Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra Series 1


__ADS_3

Minggu pagi di kediaman Davian dan Arini ...


"Hey, anak-anak Daddy. Ayo bangun! Matahari udah mulai meninggi, kalian masih enak-enak tidur aja. Ayo, bangun sayang. Kita olahraga bareng Ayo," ucap Davian.


Anak-anaknya tak bergeming. Davian bingung bagaimana caranya membangunkan anak-anak. Pengasuh mereka sedang pulang, dan Arini sedang mandi. Otomatis, Davian yang harus membangunkan anak-anak.


"Hey, Callandra, Callista! Kenapa sih kalian susah banget di bangunin. Ini udah siang, ayo bangun." Davian menepuk-nepuk pundak Callandra yang tidur di ranjang atas.


Arini baru selesai mandi, kemudian ia mendengar suara Davian seperti sedang kesal. Arini segera masuk kedalam kamar anak-anaknya. Untuk melihat apa yang terjadi.


"Mas, kenapa teriak-teriak sih?" tanya Arini.


"Anak-anak susah banget dibangunin nya. Aku udah beberapa kali bangunin mereka, eh mereka masih aja tidur." Davian sedikkt kesal.


Arini menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mas, mau Mas teriak ataupun marah-marah, anak-anak gak akan bangun. Bukan begitu cara membangunkan anak-anak. Perlakukan mereka dengan hangat dan lembut."


"Orang lagi tidur, masa dengan lembut. Mana denger? Aku teriak-teriak aja mereka gak denger, apalagi lembut." Davia mendengus kesal.


"Gak sabaran kamu, Mas. Namanya juga anak-anak.


Arini mendekati ranjang Callista, karena anak keduanya itu tidur di ranjang bawah. Arini mengusap rambut Callista, mengecup keningnya berkali-kali, sambil membisikan sesuatu di telinganya.


"Callis, Callista, sayang ... Ayo bangun, ini sudah siang. Matahari aja udah bangun, masa Callis belum bangun juga. Bangun yuk, cuacanya cerah, kita bisa jalan-jalan kalau cuacanya cerah." ucap Arini.


"Mmmhhhh, aku masih ngantuk, Mommy--" jawab Callista sambil menguap, namun matanya masih terlelap.


"Sayang, hari ini Mommy sama Daddy libur, kita seharian ada di rumah. Bangun ya, kita main bersama. Kan halo besok Mommy harus sekolah kayak Kakak Andra, nanti kamu sendirian. Makanya, sekarang kita main bareng yuk?" rayu Arini sambil menepuk halus pipi Callista.


Mata Callista terbuka, "Mau main sama Mommy ..."


"Ayo, makanya bangun yuk. Kita main bareng, sama Daddy juga." rayu Arini.


Callista pun bangun dan membuka matanya. Ia tersenyum dan memeluk Arini. Arini pun membalas pelukan gadis kecilnya. Davian heran, kenapa dengan mudahnya Arini bisa membangunkan Callista, padahal sejak tadi ia sudah berteriak-teriak, tapi kedua anak-anaknya tak juga bangun.


Arini segera naik ke ranjang atas Callandra. Arini melihat, Callandra yang sedang memeluk guling. Arini pun melakukan hal yang sama pada Callandra. Seperti hal yang ia lakukan untuk membangunkan Callista. Ternyata, hal itu sangat mudah dan Callandra bangun tanpa Arini harus teriak-teriak seperti Davian.


Kedua anak Arini pun mulai mandi. Hari ini mereka harus mandiri, karena tak ada Mbak Rita sang baby sitter. Mbak Rita sedang cuti satu minggu. Davian yang melihat kedua anaknya beranjak ke kamar mandi terheran-heran, kenapa dengan mudahnya Arini membangunkan mereka, sedangkan dirinya yang bersusah payah membangunkan kedua anak itu sama sekali tak ada hasilnya.


"Sayang, kok anak-anak mudah banget sih kamu bangunin? Padahal, aku udah bangunin dari tadi, dan mereka sulit banget bangun! Kenapa sama kamu mereka mudah sekali bangun?" tanya Davian tak mengerti.


"Mas bangunin anak-anak gak pake hati, Mas cuma teriak-teriak aja kan? Mana anak-anak mau denger." ucap Arini.


"Ya kalau gak teriak gimana mereka mau bangun, aku kan berpikir begitu." jawab Davian.


