
Jangan lupa like ya... ππ€
Malam ini adalah malam yang panjang. Suasana di rumah Bu Ani begitu dingin dan mencekam. Mereka bertiga telah berada si ruang keluarga. Bu Ani ditemani oleh Bik Min dan supirnya. Bu Ani meminta mereka berdua menjadi saksi bisu atas perkataan Pak Adi dan Rena. Bu Ani akan meminta penjelasan mengenai perbuatan hina yang telah mereka lakukan.
Rena yang duduk didepannya hanya bisa menunduk malu. Rena bingung, dan ketakutan. Ia takut kalau Bu Ani bertanya sejak kapan mereka kenal. Karena tak mungkin orang yang baru kenal beberapa jam saja, sudah berada dalam satu kamar dan melakukan hubungan hina tersebut.
"Mas, aku gak akan nanya kamu! Kuharap, kamu diam dan jangan banyak bertanya." tegas Bu Ani.
"Maa, tapi ..." Ada keraguan dari wajah Pak Adi.
"Diam, Pah. Kumohon!" tegas Bu Ani.
Bu Ani kembali fokus menatap Rena yang terlihat gugup dan ketakutan. Ia takut salah menjawab. Rena terlanjur malu dilihat oleh mereka semua. Apalagi, Rena dan Pak Adi belum sempat berbicara lagi, karena Bik Min memanggil Pak Rahmat untuk mengawasi mereka berdua. Pak Rahmat adalah supir Bu Ani.
"Rena ... Kenapa kamu tidur dengan suamiku? Apa kalian telah saling mengenal sebelumnya? Sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya Bu Ani.
Rena kaget. Pertanyaan itu membuatnya bingung. Ia takut jawabannya dan jawaban Om Adi takkan sama. Melihat wajah Bu Rena, semakin terlihat rona kemarahan di wajahnya.
"Ma-maaf, Bu ... maafkan Rena," Rena menunduk lesu.
"JAWAB SAJA! TAK PERLU MINTA MAAF!" bentak Bu Ani.
"Mama, cukup, Ma." Pak Adi terus merayu Bu Ani yang begitu emosi.
"Diam kamu! Sudah aku bilang untuk diam! Kamu tak perlu ikut bicara, apalagi membela wanita murahan ini." Bu Ani memarahi Pak Adi.
"Ma, kumohon," rayu Pak Adi lagi.
"DIAAAMMMM!" Bu Ani benar-benar emosi.
Bu Ani menatap Rena lagi, "Jawab! Sejak kapan kamu mengenal suamiku? Kenapa kamu mau tidur dengannya? Aku yakin, ini bukan karena paksaan! Karena aku pun mendengar ******* kenikmatan darimu! Itu berarti, kamu pun menikmatinya. Kamu dan dia sama-sama bajingan nya! Apa kalian sudah lama saling mengenal?"
Rena mengangguk, ia tak berani menjawab.
"Sejak kapan saling mengenal?" tanya Bu Ani lagi.
"Em-empat bulan yang lalu, Bu." Rena tetap menunduk.
"Wah, surprise sekali. Empat bulan yang lalu! Good, luar biasa sekali, Rena, Adi. Ternyata kalian memang sama-sama liar. Kukira, suamiku adalah suami yang baik dan tulus. Ternyata, aku salah mengenalmu. Kamu tak beda dari seekor buaya yang kehausan mencari mangsanya. Rena, sudah berapa kali kamu tidur dengannya?" selidik Bu Ani.
"Mah ... Cukup! Jangan terus mendesak Rena. Desak Papa saja. Toh, Papa juga sudah meminta maaf bukan?" Pak Adi berkilah.
"Kamu membela wanita mu, begitu? Wanita murahan yang merusak rumah tanggaku. Ah, iya ... pantas saja kamu membelanya, karena dia lebih segalanya dariku. Dia lebih cantik, lebih fresh, lebih menggoda dan tentunya lebih LIAR di ranjang! Pantas saja kamu terus membelanya. Hanya satu kelebihan ku yang tak mampu ia gapai. Yaitu, uangku!" Bu Ani tersenyum sinis.
