
Part of Rangga.
Pesawat telah lepas landas. Perjalanan akan memakan waktu lama. Untungnya, Keyza berhasil dibujuk oleh Rangga agar tak menangis lagi. Rangga membujuknya dengan iming-iming bahwa tak lama lagi akan kembali bertemu Tira. Keyza pun kelelahan, ia tertidur didalam pesawat.
Rangga terdiam. Ia merenungi tindakannya saat ini. Ia merasa, tindakannya sudah benar. Ia yakin, tak akan menyakiti hati siapapun. Tak apa jika ia yang sakit, asalkan jangan banyak orang yang terluka karenanya. Jika ia memaksakan diri menikahi Tira, bukan hanya Tira saja yang akan terluka, tapi lelaki yang mencintai Tira, sekretaris Dika pun akan terluka.
Mungkin, sampai sini keberanian ku. Aku pernah menyesal mendekati wanita dan memaksanya untuk bersamaku, sampai aku harus dibenci oleh dua orang. Ya, Davian dan Arini pernah membenciku karena kelakuanku yang memalukan. Aku mengerti sekarang, aku tak boleh memaksakan perasaan orang lain. Mungkin, lebih baik dicintai daripada mencintai. Tapi, siapa yang akan mencintaiku? Tira lebih mencintai Dika daripada aku. Itu satu pertanda bahwa Tira adalah wanita yang tulus. Tak memandang materi atau yang lainnya. Padahal, si Dika punya apa dibanding aku? Aku lebih punya segalanya. Tapi, kurasa Tira tak membutuhkan semua itu. Pantas saja aku tak dipilihnya. Batin Rangga dalam hati.
Tiba-tiba, pesawat mengalami turbulensi ringan. Sehingga pesawat mengalami goncangan kecil. Karena goncangan itu, kepala Rangga merasa benar-benar pusing. Ia memegangi kepalanya yang begitu berat akibat goncangan pesawat, tiba-tiba, bayangan muncul di kepalanya, bayangan semalam Tira masuk ke kamarnya.
Ya Tuhan, ada apa dengan kepalaku? Kenapa ini berat sekali? Kenapa aku membayangkan Tira masuk kedalam kamarku? Dan, oh tidak, kenapa tiba-tiba aku memeluknya dengan erat? Bukankah aku sengaja mendiamkannya, agar aku lega meninggalkannya jauh ke Swiss. Astaga, apa ini bukan hanya bayangan? Bukankah semalam aku meneguk sebotol wine? Bukankah semalam aku mabuk? Tapi, benarkah Tira ke kamarku? Tira? Aku tak bisa mengingatnya dengan jelas. Ah, sepertinya memang Tira masuk kedalam kamarku, namun aku baru mengingatnya. Batin Rangga.
Rangga terus memegangi kepalanya yang sakit. Ia memijat-mijat keningnya, berharap pusingnya segera hilang. Rangga kini sadar, bahwa bayangan dalam otaknya adalah kejadian semalam ketika dirinya sedang mabuk tak sadarkan diri. Iya yakin, bahwa Tira khawatir padanya dan menemuinya kemarin malam. Tiba-tiba, terngiang-ngiang ucapan yang Rangga lontarkan dari mulutnya ... Rangga kaget.
Ternyata, aku telah mengucapkan salam perpisahan padanya. Dia terlihat ketakutan padaku. Kasihan sekali dia. Tira, maafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu. Mungkin, aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan padamu.
Air matanya mengalir. Ia menangis, ia ingat ucapannya semalam pada Tira. Ia ingat, semalam dirinya memeluk Tira dengan kehangatan. Ia lega, ia sempat memeluk wanita itu. Air mata itu terus membasahi pipi Rangga. Hingga Rangga tak sadar, ternyata Keyza pun terbangun karena guncangan itu, dan melihat Rangga. Keyza terus menatap Rangga.
"Ayah Rangga menangis?" tanya Keyza polos.
"Ke-Key, kamu sudah bangun? Sejak kapan kamu bangun?" Rangga kaget.
"Sejak Ayah menangis," jawabnya lagi.
"Ayah gak kenapa-napa kok," Rangga mengusap air matanya.
