Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
At Eiffel Tower


__ADS_3

Davian mengajak Arini menuju menara eiffel. Ia sengaja, hanya pergi berdua dengan Arini, karena ia tak mau diganggu oleh siapapun termasuk sekretaris Dika sekalipun. Hanya dua malam yang romantis dan penuh kebahagiaan, itulah yang Davian inginkan bersama Arini.


Arini tak pernah pergi ke luar negeri, baru kali ini ia menginjakkan kakinya di Paris, Perancis. Menatap menara eiffel yang sangat indah dari dekat, awalnya hanya bisa bermimpi, tapi kini harapannya menjadi kenyataan. Arini bisa datang ke tempat ini, bersama lelaki yang ia cintai.


"Aku sudah membuat reservasi di Restoran Le Jules Verne. Di sana, kamu bisa menikmati pemandangan indah kota paris dengan segala kemegahannya. Ayo, kita naik lift sekarang." ajak Davian.


"Mas, apa ini tak terlalu berlebihan?" tanya Arini.


"Tentu saja tidak, memangnya kenapa? Orang sepertiku biasa melakukannya. Aku sudah pernah kesini sebelumnya, namun aku belum pernah memasuki restoran didalam menara eiffel ini." ucap Davian.


"Rasanya, aku tak pantas bisa berada disini. Aku bukan orang sepertimu Mas, aku malu," ucap Arini.


"Sudahlah, tak perlu kamu merendahkan diri terus. Kamu adalah orang sepertiku sekarang, berbahagialah Arini, aku berjanji, akan membahagiakan kamu disisa umurku." Davian merangkul Arini.


"Terima kasih, Mas. Aku terharu sekali," ucap Arini.


"Ayo, kita segera naik, sayang." ucap Davian.


Davian dan Arini naik lift di menara eiffel untuk sampai ke restoran yang telah ia booking. Arini sangat senang sekali, rasanya berada di Paris, dan berada didalam menara eiffe**l seperti sebuah mimpi bagi dirinya.


Mereka telah sampai di restoran yang telah di booking Davian. Davian mempersilahkan Arini masuk kedalam restoran tersebut. Restoran dengan nuansa putih dan megah, yang berada di lantai dua dalam menara eiffel. Dari dalam restoran ini, mereka bisa melihat betapa indahnya gemerlap malam kota Paris. Arini benar-benar takjub dengan semua ini.


"Sayang, ayo kita pesan." ucap Davian.


"Mas, aku sedikit norak. Aku gak paham, menu makanan macam apa ini?" ucap Arini.


"Mana? Apa yang kamu inginkan?"


"Aku tuh maunya makan nasi aja deh, Mas. Nasi bahasa Perancis nya apa sih? Kok aku gak nemu seperti rice, gitu? Aku gak paham bahasa Perancis, Mas." ucap Arini.


"Ini nih, sayang. Kamu bisa pesan Blanquette de Veau. Mau?" tanya Davian.


"Apa blanquette itu? Aduh, aku benar-benar memalukan sekali. Maafkan aku, Mas." Arini menunduk.


"It's Okay, Baby. Aku pun tak paham, hanya saja aku pernah mendapat jamuan makanan ini ketika aku bertemu dengan relasi bisnis asal Perancis. Blanquette de Veau adalah daging sapi yang dimasak di dalam kaldu ayam bersama jamur, wortel, bawang, dan whipped cream. Ini adalah menu yang cocok disajikan bersama nasi, sayang." jawab Davian.


"Wah, kayaknya enak Mas. Aku pesan itu aja deh, apa sih namanya, masih kesulitan aku mengucapkannya." balas Arini.

__ADS_1


"Oke sayang. Aku juga memesan yang sama denganmu. Biar yang lain aku saja yang memesan ya. Yang pastinya, halal dan cocok untuk lidah kita sebagai orang Indonesia." ucap Davian.


"Iya, Mas. Aku nurut aja! Yang penting si kecil gak mual nyium bau makanannya." ucap Arini.


"Excuse, me Sir," Davian mengacungkan tangannya pada sang pelayan.


(Permisi, Pak)


"Can I help you, Sir?" tanya sang pelayan.


(Ada yang bisa saya bantu, Tuan?)


"Please give me two servings Blanquette de Veau, two Coquilles Saint-Jacques, One servings Pot-au-feu, one orange juice and one glasses wine, Sauvignon Blanc. Can you serve it?"


(Tolong beri saya dua porsi Blanquettw de Veau, dua porsi Coquilles Saint-Jacques, satu porsi Pot-au-feu, satu jus jeruk dan satu gelas wine, Sauvignon Blanc. Bisakah kamu menyajikannya?)


