Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Rencana gagal


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Rangga.


"Memang ini penyakit bawaan, bisa sembuh dengan cepat juga bisa kambuh lagi, tanpa disadari. Jangan biarkan pasien mengalami stres ataupun pekerjaan berat. Obat yang saya resep kan kemarin masih ada kan?" tanya Sang Dokter.


"Ada, Dok. Terima kasih atas semuanya." ucap Rangga.


"Baik, kalau begitu saya permisi. Selamat sore." Dokter pun berlalu.


Rangga menatap Melisa dengan rasa kasihan. Kini, Melisa berada di kamarnya. Melisa sudah sadar, karena obat yang diberikan Dokter pribadinya benar-benar ampuh. Rangga duduk di ranjang Melisa. Rangga merasa bersalah, karena telah menarik Melisa masuk kedalam masalah pribadinya.


"Maaf," Rangga menunduk.


"Aku ingin pulang, aku tak mau disini. Antar aku pulang, atau aku bisa sendiri." tegas Melisa.


"Baik, aku akan mengantarmu pulang. Namun, tunggulah sebentar, aku harus bertemu Ayahku dahulu. Makanlah ini, aku segera kembali." Rangga beranjak, dan ia berjalan keluar.


Melisa terdiam. Ia hancur, hatinya sakit dikata-katai oleh Ayah Rangga, yaitu Kakek Surya. Ingin rasanya ia berteriak dan menghancurkan segalanya, namun ia sadar, dirinya lemah tak berdaya. Ia hanya bisa menangis meratapi kesedihan hatinya saat ini. Harusnya, Rangga tak perlu menarik Melisa kedalam keluarga ini lagi. Jelas-jelas, tak akan ada yang menerima Melisa kembali.


Rangga menemui Ayah dan Kakaknya di ruang tamu lagi. Rangga sudah siap dengan cercaan dan makian yang akan dilontarkan oleh Ayah dan Kakaknya. Rangga segera duduk didepan Ayahnya. Ia menunduk. Ia siap dengan segala konsekuensinya.


"Apa mau mu?" tanya Kakek Surya.


"Aku belum siap menikah!" jawab Rangga jujur.


"Kamu sudah sepantasnya menikah, Ga! Kamu sudah dewasa, kenapa pikiranmu tak dewasa juga? Ada apa denganmu? Kenapa kamu malah membawa kotoran menuju rumah ini?" Papa Davian, memang selalu menyakitkan kalau berbicara.


"Kak! Hentikan ucapan mu! Kau pikir, ucapan mu itu tak kotor apa? Melisa bukan wanita jahat. Ia hanya terbawa oleh sifat Arkan! Dia tak salah, dia hanya korban!" bela Rangga.


"Hentikan, Tri Rangga! Kamu benar-benar membuat aku marah! Dengarkan aku, untuk apa kamu menikahi wanita itu? Apa memang kamu mencintainya? Katakan padaku, apa mau mu sebenarnya? Kurasa, kamu tak mencintai dia!" tegas Kakek Surya.


"Aku memang tak mencintai dia! Aku hanya ingin Keyza bahagia hidup bersama Ibunya. Jadi, aku memutuskan untuk menikahinya!" tegas Rangga.


"Kenapa kamu harus bersusah payah seperti itu? Tinggal berikan saja Keyza pada Ibunya. Selesai kan?" ucap Papa Davian.


"Kakak, tidak semudah itu! Aku sudah menyayangi Keyza, aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Ingatkah kamu, saat Davian menyakiti hati Keyza, aku ikut sakit hati karena Davian menyakitinya!" Rangga membela Keyza.


"Kamu terlalu mengurusi hidup orang lain, sementara kau tak pernah mempedulikan hidupmu sendiri. Buka matamu Tri Rangga!" bentak Kakek Surya.


"Keyza adalah buyut mu, Ayah! Dia bukan orang lain!" Rangga membentak.


