Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Cerita dong!


__ADS_3

Keesokan harinya.


Aktifitas Nadya dan sekretaris Dika sebagai suami istri dimulai hari ini. Walaupun mereka belum melaksanakan malam pertama, tapi sekretaris Dika memakluminya. Pagi ini, Nadya menyiapkan sarapan untuk sekretaris Dika. Tak ada cuti menikah bagi sekretaris Dika, karena hari ini Davian akan sangat sibuk.


"Iya, sayang. Ayo. Masak apa, nih? Makan masakan istriku untuk pertama kalinya." sekretaris Dika duduk di meja makan.


"Aku buat nasi goreng aja, yang mudah-mudah dulu aja deh, ya." Nadya tersenyum.


"Pasti enak. Ayo, makan bersama." ajak sekretaris Dika.


"Ah, iya. Makasih,"


Pasangan pengantin itu pun makan bersama dan memulai hari baru. Ada perasaan aneh dan berbeda ketika mereka berdekatan. Sangat berbeda rasanya dengan semalam. Mungkin, karena semalam mereka terlalu lelah, sehingga tidur pun sangat nyenyak sekali.


"Nad, masakan mu enak." puji sekretaris Dika.


"Mm, masa sih? Kok aku ngerasa kayak kurang gurih gitu masakannya." ucap Nadya.


"Itu hanya perasaan kamu aja, Nad." jawab sekretaris Dika.


"Aku gak pandai masak, Bang." Nadya malu.


"Aku gak memaksa kamu harus jago masak, sayang. Ini saja sudah enak menurutku. Yang aku harapkan, kamu jago dalam hal mencintaiku. Itu saja, sudah membuat aku sangat bahagia. Ternyata, hidup bersama wanita sepertimu membuat aku lebih semangat bekerja, Nad. Ya, walaupun cinta itu belum sepenuhnya sih, karena kamu dan aku belum saling mengenal satu sama lain secara mendalam. Tapi, aku akan mencoba jadi suami yang baik untuk kamu." sekretaris Dika memegang tangan Nadya.


Nadya refleks tertawa, "Bang Dika kok kayak Tuan Davian sih sekarang? Kenapa jadi sweet banget? Gak biasanya loh kayak gini." ucap Nadya.


"Kamu malah ngetawain aku, Nad. Aku juga gak ngerti. Deket di samping wanita yang kini jadi istriku, rasanya aku bahagia kalau muji dan nyanjung kamu terus." jawab sekretaris Dika.


"Ah, udah ah. Aku malu jadinya, padahal gak ada yang bisa dibanggakan dari cewek biasa kayak aku." Nadya menunduk.


Sekretaris Dika bangkit dari duduknya dan ia berjalan kearah Nadya. Ia berdiri di belakang Nadya dan melingkarkan tangannya ke leher Nadya dengan hangat, "Sayang, kamu selalu mengira kalau kamu biasa saja, kamu tak cantik. Aku tak mau mendengar kamu berkata seperti itu lagi. Kamu itu luar biasa untuk aku. Kamu lebih dari cantik Nad, hatimu cantik. Aku tahu itu."


"Apa yang kamu tahu dariku? Jelas-jelas, Bang Dika belum mengenalku, kita menikah pun baru sebatas dekat saja."


"Karena aku tahu, kamu tulus mencintaiku, Nad. Bukankah kamu sudah menyukai aku sejak malam itu aku mengantarmu pulang? Tapi, dengan ketulusan hatimu, kamu tak memaksakan cinta itu. Kamu hanya memendamnya saja. Saat itu, kamu tahu bahwa aku mengejar Tira. Aku mengejarnya karena ia cantik. Tapi, cantik saja tak cukup. Ketika aku mencoba melihat kamu, ternyata kamu lebih cantik luar dalam. Dan pilihan itu sudah sesuai dengan keinginan hatiku. Tira dipilih oleh Tuan Rangga, dan aku memutuskan memilih orang yang mencintaiku. Terima kasih, telah mencintaiku." sekretaris Dika mengecup pipi Nadya dari belakang.