"Ayah Rangga bohong. Ayah sedih ya, kakak Tira gak ikut. Kalau Ayah sedih, harusnya Ayah ajak Kakak Tira. Agar Key ada temennya. Ayah memang jahat." Keyza cemberut lagi.
"Ayah sakit kepala, sayang. Tadi pesawatnya goyang, seketika itu kepala Ayah pusing. Makanya Ayah memegangi kening, dan langsung menangis karena sakit." Rangga berbohong.
"Aku sudah tahu kalau Ayah berbohong. Aku hanya ingin kembali dengan Kakak Tira." jawab Keyza.
"Di Swiss juga ada seperti Kakak Tira nanti, Ayah carikan TKI asal indonesia, agar Keyza tak kesulitan berinteraksi dengannya." rayu Keyza.
"Gak mau!" bantah Keyza.
"Key, sayang, jangan gitu!"
"Jangan bicara sama Key, Key lagi marah sama Ayah Rangga!" ucap Keyza polos.
"Ya, ya, baiklah jika anak cantik ini sedang marah, nanti setelah sampai di Zurich, Ayah Rangga mau beli es krim sendiri aja deh!" Rangga terus membujuk Keyza.
__ADS_1
Keyza tak menjawab ucapan Rangga. Ia cemberut. Ia masih marah rupanya. Walaupun begitu, Rangga lega, karena Keyza tak menangis selama di pesawat. Rangga berharap, semoga kesedihan ini cepat berlalu, dan mereka bisa menjalani hidup sebagaimana mestinya.
...🍂🍂🍂...
Part Of Tira dan Dika.
Sekretaris Dika mengajak Tira jalan-jalan ke taman di pusat kota. Taman dengan pemandangan yang indah dan menyejukkan. Tira senang, ia bisa melihat pemandangan indah ini. Walaupun sekretaris Dika terlihat cuek, tapi ternyata ia bisa menemukan tempat secantik ini.
"Laper gak, Ra? Kalau laper, kita makan sekarang." ajak sekretaris Dika.
"Belum, nanti saja. Aku masih pengen disini, disini tempatnya indah, nyaman dan sejuk." ucap Tira.
Sekretaris Dika menatap Tira, "Kamu seneng?"
"Ya, tentu saja. Makasih sudah mengajakku kesini." jawab Tira.
"Ya, Ra. Asalkan kamu tak sedih lagi," Dika membalas senyuman Tira.
Ternyata, alangkah indahnya jika mereka berdua tak saling mencemooh. Hidup damai seperti ini ternyata lebih indah dan tenang. Baik Tira, maupun sekretaris Dika, dua-duanya sama merasa lega karena mereka tak perlu lagi melakukan perdebatan sengit yang seperti biasa mereka lakukan.
"Padahal, dari dulu saja kita akrab seperti ini, ya?" ucap sekretaris Dika.
"Ah, i-iya benar." jawab Tira gugup.
"Aku juga, selalu menyebutmu beruang kutub. Maaf," Tira menatap sekretaris Dika.
"Aku yang salah, karena aku yang memulai mengata-ngatai dirimu." ucap sekretaris Dika.
"Udah, gak apa-apa kok, lupain aja. Udah lalu ini kan," tambah Tira.
Badan sekretaris Dika berbaik kearah Tira, "Salaman dulu dong? Kita baikan nih, gak ada perang dingin lagi, oke?" sekretaris Dika ingin berjabat tangan dengan Tira.
Tira menerima jabatan tangan Dika, "Iya, kita rekan kerja sekarang. Gak boleh perang dingin lagi."
Hanya rekan kerja kah? Batin sekretaris Dika.
"Makan yuk? Makan bakso di ujung jalan sana aja, enak banget Ra." ajak sekretaris Dika.
"Ayo, kayaknya enak sore-sore begini makan bakso."
Sekretaris Dika dan Tira berjalan kaki menuju pedagang bakso yang tak jauh dari kawasan taman kota. Mereka sengaja berjalan kaki saja, karena jika naik mobil pun akan bingung nanti menyimpan mobil dimana, karena pedagang baksonya berada di pinggir jalan raya.