"Ma, hentikan! Jangan seperti itu. Maafkan Papa. Ini murni kesalahan Papa." Pak Adi terus saja melindungi Rena.
"Rena, sudah berapa kali kamu melakukan hubungan hina itu dengan suamiku? Jawab jujur saja, karena semuanya sudah terlanjur. Aku tak akan marah, silahkan saja kamu katakan," pinta Bu Ani.
"Ma, please ..."
"Jawab saja, Rena! Kalau kau tak ingin aku marah lagi, katakan semua ini dengan jujur. Kalau kamu berani berbohong, aku tak akan segan-sega menjebloskan kalian kedalam penjara. Lebih baik jujur, atau aku akan benar-benar menjebloskan kalian berdua!" ancam Bu Ani.
Rena menghela nafas, ia benar-benar takut, ia hanya menggeleng-geleng kan kepalanya. Ia tak berani menjawab. Karena apa, sudah tak terhitung berapa kali mereka melakukannya. Setiap Pak Adi melakukan dinas keluar kota, Rena selalu ikut. Dan setiap kesempatan itu pula, mereka selalu menikmati malam panjang tersebut.
"Ah, iya. Kamu pasti sering melakukannya dengan suamiku. Aku baru tahu sekarang. Bodohnya aku, yang sudah tertipu oleh kalian berdua. Syukurlah, kini aku pun telah mengetahuinya. Aku tak akan banyak bicara, karena aku sudah mengerti. Nafsu kalian tak tertahan, karena kalian memang sudah sering melakukannya." ucap Bu Ani.
"Ma, dengarkan penjelasan ku." ucap Pak Adi.
"Apalagi? Aku jadi curiga, kalau ternyata kalian memang sering melakukan hubungan badan, mungkin saja saat ini, wanita murahan itu sedang hamil. Coba kau berkaca dengan keadaan ini. Kau memang gila, Mas!" bentak Bu Ani.
"Sayang barusan aku sudah jelaskan semuanya. Please, jangan marah lagi, istriku." rayu Adi
Bu Ani tak mendengarkan apa kata suaminya. Ia sudah tak peduli dengan mereka berdua. Bu Ani pergi meninggalkan Pak Adi dan Rena. Bu Ani akan menemui Nisha terlebih dahulu, lalu memutuskan semuanya.
"Kita bicarakan besok pagi. Ini sudah terlalu larut. Aku harus istirahat dan mengumpulkan tenaga ku, agar besok aku tenang!" tegas Bu Ani.
"Ma, Mama ... Mama mau kemana, Ma?" Pak Adi kaget karena Bu Ani berlalu meninggalkannya.
Aku tak akan memutuskan apapun terlebih dahulu. Aku akan menemui anakku dan menceritakan semuanya. Aku hanya akan meminta pendapat dari gadisku. Kini, aku hanya punya Nisha. Semoga Nisha mau menerimaku kembali. Batin Bu Ani.
...πΈπΈπΈ...
Pagi ini, Nisha sedang bersiap berangkat ke kampus. Semalam, Nisha menginap di rumah Davian, karena mereka pulang terlalu malam. Kini, Nisha dan keluarga Calandra sedang makan pagi bersama. Seperti biasa, Calandra yang akan mengantar Nisha pergi ke kampusnya.
"Nish, Ayo ..." ajak Andra.
"Ah, iya. Ayo! Bu Arin, Pak Davi, Nisha berangkat dulu ya," ucap Nisha.
"Iya, sayang. Hati-hati dijalan ya." ucap Arini.
"Mom, Dad, Andra berangkat dulu."
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," Arini dan Davian tersenyum.
