Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Camping.


__ADS_3

Malam ini, semua asisten Arini sibuk sedang mempersiapkan acara ngidam yang Arini inginkan. Arini terlihat bahagia, semua orang-orang tersayangnya bisa berkumpul bersama. Mulai dari Sherly dan Sheldy, Tira dan Keyza, Mita, Alif dan Nadya, mereka semua berkumpul bersama malam ini.


Arini terswnyum bahagia. Mereka terlihat sedang menyiapkan beberapa menu untuk barbeque. Arini sengaja, mengundang mereka semua, karena entah mengapa suasana hatinya kini sedang baik dan bahagia. Baby-nya membuat perubahan yang nyata untuk diri Arini.


"Kamu senang, sayang?" tanya Davian.


Arini tersenyum, "Senang sekali, Mas. Terima kasih, telah mengabulkan permintaanku."


"Tapi, aku tak akan mengabulkan permintaan mu yang satunya lagi." ucap Davian.


"Permintaan yang mana?" tanya Arini.


"Walaupun ini camping, kamu tak boleh tidur di tenda. Kamu harus tetap tidur di kamar, sampai batas waktu yang aku tentukan!" perintah Davian.


"Loh, kok kamu gitu sih?" Arini cemberut.


"Sayang, diluar itu dingin. Aku gak mungkin biarin kamu tidur di tenda. Kan dingin, terus nanti kalo nyamuk nyium kamu, aku gak bisa hukum dia! Karena aku gak bisa menang melawan nyamuk! Pokoknya, aku gak mau ya kalau kamu tidur di tenda!" tegas Davian.


"Mas, nyamuk juga bisa kamu tepuk kan biar mati. Atau enggak, pakai obat nyamuk dulu sebelum kita tidur. Kan yang aku inginkan itu tidur di tenda, Mas. Gimana sih kamu, malah melarang hal yang aku bener-bener inginkan!" Arini cemberut.


"Sayang, ini demi kamu dan bayi kita. Aku gak mau, kamu kenapa-napa. Aku sayang sama kamu. Kita masih bisa have fun sampai malam sama yang lain, cuma untuk tidur lebih baik di kamar aja ya, kasihan Baby." Davian merayu.


Arini mengelus perutnya, "Baby, Daddy-mu jahat! Daddy-mu gak ngertiin perasaan kita. Baby, mommy jadi gak semangat melanjutkan camping ini. Ayolah, kita tidur saja sekarang. Untuk apa disini juga, Daddy-mu menyebalkan." Arini beranjak dari duduknya, ia segera pergi.


Dengan sigap, Davian menahan tangan Arini. Davian segera membalikkan tubuh Arini dengan lembut. Lalu Davian memeluk Arini. Mengusap-usap rambutnya dengan lembut. Kadang, ada sifat wanita yang membuat kita tak mengerti. Menyayangi dan bermaksud menjaga, malah disalah artikan seperti yang Davian rasakan saat ini.


"Apaan sih! Lepasin gak! Aku mau tidur aja di kamar, sesuai perintah kamu!" Arini terlihat kesal.


"Iya, iya. Maafkan aku, Arini-ku. Aku tak bermaksud membuat kamu marah. Aku hanya khawatir padamu. Baiklah, kita tidur di tenda. Aku akan menjagamu dengan baik. Aku pastikan kamu nyaman tidur di tenda. Maafkan aku ya sayang, maafkan Daddy juga baby, mungkin ini memang keinginanmu." Davian mengelus perut Arini.


"Bener nih? Kepaksa gak? Kalau kepaksa, lebih baik aku benar-benar tidur saja!" tegas Arini.


"Enggak dong sayang, aku tulus kok. Aku akan suruh Dika membuat tenda kita sangat nyaman, agar kamu dan bayi kita bisa tidur nyenyak." Davian tersenyum bahagia.


"Yeay, baby! Akhirnya, Daddy-mu luluh juga kalau Mommy sudah mengeluarkan jurus!" Arini terkekeh.


"Memangnya, kamu punya jurus apa sih sayang?" Davian heran.


"Jurus ngambek seribu bayangan!" Arini tertawa.

__ADS_1


"Dasar kamu ya, kamu memang paling bisa buat aku luluh!" Davian mencubit pelan pipi manis Arini.


"Awww, sakit Mas. Udah ah, aku mau bantuin Nadya." Arini berjalan meninggalkan Davian.


"Hati-hati, istriku. Nanti aku nyusul kamu," Davian tersenyum.


Davian berjalan di taman dekat rumahnya. Melihat adik beserta keluarga Arini yang larut dalam kebahagiaan. Tiba-tiba, Rangga datang mengagetkan lamunan Davian.


"Dav!" Rangga berlari.


"Kemana aja lu? Anak sama bini lu udah disini dari tadi." tegas Davian.


"Bini apaan, sembarangan aja lu kalo ngomong." elak Rangga.


"Aminin dong, Ga. Lu gimana sih," balas Davian.


"Udahlah, pesimis gue jadinya. Dia terlalu cuek dan keras kepala." ucap Rangga.


"Sialan, malah curhat sama gue." Davian sinis.


"Lu jadi ponakan gak ada akhlak banget sih, Dav." Rangga geleng-geleng kepala.


Rangga menghela nafas, "Lu pasti udah tahu dari bokap lu. Apa menurut lu, gue salah?"


"Lu salah. Lu jangan maksa orang menerima permintaan lu. Karena isi kepala tiap orang itu gak sama. Lu gak bisa nyamain isi kepala Arini sama Tira. Itu jelas tak mungkin sama. Gue kebetulan beruntung, namun elu harus berusaha lebih ekstra lagi." ucap Davian.


