
Pagi sekali, saat langit masih gelap, Davian sudah mengajak sekretaris Dika menemui Rangga di apartemen. Davian tak bisa membiarkan Rangga pergi begitu saja. Davian pun tak tega, jika Keyza dan Tira harus terpisah, apalagi Davian tahu, anak kecil itu sangat menyayangi Tira. Arini ingin sekali ikut, namun Davian tak mengizinkannya.
"Kan gak apa-apa Mas, aku juga baik-baik aja kok!" Arini memaksa ingin ikut.
"No, sayang. Kamu harus istirahat di rumah. Pokoknya, jangan sampai kamu kenapa-napa, jaga diri kamu di rumah ya, aku kira Rangga bercanda, makanya ku suruh kembalikan Tira padaku, kukira dia sedang terlibat percekcokan kecil dengan Tira, tapi kata Papa Rangga memang benar akan terbang ke Swiss membawa Keyza. Aku tak habis pikir, ada apa dengan Rangga." ucap Davian.
"Mungkin karena pekerjaan, Bos." ucap sekretaris Dika.
"Kalau karena pekerjaan dia gak mungkin bawa si Keyza, Dik." ucap Davian.
"Ah, entahlah. Ayo, kita tahan dia. Mumpung ini masih pagi dia pasti belum bersiap, semoga saja kita bisa mencegahnya." tegas Davian.
"Mas, aku bener-bener gak boleh ikut nih? Tega banget sih, Mas." ucap Arini sedih.
"Ya, sayang. Kamu tunggu saja di rumah ya? Perutmu sudah buncit begitu, aku gak tega biarin kamu bepergian." Davian mengusap rambut Arini.
"Ya sudah, Mas hati-hati ya," Arini mengerti.
"Iya, sayang. Aku berangkat ya,"
Davian dan sekretaris Dika segera melajukan mobilnya menuju apartemen Rangga. Sebenarnya, Davian tahu, Rangga seperti ini karena ingin lari dari masalah. Semuanya pasti karena Tira, Davian pun telah menduganya. Rasanya, ini pun ada sangkut pautnya dengan sekretaris tampannya ini, Davian bingung harus bagaimana menyikapinya agar semua baik-baik saja.
"Dik?" tanya Davian.
"Ya, Bos?" jawab sekretaris Dika sambil mengemudi.
Davian menatap ragu kearah Dika, "Apa lu suka sama si Tira?" tanya Davian.
"Apaan sih, Bos. Kagak, gue gak suka sama dia." jawab sekretaris Dika sedikit gugup.
"Jujur aja sama gue, Dik?" desak Davian.
"Gue udah jujur, Bos. Gue musti jujur gimana lagi sama lu?" jawab sekretaris Dika.
"Bener lu? Nyesel gak lu ngomong kayak gini?" tanya Davian lagi.
"Ya bener lah, Bos. Buat apa gue nyesel, emang gue gak suka sama dia." jawab sekretaris Dika.
"Berarti, kalau dia nikah sama si Rangga, elu gak keberatan dong?" Davian terus mendesak.
"Uhuk, uhuk," sekretaris Dika refleks tersedak.
"Tuh kan, lu kaget." ucap Davian.
"Enggak, Bos. Beneran deh, ya bagus aja kalau mereka nikah, gak ada salahnya. Memang kenapa harus nanya sama gue?" ujar sekretaris Dika.
"Kenapa lo gak jujur aja sih sama gue, Dik?" cecar Davian.
"Gue udah jujur, Bos. Harus gimana lagi gue?" jawab sekretaris Dika.
Gue sadar, saingan gue siapa. Gue juga tahu, Tira lebih pantas mendampingi Tuan Rangga, karena dia sudah sangat cocok menjadi Ibunya Nona Keyza. Mungkin, gue hanya bisa dekat dengannya sebagai sahabat saja. Batin sekretaris Dika.
"Nyesel baru tahu rasa lu, Dik." Davian terus saja mencecarnya.
"Diem lu, Bos. Gue lagi sibuk nyetir, ganggu aja!" sekretaris Dika kesal.
Dik, elu pasti bingung dengan perasaan lu sendiri. Maaf, soal hati, gue gak bisa bantuin lo, kecuali gue udah tahu kalau kalian saling suka. Jadi gue itu berat, gue berada diantara kalian. Rangga, Om gue, dan elu, asisten gue. Dan Tira, orang yang lu berdua suka, gue gak bisa banyak bantu elu ataupun Rangga. Gue cuma setuju dengan pilihan yang Tira inginkan. Selamat berjuang, Dik. Batin Davian.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
Apartemen Rangga.