Nisha dan Andra pun mengambil tas nya dan segera bergegas menuju pintu utama rumah besar itu. Hari ini Nisha pergi ke kampus, karena di kampusnya akan ada bazaar dan pentas sinema. Karena itulah, Calandra ingin mengantar Nisha. Karena Andra juga ingin menonton pensi di kampus Nisha.
Setibanya di halaman rumah, Nisha dan Andra kaget. Karena, ada seorang wanita yang sedang menunggu. Ya, wanita itu adalah Bu Ani. Dia menunggu Nisha diluar rumah itu, karena tak mau mengganggu. Hingga akhirnya Nisha keluar, betapa senangnya hati Bu Ani.
"Nisha ..." Bu Ani tersenyum pada Nisha dengan mata yang sembab.
"Ma-Mama? Sejak kapan Mama disini? Ya ampun, kenapa Mama gak bilang kalau Mama datang kesini?" Nisha kaget.
"Nisha mau kemana? Biar Mama antar. Mobil Mama menunggu diluar." ucap Bu Ani.
Nisha menatap Calandra, "Andra, Mamaku kesini. Sepertinya, aku akan pergi bersamanya. Apa kamu tak keberatan?"
Andra terlihat kecewa, "Ah, i-iya Nish. Engga kok, aku gak keberatan. Ya udah, hati-hati ya,"
"Makasih ya atas pengertiannya." Bu Ani tersenyum pada Calandra.
"Iya, Bu. Tentu saja. Oh iya, Nish ... hati-hati dijalan ya, nanti kabarin aku kalau udah sampe."
"Iya, Andra. Tentu saja. Aku duluan ya," Nisha tersenyum pada Andra.
Nisha pun keluar dari rumah Andra dan berjalan bersama Bu Ani. Nisha bingung, kenapa tiba-tiba Bu Ani menjemputnya. Ternyata, Bu Ani mengajak Nisha menuju taman kota, karena ada suatu hal yang ingin Bu Ani bicarakan. Nisha menyetujuinya, karena hari ini jadwal di kampusnya pun hanya berbagai macam acara dan hiburan saja.
~Taman kota~
Nisha dan Bu Ami duduk berdua di taman yang segar dan asri. Tamannya masih begitu sepi, hanya ada beberapa orang atau komunitas yang sedang berolahraga pagi.
"Yang tadi itu namanya, Calandra ya? Lelaki yang meminta maaf padaku semalam." ucap Bu Ani.
"Iya, Ma. Dia sebenarnya sangat baik sekali pada Nisha." ucap Nisha.
__ADS_1
"Dia hangat padamu, sepertinya dia tulus mendekatimu. Mungkin, aku bisa memaafkan kesalahannya yang dulu." Bu Ani tersenyum.
"Makasih, Ma." Nisha membalas dengan senyuman.
"Sepertinya dia menyukaimu, Nish. Mama bisa melihat dari sorot matanya yang menatapmu dengan penuh arti." ucap Bu Ani.
"Ah, Mama ... gak mungkin, Nisha sadar Nisha siapa, dan dia siapa. Anak orang kaya seperti dia, gak mungkin akan menyukai wanita seperti Nisha, Ma." ucap Nisha.
Seketika itu pula, wajah Nisha berubah menjadi kemerahan bak kepiting rebus. Nisha malu dan gugup, karena Ibunya seperti tahu apa yang ada didalam isi hatinya. Sepertinya, Nisha akan merasa nyaman jika akan curhat dan sharing pada ibu angkatnya.
"Ssshhhtt, kamu itu cantik, kamu ramah, kamu kurang apa? Kamu sempurna, sayang." ucap Bu Ani.
"Ah, Mama. Nisha sama Calandra itu jelas beda kasta, Ma." Nisha mengelak.
