Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Ibu baru?


__ADS_3

Jenazah Melisa telah diurus oleh perawat, agar bisa segera dipulangkan menuju rumah duka. Davian menemui Arini, Arini menghambur memeluk Davian. Davin sadar, bahwa kejadian ini sudah menjadi takdirNya. Davian hanya berharap, anak kecil itu akan hidup bahagia, walaupun ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.


Keyza menangis tak berhenti. Rangga mencoba menguatkannya, dan mengajaknya berjalan-jalan, agar tak terbebani dengan kematian Ibunya. Anak kecil itu sangat sedih, namun Rangga berhasil menguatkannya. Rangga sebisa mungkin akan membuat Keyza tak bersedih lagi.


Davian dan Arini sedang duduk di kursi, depan ruang ICU tempat Melisa meninggalkan dunia. Mereka sedang menunggu perurusan jenazah Melisa. Davian bertanya pada Arini.


"Aku dari tadi berdiam diri didepan pintu." ucap Davian.


"Kenapa Mas gak masuk?" tanya Arini.


"Aku cukup mendengar dari luar. Aku pun mendengar keinginan Melisa sebelum pergi." ucap Davian.


"Mas dengar? Soal Tira? Bagaimana menurut Mas?" tanya Arini.


"Kurasa, Tira tak akan mau menyetujui permintaan Melisa agar mau menikah dengan Rangga. Kurasa, hatinya bukan untuk Rangga," ucap Davian.


"Aku juga berpikir begitu. Tira pasti tak akan mau menyetujui permintaan terakhir Melisa. Kasihan sekali Bang Rangga. Hati dan perasaannya pasti sedang kacau." ucap Arini.


"Semoga saja, Rangga segera menemukan kebahagiaannya secepatnya. Kasihan dia, tak pernah beruntung soal cinta." ucap Davian.


"Iya, apalagi ia pasti merasa bersalah karena membiarkan Keyza tak bertemu Melisa selama ini. Hatinya pasti berantakan." ucap Arini.


Ternyata, Tira dan sekretaris Dika sudah ada tepat di belakang Arini dan Davian. Tira tentu saja mendengar ucapan Davian. Langkah Tira terhenti, ketika ia mendengar permintaan terakhir mendiang Melisa. Ia tak menyangka, dirinya akan turut terbawa-bawa dalam hal ini. Sekretaris Dika pun tahu, dan mendengar ucapan Davian dan Arini, ia paham dan mengerti.


"Sudah, jangan dipikirkan. Kamu pura-pura tak tahu saja." ucap sekretaris Dika pelan.


"Ah, i-iya.." Tira tak fokus.


Sekretaris Dika berjalan menuju Davian dan Arini. Davian kaget, tak menyangka mereka akan tiba dengan cepat.


"Dik, sudah lu urus di rumah?" tanya Davian.


"Sudah, Pak Parjo yang mengatur semuanya." jawab sekretaris Dika.


"Tuan, dimana Keyza?" Tira ingin segera bertemu dengannya.


"Dia dibawa oleh Rangga. Mungkin berjalan-jalan disekitar koridor rumah sakit. Coba kamu hubungi saja." ucap Davian.

__ADS_1


"Tira, kamu temani Keyza, nanti kamu pulang bersama Bang Rangga ya, jangan terlalu cepat. Tunggu saja sampai jenazah akan dikuburkan, karena aku tak mau Keyza menangisi kepergian Ibunya terus. Nanti aku hubungi kalian kalau sudah selesai tahlil di rumah." tegas Arini.


"Sayang, ayo. Kita pulang sekarang. Jenazah biar sekretaris Dika dan petugas ambulance yang mengurusnya." tegas Davian.


"Baik, Mas."


Arini dan Davian pulang lebih dulu, karena Davian pun tak mau kalau istrinya yang sedang hamil tua mengurusi jenazah Melisa. Davian telah mempercayakan semuanya pada sekretaris Dika. Hanya tersisa Tira dan sekretaris Dika didepan ruang ICU tersebut. Tira terlihat sekali sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya, Tira teringat perkataan Davian tadi mengenai permintaan terakhir Melisa.


"Ayo, segera temui Keyza." ucap sekretaris Dika.


"Entahlah, rasanya aku berat menemui mereka." jawab Tira.


"Aku tahu, apa keberatan mu. Tapi, sudahlah, jangan dipikirkan. Tugasmu sekarang hanya menjaga Keyza. Pura-pura tidak tahu saja, kalau kamu keberatan akan hal tersebut." sekretaris Dika menenangkan Tira.


"Makasih, Dika. Aku harus segera menemui mereka. Aku pergi ya," ucap Tira berdiri, akan pergi.


"Iya, jangan banyak pikiran ya, kamu tak boleh memikirkan apapun yang tak seharusnya kamu pikirkan." ucap sekretaris Dika.


"Terima kasih." Tira tersenyum pada sekretaris Dika.


Tira tak menghubungi Rangga. Ia mencoba mencari mereka dulu disekitar rumah sakit. Jika nanti tak ketemu, baru Tira akan menghubungi Rangga. Tira mencari mereka ke taman, dilihatnya beberapa kemungkinan orang yang seperti Rangga atau pun Keyza, ternyata hanyalah mirip saja.