"Kamu lihat kan tadi? Aku bangunin mereka gak teriak-teriak. Aku bangunin mereka dengan lembut. Bangunin anak-anak itu dengan hati, Mas. Bukan dengan emosi." jelas Arini.


"Ah, aku gak emosi kok. Aku hanya berpikir secara rasional saja, karena kalau pelan mana anak-anak bisa dengar!" jawab Davian simpel.


"Mas, anak-anak itu punya hati yang lembut dan tulus. Perlu Mas tahu, kita jangan pernah sekalipun marah atau membentak anak-anak. Karena apa? Dia gak akan mendengar kita sama sekali. Percuma Mas capek-capek teriak-teriak, mereka nggak akan denger. Mereka akan mendengar kita, ketika kita memberitahunya dengan lembut dan halus." jelas Arini.


"Apa benar begitu?" Davian berpikir.


"Tentu saja. Mas bisa membandingkannya, bukan? Ketika Mas teriak-teriak memaksa membangunkan anak-anak, apa mereka mendengar Mas? Bukankah mereka tetap saja tidur? Tapi, ketika aku membangunkan mereka, mudah sekali bukan? Mereka hanya ingin kita memberi perhatian lebih dengan lembut, Mas." jelas Arini.


"Oh, jadi aku salah ya sayang?" Davian menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya iya lah, Mas. Pake nanya lagi. Ayo, kita sarapan setelah anak-anak selesai mandi." ajak Arini.


Mereka pun sarapan bersama. Davian menyadari, bahwa dirinya memang kurang mengerti bagaimana cara menghadapi anaknya sendiri. Ia beruntung, Arini begitu memahami Andra dan Lista, padahal Arini pun kini tengah sibuk akan pendidikannya.


Selesai makan bersama, Davian mengajak anak-anaknya bermain bersama. Arini memotret kegiatan Davian dan kedua anaknya. Tak lupa ia meng-uploadnya ke social media miliknya. Davian dan Callandra sedang berbincang bersama. Arini menyimak perbincangan antara Davian dan Callandra.


"Daddy!--" sahut Callandra.


"Apa, sayang?" jawab Davian.


"Cinta itu apa? Bukankah cinta itu hanya untuk Daddy dan Mommy. Mommy selalu mengatakan itu padaku." tanya Callandra tiba-tiba.


Davian tersedak. Ia kaget, anaknya yang baru berusia 8 tahun sudah bertanya tentang cinta. "Kenapa kamu bertanya hal seperti itu? Tahu darimana kata cinta?"


"Banyak temen-temen aku yang bilang cinta sama aku, Daddy. Si Aurel, si Kiera, si Nazwa, si Belva bilang cinta terus sama aku." ucap Callandra polos.


"APA? Mereka bilang cinta sama kamu?" Davian tak menyangka.


"Iya, mereka bilang cinta sama aku. Mereka suka nulis-nulis suka sama aku. Katanya aku ini tampan. Apa memang aku ini sangat tampan, Daddy?" Callandra dengan polosnya.


Arini tak kuasa menahan tawanya. Anaknya satu ini benar-benar mendarah daging dengan Davian. Sifat dan kelakuannya mirip sekali seperti Davian.


"Andra, apa yang kamu katakan pada teman-temanmu ketika mereka bilang cinta padamu?" tanya Arini.


"Aku bilang saja, cintaku hanya untuk Daddy dan Mommy!" jawab Callandra.


"Betul. Pinter anak Mommy." ucap Arini.


"Callandra-ku, kamu memang darah dagingku yang sempurna. Kamu banyak disukai oleh wanita, seperti Daddy yang disukai banyak wanita, termasuk Mommy-mu." Davian terkekeh.


"Heh, sembarangan aja kamu, Mas. Yang ngejar-ngejar itu kan kamu. Sembarangan aja memutar balikkan fakta! Callandra, pokoknya kamu jangan terpengaruh teman-temanmu yang mengatakan cinta-cinta ya. Cintamu tetap untuk Mommy dan Daddy." jelas Arini.


Davia hanya tersenyum nakal menanggapi perkataan Arini.


"Kalau aku cinta temanku apa boleh, Mommy?" tanya Callandra


"Cinta sebagai sahabat, tentu saja boleh." jawab Arini.


"Oh gitu ya Mom ... Baiklah, aku akan mencintai mereka sebagai sahabatku." jelas Callandra.


"Iya sayang. Baik-baik ya di sekolah, nurut sama Bu Guru, jangan nakal dan belajar yang bener." saran Arini.


