
Arini amat canggung berada dibelakang kemudi mobil. Ia tak mengerti kenapa Davian harus melakukan hal itu. Arini malu sekaligus berterima kasih, dengan begini Davian akan membayarkan utang Ayahnya yang jatuh tempo pada hari ini.
"Tuan, maafkan saya merepotkan anda!" ucap Arini
"Kenapa singa betina ini tiba-tiba lemah lembut padaku ya? Apa memang kelemahan mu itu uang? Iya?" Davian meledek Arini
Ucapan Davian memang terdengar meledek, tetapi Arini kini sudah terbiasa dengan ucapan sarkas nya itu. Davian memang seperti itu, mulai sekarang Arini tak perlu membalas ucapan pedas Davian.
Perjalanan tak cukup lama, karena jarak rumah Arini dengan Rumah Davian tidak terlalu jauh. Benar saja perkiraan Arini, dua debt kolektor sudah berada didepan pintu rumahnya dan menggebrak pintu rumah Arini.
"Hei, hentikan! Jangan kasar pada keluargaku!" ucap Arini
Davian dan Dika masih berada didalam mobil. Tangan Davian menahan Dika untuk tidak turun dari mobil. Davian ingin tahu sejauh mana mereka akan bertindak.
"Ternyata lu baru dateng ya! Mana, sini duitnya! Gue banyak urusan."
Arini terdiam. Arini kira, Davian ikut mengantarnya kemari akan membayar hutangnya, tetapi ternyata Davian tak turun dari mobil sama sekali. Adik-adik Arini sangat ketakutan, apalagi sebelum Arini datang, mereka hanya berdua, karena Ibunya harus berjualan supaya bisa mendapatkan uang.
"Ma, maaf! Aku belum gajian. Dua minggu lagi aku baru punya uang!" ucap Arini
"Banyak alasan juga lu rupanya. Kita berdua gak mau tahu. Lo harus bayar sekarang itu duit, apa lo bayar dengan tubuh lo yang manis ini." Pria itu memegang bahu Arini
"Kurang ajar! Bisa sopan gak sih kalian HAH? Kalau sudah ada uangnya juga pasti aku bayar." suara Arini meninggi
"Sampai kapanpun lu gak akan bisa lunasi hutang-hutang bokap lu! Karena semakin hari, bunganya akan semakin bertambah. Hahahahaha" dua pria itu tertawa puas
Davian geram melihat tingkah laku mereka. Davian segera turun dari mobil, disusul dengan Dika. Debt kolektor itu melihat kearah Davian, terlihat meremehkan namun sedikit takut melihat Davian.
"Berapa hutang ayahnya dia?" tanya Davian
"Buat apa lu ikut campur? Gue gak ada urusan sama lu."
"Apapun yang berhubungan dengan Arini itu urusan gue! Katakan, berapa utangnya?" Davian marah
"Utang pokoknya 75 juta, bunga berjalannya 90 juta. Mau apa lu? Kagak bisa bayar kan lu? Hahahaha!" mereka tertawa puas
Arini terdiam. Davian tak mungkin mau membayar utang-utang dengan bunga segila itu. Arini menunduk, bingung harus bagaimana.
"Dik, ambilkan uang di koper. Bawa kemari." perintah Davian
"Baik, Bos."
Arini menoleh kearah Davian. Apa maksudnya itu? Apa Davian akan melunasi semua utang-utangnya Arini? Tetapi, itu tidak mungkin. Jumlah utang dan bunga hampir mencapai 200 juta. Davian tak akan mau membuang-buang uangnya untuk Arini.
" Di koper ini ada uang senilai 250 juta. Silahkan lu berdua ambil, dan jangan pernah kembali kesini. Apalagi jika lu berdua ganggu orang-orang ini, gue gak akan segan-segan menghancurkan lo berdua. PAHAM?" Davian terlihat emosi
"Ba, baik Tuan." Terima kasih banyak." mereka berdua segera berlalu
Arini melongo melihat Davian dengan santai memberikan uang sebanyak 250 juta. Padahal, utangnya hanya 165 juta. Arini merasa Davian terlalu berlebihan.
"Kenapa Tuan harus membayar semuanya, HAH? Saya hanya ingin uang gaji saya selama satu bulan bekerja." ucap Arini
"Gue pegal, gue pengen masuk. Pengen duduk!" Davian nyelonong masuk kedalam rumah Arini.
Adik Arini terlihat senang. Davian bak pahlawan di siang bolong. Adik-adiknya sangat senang Davian bisa masuk kedalam rumah kecil mereka lagi. Arini sungguh tak menyangka bahwa Davian akan melakukan hal senekad ini.
"Wah, Tuan majikan kak Arini hebat sekali ya. Mereka bisa pergi hanya dengan diberi koper." ucap Alif
__ADS_1
"Terima kasih ya, Tuan majikan. Berkat Tuan, kita semua selamat." ucap Mita
"Kalian ini membuatku tersanjung saja. Ini, uang jajan untuk kalian. Sekarang, kalian bermainlah! Ada yang ingin kakak sampaikan pada kakakmu." ucap Davian sambil memberikan uang kepada Alif dan Mita.
Arini masih terdiam. Tak percaya pada apa yang telah dilakukan Davian. Arini takut Davian meminta uang itu kembali. Akan dapat uang sebanyak itu dari mana?
"Terima kasih." ucap Arini
"Tidak semudah itu."
"Maksud Tuan?"
"Dengan uang itu, lu harus patuh sama gue!"
"HAH? Maksudnya apa? Saya tidak mengerti."
