
"MAS?" rasanya akan copot jantung Arini saat ini juga
"AYO, PULANG." Davian menarik paksa tangan Arini
Mas Adit yang kaget akan kejadian itu, langsung refleks mengejar Arini, namun sekretaris Dika menahan dengan tangan kekarnya.
"Cukup. Jangan lakukan, biarkan mereka."
"Arini itu urusan saya. Kamu siapa. Saya gak mungkin orang aneh itu mengambil Arini begitu saja!!!"
"Dia bukan orang Aneh. Dia adalah Tuan Davian Raharsya. Dia juga merupakan suami SAH nona Arini. Apa itu cukup jelas? Tolong kembalikan semua perlengkapan nona Arini. Saya akan membawanya kembali. Jangan macam-macam, dan jangan membantah!!" ucap sekretaris Dika mendadak menyeramkan seperti jelmaan genderuwo.
Hati Mas Adit berkecamuk penuh emosi dan amarah. Namun, percuma saja ia marah, Arini sudah tak ada. Arini sudah pergi. Suatu saat nanti, Mas Adit ingin meminta penjelasan Arini. Ia tak ingin mendengar ucapan bahwa Arini sudah menikah.
Mas Adit memberikan semua perlengkapan Arini pada sekretaris Dika yang terlihat menakutkan. Mas Adit sedih, ia menerka-nerka apa yang terjadi. Ia terduduk lesu dibawah pepohonan yang rindang.
Apa benar, semua yang dikatakan oleh sekretaris itu? Apa benar, Arini telah menikah? Itu tak mungkin. Kenapa Arini bisa bertindak se-ceroboh itu? Arini, aku minta penjelasan mu. Aku benar-benar tak menyangka dengan semua ini. Gumam Mas Adit.
"Pak Adit, kenapa?" Listia datang menghampiri Mas Adit yang terpuruk sendiri
"Eh, Bu Listi. Gak apa-apa kok."
"Wanita yang tadi bersama Pak Adit, kemana?" Listia pura-pura tak tahu
"Dia dijemput oleh keluarganya."
"Oh, begitu ya. Pak Adit, jangan sedih, biar aku temenin Pak Adit malam ini. Ya?" rayu Listi
"Aku tidak sedih, Bu Listi. Baiklah, daripada aku merenung sendiri, lebih baik kita kembali pada anak-anak." jawab Mas Adit
__ADS_1
"Iya, Pak. Mari."
Pak Adit, kamu sedih ya, ternyata wanita tadi sudah bersuami. Hahaha, aku puas sekali rasanya. Baiklah, dia bukan lawan ku, aku harus bisa mendapatkan hati Pak Adit, cepat atau lambat. Batin Listia.
***
Didalam mobil, Davian diam membisu. Tak berkata sepatah kata pun. Sekretaris Dika tahu, Bosnya sedang marah besar. Ia harus diam, ketika Davian marah. Arini pun tak bisa membela diri.
Kesalahan Arini sangatlah banyak. Pertama, dia berbohong pada Davian tentang Mas Adit adalah pacarnya. Arini tak menyangkal ketika Davian mengira bahwa Mas Adit adalah pacarnya.
Kedua, Arini juga berbohong, Arini mengatakan mengantar Alif camping, ternyata yang camping hanya siswa-siswi kelas 6. Arini berbohing paling fatal, padahal ia hanya akan pergi camping bersama Mas Adit.
Ketiga, Arini malah berduaan dengan Mas Adit. Arini berjalan-jalan menemani lelaki itu, bahkan sampai Mas Adit akan mengutarakan perasaannya. Tahukah, betapa saat ini hati Davian berkecamuk penuh emosi.
Sesampainya di rumah, Davian segera masuk ke kamarnya tanpa berbicara. Arini benar-benar merasa bersalah telah membohongi suaminya itu. Davian emosi, benar-benar emosi.
Arini mengikuti Davian dari belakang. Ia pasrah, akan hukuman Davian atas perbuatan bohong Arini. Arini tak menyangka bahwa Davian akan memata-matainya seperti itu. Arini takut, namun ia harus berani meminta maaf karena kesalahan yang diperbuatnya.
Arini menunduk lalu masuk kedalam kamar mandi. Ia membasahi tubuhnya dengar air shower yang mengalir deras. Arini menatap dengan penuh kebingungan dan rasa takut. Entah akan bagaimana nasibnya malam ini.