DEG. Jantung Nadya berdebar tak beraturan. Baru kali ini, ciuman dari bibir sekretaris Dika mengenai pipinya. Semalam, mereka tak melakukan apa-apa karena saking lelahnya, dan sekretaris Dika pun tak melakukan apa-apa. Ia tak mau anaconda-nya terpancing jika mencium Nadya. Maka dari itu, baru kali ini ia menciumnya.


Nadya kaget, karena sekretaris Dika mencium pipinya. Keduanya merasa ada yang aneh, saat pipi Nadya dan bibir sekretaris Dika bersatu. Sekretaris Dika tak bisa menahan rasa itu, secepat kilat ia membalikkan wajah Nadya, dan sekretaris Dika menciumnya dengan ganas.


Sekretaris Dika tetap berada dibelakang Nadya. Ia mencium Nadya sambil berdiri. Ia memajukan tubuhnya dan melahap habis bibir manis Nadya. Sekretaris Dika bermain-main di sekitar rongga mulut Nadya. Ia merasakan sensasi hebat dalam tubuhnya. Ia belum pernah merasakan ciuman seperti ini.


"Mmmhhh, Bang, Mmhhhh," Nadya kesulitan berbicara.


Ciuman penuh gairah dari sepasang pengantin yang terlambat melakukan malam pertama. Mungkin, sekretaris Dika akan langsung menerkam Nadya jika saat ini Nadya tidak sedang dilanda bajir. Tapi, sayangnya mereka hanya bisa berciuman seperti ini.


Perlahan, sekretaris Dika melepaskan ciumannya. Ia tak tahan, namun ia sadar, dirinya tak mungkin menerobos banjir bandang. Ia harus tetap sabar menunggu sampai banjir bandang itu surut. Walaupun begitu, ia puas telah mendapat ciuman pertama Nadya.


"Bibir kamu manis," ucap sekretaris Dika.


"Mmh, ma-makasih," Nadya malu dan gugup.


"Kamu kapan selesai?" tanya sekretaris Dika lagi.


"Selesai apa?" jawabnya.


"Banjir bandang yang menghalangi anaconda-ku masuk. Kapan selesainya?" tanya sekretaris Dika.


Uhuk, uhuk. Nadya kaget, ia refleks tersedak, "Mm, i-itu, anu, tiga hari lagi juga selesai." jawab Nadya tak enak.


"Baiklah. Aku sudah tak sabar, Nad. Aku akan menunggu saat-saat itu!" ucap sekretaris Dika.


"Mm, ba-baiklah," Nadya benar-benar malu.


Sekretaris Dika pun duduk kembali di kursinya dan ia meneruskan sarapannya yang tertunda. Nadya pun memakan sarapannya, walaupun ia sudah tak fokus karena ciuman pertamanya dengan sang suami.


Sekretaris Dika akan mengantar Davian, dan Nadya akan pulang ke rumahnya. Nadya akan membawa baju-bajunya, dan mengontrol minimarket ke rumah Ibu Diah, Ibu dari sahabatnya. Sekretaris Dika akan mengantar Nadya terlebih dahulu sebelum menjemput sang Bos.


...🌸🌸🌸...


Sekretaris Dika sudah selesai mengantar Nadya pulang, dan ia pun kini sudah berada di rumah besar Davian. Hari ini, Davian ada meeting dan sekretaris Dika sudah berjanji akan menemani Davian. Davian sudah menolak, karena Sekretaris Dika harus cuti, namun Sekretaris Dika akan tetap masuk kerja saja, sebagai loyalitasnya pada Davian.


"Pagi Bro. Seger banget nih pengantin baru!" tegas Davian.


"Aeh, si Bos! Jangan gitulah, Bos. Cepet masuk!" ujar Davian.


"Woles dong, curut! Elu udah jadi pengantin pengennya cepet-cepet masuk aja deh. Kan harus pemanasan dulu," Davian terkekeh.


