Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Bagaimana?


__ADS_3

Davian sudah ada di rumah Ibu Arini. Semuanya telah selesai ketika Davian datang kembali. Arini tersenyum menyambut kedatangan Davian. Sebisa mungkin, Davian harus bisa menyembunyikan kerisauan yang sedang ia alami saat ini.


"Mas, semuanya udah selesai." ucap Arini


"Syukurlah. Kamu sudah makan?" tanya Davian


"Sudah, Mas. Apa Mas belum makan?" tanya Arini


"Aku belum makan. Pulang dari sini, bagaimana kalau kita mampir ke restoran?" ajak Davian


"Boleh Mas. Kita temui Ibuk dulu yuk, didalam." ajak Arini


"Iya, sayang."


Arini masuk kedalam rumah baru Ibunya. Di sana masih ada beberapa pekerja yang sedang menikmati hidangan yang disiapkan oleh Ibu Arini. Ada juga Nadya, yang sedang membereskan persiapan untuk opening mini marketnya.


"Rin, semuanya udah siap. Pokoknya, lo tenang aja, Gue yang akan handle semuanya." ucap Nadya


"Thanks, Nad. Lo udah mau menerima kerjaan ini." ucap Arini


"Gue yang makasih sama lo, berkat lo gue jadi kasir mini market, bukan kasir warung lagi."


"Bisa aja lo, xixi." Arini tertawa


Arini menuju Ibunya yang sedang membereskan sisa-sisa makanan. Davian mengikuti Arini dari belakang.


"Bu, Ibu sedang apa? Jangan terlalu capek, biar Arini aja yang beresinnya." ucap Arini


Bu, apa tak sebaiknya Davian memberikan asisten rumah tangga, untuk Ibu? Agar Ibu tak pelu capek-capek mengerjakan ini semua?" saran Davian


"Tak usah, Nak Davian. Ibu masih bisa mengerjakannya sendiri. Kalau Ibu ada yang membantu di rumah, lalu Ibu kerjain apa? Ibu pasti bosen, lebih baik Ibu seperti ini saja, ini tidak melelahkan kok. Ibu senang mengerjakannya." jawab Ibu Arini


"Kalau Ibu lelah, segera hubungi Davian ya, Bu. Davian akan segera mencarikan asisten untuk Ibu." jawab Davian


Davian melupakan sesuatu. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas nya. Ia membelikan handphone untuk Ibu Arini.


"Bu, ini handphone untuk Ibu. Agar memudahkan Ibu menelepon kami, jika Ibu merindukan kami."


"Eh, Nak Davian. Tak perlu repot-repot! Kenapa kamu harus sebaik ini pada Ibu? Ibu malu, kamu selalu mengeluarkan uang banyak untuk Ibu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Buk. Davian sudah berjanji. Akan membuat Arini bahagia. Kebahagiaan Ibu tentu saja menjadi kebahagiaan Arini juga. Untuk itu, Davian akan membahagiakan Arini dan juga adik-adik." ucap Davian


Arini yang mendengar ucapan Davian seketika menoleh. Ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Davian, sang suami.


"Mas, terima kasih." Arini berkaca-kaca


"Sama-sama, sayang. Ayo, kita pamit sama Ibu." ajak Davian


Arini memeluk Ibunya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Arini benar-benar menyayangi Ibunya. Davian sangat paham akan hal ini. Karena itulah, Davian juga ingin membahagiakan Ibu Arini dan adik-adiknya.


"Bu, Arin pamit dulu ya. Ibu jaga diri, Arin sayang Ibu, kalau ada apa-apa, hubungi Arin ya, Bu? Ini udah hampir sore, Arini pamit dulu ya, Bu!" ucap Arini


"Iya, Nak. Hati-hati dijalan ya. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan juga untuk Davian."


"Terima kasih, Bu. Kami pamit dulu ya." tambah Davian


"Assalamualaikum." ucap Arini


"Waalaikumsalam, hati-hati."


Arini dan Davian pamit. Mereka akan pergi ke restoran terlebih dahulu, sebelum pulang ke rumahnya. Karena, Davian memang belum makan siang sejak tadi.