Nish, kamu dan dia sebentar lagi tak akan berbeda kasta, aku bisa menjaminnya. Aku akan menjadikan kamu, wanita yang setara dengan Calandra. Agar tak ada lelaki yang merendahkan kamu, sayang. Doakan semoga semua rencana ku berhasil. Akan kuberikan semua kekayaanku untukmu, karena kamu adalah anak yang jujur dan begitu tulus. Aku malu, karena telah memarahimu saat itu. Batin Bu Ani.
"Oh iya, Ma. Mama ada apa? Apa yang mau Mama bicarakan sama aku?" tanya Nisha mengagetkan lamunan Bu Ani.
"Ah, emm i-itu, a-anakku. Sepertinya, ada hal penting yang harus kamu ketahui, Nisha ..." ucap Bu Ani.
"Penting gimana, Ma? Ada apa? Katakan saja. Nisha siap mendengarkan." Nisha tersenyum.
Bu Ani menarik nafasnya dalam-dalam. Berharap dirinya tak akan gugup membicarakan hal yang terjadi semalam, "Nisha, asal kau tahu ..."
"Apa, Ma?" Nisha penasaran.
"Mama sedih ... Ayahmu semalam kepergok selingkuh dengan Rena, gadis yang dibawa oleh sekretaris Dika." ucap Nisha menunduk.
"Ha? Apa, Ma? Rena? Sungguh aku tak paham dan tak mengerti, Ma. Tak mungkin. Rena itu mantannya Elang, anak sekretaris Dika!" tegas Nisha.
"Apa? Mantan anak sekretaris Dika?" Bu Ani begitu kaget.
"Iya, Ma. Tak mungkin Papa selingkuh dengannya. Semalam, kulihat Papa dan Rena seperti tak saling kenal." tegas Nisha.
"Tapi mereka dengan teganya melakukan hubungan kotor itu di hadapan Mama, dan Mama melihat semuanya, Nisha ... Mama rasa, itu bukan kali pertama mereka melakukannya, karena mereka sudah saling mengenal sebelumnya." jelas Bu Ani.
"Astaga, Nisha sungguh tak menyangka. Mama, bagaimana hati dan perasaanmu? Pasti sangat hancur ... maafkan aku yang tak ada di sampingmu saat Mama sedih seperti ini." Nisha memeluk Bu Ani.
"Tak apa, sayang. Mama hanya butuh kamu sebagai pendengar setia Mama. Akan Mama jelaskan semuanya, semoga kamu mau mendengar." ucap Bu Ani.
"Nisha siap mendengarkan, Mama." Nisha tersenyum memeluk Bu Ani.
Mama, tahukah engkau? Kalau dulu, sebenarnya aku juga diancam oleh Papa agar aku mau melayaninya. Jika aku menyetujui perbuatan itu, mungkin saja Mama akan memarahi Aku dan kecewa berat padaku. Aku tak kuat hidup dengan Papa, karena itulah aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kalian semua. Aku ingin hidup dengan baik, bukan seperti itu. Kenyataan bahwa Rena dan Papa saling mengenal, adalah suatu hal yang mengagetkan bagiku. Ternyata, Papa Adi, bukanlah lelaki baik-baik, tapi dia adalah lelaki yang haus akan nafsu dan gairah. Batin Nisha.
"Mama ingin membalik nama kan semua aset-aset Mama," ucap Bu Ani.
Nisha tak menjawab, ia masih mendengarkan dengan seksama.
"Mama akan membalik nama kan semua surat-surat dan aset Mama, atas nama kamu, Nisha. Karena, Mama akan berpisah dengan Papamu." tegas Bu Ani.
Nisha terbelalak kaget, "Ha? Mama? Mama, serius? Ke-kenapa harus namaku, Ma?" Nisha begitu canggung.
"Dengarkan aku, dan simak penjelasan ku." tegas Bu Ani.
Bu Ani pun mulai menjelaskan semuanya perlahan-lahan. Ia ingin, Nisha bisa memahami kondisinya saat ini. Ia sudah mantap dengan keputusannya. Ia benar-benar akan mengakhiri semuanya.