Pagi ini, Tira gelisah sekali. Ia sudah rapi dan menyelesaikan pekerjaannya. Sarapan sudah tertata rapi di meja. Ia menengok berkali-kali kearah kamar Rangga, tapi tak jua Rangga keluar. Keyza pun masih tidur, dan Tira rasanya tak ingin membangunkan Keyza dengan cepat. Ia sangat sedih, jika benar mereka berdua akan pergi. Tira tetap berharap, bahwa ini semua hanyalah mimpi.
Tak lama, pintu kamar Rangga terbuka. Tira pura-pura bekerja lagi, ia pura-pura mengelap piring di meja makan, padahal ia sudah mengelapnya berkali-kali. Rangga terlihat menatap Tira sekejap, setelah itu ia segera pergi ke kamar mandi dan mengambil di rak gantung.
Tira merasa, hawa dingin itu kembali hadir. Apa mungkin Rangga masih tak ingat ucapannya semalam? Kenapa Rangga terlihat dingin sekali? Bahkan, ia tak menyapa Tira sedikitpun. Tak lama, Keyza pun bangun. Setelah Rangga selesai, Keyza dimandikan oleh Tira.
Kini, seperti biasa, mereka sarapan bersama. Masih belum juga terlihat Rangga mau berbicara padanya. Tira akan tetap menunggu sampai Rangga bicara padanya.
"Kakak, nanti di pesawat Key pengen duduk dipinggir jendelanya ya, Key pengen lihat dari atas. Kakak nanti duduk di pinggir Keyza, biar Ayah dibelakang aja. Oke?" pinta Keyza.
"Ah, i-iya, sayang. Kakak mengerti." Tira sangat bingung, ia sedih jika harus terus menerus membohongi Keyza.
Rangga hanya menatap Tira, tanpa berniat membalas perkataannya sedikitpun. Ia sungguh tak mau lagi terlibat pembicaraan dengan Tira, Rangga takut pertahanan yang telah ia bangun runtuh begitu saja. Ia harus kuat, sampai berada di Swiss nanti.
Tiba-tiba, bel apartemen berbunyi, Tira segera membukanya. Davian dan sekretaris Dika telah tiba saat Rangga akan membawa kopernya keluar.
"Dav?" Rangga kaget.
"Ga, gue mau ngomong sama lu." ucap Davian.
Rangga membawa Davian kedalam kamarnya. Mereka berbicara berdua. Entah apa yang Davian bicarakan, tapi dari luar kamar, Tira harap-harap cemas tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekretaris Dika menatap Tira yang terlihat cemas, ia mengerti hati dan perasaan Tira saat ini sedang kalut.
"Kakak Tira, Ayah sama Om lagi ngapain sih? Kok lama banget, kita kan mau berangkat ke bandara." ucap Keyza.
"Tunggu sebentar sayang, mungkin ada yang ingin Om Davian sampaikan." Tira tersenyum.
Sepertinya, Davian sedang mencegah Rangga untuk tidak jadi pergi ke Swiss. Sekretaris Dika bisa memahami sifat Tira saat ini. Ia pasti sedang dilema karena keadaan ini.
"Enggak, kok." ucap Tira.
Davian pun keluar dengan tatapan kecewa. Sepertinya, Davian tak berhasil mencegah Rangga. Terlihat, dari gelagatnya seperti orang yang kesal.
"Dik, ayo berangkat ke bandara. Bawa koper Tira, dan biarkan Tira satu mobil bersama kita." ucap Davian lalu berlalu keluar.
"Baik, Bos."
Tira kaget mendengar ucapan Davian. Apa ini berarti? Mereka akan tetap pergi ke Swiss? Air mata tira memenuhi ujung matanya, namun ia enggan menjatuhkan air mata berharga itu. Sesekali, ia mengusapnya, ia tak boleh terlihat sedih, karena ada Keyza di sampingnya.
Davian dan sekretaris Dika telah turun kebawah, Tira diminta untuk segera turun, karena mereka akan menunggu dibawah. Keyza bingung, kenapa Tira harus berbeda mobil dengan dirinya.
"Ayah, kenapa Kakak Tira tidak berada satu mobil dengan kita?" tanya Rangga.