"Iya, Mommy..."


...🌸🌸🌸...


Alur cepat untuk memulai Callandra series ya ...


12 tahun kemudian.


...___________________...


Bertahun-tahun berlalu. Kini, Callandra berusia 20 tahun. Ia kini menjadi mahasiswa di sebuah Universitas terbaik di Jakarta. Sifatnya persis seperti Davian yang keras kepala dan semaunya. Callandra tak jauh beda dengan Davian. Hidupnya bebas dan sesuka hatinya.


Arini dan Davian kini telah dikaruniai tiga orang anak. Calandra, Calista dan satu lagi anak bungsu Davian yang bernama Calivia. Calivia berusia sepuluh tahun. Ia duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.


Tentang Arini, Arini pun kini sedang sibuk di rumah sakit dan membuka praktek spesialis kandungan sendiri. Ia telah selesai menyelesaikan pendidikan Dokter spesialis. Ia kini menyandang gelar Dr. Arini Syafira Sp.OG. Arini bahagia, di usianya yang tak lagi muda, ia bisa menggapai cita-citanya.


Pagi ini, Arini dikeluhkan dengan nilai-nilai pelajaran Livia yang jelek. Mungkin, karena Arini dan Davian terlalu sibuk, Livia jadi kurang di perhatikan. Arini merasa kesal dengan keadaan ini. Ketika dulu, Calandra dan Calista, masih bisa Arini kontrol, karena Arini tak begitu sesibuk sekarang.


"Livia, kenapa nilai mu bisa merosot begini, Nak? Kamu jangan main terus. Kamu harus rajin belajar, Nak. Pokoknya, kamu harus ikut les lagi. Jangan menolak! Mommy gak mau, nilai kamu jadi jelek begini." tegas Arini.


"Carikan les private terbaik di kota ini." perintah Davian.


"Livi gak mau! Aku maunya belajar sama Kakak Andra aja!" Livia memaksa.


"Kakak kamu sibuk kuliah. Mana mungkin ada waktu untuk ngajarin kamu belajar, Liv. Pokoknya nanti Mommy akan daftarkan kamu ke tempat les terbaik!" Arini kekeh.


"Gak mau! Livi gak mau les di tempat les yang gurunya galak-galak. Livi gak mau. Dulu juga Livi di marah-marahin. Livi mau les sama Kakak!" Livia memaksa.


Arini dan Davian bingung. Anak bungsunya ini sedikit manja. Berbeda dengan Calista yang begitu mandiri, karena menuruni sifat Arini. Mungkin, Calivia menuruni sifat keduanya, gen Davian dan Arini disatukan, jadilah Livia seperti ini.


"Baiklah. Nanti Mommy carikan guru les yang baik. Agar kamu bisa les di rumah aja." ucap Arini.

__ADS_1


"Pokoknya gak mau. Titik." Livia merengek.


Davian memberi kode pada Arini, untuk tak memaksakan pada Livia. Livia sangat manja dan keras kepala, Arini harus diam-diam mencarikan guru les untuknya. Arini akan mengantar Livia ke sekolahnya karena kini Arini bisa mengemudikan mobilnya sendiri.


Menjadi istri seorang Davian Raharsya, kini merupakan suatu kehormatan baginya. Ia harus mampu menyandingi Davian yang luar biasa. Ia pun harus bisa menjadi wanita yang hebat.


...🌸🌸🌸...


Arini telah selesai memeriksa beberapa Ibu hamil yang akan bersalin di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia sedang bersama dua perawatnya berjalan di koridor Rumah sakit. Dua perawat Arini, sebut saja namanya Mela dan Siti.


"Mel, Siti, apa kalian tahu, guru les atau guru honor yang bisa mengajari anak saya les private di rumah?" tanya Arini.


"Emangnya kenapa, Bu?" tanya Mela.


"Saya perlu guru les yang bisa mengajari anak saya. Kalau ada, saya ingin yang masih muda, agar anak saya mudah akrab dengannya. Dia gak mau les di tempat bimbingan belajar. Mungkin dia sudah kapok dulu pernah les dan dimarahi. Karena anakku yang bungsu ini sedikit manja." jelas Arini.


