
Selamat membaca ...
Tekan tombol suka dulu ya, like dulu ceritanya biar aku makin semangat untuk up🥰
Arini menatap Nisha. Nisha sepertinya serius menolak ucapannya. Arini pun bingung, kenapa Calandra malah ingin Nisha kuliah di universitas yang sama dengannya. Biasanya, Calandra tak mungkin ikut campur urusannya. Tapi mengapa, kini Calandra memaksa Nisha untuk kuliah bersamanya?
"Kenapa kamu meminta Nisha untuk kuliah bersamamu? Apa hubunganmu dengannya?" tanya Arini pada Calandra.
"Enggak kok, Mam. Aku hanya ingin dekat dengannya. Kita sering bertemu, tapi aku tak pernah menyapanya. Jadi, aku memutuskan agar dia kuliah bersamaku." Calandra beralasan.
"Kamu gak usah ikut campur. Biar Mommy yang mengurus Nisha. Sudah, masuk ke kamar sana!" perintah Arini.
"Ketus amat sih, Mam." Calandra berjalan menuju kamarnya.
Mommy udah minta Nisha untuk kuliah. Nisha harus kuliah bersamaku, agar aku bisa menebus semua dosaku padanya. Aku tetap berharap, kalau Nisha mau menerima kebaikan Mommy. Nisha, aku berjanji, aku akan menebus semua dosaku. Maafkan aku. Batin Calandra menatap Nisha beberapa detik.
Arini tersenyum pada Nisha. Arini tak akan memaksakan kehendaknya. Arini hanya ingin Nisha mengikuti kata hatinya, apa yang ia inginkan dan tak melakukannya karena terpaksa. Arini melihat Nisha seperti orang yang sedang bingung dan sedih.
"Kamu kenapa Nisha?" tanya Arini.
"Gak apa-apa, Bu. Soal permintaan Ibu tadi, maaf sekali ... saya tak bisa menerimanya." jawab Nisha sopan.
"Kenapa? Bukankah kamu ingin mengejar cita-citamu?" tanya Arini.
Nisha terdiam, ia berpikir, "Ah, iya. Saya kan sedang mengajar Livia dan Calista les, Bu. Bagaimana saya bisa kuliah? Saya pasti kesulitan mengajari Livia dan Calista juga. Tidak apa-apa, nanti saja saya melanjutkan kuliahnya, Bu." jawab Nisha.
"Nisha, kuliah itu tidak mengikat. Kamu bisa masuk kelas karyawan, bukan? Kuliah karyawan hanya sabtu dan minggu. Les hari sabtu bisa saja diganti dengan hari kamis atau jumat. Kejarlah cita-citamu, Nish. Ibu tahu, bagaimana rasanya ingin mengejar cita-cita, tapi kita terhalang oleh keadaan. Saya sendiri pun dulu mengalaminya. Tapi, nasib baik membawa saya bertemu dengan Daddy-nya Livia, sehingga saya bisa sekolah setinggi ini. Hingga cita-cita saya yang awalnya hanya menjadi seorang Dokter, kini bisa lebih dalam menekuni bidangnya dan akhirnya saya bisa menjadi seorang Dokter spesialis. Bukankah cita-citamu ingin menjadi seorang guru? Maka, jangan sia-siakan kesempatan ini, Nisha. Selagi muda, kamu bisa belajar dengan tekun. Raihlah cita-citamu, Nish." Arini menjelaskan.
Nisha terharu dengan ucapan Arini. Ia memang ingin melanjutkan kuliahnya. Besar harapannya untuk menjadi seorang guru dan membina murid-murid generasi penerus bangsa. Tapi, Nisha tak mungkin menerimanya, jika ia harus kembali lagi ke universitas tempatnya dulu kuliah.
Nisha trauma dengan wanita bar-bar yang menyukai Calandra. Wanita yang tega menyakiti hati dan perasaannya. Wanita yang terlalu berambisi mendapatkan Calandra, sehingga Nisha yang tak tahu apa-apa harus menjadi korban bully-an Sheila dan teman-teman di kampusnya.
