Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Rasakan, Meliza.


__ADS_3

1 Minggu kemudian.


Arini masih setia menunggu Davian. Tak ada perubahan, Davian masih memejamkan matanya, ia masih belum sadar dari komanya. Arini tetap berharap, akan ada keajaiban pada diri Davian, agar Davian segera sembuh dan sadar dari sakitnya.


Arini mulai terbiasa tegar tanpa Davian. Arini mulai sabar, menjalani takdir hidup yang memilukan. Arini tahu, ia masih harus menunggu sampai saatnya kan tiba. Arini yakin, keajaiban akan terjadi pada Davian suatu hari nanti.


Mas, aku masih disini. Aku masih setia menunggumu. Aku tetap berharap dan berdoa, untuk kesembuhan dirimu. Aku tak akan putus harapan. Aku akan terus berusaha, untuk membuatmu sadar kembali. Aku sangat merindukanmu, Mas.


Aku merindukan canda dan tawamu. Aku juga merindukan gombalan mu. Setiap hari, hari-hari yang aku lewati bersamamu, akan terus ku kenang dalam hidupku. Semuanya sangat indah, Mas. Apa kamu tak merindukan aku? Aku mohon, ingatlah aku. Bangunlah dari tidur panjang mu. Aku akan tetap menantimu, dan tetap menunggu sampai hari itu tiba.


Arini selalu menangisi Davian setiap hari. Tak bisa ia pungkiri, hatinya sangat sakit, ketika mengetahui bahwa sang suami terkapar lemah seperti ini. Setiap pagi, siang dan malam, Arini tetap di samping Davian. Sesekali berganti menjaga Davian, dengan sekretaris Dika maupun asisten Tira.


Takdir yang menggariskan, bahwa Davian harus mengalami kejadian seperti ini, dan Arini yang harus tabah menerima bahwa Davian harus terkapar lemah tanpa kesadaran. Entah sampai kapan hal ini akan terus terjadi, entah sampai kapan, Arini akan terus menangisi Davian setiap harinya.


Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu dari luar. Asisten Tira dengan sigap membukakan pintunya, karena sekretaris Dika sedang ada keperluan.


"Non, ada tamu."


Tira tidak mengetahui siapa tamu yang datang. Arini hanya membiarkannya, karena Arini benar-benar tak fokus pada siapapun.


"Arini, maafkan kami."


Tante Meisya dan Meliza datang. Membuat mata Arini terbelalak kaget. Untuk apa mereka datang kesini? Kenapa baru sekarang mereka kesini? Arini tak yakin, mereka benar-benar tulus datang kesini. Arini tahu, pasti ada sesuatu.


"Arini, gue malu ketemu sama lo. Maafkan kita, karena perlakuan suami gue, Davian jadi harus koma seperti ini. Arkan benar-benar khilaf, Arini. Sungguh." Meliza terus membela Arkan.


"Tante juga ingin meminta maaf, maaf baru menjenguk Davian sekarang.Tante takut, kamu masih marah pada Tante dan juga Arkan. Kamu harus percaya, Arini.. Bahwa Arkan tak sengaja melakukan hal itu pada Davian. Tante mohon, maafkan Arkan juga." ucap Tante Meisya.


Tira yang mulai mengerti bahwa kedua orang ini adalah orang terdekatnya Arkan, langsung akan mengusir mereka.

__ADS_1


"Nona, apa perlu saya usir kedua orang ini?" tanya Tira.


"Tidak usah, tetap awasi saja mereka berdua, jika mereka akan menyakitiku." jawab Arini.


"Baik, Nona."


"Apa maksudmu, Arini? Kenapa kamu berkata begitu? Aku tak akan menyakitimu, aku kesini untuk meminta maaf." bela Tante Meisya.


Arini memaksakan bibirnya untuk tersenyum, "Oh, aku tahu, Tante kesini untuk meminta belas kasihan dariku, iya? Tante takut, akan ditendang habis-habisan oleh Kakek Surya, karena perbuatan kalian, iya? Tante, Dan Meliza yang terhormat, dengarkan aku, Aku tahu, kalian tak ikut campur masalah Arkan. Tapi, kalian menyetujuinya kan, jika suamiku hancur, iya? Jangan mengira aku hanya pembantu yang bodoh, jadi kalian bisa membodohi ku seperti ini, aku sudah tahu, semua kebusukan kalian!" Jelas Arini.