"Eh, Bu ... Siti ada temen, dia mahasiswi, tapi kayaknya kuliahnya gak diterusin deh. Soalnya terkendala biaya. Dia anaknya pintar, dari SMA dia juara satu terus, hanya kurang beruntung saja. Kini, dia di rumahnya hanya berjualan makanan ringan. Kalau Ibu mau, saya bisa tanyain dia, apa mau jadi guru les untuk anak Ibu. Gimana?" saran Siti.


Arini terdiam. Ia jadi teringat dirinya dahulu yang terpaksa putus kuliah karena keadaan orang tuanya yang sulit. Ia bisa merasakan betapa sedihnya putus kuliah ketika cita-citanya begitu tinggi.


"Benarkah? Kalau dia pintar, mungkin saja dia bisa mengajari Livia-ku. Siapa namanya? Coba tolong kamu tanyakan sama dia. Apa dia mau jadi guru les anakku, kalau soal gajinya tak perlu khawatir." ucap Arini.


"Namanya Nisha, Bu. Dia itu memang cita-citanya jadi guru. Siti yakin, Nisha pasti mau. Nanti Siti kabarin Ibu lagi ya, kebetulan rumah Siti dan Nisha deketan, Bu." jelas Siti.


"Baiklah. Saya tunggu kabar baiknya ya, Sit. Kalau begitu, saya permisi duluan ya, Mela, Siti ... Selamat beristirahat." Arini pun berlalu.


...🌸🌸🌸...


Keesokan harinya.


Arini mendapat kabar baik, bahwa teman Siti yang bernama Nisha mau menjadi guru les bagi Livia. Arini meminta agar Nisha segera datang ke rumahnya. Siang ini, Arini telah berada di rumahnya karena ia tak ada jadwal memeriksa pasien di rumah sakit.


Tak lama, pembantu Arini datang dan membawa seorang wanita masuk kedalam rumah. Arini mengira, bahwa itu adalah Nisha. Wanita yang mau menjadi guru les bagi Livia.


"Selamat siang, Bu. Saya Nisha, saya temannya Siti." Nisha memperkenalkan diri.


"Siang, Nisha. Selamat datang. Silahkan duduk," ucap Arini.


Nisha pun duduk dengan sopan di depan Arini.


"Pasti kamu sudah tahu kan, tujuan mu datang kesini. Terima kasih, sudah bersedia menjadi guru les untuk anak saya." Arini tersenyum.


"Iya, Bu. Saya sudah tahu. Tapi, saya belum ada pengalaman menjadi guru les, saya hanya seorang mahasiswi yang belum lulus. Apa itu tidak apa-apa?" Nisha sedikit khawatir.


Arini tersenyum menatap Nisha, "Tidak apa-apa. Yang penting anak saya bisa diajarin sama kamu. Apa kita mulai saja ya belajarnya? Sebentar, saya panggilkan dulu Livia-nya. Sementara menunggu, silahkan menikmati makanan dan minuman ini ya." ucap Arini.


Arini berdiri, dan ia akan menuju kamar Livia. Tiba-tiba, Calandra pulang dan menyapa Arini dari depan pintu utama.


"Mommy ... Selamat siang," sapa Calandra pada Arini.


"Andra? Kamu sudah pulang? Tumben sekali, Nak!" Arini tersenyum pada Calandra.


"Aku mau hangout nanti malem. Jadi sekarang aku pulang dulu." Calandra


Calandra kaget ketika melihat Nisha duduk di sofa rumahnya. Ia mengenal Nisha, karena Nisha adalah teman satu kuliahnya. Di kampusnya, Nisha adalah anak yang pendiam dan tak banyak bicara. Nisha sering diejek oleh anak-anak kampus yang terkenal di Universitasnya.


Calandra mempunyai suatu problem dengan Nisha saat mereka di kampus. Sudah beberapa bulan ini, Andra tidak bertemu Nisha di kampus. Tapi, Andra malah bertemu Nisha di rumahnya sendiri. Surprise sekali, kenapa wanita ini bisa ada di rumahku? Dia kabur dariku, kenapa sekarang dia mendekatiku lagi? Batin Calandra.


DEG. Jantung Nisha serasa mau copot ketika melihat Calandra berada didepan matanya. Laki-laki yang tak ingin ia lihat lagi, kini ada dihadapannya. Sungguh mengagetkan ketika Nisha melihat Calandra menyebut Mommy pada Arini.


Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? Batin Nisha.