"Nish, Nisha ..." Arini mengagetkan lamunan Nisha.
"Eh, iya. Maafkan saya Bu. Saya tak fokus." Nisha begitu malu.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kamu mau kuliah lagi? Besar harapanku padamu, karena kamu orang yang cerdas. Sayang jika ilmu itu tak kamu asah lagi." ucap Arini.
"Ta-tapi, Bu ..." Nisha sungguh ingin menolak.
Tiba-tiba, Davian datang, dan Davian menyapa Arini. Davian tak tahu, kalau guru les Livia masih ada di rumahnya. Davian baru pertama kali bertemu dengan Nisha. Davian pun menyapa Nisha, dan duduk di sebelah Arini.
"Selamat siang. Jadi kamu guru les anak bungsu saya. Kenalkan, saya Davian, saya Daddy-nya Livia." sapa Davian.
"Ah, i-iya, Pak. Selamat siang, saya Nisha." Nisha gugup karena baru pertama kali bertemu dengan Davian.
"Mas, Nisha ini pintar dan cerdas sekali. Livia yang susah sekali belajar, kalau sama Nisha ini langsung mau dan nurut. Kalah aku jadinya." Arini memuji Nisha.
"Kamu terlalu sibuk, istriku. Baiklah, Nisha ... Semoga betah mengajari anakku. Sabar dan mengertikan keinginannya. Karena dia berbeda dari kedua kakaknya." jelas Davian.
"Baik, Pak. Tentu saja. Saya melakukannya dengan senang hati." Nisha tersenyum.
"Kamu seumur anakku ya?" tanya Davian lagi.
"Dia setahun lebih muda dari Calandra. Oh, iya Mas ... Nisha ini nasibnya sama seperti aku, dia putus kuliah. Aku jadi ingin membantunya agar kuliah lagi." Arini mengadu pada Davian.
Ya ampun, kenapa Ibu Dokter malah bilang sama suaminya? Inikah suami Bu Dokter yang mempunyai kedekatan dengan dosen-dosen di universitas itu? Aduh, bagaimana kalau Pak Davian memaksa aku untuk kuliah di sana? Ya Allah, jangan sampai itu terjadi. Batin Nisha.
"Mas! Ih kamu ... Malu-maluin aja. Aku berencana mau buat Nisha kuliah lagi." ucap Arini.
"Oh, ya tentu saja. Bagus itu. Kamu berkenan, Nisha? Kalau begitu, biar aku urus semuanya." balas Davian sigap.
"Eh, Pak Davian. Maaf, tak perlu repot-repot. Saya bisa kuliah nanti saja. Saya ingin fokus dulu mengajar les untuk Livia dan Calista." Nisha terus melarang.
"Kenapa? Tidak apa-apa. Aku yang akan membiayai kamu. Kamu tak perku sungkan. Katakan saja pada keluargamu, bahwa Bos-mu yang akan membiayai kuliahmu." tegas Davian.
"Maaf, saya tidak mau, Pak." Nisha menunduk.
Arini mengerti kenapa Nisha berperilaku seperti itu. Mungkin saja, Nisha sungkan dan malu untuk menerima semuanya. Tapi, Arini dan Davian tulus melakukannya. Arini telah berkaca pada kehidupannya yang dulu. Betapa sulitnya mengejar cita-cita.
"Nisha, dengarkan saya. Kamu tak perlu malu atau pun sungkan. Kami memang baru mengenalmu, tapi kami tak ada maksud lain selain ingin menyekolahkan kamu. Kamu anak yang cerdas, sayang sekali jika ilmu itu tak diasah lebih dalam lagi. Aku selalu teringat diriku yang dulu, karena itulah aku ingin kamu kuliah lagi. Mau ya? Kelas karyawan pun tak apa-apa, Nisha, yang penting kamu meneruskan sekolahmu. Kamu tak usah sungkan menolak. Aku tulus mengatakan ini. Jika kamu ragu, minta izin dulu pada orang tuamu," ucap Arini.