Tira mencari lagi ke pepohonan yang rindang. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada kursi panjang dibawah pohon yang besar. Tira melihat pemandangan itu dari belakang. Seorang laki-laki yang dewasa dan hangat, sedang mengelus-elus rambut gadis kecil yang terdengar sedang sesegukan karena habis menangis.


Perlahan, Tira mendekati mereka. Tira tak ingin mengganggu kehangatan mereka. Ia diam di belakang pohon, dan mencoba mendengarkan pembicaraan antara mereka berdua. Keyza masih menangis, namun Rangga terus berbicara menghibur Keyza.


"Key, mommy sudah bahagia di sana. Jangan ditangisi terus. Opah kecil ikut sedih kalau Key seperti ini terus." Rangga membujuk Keyza.


"Keyza se-sedih, Opah. Sudah lama sekali, Key tidak bertemu dengan Mommy, sekalinya bertemu, mommy malah tidur dan pergi." gadis itu kembali menitikkan air matanya.


"Maafkan Opah kecil ya, semua ini salahku. Kalau saja saat itu Opah kecil segera mempertemukan Keyza dengan Mommy, mungkin Key tak akan sesakit ini. Opah kecil menyesal, maafkan Opah ya, sayang..." Rangga tak bisa menahan air matanya yang ingin terjatuh.


"Opah jangan menangis. Aku aja yang nangis, Opah jangan ikut menangis." Keyza terlihat tegar.


"Iya sayang, Opah kecil teringat Mommy-mu. Ucapannya, sangat menyentuh hati Opah. Opah kecil tak menyangka, jika Mommy-mu akan berkata seperti itu." ucap Rangga.


"Mommy sangat menyayangi Opah kecil kan? Sama seperti Key menyayangi Opah kecil. Opah, Key rindu Mommy. Apa Key bisa bertemu lagi dengannya? Mommy sangat cantik, mommy sangat baik, Key bahagia sekali mempunyai Mommy seperti Mommy Melisa." air mata Keyza mengalir ketika ia mengucapkan hal itu.

__ADS_1


"Sayang, mommy-mu sudah punya rumah baru. Dia sudah bahagia di atas sana. Keyza gak bisa bertemu mommy. Mommy tinggi sekali, Key tak dapat menemuinya." ucap Rangga.


"Tapi, kalau naik pesawat bisa kan opah? Kalau Key naik pesawat bersama Opah kecil, siapa tahu nanti kita bertemu mommy di atas." ucap Keyza dengan polosnya.


Rangga tak menyangka, gadis kecil nan polos ini, sangat tegar sekali. Keyza anak yang baik, dia berhak mendapatkan kebahagiaannya. Rasanya, ingin sekali Rangga membawanya pergi jauh, untuk membahagiakannya.


"Gak bisa sayang, pesawat tidak bisa membawa kita untuk bertemu mommy. Tempat Mommy tinggal sangat tinggi sekali. Tapi, percayalah Key, dari sana, Mommy-mu bisa melihat kamu." ucap Rangga menenangkan.


"Opah, itu berarti, Key tidak punya mommy lagi? Mommy kan jauh sekali kata Opah kecil." Keyza sedih.


"Key ingin punya Mommy lagi?" tanya Rangga.


"Tentu saja Opah, kalau mommy tak bisa bertemu Key lagi, apa Key bisa mendapatkan mommy baru?" tanya Keyza polos.


"Baiklah, nanti Opah kecil carikan Mommy untuk Key ya sayang, sekarang Key sabar dulu. Doakan yang terbaik untuk mommy Melisa ya." saran Rangga.


"Tapi siapa Opah? Apa Kakak Tira bisa menjadi Mommy untuk Key?" ucap Keyza polos.


"Uhukk, uhukk," Rangga tersedak.


"Opah kecil kenapa?"


Rangga berdehem, "Enggak kok, gak apa-apa. Hanya sedikit sakit tenggorokan."


Tira sudah tak tahan mendengarkan ucapan anak kecil itu. Ternyata, Keyza sangat menginginkan seorang Ibu lagi untuknya. Tira tak menyangka, kata-kata Ibu tertuju untuk dirinya. Tira segera datang dan pura-pura baru saja datang, agar mereka tak curiga kalau sebenarnya Tira telah menguping sejak tadi.


"Keyza... " sapa Tira tiba-tiba.


Keyza dan Rangga berbalik, Keyza sangat senang sekali melihat Tira datang. Tira mendekat menuju kursi tempat Keyza dan Rangga duduk.


"Kakak Tira.. Key sangat merindukan Kakak. Banyak sekali yang ingin Key ceritakan pada Kakak. Key sangat sedih sekali, Kak." Keyza memeluk Tira yang sedang berdiri di hadapannya.


"Maafkan Kakak yang terlambat datang kesini. Ayo sayang, ceritakan lah apa yang ingin kamu ceritakan, Kakak akan dengan senang hati mendengarkannya. Jangan sedih ya, Kakak ada untukmu, sayang." Tira mengusap punggung kecil Keyza.


Rangga berdiri, ia menatap Tira, "Tira, terima kasih..."


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2