*Bersambung*


Temen-temen, update aplikasinya yuk. Aku masih lihat di hape satu lagi, aplikasi NT yang belum di perbaharui masih banyak yang vote kayak dulu. itu udah gak berlaku ya ... sekarang berlaku yang vote baru. Yuk, buka play store nya dan perbarui aplikasinya yang belum di perbarui.. tampilan vote yang baru itu kayak gini ya,




Minggu pagi di kediaman Davian dan Arini ...


"Hey, anak-anak Daddy. Ayo bangun! Matahari udah mulai meninggi, kalian masih enak-enak tidur aja. Ayo, bangun sayang. Kita olahraga bareng Ayo," ucap Davian.


Anak-anaknya tak bergeming. Davian bingung bagaimana caranya membangunkan anak-anak. Pengasuh mereka sedang pulang, dan Arini sedang mandi. Otomatis, Davian yang harus membangunkan anak-anak.


"Hey, Callandra, Callista! Kenapa sih kalian susah banget di bangunin. Ini udah siang, ayo bangun." Davian menepuk-nepuk pundak Callandra yang tidur di ranjang atas.


Arini baru selesai mandi, kemudian ia mendengar suara Davian seperti sedang kesal. Arini segera masuk kedalam kamar anak-anaknya. Untuk melihat apa yang terjadi.


"Mas, kenapa teriak-teriak sih?" tanya Arini.


"Anak-anak susah banget dibangunin nya. Aku udah beberapa kali bangunin mereka, eh mereka masih aja tidur." Davian sedikkt kesal.


Arini menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mas, mau Mas teriak ataupun marah-marah, anak-anak gak akan bangun. Bukan begitu cara membangunkan anak-anak. Perlakukan mereka dengan hangat dan lembut."


"Orang lagi tidur, masa dengan lembut. Mana denger? Aku teriak-teriak aja mereka gak denger, apalagi lembut." Davia mendengus kesal.


"Gak sabaran kamu, Mas. Namanya juga anak-anak.


Arini mendekati ranjang Callista, karena anak keduanya itu tidur di ranjang bawah. Arini mengusap rambut Callista, mengecup keningnya berkali-kali, sambil membisikan sesuatu di telinganya.


"Callis, Callista, sayang ... Ayo bangun, ini sudah siang. Matahari aja udah bangun, masa Callis belum bangun juga. Bangun yuk, cuacanya cerah, kita bisa jalan-jalan kalau cuacanya cerah." ucap Arini.


"Mmmhhhh, aku masih ngantuk, Mommy--" jawab Callista sambil menguap, namun matanya masih terlelap.


"Sayang, hari ini Mommy sama Daddy libur, kita seharian ada di rumah. Bangun ya, kita main bersama. Kan halo besok Mommy harus sekolah kayak Kakak Andra, nanti kamu sendirian. Makanya, sekarang kita main bareng yuk?" rayu Arini sambil menepuk halus pipi Callista.


Mata Callista terbuka, "Mau main sama Mommy ..."


"Ayo, makanya bangun yuk. Kita main bareng, sama Daddy juga." rayu Arini.


Callista pun bangun dan membuka matanya. Ia tersenyum dan memeluk Arini. Arini pun membalas pelukan gadis kecilnya. Davian heran, kenapa dengan mudahnya Arini bisa membangunkan Callista, padahal sejak tadi ia sudah berteriak-teriak, tapi kedua anak-anaknya tak juga bangun.


Arini segera naik ke ranjang atas Callandra. Arini melihat, Callandra yang sedang memeluk guling. Arini pun melakukan hal yang sama pada Callandra. Seperti hal yang ia lakukan untuk membangunkan Callista. Ternyata, hal itu sangat mudah dan Callandra bangun tanpa Arini harus teriak-teriak seperti Davian.


Kedua anak Arini pun mulai mandi. Hari ini mereka harus mandiri, karena tak ada Mbak Rita sang baby sitter. Mbak Rita sedang cuti satu minggu. Davian yang melihat kedua anaknya beranjak ke kamar mandi terheran-heran, kenapa dengan mudahnya Arini membangunkan mereka, sedangkan dirinya yang bersusah payah membangunkan kedua anak itu sama sekali tak ada hasilnya.


"Sayang, kok anak-anak mudah banget sih kamu bangunin? Padahal, aku udah bangunin dari tadi, dan mereka sulit banget bangun! Kenapa sama kamu mereka mudah sekali bangun?" tanya Davian tak mengerti.


"Mas bangunin anak-anak gak pake hati, Mas cuma teriak-teriak aja kan? Mana anak-anak mau denger." ucap Arini.


