Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 14


__ADS_3

Sekretaris Dika masih bisa menggunakan akal sehatnya untuk tidak melukai anaknya sendiri. Ia terlalu emosi, saking marahnya pada Elang karena selalu berbuat semaunya. Niat hati ingin menanyakan perihal Nisha yang tersakiti olehnya, akhirnya sekretaris Dika pun ikut tersakiti karena melihat anaknya sedang berduaan di sebuah hotel bersama dengan wanita yang ia sebut kekasih.


"Pulang sekarang! Tinggalkan wanita jal@ng itu!" tegas sekretaris Dika.


"Ta-tapi, Yah ..." Elang berat meninggalkan Rena sendirian.


"Cepat pulang, Elang!" teriak Nadia.


"Ba-baik, Maa." Elang menunduk lesu.


Elang menatap Rena yang malu dan menutupi wajahnya, Elang menatapnya tanpa henti, Elang mengisyaratkan bahwa ia akan menemui Rena lagi setelah amarah kedua orang tuanya redam. Rena ditinggalkan sendirian di kamar hotel tersebut, Sekretaris Dika dan Elang telah pergi meninggalkannya sendirian, dan ia menyesal tak jadi menikmati malam panjang bersama Elang.


...🌸🌸🌸...


Sekretaris Dika menyeret Elang menuju sofa rumahnya. Emosinya masih tak tertahankan, karena perbuatan biadab anak sulungnya itu. Dika menarik kerah Elang, agar Elang berdiri, dan Dika menamparnya berkali-kali. Dika kesal dan emosi, saking kesalnya, ia tak sadar telah membuat Elang babak belur.


Nadia menangis, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa ketika suaminya itu telah marah besar. Elang berkali-kali meminta maaf dan memohon, tapi amarah Dika tak tertahankan. Ia terlanjur kesal dengan tingkah bodoh yang dilakukan anaknya.


"Ayah, hentikan, kamu sudah keterlaluan!" Nadya terus menarik tangan sekretaris Dika yang penuh emosi.


"Ampun, Yah. Ampun ... aku menyesal, sungguh aku menyesali perbuatan ku. Maafkan aku, hentikan semua ini, tubuhku terasa remuk, Ayah." suara lemas keluar dari mulut Elang.


"Ini balasan yang setimpal atas perbuatanmu, Anak bodoh! Kamu mencoreng nama baik keluarga, kamu membuat aku malu atas perbuatan biadab mu itu. Aku menyekolahkan kamu sampai kamu harus sukses, tapi kamu malah mengecewakan aku dengan tidur bersama wanita jal@ng itu. Kurang ajar sekali kamu, Lang!" Sekretaris Dika melemparkan tubuh Elang ke sofa.


"Ayah, percayalah padaku. Aku dan Rena tak melakukan apapun, seperti yang Ayah lihat, bajuku masih utuh terpakai, bukan? Kumohon, percayalah. Aku belum sampai melakukan hal itu, aku bersyukur, karena Ayah tiba tepat waktu. Maafkan aku, Yah. Aku khilaf." Elang terbujur kaku.


"Aku sudah terlanjur kecewa melihat kejadian ini. Aku mana mungkin bisa percaya dengan anak sialan seperti kamu! Aku tak yakin, kamu belum melakukan apa-apa dengan jal@ng itu. Yang barusan kulihat, kalian belum melakukan apapun, tapi di hari-hari sebelumnya? Aku tak mengontrol kamu, Elang! Aku tak tahu apa yang kamu perbuat di belakangku. Aku yakin, kamu telah meniduri jal@ng itu berkali-kali. Benar begitu, kan? Kamu brengs3k sekali, Elang! Kalau sampai wanita itu hamil, apa yang akan kau lakukan, ha?" cecar sekretaris Dika.


"Ayah, aku berani sumpah! Aku belum pernah tidur dengannya, Ayah. Percayalah padaku, aku sungguh-sungguh dengan ucapanku." ucap Elang membela diri.


"Aku tak ingin mendengar pembelaan darimu, karena aku sudah tak akan mempercayai anak sepertimu! Aku mencari mu, karena ada hal yang ingin aku tanyakan padamu perihal wanita yang kamu sakiti. Teganya kamu menyakiti Nisha demi wanita jal@ng itu, Elang! Bodoh sekali kamu!" bentak sekretaris Dika.