"Sure, I will serve it. Please, wait for a few minutes. I'm glad to serve you," Pelayan itu membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Ia segera berlalu menyiapkan pesanan yang Davian inginkan.


(Tentu, saya akan menyajikannya. Mohon, tunggu beberapa menit. Saya senang melayani anda.)


"Mas, pesan apa aja sih? Kok banyak banget. Apa aja itu? Kita kan cuma berdua, kenapa yang Mas ucapkan seperti banyak sekali?" tanya Arini.


Davian tersenyum, ia mengusap-usap rambut halus Arini, istrinya benar-benar menggemaskan.


"Rasa ingin tahu kamu itu tinggi sekali sayang, aku bangga kamu gak pernah malu untuk bertanya." ucap Davian.


"Kan aku pusing dengan menunya, Mas."


"Simpelnya sih, aku pesan yang nasi sama sup krim daging tadi, terus aku pesan kerang, aku pesan kukusan sayur dan daging serta satu wine untukku, kamu ku pesankan jus jeruk saja ya, karena kamu sedang mengandung, tak baik meminum wine." ucap Davian.


"Iya, Mas. Nama se-ribet itu cuma kerang sama sup aja, Mas? Ya ampun, aku sepertinya tertarik belajar bahasa Perancis kalau begini. Agar aku pintar nantinya," ucap Arini.


"Aku tahu saat kuliah, dahulu aku pernah kuliah di Aussie selama dua tahun, dan aku punya teman orang Perancis, orang Marseille tepatnya, tapi sekarang sudah lost contact. Dia memberiku makanan asli Perancis, hingga akhirnya aku tahu beberapa namanya, seperti yang aku sebutkan tadi sayang." ucap Davian.


"Kamu memang banyak sekali pengalaman, Mas. Aku bangga memilikimu," ucap Arini tersenyum manis.


"Aku lebih bangga memilikimu, sayang." Davian membalas senyum Arini.

__ADS_1


"Kenapa aku? Apa yang harus dibanggakan dari wanita sepertiku? Aku banyak sekali kekurangan, Mas." ucap Arini.


"Hatimu, hatimu yang lembut dan tulus. Aku menyukainya, wanita yang penuh amarah tapi selalu tulus untukku. Kamu, satu-satunya wanita yang membuat aku merasa hidup, Arini. Kamu, wanita yabg membuat sifat ku kembali seperti dulu. Kamu memberikan perubahan dahsyat untuk hidupku." Davian memegang tangan Arini.


"Terima kasih, Mas. Aku sangat bahagia. Ternyata, di matamu aku begitu berarti. Aku masih merasa, bahwa aku tak pantas mendapatkan lelaki kaya sepertimu. Aku masih merasa, kalau aku ini adalah pembantu mu, Mas." ucap Arini.


"Ya, kamu adalah pembantu cantik di hatiku, sayang. Kamu yang teristimewa, yang membuat aku rela menghabiskan apapun, asalkan aku tetap berada di sampingmu." ucap Davian.


"Mas, kamu benar-benar hangat.." Arini terharu.


Pesanan pun datang. Mereka berdua segera memakan sajian yang disediakan restoran mewah nan mahal tersebut. Entah berapa puluh juta yang Davian habiskan untuk satu kali makan di restoran tersebut. Karena satu porsi makanan di restoran Le Jules Verne ini, bisa sampai 5 juta lebih.


Arini sedikit asing dengan makanan tersebut, lidahnya mencoba untuk beradaptasi dengan makanan khas Perancis tersebut.


Hampir satu jam, akhirnya Arini dan Davian telah selesai makan dan berbincang-bincang. Suasana Kota Paris sangat hangat, semakin malam, semakin terlihat jelas dari atas ketinggian menara eiffel, gemerlap cahaya malam dari negara paing romantis di dunia ini.


"Sayang, kamu ingin kemana lagi nanti?" tanya Davian.


"Jangan kemana-mana lagi, Mas. Kita harus pulang. Kasihan Keyza," ucap Arini.


"Kenapa sih Rin, kamu selalu mikirin anak itu terus, biarkan saja dia, toh ada Tira yang menjaganya." Davian tak suka.


"Mas, jangan seperti itu. Walaupun ada Tira yang menjaganya, tapi aku tetap menjadi orang tua baginya. Dia sudah tak punya orang tua lagi selain kita," ucap Arini.


"Baby, please! Ini malam romantis kita, aku tak ingin kamu membahas anak itu disini. Kita nikmati saja hari kita sampai besok, kumohon," Davian menegaskan.


"Baik sayang, maafkan aku ya." Arini merasa tak enak.


Davian menatap Arini, "I love you, my wife..."


Arini tersenyum, "Love you too, My husband.."


🌹🌹🌹


Mampir ke karya temenku ya ...🤗😘


__ADS_1


__ADS_2