"Gue salah ya?"


"Salah besar. Lu harus sadar, cinta itu gak mudah, Ga! Lu harus bisa meraih hati wanita itu sampai dia merasa nyaman sama lu. Lu jangan lihat gue, takdir gue sama Arini memang harus seperti itu. Namun berbeda dengan Tira, dia gak mau cinta yang instan. Lu kenapa sih Ga, udah tua juga pikiran lu masih dangkal aja?" Davian menceramahi Rangga.


"Terus gue harus gimana?"


"Serius dong. Buktikan, lu gak main-main. Sikap lu itu kayak seenaknya memerintah orang tahu enggak. Lu jangan merendahkan wanita. Mereka gak semudah lu kira. Pakai hati, Ga! Bukan pakai ambisi. Coba deh, lu jadi laki tuh yang tulus, jangan keblinger. Sampe bawa-bawa istrinya si Arkan segala. Kan parah banget idup lu, Ga!" Davian ceramah lagi.


"Gue harus ngomong apa sama Tira?" Rangga menggaruk-garuk kepalanya.


"Ngomong aja yang tulus. Dari hati, dari perasaan lo. Jangan terburu-buru. Dia gak mau yang instan. Se instan-instannya mie rebus, tetap lu harus masak dulu kan pake air? Begitupun cintanya. Gak semudah itu elu minta dia lalu dia nerima saat itu juga. Ingat, jangan samakan sama gue dan Arini. Gue pengecualian, karena pada awalnya gue cuma sandiwara." jelas Davian.


"Baiklah, ponakan gue emang jago kalo urusan hati. Bucin lu udah level berapa sih Dav?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Tau lu ah, pergi sono, gue mau beresin tenda buat istri gue." Davian pergi meninggalkan Rangga.


Lu bukan cuma pinter ngurusin perusahaan. Tapi lu juga pinter mengelola hati dan perasaan. Pantes aja lu bisa memikat hati Arini dengan mudah. Lu pantes dapetin Arini, Dav. Kini gue sadar, banyak hal yang gue gak punya dari diri gue. Umur boleh lebih muda dari gue, tapi lu punya banyak kelebihan yang gue gak bisa nandingin elu sama sekali. Batin Rangga.


Rangga mendekati Tira yang sedang asyik menata makanan di meja. Keyza sedang bermain bersama Alif dan Mita. Perlahan, Rangga melangkahkan kakinya mendekati Tira. Sekretaris Dika melihat adegan tersebut, terlihat pancaran kekesalan pada dirinya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, selain mengumpat didalam hatinya.


"Ra, selamat malam." sapa Rangga.


"Eh, Tuan. Sudah datang rupanya." Tira terlihat datar.


Ra, bisa ikut aku sebentar?" pinta Rangga.


"Kemana? Ngapain?" tanya Tira.


"Ada yang harus aku bicarakan sama kamu, tapi gak disini. Kita ke depan sebentar."


"Baiklah." Tira pasrah.


Rangga dan Tira jalan bersama menuju halaman depan. Karena Rangga tak mau orang lain tahu bahwa mereka sedang berbicara. rangga berhenti di taman halaman depan rumah Davian. Ia mengajak Tira duduk di bangku taman tersebut.


"Ra, maafkan aku." ucap Rangga.


"Maaf untuk apa?"


"Aku memaksamu, dan tak memikirkan perasaanmu." ucap Rangga.


"Lupakan saja, Tuan. Anggap saja tak ada yang terjadi." tegas Tira.


"Bagaimana aku bisa melupakannya, Tira? Aku merasa bersalah padamu. Aku berjanji, aku tak akan memaksamu, aku akan berusaha semampuku, agar kamu melihatku. Aku akan mencoba meluluhkan hatimu, kuharap, kamu bisa mempertimbangkan aku." tegas Rangga.


"Tuan, jangan menyiksa diri. Aku tak akan menerima Tuan, aku tak pantas mendampingi dirimu, aku tak berhak menjadi wanita mu. Aku akan tetap profesional pada pekerjaan ini, aku hanya berharap, Tuan bisa bahagia bersama Keyza dan juga Ibunya." tegas Tira.


"Tira, please. Jangan memaksaku untuk bersama Melisa. Keluargaku tak menyetujuinya. Keluargaku mengerti keadaanku. Mereka memberikan aku waktu untuk bisa melunakkan hatimu. Mereka tahu tentang dirimu. Kuharap, kamu membuka hatimu untuk aku..." ucap Rangga.


"Aku tak akan bisa bahagia, jika aku merenggut kebahagiaan yang tak sepantasnya aku dapatkan. Aku hanya bekerja disini, kumohon, jangan ganggu aku dengan perasaan aneh mu itu, Tuan. Aku mengerti posisiku, aku tahu diri, aku ingin hidup tenang, bersikap biasalah padaku, jangan campuri urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Aku ingin tenang bekerja bersamamu," tegas Tira.


Baiklah, gunakan hati, pakai perasaan. Dengan hati, jangan gegabah, dan jangan seperti kemarin. Aku harus bisa mengontrol diriku. Ada waktu dua bulan untuk bisa mendapatkan hatinya. Aku tahu, dia ragu karena aku mengurus Keyza, sedangkan Melisa pun masih ada di sekitarku. Aku tahu, banyak pertimbangan pada dirimu, yang membuat kamu ragu padaku. Aku tak akan diam, Tira. Aku akan belajar pada guru bucin-ku, sang keponakanku yang pintar merayu, Davian Raharsya. Davian, kini aku harus meminta wangsit padamu, agar aku bisa mendapatkan hati Tira. Semoga saja, raja gombal itu mau mengajari aku caranya menaklukan hati wanita.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2