Arini terlihat menatap Davian dengan penuh cinta. Arini patut bersyukur, memiliki suami yang tampan dan menawan. Davian adalah paket lengkap. Semuanya ia punya. Ganteng, kaya, gagah, tubuh berotot, idaman semua wanita, jelas Davian sangatlah populer dikalangan wanita.


"Kamu mau makan gak?" tanya Davian


"Nggak, aku mau pesan minum aja, Mas." ucap Arini.


"Baiklah." jawab Davian


"Mas?" tanya Arini


"Ya?"


"Mas marah sama aku?" tanya Arini


''Nggak, kenapa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Davian lagi


"Mas beda banget, kayak gak semangat gitu. Biasanya juga becandain aku, rasanya aku juga jadi gak semangat kalau Mas Davian kaku kayak gini." keluh Arini

__ADS_1


Davian terdiam. Bukan tanpa sebab Davian lesu seperti ini. Davian terbebani dengan hal yang akan terjadi selanjutnya antara Arini dan dirinya.


"Jangan cemberut gitu dong, sayang. Aku lagi banyak kerjaan nih. Aku lelah, maafin aku ya kalau aku cuek sama kamu." ucap Davian


"Tapi, kamu gak marah kan sama aku?" ucap Arini


"Nggak dong sayaaang, ngapain aku marah sama kamu!" Davian mencubit pipi Arini


"Auwh, sakit dong Mas. Udah nih, kamu makan dulu. Kasihan, kamu belum makan dari tadi." ucap Arini


"Iya, iya sayang."


Davian menikmati makannya. Dirinya memang lapar, namun pikirannya menjalar kemana-mana. Ia bingung, bagaimana caranya mengatakan semua ini pada Arini perihal obrolannya dengan sekretaris Dika. Davian bingung, ia takut Arini tak mampu menerima semua ini. Ia juga takut, kalau Arini malah marah padanya dan tak bisa mengerti kondisi Davian yang sebenarnya.


"Sayang, kalau kita LDR, gimana ya?" tanya Davian.


"Kok Mas ngomongin LDR sih? Emang kenapa?" Arini bingung.


"Gapapa, aku cuma mau nanya aja pendapat kamu, ada beberapa temanku yang harus LDR karena tuntutan pekerjaan. Menurutmu, apakah salah jika hubungan suami istri harus LDR?" Davian pura-pura bertanya.


"Tentu tidak. Jika tak ada pilihan lain, tentu saja jarak jauh adalah solusi yang tepat. Selagi jarak jauh, tetap saling percaya dan komunikasi dengan baik, why not? Cinta akan tetap ada walaupun hubungan jarak jauh." jelas Arini.


"Kalau aku dan kamu melakukan hubungan jarak jauh, apa sanggup?" tanya Davian tiba-tiba.


"Ha? Kok aku sih? Emangnya Mas mau pergi kemana?" tanya Arini.


"Enggak kok. Aku hanya mengumpamakan saja. Bagaimana kalau kita menjalani hubungan jarak jauh?" tanya Davian.


"Ya tidak apa-apa, selagi hubungan tetap hangat dan romantis. Tapi, resiko jarak jauh itu pasti rasa kangen yang tak tertahankan dan tak bisa terobati." jelas Arini.


"Jadi kamu keberatan kalau kita menjalani hubungan jarak jauh?"


"Loh, jarak jauh gimana sih? Bukannya itu hanya perumpamaan, kenapa Mas Davian seperti akan sungguhan saja?" Arini heran.


"Mm, i-itu, sayang .. Sebenarnya, aku ..." Davian tak sanggup mengatakannya.


Ini pura-pura ya gais.. harap dimengerti. semua ini skenario Davian saja. Jadi, gak ada yg namanya kok bisa sih baru semester dua jadi dokter, belum pelatihan, belum koas dan sebagainya, memang kan ini cuma pura-pura sayang🥰🤗


Dokter pura-pura..

__ADS_1


Ini PENYAMARAN sebagai dokter. Arini tidak memeriksa pasien ya, ingat, ini bukan dokter sungguhan. Agar gak ada lagi yang komen bilang kok bisa jadi dokter, padahal belum lulus, kan saya jelaskan penyamaran dan pura-pura. jangan terlalu dibawa dalam kehidupan real.


__ADS_2