davian.
"Iya, Bos. Dikira bertemu sama clien itu gampang apa. Apalagi Tuan Yuda itu banyak bicara banget. Gue harus nemenin dia ngobrol panjang kali lebar. Yang gak penting pun dia bicarakan. Parah banget kan!" sekretaris Dika meluapkan kekesalannya.
"Lu emang ga ada sangar-sangarnya sih, orang jadi berani sama lu. Coba kalau gue yang meeting, belom setengah jam juga udah kelar tuh. Karena gue gak suka banyak bicara. Gue selalu menggiring lawan gue, Dik. Bukan gue yang digiring oleh lawan!" timpal Davian.
"Lu sadar diri aja, Bos. Lu itu siapa, gue ini siapa. Mana ada relasi bisnis kita yang berani sama lu. Lirikan mata lu kalau udah liat orang bikin serem, Bos. Siapapun yang berhadapan sama lo, pasti tunduk!" tambah sekretaris Dika.
"Jelas, siapa dulu. Davian! Gue memang sudah berwibawa sejak dari lahir, Dik. Gak ada yang berani macam-macam sama gue. Coba lu liat, istri gue yang cantik ini. Dia juga benar-benar cinta mati kan sama gue. Apa sih yang gak bisa gue taklukan di dunia ini." Davian sombong.
Arini yang mendengar ucapan suaminya benar-benar tak terima, dan tak mengerti dengan keangkuhan yang dimiliki suaminya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Aku takluk sama kamu? Apa gak kebalik, tuh? Apa perlu aku bocorkan pada sekretaris mu ini, bagaimana perlakuan mu padaku!" timpal Arini.
"Nona, saya sudah tahu kok. Di dunia ini, apapun bisa Tuan dapatkan dan taklukan. Tapi, kurasa dia terlalu over, jelas-jelas dia yang takluk pada Nona, tapi masih saja merasa dirinya hebat. Bos, lu bisa sangar pada siapapun, tapi satu, ada yang lebih sangar dari diri lu, yaitu istri lu sendiri. Coba aja lu marah sama dia, apa lu berani?" sekretaris Dika tertawa.
Arini melotot pada Davian dengan tatapan tajam, Davian yang melihatnya benar-benar merasa kaget dengan mata Arini yang hampir keluar.
"Ya ampun, sayang. Matamu jangan dibiarkan melotot begitu, kalau nanti kamu terpana melihat ku, bagaimana?" Davian malah menggoda Arini.
"Mas, aku serius!" Arini kesal.
"Sayang, sayang, calm down. Aku ralat ucapan ku, Oke honey? Aku memang takluk padamu, aku yang sangat mencintai kamu, aku cinta mati padamu, dan aku akan melakukan semuanya untukmu. Jangan marah lagi, mommy, nanti baby dalam perut kita ikut marah sama Daddy-nya. Sini, sini, Daddy Dav peluk. Biar baby ketularan tampannya Daddy." ucap Davian sambil mengelus-elus perut Arini.
"Dasar narsis! Aku musti amit-amit jabang bayi nih, aku gak mau anakku kayak kamu, narsisnya bener-bener udah overdosis!"
"Aaah, istriku! Kamu menggemaskan kalau lagi marah begini." Davian mencubit pelan kedua pipi Arini.
Sekretaris Dika yamg melihat adegan romantis itu seketika tak nyaman melihat mereka berdua, dan ia melayangkan sebuah protes.
"Eh, eh.. Apa-apaan nih, Bos lu mah parah banget sih! Oh iya, ini berkas yang harus Bos tanda tangani. Besok bawa ke kantor ya, jangan lupa lu Bos!" perintah sekretaris Dika.
"Berani lu merintah gue, mentang-mentang seharian ini alih profesi jadi diri gue! Parah lu, Dik."
"Oh, iya.. Keyza kemana? Kok gue gak lihat Bos? Apa dia sudah tidur?" tanya sekretaris Dika.
"Lu sebenernya, nanyain Keyza, apa nanyain Tira?" tanya Davian.
"Alah, lu ngaku aja k*mpret! Lu kangen pan ama si Tira? Dia udah pindah. Gak di rumah ini lagi. Rasain lu, kesepian ditinggalin gebetan." Davian terkekeh.
"Hah? Pindah kemana, Bos?" Dika penasaran.
"Ya ampun, Dika. Kamu kaget banget ya?" tanya Arini.
"Eh, Non, kaget apaan, enggak kok." sekretaris Dika gelagapan.