"Ya kalau gak teriak gimana mereka mau bangun, aku kan berpikir begitu." jawab Davian.


"Kamu lihat kan tadi? Aku bangunin mereka gak teriak-teriak. Aku bangunin mereka dengan lembut. Bangunin anak-anak itu dengan hati, Mas. Bukan dengan emosi." jelas Arini.


"Ah, aku gak emosi kok. Aku hanya berpikir secara rasional saja, karena kalau pelan mana anak-anak bisa dengar!" jawab Davian simpel.


"Mas, anak-anak itu punya hati yang lembut dan tulus. Perlu Mas tahu, kita jangan pernah sekalipun marah atau membentak anak-anak. Karena apa? Dia gak akan mendengar kita sama sekali. Percuma Mas capek-capek teriak-teriak, mereka nggak akan denger. Mereka akan mendengar kita, ketika kita memberitahunya dengan lembut dan halus." jelas Arini.


"Apa benar begitu?" Davian berpikir.


"Tentu saja. Mas bisa membandingkannya, bukan? Ketika Mas teriak-teriak memaksa membangunkan anak-anak, apa mereka mendengar Mas? Bukankah mereka tetap saja tidur? Tapi, ketika aku membangunkan mereka, mudah sekali bukan? Mereka hanya ingin kita memberi perhatian lebih dengan lembut, Mas." jelas Arini.


"Oh, jadi aku salah ya sayang?" Davian menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya iya lah, Mas. Pake nanya lagi. Ayo, kita sarapan setelah anak-anak selesai mandi." ajak Arini.


Mereka pun sarapan bersama. Davian menyadari, bahwa dirinya memang kurang mengerti bagaimana cara menghadapi anaknya sendiri. Ia beruntung, Arini begitu memahami Andra dan Lista, padahal Arini pun kini tengah sibuk akan pendidikannya.

__ADS_1


Selesai makan bersama, Davian mengajak anak-anaknya bermain bersama. Arini memotret kegiatan Davian dan kedua anaknya. Tak lupa ia meng-uploadnya ke social media miliknya. Davian dan Callandra sedang berbincang bersama. Arini menyimak perbincangan antara Davian dan Callandra.


"Daddy!--" sahut Callandra.


"Apa, sayang?" jawab Davian.


"Cinta itu apa? Bukankah cinta itu hanya untuk Daddy dan Mommy. Mommy selalu mengatakan itu padaku." tanya Callandra tiba-tiba.


Davian tersedak. Ia kaget, anaknya yang baru berusia 8 tahun sudah bertanya tentang cinta. "Kenapa kamu bertanya hal seperti itu? Tahu darimana kata cinta?"


"Banyak temen-temen aku yang bilang cinta sama aku, Daddy. Si Aurel, si Kiera, si Nazwa, si Belva bilang cinta terus sama aku." ucap Callandra polos.


"APA? Mereka bilang cinta sama kamu?" Davian tak menyangka.


"Iya, mereka bilang cinta sama aku. Mereka suka nulis-nulis suka sama aku. Katanya aku ini tampan. Apa memang aku ini sangat tampan, Daddy?" Callandra dengan polosnya.


Arini tak kuasa menahan tawanya. Anaknya satu ini benar-benar mendarah daging dengan Davian. Sifat dan kelakuannya mirip sekali seperti Davian.


"Andra, apa yang kamu katakan pada teman-temanmu ketika mereka bilang cinta padamu?" tanya Arini.


"Aku bilang saja, cintaku hanya untuk Daddy dan Mommy!" jawab Callandra.


"Betul. Pinter anak Mommy." ucap Arini.


"Callandra-ku, kamu memang darah dagingku yang sempurna. Kamu banyak disukai oleh wanita, seperti Daddy yang disukai banyak wanita, termasuk Mommy-mu." Davian terkekeh.


"Heh, sembarangan aja kamu, Mas. Yang ngejar-ngejar itu kan kamu. Sembarangan aja memutar balikkan fakta! Callandra, pokoknya kamu jangan terpengaruh teman-temanmu yang mengatakan cinta-cinta ya. Cintamu tetap untuk Mommy dan Daddy." jelas Arini.


Davia hanya tersenyum nakal menanggapi perkataan Arini.


"Kalau aku cinta temanku apa boleh, Mommy?" tanya Callandra


"Cinta sebagai sahabat, tentu saja boleh." jawab Arini.