"Ah, sialan lu. Kemana aja tu mulut!" sekretaris Dika kesal.


Davian masuk kedalam mobil dengan berkas-berkas yang ia bawa. Sekretaris Dika segera melajukan mobilnya, dan mereka akan berangkat menuju perusahaan.


"Gimana, Dik?" tanya Davian.


"Apaan, Bos?"


"Anaconda lu pasti udah gak perjaka sekarang!" jawab Davian.


"Ah, elu bahasnya kesitu mulu. Diem ngapa. Gue lagi bawa mobil, ntar gue gak fokus!" tegas sekretaris Dika.


"Biasanya juga elu nyerocos mulu. Kenapa sekarang nyuruh gue diem? Lu berapa ronde, Dik?" tanya Davian.


"Bos, diem lu!" sekretaris Dika kesal.


"Kalo gue, ritme-nya cuma sepuluh menit. Tapi, gue selalu lakuin tujuh ronde, Dik. Lu itung aja, sepuluh menit kali tujuh udah berapa lama tuh. Ayo dong, lu cerita malam pertama lu. Payah lu!" sindir Davian.


Bos kampret. Gue belum malam pertama! Gimana bisa gue ngasih tahu elu berapa lama gue ngelakuinnya. Sialan emang nih orang, bikin gue naek darah aja. Kalau bukan Bos gue, udah gue ceburin lu ke got di kantor! Gerutu sekretaris Dika dalam hati.


"Males ah gue, ngapain ngomongin masalah pribadi. Elu malu-maluin aja, Bos!" tegas sekretaris Dika.


"Lu juga dulu nanya-nanya gue lu kampr*t! Emang nyebelin ku, licik sendiri." Davian kesal.


"Ah, sorry Bos. Dulu ya dulu, beda lagi sama sekarang." elak sekretaris Dika.


"Ayo dong cerita! Kita berbagi pengalaman sesama pria, Dik!" Davian terkekeh.


"Kagak bisa gue cerita, Bos." sekretaris Dika kekeh, tapi ia malu mengakui.

__ADS_1


"Ayo cerita lu, dulu lu juga maksa gue!" Davian terus memaksa.


"Kagak, Bos!"


"Eh, kenapa sih lu lebay banget hari ini? Apa jangan-jangan?" Davian tersenyum jahil.


"Jangan-jangan apa?" sekretaris Dika sewot.


"Hahaha, apa aja boleeeeeeh!" Davian terus tertawa.


"Puas banget lu ya," sekretaris Dika marah.


"Ya makanya cerita."


Sekretaris Dika menghela nafas, "Gak ada yang bisa gue ceritain, Bos. Semalem gue sama dia tidur. Kita capek."


"Jadi, elu belum malam pertama sama istri lu? Kok bisa sih, secapek apapun, kalau itu tentang malam pertama, pasti semua orang juga akan semangat, Dik! Kok lu gak asik, sih." Davian puas.


"Banjir bandang Bos, banjir bandang! PUAS LO, HAH!" sekretaris Dika emosi.


Davian tak kuat menahan gelak tawanya, "Hahaha, sialan lu! Kenapa gak terus terang aja dari tadi? Sumpah, ngakak gue dengernya. Pantesan aja elu gak semangat. Ternyata, elu ular welang lu masih di penjara ye, Dik!"


"Anaconda, Bos. Anaconda! Lu puas banget sih, tunggu aja tiga hari lagi juga selesai kok! Gue bakalan ngeluarin jurus anaconda terhebat gue!" tegas sekretaris Dika.


"Hahaha, sumpah pengen ketawa gue. Ternyata, elu emang belum ngerasain surga dunia itu. Payah lu emang, kenapa tanggal nikah nya gak nanya dulu kapan jadwal si Nadya banjir? Kecewa kan lu." Davian tertawa puas.