"Tidak apa-apa, yang penting nanti di bandara kita akan bertemu. Ayo, kita berangkat."
Dua mobil itu melaju bersamaan, Davian pusing. Ia tak mengerti dengan cara berpikir Rangga. Tira yang duduk dibelakang terlihat sedih, dan Tira pun sepertinya tahu, kenapa ia harus berada didalam mobil Davian.
"Tira, Rangga sudah memutuskan untuk pergi. Setelah sampai di bandara, aku harap, kamu jangan turun dari mobil ini. Hanya aku yang akan turun, karena aku akan membawa mobil Rangga untuk ku bawa pulang. Rangga pun berpesan padaku, agar kamu jangan menunjukkan dirimu pada Keyza. Tetaplah di mobil ini, walaupun Keyza nanti sadar bahwa dia dibohongi. Apa kamu mengerti?" tanya Davian.
Tira terdiam. Dugaannya benar. Sejak tadi, ia sudah menyangka kejadiannya akan seperti ini. Ia sudah tahu, apa alasan Rangga meminta agar dirinya berada di mobil Davian. Dengan teganya, Rangga tak mengucapkan salam perpisahan apapun pada dirinya, Rangga benar-benar tak punya hati.
Teganya, Tuan Rangga padaku. Kenapa aku tak diizinkan mengucapkan salam perpisahan padanya? Kenapa rasanya aku ini seperti sedang dibuang olehnya? Sakit sekali rasanya hatiku. Ucapannya semalam, saat ia tak sadar, ia memang mengucapkan salam terakhirnya. Tapi, itu rasanya tak adil bagiku, karena apa? Karena dia tak sadar mengucapkannya, dan mungkin ia tak akan mengingat perpisahan semalam. Batin Tira dengan air mata yang berkaca-kaca.
"Tira?" panggil Davian karena Tira tak menjawab terus.
__ADS_1
"Ah, i-iya Tuan. Maaf, saya tak fokus." jawab Tira gugup.
Davian mengeluarkan amplop dari jas nya, "Tira, ini uang terima kasih Rangga sekaligus gaji untuk bulan ini. Dia berharap, semoga kamu menerimanya, jangan menolaknya, kamu berhak mendapatkan ini. Dia mengucapkan terima kasih, sekaligus meminta maaf padamu, karena selalu merepotkan mu. Ini, ambilah, Tira." Davian menyerahkan amplop pada Tira yang duduk di kemudi belakang.
Tira mengambil amplop itu dengan sendu. Ia menahan kesedihannya karena malu jika Davian dan sekretaris Dika tahu, bahwa dirinya sangat sedih. Ibarat perpisahan yang dipaksakan, dan dirinya tak diizinkan untuk bertemu yabg terakhir kalinya.
...🍂🍂🍂...
Dua mobil itu telah berada di bandara. Mobil Rangga sengaja terparkir didepan pintu masuk bandara, sedangkan mobil Davian berada sedikit lebih jauh dari mobil Rangga. Rangga keluar dari mobil bersama Keyza, Davian dan sekretaris Dika pun segera turun untuk ikut membantu mereka.
"Tir, tunggu saja disini. Kita tak akan lama." ucap Davian.
"Baik, Tuan." Tira pasrah.
Davian melangkahkan kakinya menuju mobil Rangga. Keyza sudah terlihat celingukan, karena Om nya tak bersama wanita yang ingin sekali ia jadikan Ibunya.
"Om, Kakak Tira mana?" tanya Keyza.
"Maaf, Kakak Tira tadi turun di jalan. Karena, ia harus pulang, ada keluarganya yang sakit. Jadi, dia tak bisa ikut bersamamu." jawab Davian.
"Sayang sekali, Kakak Tira gak bisa ikut Key. Gak apa-apa ya, lain kali kita ajak Kakak Tira nya. Ayo sayang, kita segera berangkat." ajak Rangga menggenggam tangan Keyza.
Keyza menepis genggaman tangan Rangga. Ia kesal, ia sedih, ia mengerti, bahwa dirinya dibohongi. Ia ingin sekali pergi bersama Tira, namun ternyata Tira tak ada.
"Ayah bohong! Ayah jahat! Ayah tega sama Key. Pokoknya, Key gak mau naik pesawat kalau gak sama Kakak Tira. Gak mau, Opah kecil." Keyza menangis meraung-raung.