"Oh gitu ya Mom ... Baiklah, aku akan mencintai mereka sebagai sahabatku." jelas Callandra.


"Iya sayang. Baik-baik ya di sekolah, nurut sama Bu Guru, jangan nakal dan belajar yang bener." saran Arini.


"Iya, Mommy..."


...🌸🌸🌸...


Alur cepat untuk memulai Callandra series ya ...


12 tahun kemudian.


...___________________...


Bertahun-tahun berlalu. Kini, Callandra berusia 20 tahun. Ia kini menjadi mahasiswa di sebuah Universitas terbaik di Jakarta. Sifatnya persis seperti Davian yang keras kepala dan semaunya. Callandra tak jauh beda dengan Davian. Hidupnya bebas dan sesuka hatinya.


Arini dan Davian kini telah dikaruniai tiga orang anak. Calandra, Calista dan satu lagi anak bungsu Davian yang bernama Calivia. Calivia berusia sepuluh tahun. Ia duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.


Tentang Arini, Arini pun kini sedang sibuk di rumah sakit dan membuka praktek spesialis kandungan sendiri. Ia telah selesai menyelesaikan pendidikan Dokter spesialis. Ia kini menyandang gelar Dr. Arini Syafira Sp.OG. Arini bahagia, di usianya yang tak lagi muda, ia bisa menggapai cita-citanya.


Pagi ini, Arini dikeluhkan dengan nilai-nilai pelajaran Livia yang jelek. Mungkin, karena Arini dan Davian terlalu sibuk, Livia jadi kurang di perhatikan. Arini merasa kesal dengan keadaan ini. Ketika dulu, Calandra dan Calista, masih bisa Arini kontrol, karena Arini tak begitu sesibuk sekarang.


"Livia, kenapa nilai mu bisa merosot begini, Nak? Kamu jangan main terus. Kamu harus rajin belajar, Nak. Pokoknya, kamu harus ikut les lagi. Jangan menolak! Mommy gak mau, nilai kamu jadi jelek begini." tegas Arini.


"Carikan les private terbaik di kota ini." perintah Davian.


"Livi gak mau! Aku maunya belajar sama Kakak Andra aja!" Livia memaksa.


"Kakak kamu sibuk kuliah. Mana mungkin ada waktu untuk ngajarin kamu belajar, Liv. Pokoknya nanti Mommy akan daftarkan kamu ke tempat les terbaik!" Arini kekeh.


"Gak mau! Livi gak mau les di tempat les yang gurunya galak-galak. Livi gak mau. Dulu juga Livi di marah-marahin. Livi mau les sama Kakak!" Livia memaksa.


Arini dan Davian bingung. Anak bungsunya ini sedikit manja. Berbeda dengan Calista yang begitu mandiri, karena menuruni sifat Arini. Mungkin, Calivia menuruni sifat keduanya, gen Davian dan Arini disatukan, jadilah Livia seperti ini.


"Baiklah. Nanti Mommy carikan guru les yang baik. Agar kamu bisa les di rumah aja." ucap Arini.


"Pokoknya gak mau. Titik." Livia merengek.


Davian memberi kode pada Arini, untuk tak memaksakan pada Livia. Livia sangat manja dan keras kepala, Arini harus diam-diam mencarikan guru les untuknya. Arini akan mengantar Livia ke sekolahnya karena kini Arini bisa mengemudikan mobilnya sendiri.


Menjadi istri seorang Davian Raharsya, kini merupakan suatu kehormatan baginya. Ia harus mampu menyandingi Davian yang luar biasa. Ia pun harus bisa menjadi wanita yang hebat.


...🌸🌸🌸...


Arini telah selesai memeriksa beberapa Ibu hamil yang akan bersalin di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia sedang bersama dua perawatnya berjalan di koridor Rumah sakit. Dua perawat Arini, sebut saja namanya Mela dan Siti.


"Mel, Siti, apa kalian tahu, guru les atau guru honor yang bisa mengajari anak saya les private di rumah?" tanya Arini.


"Emangnya kenapa, Bu?" tanya Mela.


"Saya perlu guru les yang bisa mengajari anak saya. Kalau ada, saya ingin yang masih muda, agar anak saya mudah akrab dengannya. Dia gak mau les di tempat bimbingan belajar. Mungkin dia sudah kapok dulu pernah les dan dimarahi. Karena anakku yang bungsu ini sedikit manja." jelas Arini.