Elang kaget, ia tak menyangka, Ayahnya tahu tentang Nisha. Darimana Ayahnya bisa tahu tentang Nisha?

__ADS_1


"A-ayah, tahu Nisha dari mana?" Elang begitu kaget.


"Itu bukan urusanmu! Aku berhak tahu semua apapun yang kamu lakukan, Elang! Kamu sudah membuang berlian demi kerikil! Kamu memang bodoh. Aku menyesal memberikan semua fasilitas mewah padamu. Jangan harap, aku akan membuat hidupmu bahagia. Aku tak akan memperjuangkan kamu lagi, aku hanya akan fokus mengurus anak perempuanku. Kamu telah melempari wajahku dengan kotoran!" sekretaris Dika amat marah.


"Ayah ... percayalah padaku, aku benar-benar tak menidurinya, Ayah. Kumohon, Ayah percaya padaku." Elang terus membela diri.


"Diam kamu brengsek! Istirahatlah, karena besok aku ingin kamu meminta maaf pada Nisha secara tulus! Aku tak pernah mendidik mu untuk jadi anak yang seperti ini, aku sungguh malu mempunyai anak sepertimu! Jangan berpikir untuk lari dari masalah, kalau kamu berani kabur, aku tak akan segan-segan mencoret namamu dari kartu keluargaku!" ancam sekretaris Dika lalu ia pergi meninggalkan Elang yang terluka.


Nadya segera menolong Elang dan membantu membersihkan lukanya. Elang pantas mendapatkan hukuman dari sekretaris Dika, karena Elang sudah berbuat hal yang tidak pantas. Orang tua mana yang tak akan murka, melihat anaknya tidur bersama wanita yang bukan muhrimnya di sebuah hotel.


Sekretaris Dika adalah orang yang kejam dan tak akan bisa ditoleransi dalam hal apapun. Sekali ia marah, jangan harap semuanya akan baik-baik saja. Itu berlaku juga untuk Elang, sang anak. Kemarahan sekretaris Dika tak boleh dianggap sepele oleh Elang, karena kali ini, Elang sudah sangat mengecewakan Dika dan Nadya.


...🌸🌸🌸...


Calandra enggan pergi meninggalkan Nisha dari kamar tamu tersebut. Nisha sudah memintanya untuk pergi meninggalkan dia, tapi Calandra tetap akan menunggu Nisha. Nisha risih, ia merasa tak nyaman, karena Nisha takut, Arini dan Davian akan menyangka yang tidak-tidak jika Calandra tetap berada di kamar ini.


Ini sudah tengah malam, Nisha pun telah terlelap saking lelahnya, dan Andra pun terlelap di kursi. Andra tetap berada di samping Nisha, sekalipun kedua orang tuanya tak tahu kedekatan mereka. Nisha merasa nyaman, karena dalam tidurnya, ia berada dalam genggaman seseorang. Tangannya dan tangan Andra saling merasakan kehangatan satu sama lain.


Arini yang tersadar dari pelukan Livia, perlahan keluar dari kamar anak bungsunya tersebut, karena Arini akan memeriksa kondisi Nisha. Arini sampai lupa, suaminya ada dimana, karena ia terlalu nyenyak tidur bersama Livia. Hingga Arini kaget, melihat Davian yang sedang mencari-cari sesuatu di lemari pendinginnya. Ternyata, Davian pun belum tidur.


"Aku kebangun, sayang. Aku lapar, karena makan malam ku tadi terganggu oleh insiden Calandra yang memarahi si Dika." ucap Davian.


"Ya ampun, kasihan sekali suamiku ini. Mas mau aku buatkan apa? Biar aku masak untuk Mas." ucap Arini.


"Gak perlu, sayang. Aku ngemil aja. Ini udah malem, kamu pasti lelah. Ngomong-ngomong, kamu mau kemana? Malem-malem gini keluar? Bukannya kamu sudah tidur bersama Livi?" tanya Davian.


"Aku mau lihat Nisha, kasihan dia. Takutnya dia gak bisa tidur karena badannya masih belum fit." ucap Arini.


"Oh ya? Ayo, aku ikut. Aku antar kamu." Davian pun melingkarkan tangannya di pinggang Arini.


"Mas, geli ih. Kamu ya, mentang-mentang udah malem, curi-curi kesempatan aja." ucap Arini.


Davian terkekeh, "Gak apa-apa dong istriku, makin malem makin dingin, makin lama makin hangat kalau aku peluk kayak gini."