__ADS_1
"Iya. Kamu tak perlu memikirkan apapun. Kalau istriku sudah berkata begitu, aku harap kamu mau menerimanya. Silahkan, pilih universitas mana yang kamu inginkan. Aku akan membantu kuliahmu. Minta izin dulu pada orang tuamu, dan aku akan meminta sekretarisku untuk mendaftarkan kamu." tegas Davian.
Ya Allah, apa tak ada kesempatan untukku menolak? Kenapa jika Pak Davian yang berbicara, aku sulit sekali menolak ya? Kenapa aku takut mengatakan tidak didepannya? Didepan Ibu Dokter aku berani menolak. Bahkan, aku berkali-kali menolaknya. Kenapa rasanya aku seperti sedang berbicara dengan singa? Aku takut sekali. Batin Nisha.
"Ba-baiklah kalau begitu. Tapi, apakah saya bisa memilih universitas lain? Saya tak ingin kuliah di universitas yang sama dengan Anak Bu Dokter. Mohon maaf sebelumnya, karena saya tak enak. Jika kalian tetap ingin membantu saya, izinkan saya memilih universitas yang saya inginkan." ucap Nisha.
"Silahkan. Kamu ingin kuliah dimana? Mungkin, kamu tak akan nyaman jika satu kampus dengan anakku. Aku bisa memahami itu, Nisha." ucap Davian.
"Di universitas Mega Buana saja, Pak Davian." jawab Nisha.
Aku ingin kuliah di Universitas yang sama dengan Elang. Aku ingin dekat dengannya. Dengan Elang, kekasihku. Batin Nisha.
"Itu universitas swasta. Apa tidak apa-apa?" tanya Arini.
"Gak apa-apa, Bu Dokter. Saya ingin kuliah di sana." pinta Nisha.
"Baiklah, bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka akan mengizinkannya?" tanya Davian.
Nisha menunduk. Ia malu jika harus mengatakan tentang orang tuanya. Ia tak mungkin bisa mengatakan bahwa ia tak pernah tahu siapa kedua orang tuanya.
"Saya tinggal sendiri, Pak, Bu. Saya tak punya orang tua." ucap Nisha sedih.
Sudah kuduga, Batin Arini.
"Maafkan saya. Saya tidak tahu. Baiklah, anggap saja saya dan suami saya adalah orang tuamu. Kamu tak perlu sungkan pada kami, Nisha. Sekretaris kepercayaan suami saya akan segera mengurusnya. Kamu bersiaplah." Arini tersenyum.
"TIDAK BISA! Nisha harus kuliah bersamaku. Ia harus ada dalam pandanganku! Aku ingin Nisha kuliah di tempat yang sama denganku!" suara lantang Calandra tiba-tiba terdengar dari balik tembok pembatas rumahnya. Ia terlihat kesal, dan tak suka mendengar Nisha akan kuliah di tempat lain. Sedari tadi, Andra mendengarkan obrolan itu.
"Calandra, apa maksudmu?" tanya Davian.
"Dia harus ada dalam pandanganku. Dia harus ada di dekatku. Aku bersalah padanya, aku berdosa padanya. Hidupnya hancur karena kesalahanku. Kumohon, kuliah bersamaku. Aku berjanji, akan mengembalikan hidupmu seperti semula, Nisha. Aku akan membuatmu tak menangis lagi. Aku akan membuatmu tersenyum. Rasa penyesalan ini sungguh menyiksaku. Aku mohon, izinkan aku untuk membalas semua dosa dan kesalahanku." ucap Calandra bergetar.
Nisha kaget, Calandra berani berkata seperti itu padanya. Arini dan Davian seketika menatap Calandra dengan bingung dan tak mengerti.
"Nak, apa yang terjadi?" Arini berdiri dan memegang kedua lengan anaknya.
__ADS_1
*Bersambung*
Lanjutannya harap sabar menunggu ya teman-teman😍😘