"Kamu banyak sekali bicara Rangga. Hentikan omong kosong mu. Aku tahu permasalahan mu. Saran ku, jangan bawa lagi sampah itu masuk kedalam rumah besar keluarga kita. Kita ini orang terpandang. Bagaimana kalau orang-orang tahu, anak ketiga keturunan Raharsya memungut kembali sampah yang telah mereka buang? Ingat, kamu akan jadi buah bibir orang-orang. Dan itu tentu saja akan mempengaruhi saham perusahaan kita." tegas Papa Davian.

__ADS_1


"Makanya, jangan paksa aku menikah sekarang! Aku belum siap. Aku memilih Melisa karena aku tak ada pilihan lain. Aku tak mau dijodohkan dengan orang yang tak kukenal, karena aku tak mau menyakitinya. Kumohon, kalian mengertilah. Aku pasti menikah, tapi nanti. Tidak sekarang," Rangga memohon.


"Kamu memang keras kepala. Ayah, beri saja dia kelonggaran. Dengarkan aku, Ga! Aku beri waktu sampai cucu pertamaku lahir. Kalau kamu masih juga tidak siap menikah, aku akan memaksa Ayah menjodohkan mu dengan wanita pilihannya. Siap tak siap, kamu harus siap. Namun ingat, jangan bawa sampah itu lagi. Dan juga, jangan selalu sok-sok merasa jadi malaikat, Ga! Jika anak itu ingin dengan Ibunya, kembalikan anak itu pada Ibunya. Ketika menikah nanti, kamu juga akan mempunyai anak dari istri SAH mu. Camkan perkataan ku." tegas Papa Davian.


"Dirga, cucumu lahir dua bulan lagi. Apa itu tidak terlalu lama baginya? Aku tak mau menunggu lama! Usiaku sudah tua, aku ingin dia segera menikah!" protes Kakek Surya.


"Tenang saja, Ayah. Dua bulan waktu yang cukup untuknya mengambil hati wanita itu." tegas Papa Davian.


"Apa maksud Kakak? Kakak tahu, semuanya?" Rangga heran.


"Apa yang aku tak tahu tentang kamu dan juga Davian!" tegas Papa Davian.


"Sudah, sudah. Rangga, cepat bawa wanita itu pulang! Aku tak mau dia berlama-lama berada di rumah ini. Cepat!" perintah Kakek Surya.


"Baiklah," Rangga pasrah.


Rangga segera membawa Melisa yang masih lemah menuju kontrakannya. Rangga membawakan makan untuk Melisa. Melisa tak banyak bicara. Ia tak sedikitpun dianggap oleh keluarga besar Rangga. Melisa kapok, ia tak ingin lagi berurusan dengan Rangga. Sekalipun Rangga memaksanya, Melisa tak mau lagi dan tak akan pernah menyetujui permintaannya.


Hingga akhirnya Rangga sampai mengantar Melisa menuju kontrakannya. Rangga teringat tempat kumuh ini, tempat saat dirinya sadar dari mabuknya. Ternyata benar, Melisa yang menolongnya kala itu.


"Jadi, benar kamu yang menolongku?" ucap Rangga.


"Terima kasih.." ucap Rangga telat.


"Sudahlah, lupakan. Lebih baik kamu segera pulang. Anakku pasti menunggumu. Kamu tak usah mengkhawatirkan aku. Aku tak apa-apa." jelas Melisa.


"Maafkan, soal pernikahan...." ucapan Rangga terpotong.


"Sudah, lupakan saja. Aku tak mau membahasnya. Lebih baik kamu pulang sekarang."


"Baik, aku pulang sekarang. Aku sudah mempunyai nomor handphonemu. Aku akan menghubungi mu nanti."


"Terserah."


Rangga berlalu. Ia lupa, karena kekesalannya tadi siang, ia sama sekali tak mengabari Tira mengenai kepergiannya. Rangga segera menuju apartemennya, untuk meminta maaf pada Tira.


...***...


