Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
SAH


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Davian dan Arini. Pernikahan private mereka akan digelar hari ini.


Pernikahan ini tak boleh ada yang tahu, hanya keluarga dan kerabat saja. Davian tak ingin Arini diketahui publik. Kakeknya setuju, kalau sampai ada yang membocorkan sedikitpun pernikahan Davian, sanksi warisan yang akan mereka hadapi.


Keluarga besar Davian sudah hadir semua, keluarga Arini pun telah hadir dijemput oleh sekretaris Dika.


Arini belum boleh diperkenankan keluar kamar sebelum akad pernikahan akan dimulai. Arini benar-benar gugup. Walau bagaimanapun pernikahan ini adalah pernikahan yang sakral, walau tak ada cinta diantara mereka.


Semuanya sudah duduk rapi di kursi yang telah disediakan. Terlihat Arkan dan istrinya memasang wajah tak suka, begitu pun dengan Tante Meisya, yang sangat tak suka melihat pernikahan Davian.


"Lihat saja, Davian! Aku tak akan membiarkan pernikahan ini bertahan lama. Aku tahu, ini hanya sandiwara. Akan ku buat hancur hidupmu sebentar lagi." Arkan menatap kesal pada Davian


Arkan berbisik pada istrinya, yang bernama Meliza.


"Mel sayang?"


"Ya, Pap?" jawab Meliza


"Kau siap dengan rencana kita?"


"Tentu saja, sayang. Kita buat mereka hancur!"


Arkan tersenyum sinis melihat Davian. Entah apa yang akan Arkan lakukan. Arkan sangat menaruh dendam pada Davian. Karena pernikahan ini, Arkan jadi tak bisa mengambil alih perusahaan. Satu-satunya cara hanya membuat Davian hancur.


Rangga? Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Davian lebih cepat selangkah dari dirinya. Rangga terlalu lambat mendapatkan Arini. Rangga membiarkan pernikahan ini terjadi, karena Rangga yakin, Arini terpaksa melakukan pernikahan ini.


Akad nikah pun dimulai, Davian dengan sigapnya mengucapkan ikrar akad pernikahan kepada wali hakim yang dipilih oleh penghulu, karena Ayah Arini telah meninggal dunia.


Akad telah selesai dilaksanakan. Kini, Arini dan Davian telah SAH menjadi suami istri. Semua mengucap syukur alhamdulillah atas pernikahan Arini dan Davian.


Semua keluarga besar, baik keluarga Davian, maupun keluarga Arini, sedang menikmati jamuan makanan yang telah disediakan. Hanya Davian dan Arini yang belum mau makan bersama keluarga besar mereka.


Arini dan Davian sedang duduk bersama di kursi yang telah disediakan. Tak ada pelaminan, hanya kursi khusus untuk pengantin.


"Kamu gugup?" tanya Davian


"Ng-Nggak kok, aku hanya belum terbiasa dengan keramaian ini." jawab Arini


"Kita sudah SAH menjadi suami istri." ucap Davian tiba-tiba


"I-iya, sudah." Arini malu-malu


"Apa kamu bahagia?" tanya Davian


"Eh, iya. Tentu saya bahagia, Tuan." Arini bingung harus menjawab apa


"Kamu tak bahagia, aku bisa lihat dari raut wajahmu." ucap Davian


"Tidak seperti itu, Tuan." Arini takut Davian marah.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti pernikahan kita!" ucap Davian


Davian mengajak Arini untuk makan bersama. Arini menyetujuinya, karena Arini pun memang belum mengisi perutnya.


Dihadapan seluruh keluarganya, Davian terlihat sangat manis terhadap Arini. Davian tak mau keluarganya menganggap pernikahan ini hanya main-main, walaupun sebenarnya memang tak ada cinta diantara mereka.


Beberapa kali, Davian merangkul Arini. Membuat Rangga dan Arkan tak suka melihatnya. Namun, Davian merasa hangat dalam tubuhnya. Davian sangat nyaman memeluk Arini.


"Memelukmu membuat tubuhku semakin hangat." ucap Davian

__ADS_1


"Eh, i-iya. Terima kasih, Tuan." ucap Arini malu


"Arini, istriku.. Kamu sudah menjadi istriku! Istriku yang cantik." bisik Davian ditelinga Arini


Acara pun telah selesai. Semua keluarga Arini telah kembali pulang ke rumahnya. Arini bingung harus berbuat apa. Kini, Arini telah SAH menjadi istri Tuan Davian Raharsya.


Arini sudah berada di rumah Davian. Beberapa pakaian Arini yang berada dikamar bawah, dipindahkan ke kamar Davian.


Sejujurnya, Arini sangat malu dan tak mau kalau harus satu kamar dengan Davian. Arini tak memikirkan, kalau menikah harus satu kamar. Tak mungkin kalau tidak satu kamar.


"Kenapa? Kamu merasa tak nyaman? Iya?" tanya Davian


"Ti-tidak, Tuan. Saya hanya belum terbiasa saja." ucap Arini


"Tenang saja, aku tak akan melakukan hal itu. Kamu tak perlu takut, Arini." ucap Davian


"I-iya, Tuan." Arini bingung harus menjawab apa


Davian mendekati Arini yang sedang duduk di ranjang.


"Tadi, kamu sangat cantik, Arini. Apa kamu tahu? Dirimu seperti cinderella yang datang untuk pangerannya."


