Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Bapakable.


__ADS_3

Pagi ini, adalah hari ke tujuh mendiang Melisa meninggal. Tahlil dan sebagainya dilaksanakan hari ini. Itu berarti, esok hari Tira dan Keyza akan pulang ke apartemen Rangga kembali. Rasanya, kini Rangga lebih banyak diam daripada biasanya. Ia dan Tira pun jarang berinteraksi, hanya urusan Keyza saja Rangga bertemu Tira, selebihnya, Rangga lebih senang mengurung diri di kamarnya, dengan alasan banyak pekerjaan.


Arini tahu, kisah mereka sedikit memusingkan. Bagaimana tidak? Awalnya, Rangga meminta Tira untuk mau menikah dengannya, dia sangat antusias dan terlalu berambisi mendapatkan hati Tira. Padahal, jika ditanya, apakah itu atas dasar cinta? Apakah hanya sebatas ambisi untuk mendapatkan saja? Sepertinya, Tira tak melihat cinta pada diri Rangga untuknya, Rangga hanya terlalu berambisi.


Disela-sela Tira sedang mengasuh Keyza, Arini menyapanya.


"Tira, bentar lagi kamu pulang ya," ucap Arini.


"Iya, Nona. Rasanya, saya lebih betah tinggal disini." jawab Tira.


"Begitu ya? Kukira, kamu betah tinggal bersama Rangga." Arini tersenyum.


"Di sana sepi, kalau disini banyak orang. Bisa ngobrol sama pembantu yang lain juga, di sana hanya ada saya dan Keyza, Nona." jawab Tira.


Arini tersenyum. Rasanya, Tira tak tahu bahwa Melisa meminta permohonan terakhirnya untuk menikah dengan Rangga. Namun, karena Rangga menyerah, sepertinya Rangga tak mau mengatakannya pada Tira. Apa aku beri tahu saja dia? Bagaimana reaksi Tira kalau dia tahu ya? Kuharap, Tira dapat mengerti. Batin Arini.


"Ra? Apa kamu sudah tahu?" tanya Arini.


"Tahu apa, Nona?"


"Permintaan terakhir Melisa." jawab Arini serius.


DEG. Tira seketika menatap Arini. Wajah Tira yang santai berubah jadi serius. Tira sebenarnya tahu, namun ia memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan pura-pura tidak mendengar ucapan Arini dan Davian pada saat itu.


"Pe-permintaan? Permintaan apa, Nona?" Tira sangat gugup.


Arini menghela nafas, "Rasanya, aku harus memberi tahu kamu."


"Maksud Nona?" Tira pura-pura tak tahu.


"Iya, ada satu hal yang mendiang Melisa ucapkan, dan itu menyangkut kamu!" jawab Arini.


Ya, Nona. Sebenarnya, saya sudah tahu. Saya kaget ketika mendengarnya. Saya pun bingung, entah harus bagaimana. Jujur, jika menerimanya, berat hati ini. Tapi, jika tidak, bagaimana? Batin Tira.


"Menyangkut saya? Kenapa harus menyangkut saya, Nona?" tanya Tira pura-pura.


"Melisa meminta, agar kamu menikah dengan Rangga, karena Melisa hanya percaya padamu, bahwa kamu yang bisa menjaga dan menyayangi Keyza." ucap Arini pelan-pelan.


Tira menggigit bibirnya, "Be-benarkah?"


"Ya, benar. Kamu pasti bingung, kan?" ucap Arini.


"Saya tak tahu, harus bagaimana..." ucap Tira menghela nafas panjang.


"Apakah aku boleh bertanya?" tanya Arini.

__ADS_1


"Bertanya apa, Nona?"


"Bagaimana perasaanmu terhadap Rangga?" tanya Arini.


Tira terdiam. Berat rasanya, untuk ia berkata jujur pada Arini. Namun, ia juga tak seharusnya menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Mungkin, jika Arini tahu, Arini pasti mengatakannya pada Rangga, dan semoga saja Rangga mengerti.


"Kalau kamu keberatan mengatakannya, it's ok Ra, aku bisa memahaminya." balas Arini.