"Heh, mana gue tahu kejadiannya kayak gitu. Elu bisa aja mencemooh orang. Emangnya, elu pas nikah gimana? Elu juga sama kan, bahkan lebih parah dari gue. Udah SAH, tapi malemnya elu gak bisa malam pertama. Padahal, Nona Arin gue yakin saat itu lagi gak halangan! Iya kan? Hahaha, sesama ngenes gak usah saling ngatain deh Bos! Elu bahkan lebih lama ngelakuin malam pertamanya. Iya kan?" sekretaris Dika membalas Davian.


"Si kampret emang! Itu kan beda kasus. Lu tahu kan gue nikah karena apa? Jangan samain sama elu, dong!" Davian membela diri.


"Ah, pokoknya lebih ngenes elu dari pada gue, Bos. hahahaha." sekretaris Dika puas sekali.


"Sialan, Dika kampret! Bisa aja lu balik-balikin omongan gue!" Davian kesal.


"Makanya, jangan mancing-mancing gue. Gue begini, karena siapa? Karena diajarin elu, Bos!"


"Ngomong lagi lu, gue potong gaji lu bulan ini!" Davian mengancam.


"Ah, mulai deh! Gak asyik lu, bawaannya ngancam-ngancam mulu."


"Lu harus ingat, peraturan paling paten di dunia ini. Satu, Bos tak pernah salah. Dua, jika Bos salah, kembali ke peraturan nomor satu. Paham kagak lu?" Davian membalas.


"Ah, rese emang lu. Harusnya, kita 1-1 Bos. Dah lah, gue ngalah. Karena, yang waras lebih baik ngalah aja!" ujar sekretaris Dika.


"Heh? Apa lu bilang? Jadi, secara gak langsung, lu bilang gue gak waras, Dik?" Davian emosi.


"Hahaha, baperan lu! Ternyata, selain bucin, elu juga Bos baperan ye! Paket lengkap deh gue punya Bos."


"Sialan curut! Gue potong gaji lu beneran, baru rasa lu!"


"Ah, ampun Bos ampun. Gue becanda! Gitu aja dimasukin ke hati lu!" ujar sekretaris Dika mengalah.


*Bersambung*


Keesokan harinya.


Aktifitas Nadya dan sekretaris Dika sebagai suami istri dimulai hari ini. Walaupun mereka belum melaksanakan malam pertama, tapi sekretaris Dika memakluminya. Pagi ini, Nadya menyiapkan sarapan untuk sekretaris Dika. Tak ada cuti menikah bagi sekretaris Dika, karena hari ini Davian akan sangat sibuk.


"Iya, sayang. Ayo. Masak apa, nih? Makan masakan istriku untuk pertama kalinya." sekretaris Dika duduk di meja makan.


"Aku buat nasi goreng aja, yang mudah-mudah dulu aja deh, ya." Nadya tersenyum.


"Pasti enak. Ayo, makan bersama." ajak sekretaris Dika.


"Ah, iya. Makasih,"


Pasangan pengantin itu pun makan bersama dan memulai hari baru. Ada perasaan aneh dan berbeda ketika mereka berdekatan. Sangat berbeda rasanya dengan semalam. Mungkin, karena semalam mereka terlalu lelah, sehingga tidur pun sangat nyenyak sekali.


"Nad, masakan mu enak." puji sekretaris Dika.


"Mm, masa sih? Kok aku ngerasa kayak kurang gurih gitu masakannya." ucap Nadya.


"Itu hanya perasaan kamu aja, Nad." jawab sekretaris Dika.


"Aku gak pandai masak, Bang." Nadya malu.


"Aku gak memaksa kamu harus jago masak, sayang. Ini saja sudah enak menurutku. Yang aku harapkan, kamu jago dalam hal mencintaiku. Itu saja, sudah membuat aku sangat bahagia. Ternyata, hidup bersama wanita sepertimu membuat aku lebih semangat bekerja, Nad. Ya, walaupun cinta itu belum sepenuhnya sih, karena kamu dan aku belum saling mengenal satu sama lain secara mendalam. Tapi, aku akan mencoba jadi suami yang baik untuk kamu." sekretaris Dika memegang tangan Nadya.