*Bersambung*
Jangan lupa like ya... ππ€
Malam ini adalah malam yang panjang. Suasana di rumah Bu Ani begitu dingin dan mencekam. Mereka bertiga telah berada si ruang keluarga. Bu Ani ditemani oleh Bik Min dan supirnya. Bu Ani meminta mereka berdua menjadi saksi bisu atas perkataan Pak Adi dan Rena. Bu Ani akan meminta penjelasan mengenai perbuatan hina yang telah mereka lakukan.
Rena yang duduk didepannya hanya bisa menunduk malu. Rena bingung, dan ketakutan. Ia takut kalau Bu Ani bertanya sejak kapan mereka kenal. Karena tak mungkin orang yang baru kenal beberapa jam saja, sudah berada dalam satu kamar dan melakukan hubungan hina tersebut.
"Mas, aku gak akan nanya kamu! Kuharap, kamu diam dan jangan banyak bertanya." tegas Bu Ani.
"Maa, tapi ..." Ada keraguan dari wajah Pak Adi.
"Diam, Pah. Kumohon!" tegas Bu Ani.
Bu Ani kembali fokus menatap Rena yang terlihat gugup dan ketakutan. Ia takut salah menjawab. Rena terlanjur malu dilihat oleh mereka semua. Apalagi, Rena dan Pak Adi belum sempat berbicara lagi, karena Bik Min memanggil Pak Rahmat untuk mengawasi mereka berdua. Pak Rahmat adalah supir Bu Ani.
"Rena ... Kenapa kamu tidur dengan suamiku? Apa kalian telah saling mengenal sebelumnya? Sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya Bu Ani.
Rena kaget. Pertanyaan itu membuatnya bingung. Ia takut jawabannya dan jawaban Om Adi takkan sama. Melihat wajah Bu Rena, semakin terlihat rona kemarahan di wajahnya.
"Ma-maaf, Bu ... maafkan Rena," Rena menunduk lesu.
"JAWAB SAJA! TAK PERLU MINTA MAAF!" bentak Bu Ani.
"Mama, cukup, Ma." Pak Adi terus merayu Bu Ani yang begitu emosi.
"Diam kamu! Sudah aku bilang untuk diam! Kamu tak perlu ikut bicara, apalagi membela wanita murahan ini." Bu Ani memarahi Pak Adi.
"Ma, kumohon," rayu Pak Adi lagi.
"DIAAAMMMM!" Bu Ani benar-benar emosi.
Bu Ani menatap Rena lagi, "Jawab! Sejak kapan kamu mengenal suamiku? Kenapa kamu mau tidur dengannya? Aku yakin, ini bukan karena paksaan! Karena aku pun mendengar ******* kenikmatan darimu! Itu berarti, kamu pun menikmatinya. Kamu dan dia sama-sama bajingan nya! Apa kalian sudah lama saling mengenal?"
Rena mengangguk, ia tak berani menjawab.
"Sejak kapan saling mengenal?" tanya Bu Ani lagi.
"Em-empat bulan yang lalu, Bu." Rena tetap menunduk.
"Wah, surprise sekali. Empat bulan yang lalu! Good, luar biasa sekali, Rena, Adi. Ternyata kalian memang sama-sama liar. Kukira, suamiku adalah suami yang baik dan tulus. Ternyata, aku salah mengenalmu. Kamu tak beda dari seekor buaya yang kehausan mencari mangsanya. Rena, sudah berapa kali kamu tidur dengannya?" selidik Bu Ani.
"Mah ... Cukup! Jangan terus mendesak Rena. Desak Papa saja. Toh, Papa juga sudah meminta maaf bukan?" Pak Adi berkilah.
"Kamu membela wanita mu, begitu? Wanita murahan yang merusak rumah tanggaku. Ah, iya ... pantas saja kamu membelanya, karena dia lebih segalanya dariku. Dia lebih cantik, lebih fresh, lebih menggoda dan tentunya lebih LIAR di ranjang! Pantas saja kamu terus membelanya. Hanya satu kelebihan ku yang tak mampu ia gapai. Yaitu, uangku!" Bu Ani tersenyum sinis.
