Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Gara-gara pumping ASI


__ADS_3

Sekretaris Dika mati kutu. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Nadya telah membeberkan semuanya. Sekretaris Dika benar-benar malu dan ia bingung harus beralasan apa lagi. Kalau ia jujur, ia pasti ketahuan kalau hanya ingin mengajak Nadya jalan.


"Pompa susu? Untuk aku? Kapan aku nyuruh kamu, Dik?" tanya Arini.


"Eh, i-itu, sebenernya Nona gak nyuruh, tapi Mbak Rita bilang, kalau pompa ASI nona kadang macet, katanya. Jadi aku beliin aja yang baru." sekretaris Dika mencari alasan.


"Ah, alesan aja lu. Bilang aja itu alesan biar lu bisa jalan sama Nadya. Iya kan?" Davian tersenyum nakal.


"Eh, Bos apaan sih, enggak kok!" sekretaris Dika kikuk.


"Eh, udah-udah. Mas, ayo cepetan kita ke mobil. Ayo! Biarin sekretaris Dika sama Nadya. Kita pulang aja, ayo cepet." Arini memaksa Davian untuk segera pergi.


"Yang, ini pompa ASI dari si Dika mau diambil enggak?" tanya Davian.


"Gak usah, nanti aja di rumah. Di mobil kan ada," ujar Arini.


"Oke baiklah. Ya udah curut, gue duluan ya, istri gue lagi ga enak badan. Selamat bersenang-senang!" ucap Davian.


"Ah, i-iya Bos."


Davian berlalu. Sekretaris Dika jadi salah tingkah pada Nadya. Nadya mencoba tetap santai dan biasa saja mengetahui sekretaris Dika yang membohonginya. Nadya ingin tertawa, namun ia menahannya. Wajah sekretaris Dika memerah, mungkin ia malu.


"Pak, makan yuk?" ajak Nadya memecah keheningan.


"Ah, i-iya boleh. Makan apa ya?" tanya sekretaris Dika.


"Di sana ada restauran western enak banget, ke sana aja yuk?" ajak Nadya.


"Boleh, Nad. Ayo ..." mereka berjalan menuju restoran yang dituju oleh Nadya.


Sekretaris Dika terlanjur gugup dan malu pada Nadya, ia bingung harus berkata bagaimana, karena Nadya telah mengetahui bahwa dirinya berbohong. Apalagi, pompa ASI ini masih berada di tangannya. Arini dan Davian tentu saja tak mungkin mengambil pompa ASI itu, karena mereka tak membutuhkannya.


"Nad, maafin aku ya," ucap sekretaris Dika.


"Eh, gak apa-apa kok, Pak." ucap Nadya.


Malu ... Malu banget gue! Tau gini, gue ajak aja Nadya jalan-jalan, gue gak usah pura-pura mau beliin sesuatu suruhan Bos. Tahunya gue sama Bos malah ketemu disini. Sial banget sih gue hari ini. Lagian, si Bos ngapain nongol dan manggil gue coba? Kalo aja gue gak ketemu sama Bos, gue gak akan se-malu ini sama Nadya. Batin sekretaris Dika.


"Pak Dika mau pesan apa?" tanya Nadya.


"Pesan Cordon bleu aja deh. Steak Cordon Bleu. Kamu mau apa?" ucap sekretaris Dika.


"Spicy tuna roll, enak kayaknya. Aku pesan itu aja deh." ujar Nadya.


Mereka pun memesan makanan di western restaurant tersebut. Dika masih gugup dan malu-malu pada Nadya, padahal Nadya terlihat biasa saja. Berbohong memang satu hal yang memalukan dan akan terus membekas, sekalipun kita telah meminta maaf.


Tak lama, pelayan datang membawa pesanan Nadya dan sekretaris Dika. Mereka berterima kasih pada pelayan yang telah melayani mereka dengan baik. Sekretaris Dika dan Nadya mulai menyantap sajian dari restoran tersebut. Sekretaris Dika memotong kecil-kecil steaknya, ia ingin Nadya mencicipi steak yang ia makan.


"Nad, coba cicipi steak ini. Enak," ucap sekretaris Nadya sambil menyodorkan garpu yabg berisi steak.


"Ah, i-iya Pak Dika. Makasih," Nadya gugup.


"Buka mulutnya, aaaaaaaaaa," sekretaris Dika menyuapi Nadya.


Nadya menerima suapan yang sekretaris Dika berikan. Ia gugup dan malu, karena sekretaris Dima sifatnya manis sekali. Ingin rasanya Nadya berjingkrak bahagia, namun ia malu karena harus menjaga image-nya.


"Makasih, Pak." ucap Nadya.


"Ya, Nad. Gimana rasanya?" ucap sekretaris Dika.

__ADS_1


"Enak kok Cordon bleu nya. Pak Dika mau coba, spicy tuna aku?" tanya Nadya.


"Boleh, sini aku coba." ucap sekretaris Dika.