"Eh, Tuan. Aku tidak secantik itu." wajah Arini memerah


"Kamu memang cantik. Sayangnya, ragamu memang untukku, tapi hatimu untuk orang lain. Iyakan?" tanya Davian


"Ti-tidak, Tuan. Apa maksud Tuan?"


"Tidak apa-apa. Sudah, istirahat saja. Kamu pasti kelelahan." ucap Davian


Arini bingung. Ia tak tahu harus tidur dimana. Sofa bed yang biasa ada didekat televisi, kini sudah tak ada. Hanya ada karpet daja dibawahnya. Arini bingung.


"Di ranjang ini, dimana lagi?" jawab Davian


"Lalu, Tuan tidur dimana?" tanya Arini


"Di ranjang ini juga lah!" jawab Davian


"HAH?" Arini kaget tak percaya


"Kenapa? Lu gak suka?"


Davian mulai menggunakan kata gue-elu lagi. Pertanda, Davian sedang kesal.


"Nggak, Tuan. Aku tak enak kalau tidur satu ranjang sama Tuan." Arini gugup


"Hanya tidur satu ranjang. Gue juga gak akan ngapa-ngapain elu kok!" ucap Davian ketus


"Tapi, rasanya aku gak siap, Tuan." Arini menolak halus


"Lu gak mau tidur satu ranjang sama gue? Ya sudah, gue tidur di matras bawah. Lu tetap tidur di ranjang itu."


Davian berlalu, ia pergi ke kamar mandi. Davian membanting pintu kamar mandi dengan keras. Arini merasa bersalah pada Davian. Bagaimana pun, Davian saat ini adalah suaminya.


Arini jadi teringat ucapan Ibunya. Bahwa derajat laki-laki lebih tinggi dibanding istri. Arini harus patuh terhadap Davian. Tapi? Arini rasanya amat keberatan dengan perkataan itu.


Aduh, bagaimana ini? Kenapa Tuan marah? Padahal, gak ada yang salah dengan perkataan ku. Kalau pun aku harus tidur dengannya, aku tak akan bisa tidur semalaman! Batin Arini dalam hati.


Tak lama, Davian keluar dari kamar mandi dengan muka ditekuk. Davian masih kesal terhadap Arini. Arini merasa bersalah, melihat wajah Davian yang tak indah dipandang.

__ADS_1


Arini bingung harus bagaimana. Arini tak menyangka, Davian akan marah padanya hanya karena ranjang tidur saja. Kenapa Davian jadi sensitif begini?


"Tuan..." panggil Arini


"Ini bajunya." Arini memberikan baju tidur pada Davian


"Ya." jawab Davian dingin


"Maafkan saya, Tuan. Saya mau tidur satu ranjang dengan Tuan." jawab Arini


"Nggak perlu. Gue gak akan maksa lo buat tidur satu ranjang. Besok, gue akan pesan ranjang satu lagi buat lo. Biar kita bisa tidur terpisah." ucap Davian ketus


Arini tambah merasa bersalah mendengar ucapan Davian. Apakah Arini harus menurunkan sedikit gengsinya pada Davian? Arini mendekati Davian, Arini tahu, Davian kesal karena Arini tak mau tidur di ranjang bersamanya.


"Tuan?" Arini mendekati Davian


"Maafkan saya." ucap Arini


"Ya."


"Tuan, jangan dingin seperti ini." ucap Arini


"Disini panas, nggak dingin."


"Sifat mu yang dingin padaku! Bukan keadaan ruangan ini."


"OH!" jawab Davian datar


Ya Tuhan, ini mahluk satu. Harus gimana gue bujuknya? Kenapa susah amat kayak anak kecil sih? Tuan Davian! Dirimu benar-benar membuatku kesal. Batin Arini dalam hati.


Arini memegang tangan Davian. Davian cukup tinggi untuk ukuran wanita seperti Arini. Davian kaget Arini memegang tangannya.


"Ada apa?" tanya Davian


"Aku mau minta maaf!" jawab Arini


"Bukankah sudah berkali-kali lu minta maaf sama gue?" ucap Davian


"Kali ini aku akan meminta maaf dengan cara yang berbeda! Tuan, maafkan saya."


Arini berjinjit, ia memegang pipi Davian. Tak menyangka, Arini memberikan kecupan di bibir Davian. Arini terus mencium Davian, Arini hanya asal mencium. Davian tak siap menerima ciuman Arini. Davian melotot tajam. Lalu, menghempaskan Arini begitu saja.


"Ciuman macam apa ini? Kenapa terpaksa sekali?" tanya Davian


"Maaf! Aku tak bisa ciuman." Arini menggigit bibirnya


"Karena kau yang memancing, akan ku ajari kau bagaimana cara mencium dengan benar!"


Davian memegang pundak Arini, lalu perlahan Arini mundur karena tak siap, Arini menempel di dinding kamar Davian. Davian mulai menciumnya dengan perasaan hangat.


"Maafkan aku, kamu yang memancingku! Ini bukan salahku!" ucap Davian melepaskan ciumannya, lalu bermain lagi dengan bibir Arini


"Mmh, Tuan. Hentikan!" Arini kesulitan bernafas


*Bersambung*


Hai semuanya.. Jangan lupa LIKE setelah membaca, dan juga komentari isi cerita ini, biar aku tambah semangat membaca 💋😙


Yang berkenan memberi vote/poin, aku ucapkan terima kasih🤗

__ADS_1


__ADS_2