"Ma, hentikan! Jangan seperti itu. Maafkan Papa. Ini murni kesalahan Papa." Pak Adi terus saja melindungi Rena.
"Rena, sudah berapa kali kamu melakukan hubungan hina itu dengan suamiku? Jawab jujur saja, karena semuanya sudah terlanjur. Aku tak akan marah, silahkan saja kamu katakan," pinta Bu Ani.
"Ma, please ..."
"Jawab saja, Rena! Kalau kau tak ingin aku marah lagi, katakan semua ini dengan jujur. Kalau kamu berani berbohong, aku tak akan segan-sega menjebloskan kalian kedalam penjara. Lebih baik jujur, atau aku akan benar-benar menjebloskan kalian berdua!" ancam Bu Ani.
Rena menghela nafas, ia benar-benar takut, ia hanya menggeleng-geleng kan kepalanya. Ia tak berani menjawab. Karena apa, sudah tak terhitung berapa kali mereka melakukannya. Setiap Pak Adi melakukan dinas keluar kota, Rena selalu ikut. Dan setiap kesempatan itu pula, mereka selalu menikmati malam panjang tersebut.
"Ah, iya. Kamu pasti sering melakukannya dengan suamiku. Aku baru tahu sekarang. Bodohnya aku, yang sudah tertipu oleh kalian berdua. Syukurlah, kini aku pun telah mengetahuinya. Aku tak akan banyak bicara, karena aku sudah mengerti. Nafsu kalian tak tertahan, karena kalian memang sudah sering melakukannya." ucap Bu Ani.
"Ma, dengarkan penjelasan ku." ucap Pak Adi.
__ADS_1
"Apalagi? Aku jadi curiga, kalau ternyata kalian memang sering melakukan hubungan badan, mungkin saja saat ini, wanita murahan itu sedang hamil. Coba kau berkaca dengan keadaan ini. Kau memang gila, Mas!" bentak Bu Ani.
"Sayang barusan aku sudah jelaskan semuanya. Please, jangan marah lagi, istriku." rayu Adi
Bu Ani tak mendengarkan apa kata suaminya. Ia sudah tak peduli dengan mereka berdua. Bu Ani pergi meninggalkan Pak Adi dan Rena. Bu Ani akan menemui Nisha terlebih dahulu, lalu memutuskan semuanya.
"Kita bicarakan besok pagi. Ini sudah terlalu larut. Aku harus istirahat dan mengumpulkan tenaga ku, agar besok aku tenang!" tegas Bu Ani.
"Ma, Mama ... Mama mau kemana, Ma?" Pak Adi kaget karena Bu Ani berlalu meninggalkannya.
Aku tak akan memutuskan apapun terlebih dahulu. Aku akan menemui anakku dan menceritakan semuanya. Aku hanya akan meminta pendapat dari gadisku. Kini, aku hanya punya Nisha. Semoga Nisha mau menerimaku kembali. Batin Bu Ani.
...πΈπΈπΈ...
Pagi ini, Nisha sedang bersiap berangkat ke kampus. Semalam, Nisha menginap di rumah Davian, karena mereka pulang terlalu malam. Kini, Nisha dan keluarga Calandra sedang makan pagi bersama. Seperti biasa, Calandra yang akan mengantar Nisha pergi ke kampusnya.
"Nish, Ayo ..." ajak Andra.
"Ah, iya. Ayo! Bu Arin, Pak Davi, Nisha berangkat dulu ya," ucap Nisha.
"Iya, sayang. Hati-hati dijalan ya." ucap Arini.
"Mom, Dad, Andra berangkat dulu."
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," Arini dan Davian tersenyum.