Nadya memotong-motong spicy tuna nya. Ia memberikannya pada sekretaris Dika. Nadya bingung, ia kira sekretaris Dika akan mengambil sendiri, ternyata sepertinya sekretaris Dika ingin disuapi juga oleh Nadya. Nadya menyuapi sekretaris Dika, tiba-tiba tangan sekretaris Dika memegang tangan Nadya, dan dengan cepat memakan makanan yang Nadya suapi untuknya.


Tangan mereka berpegangan bersamaan memegang garpu. Nadya dan sekretaris Dika saling menatap satu sama lain. Kedekatan ini sudah mulai hangat, mereka berdua pun sama-sama tersenyum, tersipu malu karena tangannya saling berpegangan. Nadya segera melepaskan tangan Diak, begitu pun juga Dika yang malu karena refleks memegang tangan Nadya.


"Ayo, lanjut lagi makannya." ucap sekretaris Dika.


"Ah, i-iya Pak. Ayo," Nadya tersenyum pada sekretaris Dika.


...🌸🌸🌸...


Adegan 21+


Dibawah umur, skip saja. Makasih. Bijak-bijaklah membaca tulisan. Jangan membaca jika dibawah umur πŸ€—


Setengah jam kemudian.


Davian telah melajukan mobilnya. Arini sibuk mencari-cari sesuatu didalam tas besarnya. Arini terlihat gusar, karena mencari-cari alat pumping ASI-nya yang tidak ada didalam tas nya. Arini tak kuat, karena semakin lama, rasa sakitnya semakin menjadi.


"Sayang cari apa?" tanya Davian.


"Cari pumping ASI, Mas. Tadi perasaan aku masukin deh ke tas, tapi kok gak ada sih!" Arini kesal.


"Loh, kamu. Katanya tadi dibawa. Kamu gimana sih yang," Davian seperti menyalahkan Arini.


"Mas, pay*dara aku sakit nih. Bisa diem gak? Kok kamu nyalahin aku terus. Perasaanku tadi udah aku masukin kedalam tas, kok sekarang malah gak ada sih. Kan aneh!" Arini terus berbicara.


"Tadi kan si Dika beliin alat pompa ASI buat kamu. Aku suruh bawa, kata kamu gak usah karena ada di mobil. Padahal, tahu gitu tadi anggap iya aja pas si Dika bohongin Nadya bahwa kamu suruh beliin dia pompa ASI. Biar si Dika gak malu sama Nadya. Ada benernya juga tuh si curut! Kalau aja tadi aku ambil itu pompa ASInya kamu gak akan kesakitan kayak gini. Mungkin kamu lupa masukinnya, sayang. Pasti deh ketinggalan di rumah." ucap Davian.


"Udah deh berisik, jangan ngomel aja! Sakit banget, Mas. ASI nya belum dikeluarin udah beberapa jam. Aduh, sakit ..." Arini merintih kesakitan.


"Aarrrgghhh, ke Mall kejauhan Mas! Udah, berhentiin mobilnya sekarang. Kepinggirin dulu. Cepet!" perintah Arini.


"Baik, yang." Davian memberikan sensen ke kiri, pertanda ia akan menepi.


Arini tak kuat lagi menahan air susu yang memenuhi pay*daranya. Bayangkan saja, sudah hampir lima jam ia tak memompa air susunya. Ia bingung, sudah terlambat jika harus membeli lagi pompa ASI.


"Apa sayang?" tanya Davian.


"Mas, keluarin ASI-ku!" perintah Arini.


"Ha? Gimana caranya Rin? Kok kamu aneh-aneh banget sih!" Davian menggaruk kepalanya.


"Ya gimana kek caranya! Aku sakit banget, Mas. Kok kamu tega sih ngebiarin aku sakit kayak gini. Kamu hisap aja pay*dara aku! Biar ASInya keluar!" perintah Arini lagi.


"HAH? Gak mungkin dong yang! Masa aku minum ASI baby Calan sih!" Davian menolak.


.


"Mas, ayo dong! Aku sakit banget nih, gak kuat! Kamu hisap aja deh, terus jangan ditelan ASI-nya, tumpahin ke toples kue yang di belakang. Kue nya buang aja! Cepetan!" pinta Arini.


"Yang, aku belum pernah loh nyentuh bola dunia kamu lagi pasca kamu melahirkan! Aku gak enak ah, apalagi sekarang ada ASI-nya, aku geli," ucap Davian.


"Mas, ayo dong! Tolong aku, sakit banget ini. Sayang istri gak sih! Istri kesakitan kok diam aja!" bentak Arini.


"Eh, i-iya sayang. Tapi, aku geli kalo harus nyedot ASI-nya. Duh, gimana ya Rin? Aku bingung." Davian menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


"MAS! MAS SAYANG GAK SIH SAMA AKU? MENYEDOT ASI ISTRI ITU GAK HARAM KOK, KAMU GAK MAU, BUANG AJA KE TOPLES KUE YANG DI BELAKANG. GAK AKAN JADI SEPERSUSUAN KALAU CUMA SEKALI MENYEDOT. AYO, MAS. AARRHHH!!!!" Arini membentak Davian.