"Sayang, si Dika ini memang niat nanyain si Tira. Alibi aja dia nanyain Keyza. Parah emang lu!" Davian terus mengejek sekretaris Dika.
"Ah, si Bos mah rese! Tapi serius, emang bener pindah? Kemana? Keyza juga kemana?" sekretaris Dika ingin tahu.
"Keyza sekarang tinggal di apartemen Rangga, Dik. Dan Keyza ingin bersama Tira, dia gak punya pilihan lain, selain menyetujui permintaan Keyza." jawab Arini.
"Jadi, dia tinggal sama Tuan Rangga?" tanya sekretaris Dika penasaran.
"Iya, emang kenapa? Cemburu lu ya? Ngaku lu?" selidik Davian.
Sekretaris Dika geleng-geleng kepala, "Idih, apaan sih, Bos. Kagak gua, gak cemburu sedikitpun!"
"Lu ngaku aja, kalau lu ngaku cemburu, gue tambahin gaji lu bulan ini 10 juta! Mau gak lu?" tantang Davian.
__ADS_1
"Gila aja, 10 juta, Bos? Gue mau duitnya, tapi gue gak cemburu sedikitpun." jawab sekretaris Dika.
"Ya udah, duit angus! Lu gak dapet gaji tambahan!" balas Davian.
"Eh, si Bos kok gitu sih. Iya deh iya, gue ngaku. Gue cemburu, Bos. Sumpah dah! Fix dong ya? Gaji gue tambahin, 10 jeti Bos, Oke?"
"Sompret lu, emang! Mana ada begitu, cemburu karena duit. Lu gak ikhlas cemburunya. Kagak jadi, Dik. Pokoknya, selamat menikmati kesendirian ya, Dik. Gue turut berduka cita buat lu!" Davian terkekeh.
"Parah lu, Bos. Duka cita apaan, emangnya siapa yang meninggal. Bener-bener deh lu!"
"Hati lu yang mati, karena dambaan hati lu udah pergi. Hahahah!" Davian tertawa puas.
"Mas, udah ah. Jangan gitu. Dik, kamu istirahat aja, jangan diladenin terus Bos mu, udah sana, segera makan malam kalau belum." ucap Arini menengahi.
"Baik, Non. Nona memang baik dan juga perhatian. Terima kasih, kalau begitu, saya permisi dulu, Non. Bos, gue ke kamar tamu ya," ucap sekretaris Dika.
"Bodo amat!"
***
Apartemen Rangga.
Suasana di apartemen Rangga terlihat sangat dingin sekali. Tira yang masih canggung, tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya diam dan menuruti apa yang Rangga katakan padanya. Berbeda hal nya dengan Keyza, ia terlihat nyaman sekali berada di apartemen ini.
"Tira, selama satu minggu ini, saya akan berada disini, minggu depan kemungkinan saya pergi ke Swiss. Apa kamu keberatan, kalau satu minggu ini memasak makanan untukku?" pinta Rangga.
"Ah? Iya Tuan? Oh ya, tentu saja saya tak keberatan. Saya akan memasak untuk Tuan. Namun, Tuan bisa tuliskan dahulu, apa yang Tuan suka, dan apa yang Tuan tak suka, agar saya bisa memasak dengan selera Tuan." ucap Tira.
"Tentu saja, nanti aku akan memberi tahu kamu."
"Baik, Tuan." Tira tersenyum.
Rangga tahu, bahwa Tira tak nyaman berada disini. Terlihat dari raut wajah dan gerak-gerik Tira saat ini. Rangga tak ingin Tira merasa canggung berada di rumah ini.
"Tira?"
"I-iya, Tuan?" jawab Tira gugup.
"Apa kamu canggung berada di rumah ini?" tanya Rangga.
"Ti-tidak, Tuan. Saya hanya belum terbiasa saja." jawab Tira.
"Tenang saja, enjoy saja disini. Anggap saja kamu nyonya di rumah ini. Jangan anggap dirimu pembantu, karena aku tak menganggap mu begitu. Semoga kamu betah, ya." Rangga tersenyum.
"Hah? Ah, i-iya, Tuan. Terima kasih, atas kebaikan hatimu." jawab Tira gugup.
Gila aja, nyonya di rumah ini? Astaga, dia benar-benar membuat aku semakin gugup berada di apartemen ini. Semoga aja, Ibumu segera kembali Keyza, aku tak sanggup jika harus lama-lama disini. Batin Tira.
__ADS_1
*Bersambung*