Nisha dan Andra pun mengambil tas nya dan segera bergegas menuju pintu utama rumah besar itu. Hari ini Nisha pergi ke kampus, karena di kampusnya akan ada bazaar dan pentas sinema. Karena itulah, Calandra ingin mengantar Nisha. Karena Andra juga ingin menonton pensi di kampus Nisha.
Setibanya di halaman rumah, Nisha dan Andra kaget. Karena, ada seorang wanita yang sedang menunggu. Ya, wanita itu adalah Bu Ani. Dia menunggu Nisha diluar rumah itu, karena tak mau mengganggu. Hingga akhirnya Nisha keluar, betapa senangnya hati Bu Ani.
"Nisha ..." Bu Ani tersenyum pada Nisha dengan mata yang sembab.
"Ma-Mama? Sejak kapan Mama disini? Ya ampun, kenapa Mama gak bilang kalau Mama datang kesini?" Nisha kaget.
"Nisha mau kemana? Biar Mama antar. Mobil Mama menunggu diluar." ucap Bu Ani.
Nisha menatap Calandra, "Andra, Mamaku kesini. Sepertinya, aku akan pergi bersamanya. Apa kamu tak keberatan?"
Andra terlihat kecewa, "Ah, i-iya Nish. Engga kok, aku gak keberatan. Ya udah, hati-hati ya,"
"Makasih ya atas pengertiannya." Bu Ani tersenyum pada Calandra.
"Iya, Bu. Tentu saja. Oh iya, Nish ... hati-hati dijalan ya, nanti kabarin aku kalau udah sampe."
"Iya, Andra. Tentu saja. Aku duluan ya," Nisha tersenyum pada Andra.
Nisha pun keluar dari rumah Andra dan berjalan bersama Bu Ani. Nisha bingung, kenapa tiba-tiba Bu Ani menjemputnya. Ternyata, Bu Ani mengajak Nisha menuju taman kota, karena ada suatu hal yang ingin Bu Ani bicarakan. Nisha menyetujuinya, karena hari ini jadwal di kampusnya pun hanya berbagai macam acara dan hiburan saja.
~Taman kota~
Nisha dan Bu Ami duduk berdua di taman yang segar dan asri. Tamannya masih begitu sepi, hanya ada beberapa orang atau komunitas yang sedang berolahraga pagi.
"Yang tadi itu namanya, Calandra ya? Lelaki yang meminta maaf padaku semalam." ucap Bu Ani.
"Iya, Ma. Dia sebenarnya sangat baik sekali pada Nisha." ucap Nisha.
"Dia hangat padamu, sepertinya dia tulus mendekatimu. Mungkin, aku bisa memaafkan kesalahannya yang dulu." Bu Ani tersenyum.
"Makasih, Ma." Nisha membalas dengan senyuman.
"Sepertinya dia menyukaimu, Nish. Mama bisa melihat dari sorot matanya yang menatapmu dengan penuh arti." ucap Bu Ani.
"Ah, Mama ... gak mungkin, Nisha sadar Nisha siapa, dan dia siapa. Anak orang kaya seperti dia, gak mungkin akan menyukai wanita seperti Nisha, Ma." ucap Nisha.
Seketika itu pula, wajah Nisha berubah menjadi kemerahan bak kepiting rebus. Nisha malu dan gugup, karena Ibunya seperti tahu apa yang ada didalam isi hatinya. Sepertinya, Nisha akan merasa nyaman jika akan curhat dan sharing pada ibu angkatnya.
"Ssshhhtt, kamu itu cantik, kamu ramah, kamu kurang apa? Kamu sempurna, sayang." ucap Bu Ani.
"Ah, Mama. Nisha sama Calandra itu jelas beda kasta, Ma." Nisha mengelak.