"Tidak, Nona. Saya akan memberi tahu. Jujur, sebelum Nona Melisa meninggal, Tuan Rangga sudah menyatakan perasaannya pada saya, bahkan dia mengajak saya menikah. Pasti Nona sudah tahu, bukan?" ucap Tira.


"Ya, saya sudah tahu. Dan kamu pun menolaknya, benarkan? Yang aku ingin tanyakan lagi, kenapa kamu menolaknya? Apa tak ada sedikit pun yang bisa kamu pertimbangkan untuk menerimanya?" ucap Arini.


"Iya, saya menolaknya, Nona. Saya rasa, Tuan hanya berambisi, dan terlalu berobsesi untuk mendapatkan saya. Padahal, jika Tuan Rangga bertanya pada hatinya, dia pasti masih ragu. Menurutku, dia hanya terlalu berambisi, dia mendadak menyukai aku. Entahlah, rasanya aku bingung menerimanya, karena perasaanku padanya hanya sebatas pembantu dan majikan." ucap Tira.


"Mendadak, karena Rangga tak pandai mendekati wanita lain. Rangga tak bisa mencari wanita lain. Kalau kubilang, dia itu bodoh dalam urusan cinta. Mungkin, dia mencintaimu, tapi dia terlalu memaksakan dirinya, dia pun bingung bagaimana cara mendekatimu." tegas Arini.


"Iya, karena itulah perasaan saya tak bisa jatuh padanya. Sulit bagi saya, untuk mencobanya. Entah apa yang membuat saya bingung seperti ini. Padahal, dia sangat baik, dia perhatian sama saya." ucap Tira.


"Ya, semua terserah padamu, aku hanya ingin tahu saja isi hatimu. Aku tak akan memaksamu untuk menentukan pilihan hatimu, semua tergantung dirimu, Ra." Arini tersenyum.


"Makasih, Nona sudah mengerti aku." Tira tersenyum.


"Mungkinkah kamu sedang menyukai seseorang, Ra?" tanya Arini.


"Entahlah, hatiku bingung. Aku tak tahu isi hatiku sebenarnya."


"Uhuk, uhuk. Apa maksud Nona? Tidak, tidak sama sekali." Tira gugup.


"Kurasa, kamu dan dia ada sesuatu. Tapi, entahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja." Arini tersenyum.


Tira bingung harus menjawab apa. Ia tak mengerti hatinya mau dibawa kemana. Rasanya, memikirkan cinta adalah hal paling menyebalkan dan memuakkan. Cinta membuatnya bingung harua memilih. Tiba-tia, Davian datang bersama sekretaris Dika membawa beberapa barang belanjaan yang sangat banyak sekali.


"Halo, sayang!" sapa Davian sambil membawa banyak belanjaan.


"Ya ampun, apa itu Mas? Banyak sekali." ucap Arini.


"Ini perlengkapan untuk baby kita sayang. Aku dan Dika yang memilihkannya. Bukankah aku begitu pantas disebut Daddy yang siaga?" Davian tertawa.


"Ya ampun, kan kita janjinya minggu depan Mas! Kenapa sekarang sudah beli?' Arini tak paham.


"Aku tak ada kerjaan di kantor. Makanya, aku ingin membeli sebagian perlengkapan bayi saja. Soalnya, aku gemas sekali pada baju-baju bayi yang lucu ini. Sekretaris Dika juga membeli beberapa perlengkapan untuk kamu setelah melahirkan, sayang. Lihat kan? Bisakah kamu membayangkan, betapa romantisnya aku ini?" ucap Davian.


"Pret lu Bos, orang kebanyakan gue yang milih," sekretaris Dika sewot.


"Ah, berisik lu kadal. Gak mau kalah terus. Mentang-mentang ada gebetan lu. Pengen juga lu ya, dikata keren? Gak ada pantes-pantesnya tahu gak lu!" umpat Davian.

__ADS_1


"Haish, udah kenapa! Sini, Dik. Biar aku lihat. Kalian membelikan apa saja untuk keperluan bayi kita." ucap Arini.