"Apa maksudmu, Arini? Kamu jangan berprasangka yang tidak-tidak, kami datang kemari benar-benar untuk meminta maaf yang tulus, padamu." ucap Meliza.


Arini mengangkat kedua alisnya, "Oh, ya? Kenapa tak dari awal saja kalian muncul? Kenapa kalian baru muncul ketika Kakek telah memberitahu bahwa Arkan dan Tante akan dicoret dari nama pewaris Raharsya Group? Kalian takut akan hal ini. Iya kan? Jujurlah, aku tahu, wanita ular seperti kalian berdua, yang dipikirkan hanyalah uang dan uang. Jangan anggap aku bodoh, karena aku terlalu pintar untuk kalian bodohi." Arini puas


"ARINI! Apa maksudmu? Jangan berucap sembarangan! Kenapa kamu jadi besar kepala seperti ini HAH?" Meliza kesal.


"Mel, tahan." pinta Tante Meisya.


"ARINI! SIALAN!" Meliza benar-benar marah


"Arini, jangan berprasangka buruk lagi. Aku mohon, maafkan kita. Meliza tak suka kamu tuduh seperti ini, maafkan kesalahan Tante dan Arkan. Tante akan menyayangi Davian seperti ana Tante sendiri. Aku mohon, maafkan kami, kami benar-benar bersalah." Tante Meisya tetap memohon


Tiba-tiba, kehadiran sekretaris Dika mengagetkan semuanya.


"Jangan Nona Arini. Jangan maafkan mereka!" ucap sekretaris Dika dengan keras.


"Sekretaris Dika?" Arini kaget.


"Kumohon, sekretaris sepertimu tak perlu ikut campur urusan keluargaku. Aku ingin kamu diam saja, karena ini bukan urusanmu." jelas Tante Meisya.

__ADS_1


"Keluarga? Sejak kapan kalian menganggap aku keluarga kalian? Ketika sudah seperti ini, kalian baru memohon-mohon padaku, apa kalian benar-benar tak tahu malu?" Arini berdecak kesal.


"Arini, tutup mulutmu! Sopan lah kepada Ibuku!" Meliza kesal.


"Kurasa, Nona Meliza yang sekarang harus menutup mulut. Aku yakin, Nona tak akan bisa berkata-kata setelah aku memberi tahu kebenaran dari semua ini." ucap sekretaris Dika.


"Apa maksudmu sekretaris sialan?" Meliza benar-benar marah, harga dirinya serasa diinjak-injak.


"Lebih baik kamu tahu keadaan yang sesungguhnya, Nona. Apa Nona mengira bahwa Tuan Arkan adalah suami yang baik? Nona tidak tahu kan, apa yang dia lakukan ketika dia sedang tak bersama Nona?" sekretaris Dika tersenyum ketus


"Jangan mengada-ads dan bertele-tele! Apa maksudmu? Kenapa kamu membuatku marah?" Meliza kesal


"Perlu Nona tahu, Tuan Arkan sering melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain. Ia telah meniduri wanita yang telah ia sandera. Apa Nona tak tahu? Apa mungkin Nona tahu? Apa Nona kaget?" sekretaris Dika terus melayangkan ucapannya, hingga membuat Meliza kesal.


"Apa maksudmu, ********?"


"Tanyakan saja pada Tuan Arkan, dia pasti tahu dimana dan kapan ia meniduri wanita itu." sekretaris Dika tersenyum picik.


"Kamu pasti tak punya bukti. Kamu hanya mengada-ada saja kan? Aku tak akan goyah dengan semua ucapan tak masuk akal mu itu!" ancam Meliza.


"Tasya, masuklah. Berikanlah bukti pada wanita ini tentang perlakuan suaminya padamu!" sekretaris Dika tiba-tiba memanggil nama 'Tasya'.


Wajah Meliza seketika berubah menjadi pucat pasih. Apa maksudnya semua ini?


*Bersambung*


Sore...


Jangan lupa like vote dan komentarnya ya..

__ADS_1


banyak sekali silent readers di cerita ini hihi


moga kalian berkenan memberi like dan komentar, walaupun hanya "next" juga membuat aku tambah semangat.🥰😍


__ADS_2