Davian pun mencoba menenangkan Keyza, ia bingung bagaimana caranya menenangkan anak kecil, dirinya sendiri pun belum berpengalaman mengurus anak kecil. Sekretaris Dika mencoba menenangkan juga, namun tangis Keyza semakin menjadi.
"Kakak Tiraaaaaaa, Key tahu Kakak ada di mobil ujung sana. Kakak jangan berbohong sama Key, Kakak jangan tinggalin Key. Kalau Kakak gitu, Kakak jahat. Key benci Kakak Tira..." Keyza menangis dan berteriak-teriak.
"Kakak Tira.. Kakak Tira.. Ikut Key, Kakak. Jangan tinggalkan Key sendiri. Kumohon, Kakak. Kumohon, ikut bersama Key." Keyza terus saja menangis.
Tira melihat Keyza menangis meraung-raung padanya. Sakit, hati dan perasaannya sangat sakit. Ia pun menangis. Air matanya tak berhenti, ia terkejut, dan ia tak menyangka Keyza akan seperti itu mengenang dirinya. Tira benar-benar tak sanggup, apalagi ketika Davian dan Rangga memegangi tangan Keyza yang akan berlari menuju kearah mobil yang dinaiki Tira.
Tira tak tahan, ia ikhlas melepaskan Keyza pergi asalkan ia bisa melepasnya dengan salam perpisahan. Tapi, dia tak ikhlas jika caranya harus seperti ini. Dengan perasaan yang tak menentu, Tira membuka pintu mobil Davian, ia berlari sekuat tenaganya. Ia berlari kearah Keyza, ia tak sanggup, ia harus memeluk dan mencium gadis itu terlebih dahulu.
Rangga dan Davian tercengang melihat Tira yang memberanikan diri keluar dari mobil. Rangga ingin mencegahnya, namun tangan Davian menahannya. Davian membiarkan Tira keluar dari mobilnya.
Keyza melihat Tira berlari kearahnya, "Kakak Tira......." Keyza menangis melihat Tira berlari kearahnya.
Dengan nafas tak beraturan, Tira tersenyum, "Keyza sayang, maafkan Kaka Tira. Kakak tak bermaksud membohongimu. Ini semua salah Kakak, maafkan Kakak, Nak. Kakak Tira sayang Keyza, Kakak sangat mencintai Keyza. Walaupun kita jauh, tapi Keyza selalu ada di hati Kakak Tira, yakinlah sayang ..." Tira menangis, air matanya jatuh tak tertahankan.
"Kakak jahat, ayo ikut sama Key. Ayo, kita naik pesawat. Ayo, Kakak." Keyza masih terus menangis sesegukan sambil memeluk Tira.
"Maafkan Kakak, Key..." Tira memberikan isyarat, bahwa ucapan perpisahannya telah selesai, dan Rangga boleh membawanya.
Rangga segera memangku Keyza dengan paksa. Rangga tak ingin drama ini terus berlanjut. Ia sudah bulat dengan tekadnya. Ia sudah yakin, bahwa ia harus pergi menjauh. Keyza meronta kembali, dia terus-menerus memanggil Tira, namun rangga tak mengindahkannya. Hati Rangga pun sebenarnya sakit, namun Rangga tak bisa berbuat apa-apa. Ini sudah menjadi keputusannya, untuk meninggalkan Tira, dan kenangannya.
"KAKAK TIRA.... KAKAK TIRA... KAKAK TIRA..."
Key, maafkan Kakak. Tira menangis, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"KAKAK TIRA JAHAT, KAKAK TIRA GAK SAYANG SAMA KEY! KAKAK TIRA JAHAAAAAAAAT!" Keyza berteriak, hingga ia berlalu tak terlihat lagi dari luar bandara.
Sekretaris Dika membawa koper Rangga sampai menuju tempat pengecekan barang. Kini, hanya Tira seorang diri, tanpa gadis mungil dihadapannya. Davian tak tega melihat Tira yang sangat terpuruk seperti itu. Namun, apa boleh buat? Davian tak bisa membantu lebih.
"Tira, sudah jangan ditangisi. Percayalah, setiap perpisahan menyakitkan, akan ada pertemuan yang indah, yang akan menantimu di kemudian hari." pesan Davian menguatkan Tira.
__ADS_1
"Tuan Rangga, kenapa kamu senekad ini?"
*Bersambung*