__ADS_1
Mereka telah sampai di tempat bakso. Tempat makan didalam ruangan ternyata penuh, akhirnya Tira dan sekretaris Dika makan diluar dipinggir gerobak nya. Mereka pun menyantap bakso yang telah dihidangkan. Sekretaris Dika hanyalah laki-laki sederhana, ia lebih menyukai hal-hal yang se-sederhana ini, daripada harus makan di cafe atau restoran.
🍂🍂🍂
Ternyata, tanpa disengaja, Ibu Arini dan Nadya sedang berjalan disekitar taman kota. Nadya tengah mengantar Ibu Arini, membelikan beberapa pakaian untuk bayi Arini yang akan diberikan nanti setelah bayinya lahir. Mereka akan naik angkutan umum di ujung jalan sebelah sana. Mereka berjalan disekitar taman kota.
"Buk, indahnya taman kota sekarang. Kalau pejabatnya amanah, tempatnya bisa rapih dan terawat seperti ini." ucap Nadya.
"Bener yo, Nad. Tempatnya jadi apik sekali. Dulu tak seperti ini, dulu debu dimana-mana, tempatnya juga gersang sekali." tambah Ibu Arini.
"Iya, Bu. Tempatnya cocok buat jalan-jalan sama kekasih!" Nadya tersenyum.
"Ayo dong, kamu cari kekasih, Nad." goda Ibu Arini.
"Ah, Nadya tak secantik Arin Bu. Nadya biasa-biasa saja. Laki-laki mana yang mau sama aku?" Nadya pesimis.
"Eh, kamu gak boleh pesimis, Nad. Kamu harus semangat. Kamu cantik, coba sesekali berdandan, biar terlihat lebih cantik." saran Ibu Arini.
"Iya sih, Bu. Nanti deh Nad belajar dandan. Hihi." Nadya tersipu malu.
Pandangan Ibu Arini tertuju pada tempat bakso. Ia seperti melihat seseorang yang dikenalnya. Ibu Arini mengucek matanya, memastikan bahwa ia tak salah melihat.
"Nad, kamu lihat deh itu tempat bakso diujung sana, bukankah itu sekretaris Dika ya Nad? Dia lagi makan bakso di tempat itu." tunjuk Ibu Arini pada Dika dan Tira yang sedang makan bakso bersama.
"Wah, mana Bu? Mana sekretaris Dika?" Nadya sangat antusias.
Matanya mencari-cari keberadaan orang yang ia kenal. Hingga ia melihat sekretaris Dika, sedang mengelapkan tisu pada seorang wanita. Mata Nadya kaget, ternyata itu adalah Tira, sang asisten di keluarga Davian. Sekretaris Dika sedang mengelap pipi Tira dengan tisu, mata mereka berpandangan, membuat Nadya sedikit sedih.
"Wah, itu dia sama Neng Tira juga, toh. Mereka romantis sekali." ucap Ibu Arini.
Iya, Bu. Mereka romantis sekali, sampai-sampai membuat aku sedih melihatnya. Tahukah Ibu? Sekretaris Dika adalah laki-laki pertama yang mengantar aku pulang ke rumah. Kenapa aku malah sedih ya melihatnya? Batin Nadya.
"I-iya, Bu. Ah, biarin saja. Mungkin mereka sedang makan bersama." ucap Nadya.
"Nad, ayo kita temui sekretaris Dika, siapa tahu dia membawa mobil, jadi dia bisa mengantar kita pulang. Ayo, daripada nunggu angkutan umum, kan lama sekali." Ibu Arini menggenggam tangan Nadya.
"Eh, Bu, jangan, kan malu. Aduh," Nadya keberatan.
"Gak usah malu, Ibu udah gak asing lagi sama sekretaris Dika. Ayo, Nad." Ibu Arini memaksa Nadya ikut dengannya untuk menemui sekretaris Dika.
Mungkin mereka pacaran. Bahagia sekali rasanya jadi wanita cantik, bisa disukai dan disayangi oleh laki-laki, seperti Arin dan Tira. Kapan ya, aku bisa dicintai seperti mereka?
__ADS_1
*Bersambung*