"Arini, kalau lu membantah perkataan gue, lu harus mengganti semua uang yang telah gue berikan pada debt collector itu."
Arini mengerutkan dahinya. Arini sama sekali tak mengerti apa ucapan Davian
"Maksud Bos, Kamu jangan membangkang lagi, jangan membantah. Kamu harus patuh, kalo enggak, duit yang barusan dikeluarkan oleh Bos, kamu harus menggantinya. Jadi, Arini harus bersikap baik sama Bos. Begitu!" ucap sekretaris Dika
"Lu kan biasanya membangkang sama gue! Sekarang, lu harus bersikap lemah lembut sama gue. Mengerti!" Davian menatap tajam Arini
"Baiklah, aku berterima kasih atas kebaikan hatimu, Tuan. Maafkan kelakuan saya selama ini." ucap Arini
"Lo harus ngikutin semua kemauan gue tanpa membantah!"
"Iya, Tuan."
"Lo juga harus selalu senyum kalau didepan gue, jangan pernah mencaci ataupun memaki gue!"
"Iya, Tuan."
"Iya, Tuan."
"Kalau lu melanggar salah satu dari hal yang gue sebutin di atas, lu harus membayar uang yang tadi gue beri cuma-cuma kepada mereka!"
"Iya, Tuan."
"Kenapa hanya Iya saja yang bisa keluar dari mulut lu?"
"Lalu, saya harus menjawab apalagi Tuan?" Arini, tersenyum, tetapi terpaksa
"Lakukan dengan ikhlas dan tulus!"
Arini berdiri, lalu menundukkan badannya dengan satu tangan dibelakang punggung.
"Iya, Tuan. Saya akan dengan senang hati melakukan perintah Tuan! Terima kasih atas kebesaran Tuan selama ini." ucap Arini terpaksa
"Nah, gitu dong!"
"Dik, tolong belikan gue makanan. Gue laper!" ucap Davian
"Tapi, gue gak hafal daerah sini, Bos." sanggah Dika
"Lu minta antar Arini aja! Arini, lu mau kan antar Dika?" kata Davian
__ADS_1
"Tentu saja, Tuan muda yang terhormat!" lagi-lagi, Arini terpaksa melakukan hal itu.
Dika dan Arini telah pergi mencari makan siang untuk Davian. Tak lama, Mita dan Alif kembali ke rumah. Mereka membawa snack dan jajanan.
"Eh, Tuan Davian!" Alif dan Mita malu-malu
"Loh, kok Tuan sih?" Davian tersenyum
"Eh, Kak Davian. Maaf, Alif lupa!" ucap Alif
"Sini, duduk disini. Kalian beli apa sih?" tanya Davian
"Alif beli mainan ini, Kak. Alif sejak dulu ingin mobil robot ini, tapi gak pernah dibelikan sama Ibuk juga kak Arini. Padahal, harganya gak mahal kok kalau bawa uang dari Kakak, masih ada kembalian. Ini, kembaliannya kak!" Alif memberikan uang kembalian pada Davian
"Ini juga uang kembalian Mita Kak, Mita hanya beli snack dan buku diary." Mita melakukan hal yang sama seperti adiknya
"Loh.. Siapa yang menyuruh kalian mengembalikan uang ini pada kakak? Ini untuk kalian semua, ambil saja. Kalau kurang, minta lagi sama kakak ya! Jangan sungkan-sungkan." ucap Davian
"Iya, Kak." jawab Alif dan Mita
Davian melihat ketulusan dua adik Arini. Mereka memang anak-anak yang baik, berbeda dengan kakaknya, pikir Davian.
"Kak Davian?" tanya Alif
"Iya, Lif?"
"Kakak suka ya sama kak Arini?"
"Alif!" Mita mencegah Alif berkata semaunya
"Tidak apa-apa, Mita. Biarkan adikmu bicara." ucap Davian
"Kakak suka ya sama kak Arini?" Alif mengulangi perkataannya
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"
"Kakak baik sekali pada kak Arini juga kepada kita! Kakak seperti menaruh rasa pada kakak kami" ucap Alif polos
"Tidak, Alif. Kakak senang membantu orang yang kesulitan. Kakak tak mau kak Arini kesusahan seperti itu." jawab Davian
"Jadi kakak gak suka ya sama kakak Alif?" Alif terlihat kecewa
"Kenapa sedih?"
"Alif berharap kakak jadi suaminya kak Arini, karena kak Davian sangat baik dan punya banyak uang." Alif terus meracau
"Benarkah?" Davian terkejut
"Alif, hentikan! Ayo masuk kamar, maafkan kelakuan alif ya Kak." Mita membawa Alif masuk kamar.
Apa memang aku menyukai Arini? Sepertinya aku tak menyukainya. Aku tak menyukai Arini, benar! Aku memang tak menyukainya. Benar kan hati? Aku tak suka pada Arini?
Alif, aku tak menyukai kakakmu. Aku menyukai Tasya, wanitaku yang sejak dulu tinggal di hatiku. Aku baik pada kakakmu, karena kalian orang baik! Walaupun aku tahu, kakakmu selalu menjaga dirinya dengan bersifat kasar kepada siapapun, termasuk aku, Majikannya sendiri.
Kakakmu membuatku terus memperhatikan kalian, aku mulai nyaman bersama kalian, tapi aku tak berharap dengan kakakmu. Maafkan aku mengecewakanmu, Alif.
Davian meyakinkan dirinya tak menyukai Arini, tetapi kini.. Ketika nama Arini disebut, membuat jantung Davian berdetak lebih cepat. Ada apa ini sebenarnya?
__ADS_1
*Bersambung*