Apakah aku akan kehilangan mahkotaku? Apa dia akan pergi meninggalkanku? Apa dia akan mendiami ku semalaman? Apa aku akan dicampakkan? Apa yang akan terjadi nanti? Aaarrgghh, kenapa dia iseng sekali memata-mataiku? Lelaki macam apa dia? Beraninya main belakang membuntuti ku. Gumam Arini kesal.
Arini keluar dari kamar mandi dengan perasaan canggung. Ia takut, akan kemarahan Davian yang membuncah. Arini juga takut, ia belum pernah mendapati Davian marah besar padanya.
Kali ini, Arini tak berani melawan dan membantah, karena ia tahu, ini murni kesalahannya. Tak ada yang bisa ia bela, ia harus menerima kesalahannya. Arini juga harus berani meminta maaf pada Davian secara tulus.
Arini mendekati Davian yang sedang duduk di ranjangnya. Mereka belum makan malam, Arini berniat untuk memasak.
"Mas, mau makan apa? Biar aku masak sekarang." ucap Arini
__ADS_1
"Gue gak lapar. Gue cuma pengen penjelasan lu yang berkata menemani Alif camping." ucap Davian ketus
"Maaf Mas, Aku salah. Aku tak akan melawan, ini memang kesalahanku. Aku mengakuinya, aku telah membohongi Mas. Aku ingin minta maaf secara tulus, bukan maksudku membohongi Mas." ucap Arini
"Bukan maksud lu bilang? Lu terus aja mohon-mohon minta izin, agar bisa pergi camping. Lu gak sadar? Itu udah maksud terselubung, agar lu bisa dekat-dekat dengan Mas Adit lu itu kan? Lu suka sama dia? Jangan munafik Rin!" Davian benar-benar kecewa
Arini duduk mendekati Davian. Ia menunduk. Ia tak berani melawan, karena ia memang salah.
"Maaf, aku memang memaksa untuk pergi camping. Tapi, aku pun punya alasan untuk itu. Mas Adit terus saja memintaku menerima cintanya, aku sudah menolak beberapa kali. Hingga, ia memaksa agar aku ikut camping dengannya. Dia menerima aku menolaknya lagi, asal aku harus mau menemaninya untuk pergi camping, Mas. Maafkan aku, aku tak tahu kalau saat camping juga Mas Adit punya rencana untuk mengatakan hal itu lagi." ucap Arini
"Lu gak sadar, kalau tadi itu tempat sepi dan gelap? Lu gak sadar, kalau lu nolak dia, apa yang akan dia lakukan sama lu? Dia sudah membawa kain untuk membekap lu, dan dia akan melakukan hal gila sama lu, agar lu gak bisa lepas dari perangainya. Dia ingin lu hamil, agar lu gak bisa lepas dari dia. Sampe sini lu masih gak paham HAH?" Davian mengeluarkan semua emosinya
Arini tak berpikir sampai ke sana. Ia tak tahu, kalau hal itu bisa saja terjadi pada dirinya. Yang ada, kini hanya penyesalan mendalam memenuhi hati dan perasaan Arini.
"Maaf, Mas. Aku tak berpikir ke sana. Aku mengira, tak akan terjadi hal-hal seperti itu."
"Gue udah mengamati lu sejak sore tadi. Gue juga tahu, apa yang laki-laki itu persiapkan. Lu emang bodoh! Lu bisa membantah gue dan melawan gue, tapi pada orang lain, lu terlalu polos tau nggak. Lu gak bisa jaga diri lu sendiri. Heran gue Rin, ada ya orang kayak lu!"
"Maaf, Mas."
Arini menutup wajahnya. Ia menangis, ia merasa malu dan bersalah pada Davian.
"Maaf, aku telah emosi malam ini. Aku benar-benar tak bisa menahan diri. Kalau saja bukan di tempat camping seperti itu, aku pasti menghajarnya habis-habisan."
"Mas, terima kasih, telah menolongku."
"Maaf, jika emosiku malam ini tak bisa dihindarkan. Kamu harus menerima konsekuensi atas kesalahanmu. Kamu tak boleh menolak lagi. Kamu harus mengikuti alur-ku. Kali ini, aku takkan membiarkanmu lagi."
"Aaah, Mas. Jangan. Aaaaaah, Mas, geli." Arini menggeliat
__ADS_1
*Bersambung*
Aku sedang mengetik lanjutannya. Ketik komentar kalian, aku akan langsung up lagi kalau banyak yang komentar ya. trima kasih. malam ini loh, crazy up, aku sedang mengetik lagi. kalian dukung aku dengan like dan komentar ya