Sekretaris Dika memberikan belanjaannya pada Arini dan Tira. Davian pun turut menyimpan belanjaannya di meja. Arini membuka satu persatu belanjaan yang dibawa oleh suaminya. Ia melihat, dan ternyata pakaian bayi yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Ya ampun, Mas. Lucu banget! Ini siapa yang milihin? Bagus banget, sumpah." Arini kagum.


"Iya betul, bagus sekali Nona." tambah Tira.


"Ya tentunya aku dong sayang. Bagus kan? Kamu suka?" tanya Davian.


"Suka banget, Mas. Pinter ya kamu milih baju baby. Cocok deh jadi Daddy." Arini tersenyum riang.


"Tuh, Dik. Lu lihat kan? Gue cocok kan jadi Bapak? Gimana, gimana? Gue udah bapakable belum?" Davian narsis.


"Dih, bapakable? Apaan tuh? Ngaco banget elu, Bos." Dika geleng-geleng kepala.


"Bapakable itu kebapak-bapakan, Dik. Maksudnya, gue udah cocok jadi Bapak! Lemot banget otak lu, gitu aja kagak paham." ujar Davian.


"Ah, ngarang aja lu." Sekretaris Dika mengerlingkan matanya.


Arini tergelitik ketika membuka satu jinjingan berasal dari toko dalaman ternama. Ia segera membukanya karena ia sangat penasaran. Betapa terkejutnya Arini, ketika membuka jinjingan tersebut. Ia mengeluarkannya, dan memperlihatkannya pada Davian. Tira yang melihatnya pun tertawa, sangat menggelitik.


"Astaga, Mas? BH apa ini? Untuk siapa ini?" Arini mengangkat BH itu tinggi-tinggi.


"Ya untuk kamu dong sayang, itu BH selepas kamu melahirkan. Kata pelayannya, itu cocok untuk Ibu yang akan menyusui." Davian tersenyum.


"Aku tahu. Tapi, ini ukuran siapa? Apakah badanku sebesar ini? Ini big size, Mas. Ini untuk orang dengan buah dada ukuran big! Ya ampun, se-gendut itukah aku?" Arini geleng-geleng kepala.


"Lah, inikan pilihan si Dika. Eh, Dik! Kan elu tadi yang nyuruh gue untuk ngambil yang ini aja. Mana semua ukurannya sama lagi, hanya berbeda warna saja. Nih, yang! Salahkan saja si sekretaris kampret ini. Dia yang menyarankan agar ukurannya yang besar seperti itu. Parah lu, Dik!" Davian menyalahkan sekretaris Dika.


Tira tak kuat menahan tawa. Sekretaris Dika benar-benar lucu. Tira menutup mulutnya, saking ia ingin sekali menertawakan sekretaris Dika.


"Ya ampun, Bos. Kok nyalahin gue sih? Kata pelayan tadi kan ukuran buah dada wanita selepas melahirkan itu akan mengembang dan membesar karena ada air susu untuk bayi. Ya, bukan salah gue kalau gue pilih yang itu." sekretaris Dika membela diri.


"Emang omes banget pikiran lu, Dik. Yang lu pikirin tu yang gede-gede terus ya? Elu kepikiran buah dada yang besar ya, Dik? Otak lu sesuai sama pilihan lu! Hahahaha. Pantesan tadi gue jalan sama lu, gue perhatiin lu jelalatan terus. Apa lu lihat yang gede-gede? Gila, parah lu." Davian terkekeh.


"Eh, sembarangan aja lu, Bos. Gue gak se-hina itu ya. Gue menjaga mata gue dari hal-hal seperti itu. Enak aja lu kalo ngomong kagak pernah pake filter!" sekretaris Dika sangat malu, wajahnya memerah.


Dasar omes. Pikirannya gak bersih tuh orang, huh! Sukanya sama yang gede-gede. Umpat Tira dalam hati.


"Eh, Mas. Udah, udah. Kamu itu seneng banget ngisengin Dika."ucap Arini.


"Jangan dengerin dia, Nona. Memang sukanya membully aku." ucap sekretaris Dika.


Bisa aja ngeles lu, kayak kang bajaj aja! Gerutu Tira dalam hati.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2