Nish, kamu dan dia sebentar lagi tak akan berbeda kasta, aku bisa menjaminnya. Aku akan menjadikan kamu, wanita yang setara dengan Calandra. Agar tak ada lelaki yang merendahkan kamu, sayang. Doakan semoga semua rencana ku berhasil. Akan kuberikan semua kekayaanku untukmu, karena kamu adalah anak yang jujur dan begitu tulus. Aku malu, karena telah memarahimu saat itu. Batin Bu Ani.
"Oh iya, Ma. Mama ada apa? Apa yang mau Mama bicarakan sama aku?" tanya Nisha mengagetkan lamunan Bu Ani.
"Ah, emm i-itu, a-anakku. Sepertinya, ada hal penting yang harus kamu ketahui, Nisha ..." ucap Bu Ani.
"Penting gimana, Ma? Ada apa? Katakan saja. Nisha siap mendengarkan." Nisha tersenyum.
Bu Ani menarik nafasnya dalam-dalam. Berharap dirinya tak akan gugup membicarakan hal yang terjadi semalam, "Nisha, asal kau tahu ..."
"Apa, Ma?" Nisha penasaran.
"Mama sedih ... Ayahmu semalam kepergok selingkuh dengan Rena, gadis yang dibawa oleh sekretaris Dika." ucap Nisha menunduk.
"Ha? Apa, Ma? Rena? Sungguh aku tak paham dan tak mengerti, Ma. Tak mungkin. Rena itu mantannya Elang, anak sekretaris Dika!" tegas Nisha.
"Apa? Mantan anak sekretaris Dika?" Bu Ani begitu kaget.
"Iya, Ma. Tak mungkin Papa selingkuh dengannya. Semalam, kulihat Papa dan Rena seperti tak saling kenal." tegas Nisha.
"Tapi mereka dengan teganya melakukan hubungan kotor itu di hadapan Mama, dan Mama melihat semuanya, Nisha ... Mama rasa, itu bukan kali pertama mereka melakukannya, karena mereka sudah saling mengenal sebelumnya." jelas Bu Ani.
"Astaga, Nisha sungguh tak menyangka. Mama, bagaimana hati dan perasaanmu? Pasti sangat hancur ... maafkan aku yang tak ada di sampingmu saat Mama sedih seperti ini." Nisha memeluk Bu Ani.
"Tak apa, sayang. Mama hanya butuh kamu sebagai pendengar setia Mama. Akan Mama jelaskan semuanya, semoga kamu mau mendengar." ucap Bu Ani.
"Nisha siap mendengarkan, Mama." Nisha tersenyum memeluk Bu Ani.
Mama, tahukah engkau? Kalau dulu, sebenarnya aku juga diancam oleh Papa agar aku mau melayaninya. Jika aku menyetujui perbuatan itu, mungkin saja Mama akan memarahi Aku dan kecewa berat padaku. Aku tak kuat hidup dengan Papa, karena itulah aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kalian semua. Aku ingin hidup dengan baik, bukan seperti itu. Kenyataan bahwa Rena dan Papa saling mengenal, adalah suatu hal yang mengagetkan bagiku. Ternyata, Papa Adi, bukanlah lelaki baik-baik, tapi dia adalah lelaki yang haus akan nafsu dan gairah. Batin Nisha.
"Mama ingin membalik nama kan semua aset-aset Mama," ucap Bu Ani.
Nisha tak menjawab, ia masih mendengarkan dengan seksama.
"Mama akan membalik nama kan semua surat-surat dan aset Mama, atas nama kamu, Nisha. Karena, Mama akan berpisah dengan Papamu." tegas Bu Ani.
Nisha terbelalak kaget, "Ha? Mama? Mama, serius? Ke-kenapa harus namaku, Ma?" Nisha begitu canggung.
"Dengarkan aku, dan simak penjelasan ku." tegas Bu Ani.
Bu Ani pun mulai menjelaskan semuanya perlahan-lahan. Ia ingin, Nisha bisa memahami kondisinya saat ini. Ia sudah mantap dengan keputusannya. Ia benar-benar akan mengakhiri semuanya.
*Bersambung*
__ADS_1