"Sudah siap?" tanya sekretaris Dika.


"Ya." jawab Tira datar.

__ADS_1


"Biasa aja kali, aku cuma nanya aja. Aku kesini juga atas perintah Nona." tegas sekretaris Dika.


"Ya, aku tahu. Ayo, berangkat! Key sayang, ayo kita ke mobil." ajak Tira.


"Kakak, opah kecil kemana? Dia kok gak ada di rumah dari tadi. Bagaimana kalau nanti dia nyariin kita?" tanya Keyza.


"Kan ada telepon. Bilang aja kita di rumah Om Davian, kita diajak camping bersama. Gampang kan?" jelas Tira.


"Oh, iya ya." Keyza mengerti.


"Di sana juga ada kedua adik Onty Arini, loh Key. Semuanya diajak. Mungkin karena keinginan bayinya." ucap sekretaris Dika.


"Oh, asyik. Hore, hore. Ayo, kita segera berangkat. Key sudah gak sabar, ingin ketemu sama Kakak Mita dan Kakak Alif." Keyza sumringah.


Keyza berjalan lebih dulu menuju parkiran apartemen. Tira seperti biasa, selalu saja cuek pada sekretaris Dika. Entah apa yang membuat Tira tak suka pada sekretaris Dika. Tapi, yang jelas sejak awal pun mereka memang selalu saling cuek.


Sekretaris Dika segera melajukan mobilnya. Ia akan segera membawa Keyza menuju kediaman Arini, untuk mengadakan camping bersama. Tiba-tiba saja, Arini ingin mengadakan camping kecil-kecilan di rumahnya. Davian tentu saja mengikuti keinginannya. Bahkan, Arini ingin semua ikut serta dalam acara camping kecil-kecilan itu.


Sekretaris Dika terpaksa menjemput Nadya dan adik-adik Arini, namun Ibunya tak bisa ikut, karena tak ingin ikut-ikutan. Lalu, sekretaris Dika juga terpaksa menjemput Keyza dan Tira, karena permintaan Arini tak bisa terbantahkan. Kedua adik Davian pun, diminta Arini untuk turut ikut serta dalam acara kebersamaannya itu.


...***...


Rangga sampai di apartemennya. Ia segera memasukan kode sandi apartemennya. Setelah masuk kedalam, ia kaget. Karena apartemennya sepi. Tak ada siapa-siapa di dalam. Ia mencari kemana-mana pun tak ada Keyza atau pun Tira. Dengan sigap, Rangga segera membuka handphonenya dan segera menghubungi Tira.


Tut...... Telepon tersambung.


"Halo, Tira. Kamu dimana?" tanya Rangga berapi-api.


"Di rumah Tuan Davian." jawab Tira seadanya.


"Kenapa kamu di sana? Kenapa pergi tak memberitahu aku? Majikan mu Davian apa aku?" Rangga terdengar kesal.


"Maafkan saya, Tuan. Nona Arini ingin kita semua mengadakan camping kecil-kecilan di rumahnya. Kami diminta ikut, dan saya lupa mengabari Tuan, saya kira Tuan tak akan pulang." tegas Tira.


"Baiklah, aku ke sana sekarang. Awas kamu, jangan kemana-mana!" perintah Rangga.


Tira tak menjawab. Ia segera mematikan handphonenya. Ia sudah tak mau berlama-lama bicara dengan Rangga. Tanpa basa-basi, Tira berani mematikan handphonenya. Hal itu membuat Rangga kesal bukan main.


"Tira, berani-beraninya kamu mematikan teleponku duluan. Ternyata, kamu sudah berani ya? Jadi, sekarang dia mulai berani pada majikannya sendiri? Kenapa dia bisa berani sekarang? Apa dia mulai berani marah padaku? Tapi kenapa? Aku merasa senang ya dia bersifat seperti itu. Aku harus segera pergi ke rumah Davian. Aku tak sabar, melihat ekspresi wajah Tira ketika bertemu denganku."


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2