"Eh, Bu ... Siti ada temen, dia mahasiswi, tapi kayaknya kuliahnya gak diterusin deh. Soalnya terkendala biaya. Dia anaknya pintar, dari SMA dia juara satu terus, hanya kurang beruntung saja. Kini, dia di rumahnya hanya berjualan makanan ringan. Kalau Ibu mau, saya bisa tanyain dia, apa mau jadi guru les untuk anak Ibu. Gimana?" saran Siti.


Arini terdiam. Ia jadi teringat dirinya dahulu yang terpaksa putus kuliah karena keadaan orang tuanya yang sulit. Ia bisa merasakan betapa sedihnya putus kuliah ketika cita-citanya begitu tinggi.


"Benarkah? Kalau dia pintar, mungkin saja dia bisa mengajari Livia-ku. Siapa namanya? Coba tolong kamu tanyakan sama dia. Apa dia mau jadi guru les anakku, kalau soal gajinya tak perlu khawatir." ucap Arini.


"Namanya Nisha, Bu. Dia itu memang cita-citanya jadi guru. Siti yakin, Nisha pasti mau. Nanti Siti kabarin Ibu lagi ya, kebetulan rumah Siti dan Nisha deketan, Bu." jelas Siti.


"Baiklah. Saya tunggu kabar baiknya ya, Sit. Kalau begitu, saya permisi duluan ya, Mela, Siti ... Selamat beristirahat." Arini pun berlalu.


...🌸🌸🌸...


Keesokan harinya.


Arini mendapat kabar baik, bahwa teman Siti yang bernama Nisha mau menjadi guru les bagi Livia. Arini meminta agar Nisha segera datang ke rumahnya. Siang ini, Arini telah berada di rumahnya karena ia tak ada jadwal memeriksa pasien di rumah sakit.


Tak lama, pembantu Arini datang dan membawa seorang wanita masuk kedalam rumah. Arini mengira, bahwa itu adalah Nisha. Wanita yang mau menjadi guru les bagi Livia.


"Selamat siang, Bu. Saya Nisha, saya temannya Siti." Nisha memperkenalkan diri.


"Siang, Nisha. Selamat datang. Silahkan duduk," ucap Arini.


Nisha pun duduk dengan sopan di depan Arini.


"Pasti kamu sudah tahu kan, tujuan mu datang kesini. Terima kasih, sudah bersedia menjadi guru les untuk anak saya." Arini tersenyum.


"Iya, Bu. Saya sudah tahu. Tapi, saya belum ada pengalaman menjadi guru les, saya hanya seorang mahasiswi yang belum lulus. Apa itu tidak apa-apa?" Nisha sedikit khawatir.


Arini tersenyum menatap Nisha, "Tidak apa-apa. Yang penting anak saya bisa diajarin sama kamu. Apa kita mulai saja ya belajarnya? Sebentar, saya panggilkan dulu Livia-nya. Sementara menunggu, silahkan menikmati makanan dan minuman ini ya." ucap Arini.


Arini berdiri, dan ia akan menuju kamar Livia. Tiba-tiba, Calandra pulang dan menyapa Arini dari depan pintu utama.


"Mommy ... Selamat siang," sapa Calandra pada Arini.


"Andra? Kamu sudah pulang? Tumben sekali, Nak!" Arini tersenyum pada Calandra.


"Aku mau hangout nanti malem. Jadi sekarang aku pulang dulu." Calandra


Calandra kaget ketika melihat Nisha duduk di sofa rumahnya. Ia mengenal Nisha, karena Nisha adalah teman satu kuliahnya. Di kampusnya, Nisha adalah anak yang pendiam dan tak banyak bicara. Nisha sering diejek oleh anak-anak kampus yang terkenal di Universitasnya.


Calandra mempunyai suatu problem dengan Nisha saat mereka di kampus. Sudah beberapa bulan ini, Andra tidak bertemu Nisha di kampus. Tapi, Andra malah bertemu Nisha di rumahnya sendiri. Surprise sekali, kenapa wanita ini bisa ada di rumahku? Dia kabur dariku, kenapa sekarang dia mendekatiku lagi? Batin Calandra.


DEG. Jantung Nisha serasa mau copot ketika melihat Calandra berada didepan matanya. Laki-laki yang tak ingin ia lihat lagi, kini ada dihadapannya. Sungguh mengagetkan ketika Nisha melihat Calandra menyebut Mommy pada Arini.

__ADS_1


Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? Batin Nisha.


*Bersambung*


__ADS_2