__ADS_1


"Ah, terserah kamu saja lah, Mas. Sudah tua juga, masih saja!" Arini geleng-geleng kepala.


"Makin tua makin jadi, sayang." Davian mencium pipi Arini.


"Ish, Mas. Malu kalau pembantu kita lihat!"


Arini melihat pintu kamar tempat Nisha istirahat tak ditutup. Arini kaget, kenapa pintunya terbuka, apa tadi Calandra tak menutup pintunya. Arini segera melihat nya dan ketika akan masuk kedalam kamar Nisha, betapa kagetnya Arini dan Davian, melihat anak sulungnya terlelap di kursi, menemani Nisha yang juga terlelap. Calandra pun terlihat nyenyak. Yang lebih mengagetkan lagi, tangan mereka berdua saling berpegangan. Arini dan Davian sungguh tak menyangka.


"Mas, Mas ... itu kok Andra tidur disitu sih? Ya ampun," Arini berbisik pada Davian.


"Berarti, sejak tadi kita pergi, dia tetap menemani Nisha, begitu?" Davian menerka.


"Iya, sepertinya begitu. Mas, itu coba lihat tangan Andra dan tangan Nisha. Ah, kenapa mereka harus seperti itu? Ini tak bisa dibiarkan, kalau ada setan membisikkan sesuatu ke telinga mereka, gimana? Aku harus segera membangunkan Andra!" Arini sedikit kesal.


Davian mencegah Arini, dan menutup mulut Arini dengan Ibu jarinya. Arini heran, kenapa Davian malah mencegahnya. "Mas, apa sih? Kenapa larang aku? Bahaya kalau mereka bersama seperti itu!"


"Sayang, tenang saja. Kurasa, Andra memang berniat melindungi Nisha, terlihat dari genggaman tangannya yang begitu nyaman memegang tangan Nisha. Sudah, tidak apa. Mereka tak akan berbuat apa-apa. Mungkin, Andra khawatir pada gadis itu. Kamu tak perlu khawatir, coba kamu lihat pintu kamar ini, Andra tak menutupnya, itu berarti Andra sengaja, agar kita tak khawatir dan curiga. Tenanglah, biarkan mereka istirahat ... kalau Andra dibangunkan, ia pasti malu." ucap Davian.


"Mas, tapi aku takut." Arini sedikit khawatir.


"Tenang saja, Andra bukan lelaki yang mudah tergoda oleh wanita. Dia sama sepertiku. Yang aku heran, sejak kapan Calandra dekat dengan Nisha? Setahuku, mereka tak sedekat ini, dan Andra tak mengenal Nisha sebelumnya, bukan begitu?" tanya Davian.


"Aku juga sempat bingung, kenapa Andra begitu peduli tadi saat tahu Nisha pingsan, dan dengan beraninya ia memarahi sekretaris Dika. Memang aku pun memiliki pertanyaan yang sama denganmu, Mas. Sejak kapan mereka saling kenal?" Arini pun sama herannya dengan Davian.


"Sayang, coba kamu lihat. Apa mereka cocok? Kenapa aku merasa, ketika melihat mereka itu, seperti sedang melihat aku dan kamu ketika jatuh cinta dulu?" ucap Davian.


"Ah, kamu berpikir begitu, Mas? Aku juga memikirkan hal yang sama. Melihat mereka, mengingatkan aku yang saat itu pernah tidur satu kamar denganmu. Mungkin, ini yang dinamakan pernah muda. Baiklah, aku tak perlu terlalu khawatir pada mereka, karena aku percaya pada anakku." Arini tersenyum.


"Ah, biarkan Andra menemani Nisha. Kita minta Pak Ujang saja untuk mengawasi mereka. Sekarang, waktunya aku akan mengenang masa-masa indah ku dulu bersama kamu, karena ketika melihat Andra dan Nisha berpegangan tangan, aku pun jadi cemburu dan aku ingin begitu. Tidur berpegangan tangan denganmu, istriku ...." Davian berbisik.


"Sudah ku tebak, pasti kamu iri melihat mereka Mas, iyakan?" Arini geleng-geleng kepala.


"Iya, aku iri. Karena aku sudah lama tak merasakan hal romantis itu. Ayo, tidur. Masih ada waktu lima jam untuk kita." Davian menarik tangan Arini.

__ADS_1


"Astaga, 5 jam? Memang masih kuat?"


*Bersambung*


__ADS_2