"Bukan masalah itu, yang. Aku tahu, gak haram kok minum ASI, aku udah baca di internet, cuma aku gak biasa aja. Ba-baiklah, aku akan menyedot ASI-mu biar kamu gak sakit lagi." Davian mendekat pada tubuh Arini.


"Cepet, Mas!" tegas Davian.


Davian membuka kancing baju Arini perlahan. DEG, jantungnya berdetak tak karuan. Sudah hampir dua bulan ini ia tak pernah menyentuh lagi pay*dara Arini. Davian mengeluarkan buah dada Arini dari BH-nya. Dengan sigap Davian menghisap ASI milik Arini. Nikmat, itulah yang dirasakan Davian ketika ia bisa menghisap lagi pay*dara indah milik istrinya itu.


Davian bingung jika membuang ASI-nya. Ia memutuskan tak membuangnya. Setiap ASI yang keluar dari buah dada Arini, ia telan habis-habis. Davian seperti bayi yang sedang kelaparan. Arini menggelinjang hebat ketika suaminya itu terus menghisap bagian sensitif miliknya.


"Aaaaah, Mas. Mmmmmhhhh, Geli, ih. Sama Baby gak gini loh rasanya!" ujar Arini.


Davian tak menjawab. Ia terus menghisap buah dada Arini dengan sigap. Davian menghisapnya dengan nafsu yang membara. Setelah sekian lama Davian tak menghisapnya, baru kali ini ia menghisap ASI milik istrinya. Ular cobra Davian sudah bangun, karena ia terus menyedot ASI Arini. Davian keenakan, hingga saat pay*dara Arini sudah tak sakit lagi, Davian terus saja menyedotnya.


Arini memukul-mukul lengan Davian. Arini ingin Davian melepaskan hisapannya di payudara Arini. Namun, Davian tak mengindahkannya. Davian sudah terlanjur nyaman menggantung dibawah buah dada istrinya itu.


"Mas, lepas!!!" teriak Arini.


Davian melepaskan buah dada Arini, hingga pay*dara itu menggantung indah di atas BH-nya. Davian tersenyum senang, seperti hasratnya telah tersalurkan.


"Udah dong! Kan udah gak sakit lagi. Katanya mau di buang ASI-nya, kok malah di telan sih?" tanya Arini.


Arini segera membetulkan BHnya dan segera mengancingkan bajunya kembali.


"Gak apa-apa, kok. Minum ASI istri hukumnya makruh, lagian ini kan mendesak, kamu kesakitan, jadi aku tolongin kamu!" ucap Davian.


"Iya, tolongin sih tolongin. Pas aku suruh udah, kamu malah anteng aja nyedot terus!" keluh Arini.


"Enak, yang! Hehe." Davian tertawa.


"Apanya yang enak? ASI-nya enak?" tanya Arini.


"Bukan, bola dunia kamu yang enak! Aku udah lama banget gak mainin dia. Pas tadi mainin, enak banget deh! Makasih ya," ucap Davian.


"Aku yang harusnya makasih, Mas. Lega sekarang, udah gak sakit lagi." ujar Arini.


"Tanggung jawab kamu, Rin ..." ucap Davian tiba-tiba.


"Tanggung jawab apa, Mas?"


"Kamu udah bangunin Cobra aku yang tidur! Nih, masih bangun. Lihat gak kamu! Tanggung jawab loh. Ini udah lebih 40 hari kan? Udah mau dua bulan kan? Berarti udah bisa dong? Yuk pulang, kamu harus tanggung jawab sama si cobra!" ucap Davian.


"Ih, apaan sih Mas. Kok jadi kesitu sih! Aku masih takut, Mas. Udah ah, ayo pulang. Kasihan baby kita!" elak Arini.


"Oke, aku gak sabar pengen cepet-cepet nyampe rumah. Mau nagih janji." tegas Davian.


"Eh, dasar kamu ya. Aku gak janji sama sekali." Arini menolak.


"Liat aja kalau kamu nolak, nanti ulah cobra nya gigit dan menerkam kamu!" Davuan tertawa sambil kembali menancapkan gas mobilnya.


"Haish, auk ah gelap!" Arini mendelikkan matanya.


*Bersambung*


Hai..


Mohon maaf jika ada sedikit kesamaan cerita dengan novel sebelah. Ini bukan plagiat ya, hanya kebetulan obrolannya menjurus kesitu, jadi aku ter inspirasi nulis adegan seperti itu bab ini.


Semoga gak ada komentar nyelekit 🀭🀭

__ADS_1


Makasih guys atas dukungannya ...


Meminum ASI istri itu tidak apa-apa jika hanya sekali. Apalagi, dalam keadaan darurat ya kak, aku sudah baca keterangannya di artikel.. Asalkan tidak sering dan berkali-kali. Ini kan keadaan darurat. semoga mengerti ya,πŸ₯°πŸ˜˜


__ADS_2