Nadya refleks tertawa, "Bang Dika kok kayak Tuan Davian sih sekarang? Kenapa jadi sweet banget? Gak biasanya loh kayak gini." ucap Nadya.


"Kamu malah ngetawain aku, Nad. Aku juga gak ngerti. Deket di samping wanita yang kini jadi istriku, rasanya aku bahagia kalau muji dan nyanjung kamu terus." jawab sekretaris Dika.


"Ah, udah ah. Aku malu jadinya, padahal gak ada yang bisa dibanggakan dari cewek biasa kayak aku." Nadya menunduk.


Sekretaris Dika bangkit dari duduknya dan ia berjalan kearah Nadya. Ia berdiri di belakang Nadya dan melingkarkan tangannya ke leher Nadya dengan hangat, "Sayang, kamu selalu mengira kalau kamu biasa saja, kamu tak cantik. Aku tak mau mendengar kamu berkata seperti itu lagi. Kamu itu luar biasa untuk aku. Kamu lebih dari cantik Nad, hatimu cantik. Aku tahu itu."


"Apa yang kamu tahu dariku? Jelas-jelas, Bang Dika belum mengenalku, kita menikah pun baru sebatas dekat saja."


"Karena aku tahu, kamu tulus mencintaiku, Nad. Bukankah kamu sudah menyukai aku sejak malam itu aku mengantarmu pulang? Tapi, dengan ketulusan hatimu, kamu tak memaksakan cinta itu. Kamu hanya memendamnya saja. Saat itu, kamu tahu bahwa aku mengejar Tira. Aku mengejarnya karena ia cantik. Tapi, cantik saja tak cukup. Ketika aku mencoba melihat kamu, ternyata kamu lebih cantik luar dalam. Dan pilihan itu sudah sesuai dengan keinginan hatiku. Tira dipilih oleh Tuan Rangga, dan aku memutuskan memilih orang yang mencintaiku. Terima kasih, telah mencintaiku." sekretaris Dika mengecup pipi Nadya dari belakang.


DEG. Jantung Nadya berdebar tak beraturan. Baru kali ini, ciuman dari bibir sekretaris Dika mengenai pipinya. Semalam, mereka tak melakukan apa-apa karena saking lelahnya, dan sekretaris Dika pun tak melakukan apa-apa. Ia tak mau anaconda-nya terpancing jika mencium Nadya. Maka dari itu, baru kali ini ia menciumnya.


Nadya kaget, karena sekretaris Dika mencium pipinya. Keduanya merasa ada yang aneh, saat pipi Nadya dan bibir sekretaris Dika bersatu. Sekretaris Dika tak bisa menahan rasa itu, secepat kilat ia membalikkan wajah Nadya, dan sekretaris Dika menciumnya dengan ganas.


Sekretaris Dika tetap berada dibelakang Nadya. Ia mencium Nadya sambil berdiri. Ia memajukan tubuhnya dan melahap habis bibir manis Nadya. Sekretaris Dika bermain-main di sekitar rongga mulut Nadya. Ia merasakan sensasi hebat dalam tubuhnya. Ia belum pernah merasakan ciuman seperti ini.


"Mmmhhh, Bang, Mmhhhh," Nadya kesulitan berbicara.


Ciuman penuh gairah dari sepasang pengantin yang terlambat melakukan malam pertama. Mungkin, sekretaris Dika akan langsung menerkam Nadya jika saat ini Nadya tidak sedang dilanda bajir. Tapi, sayangnya mereka hanya bisa berciuman seperti ini.


Perlahan, sekretaris Dika melepaskan ciumannya. Ia tak tahan, namun ia sadar, dirinya tak mungkin menerobos banjir bandang. Ia harus tetap sabar menunggu sampai banjir bandang itu surut. Walaupun begitu, ia puas telah mendapat ciuman pertama Nadya.


"Bibir kamu manis," ucap sekretaris Dika.


"Mmh, ma-makasih," Nadya malu dan gugup.


"Kamu kapan selesai?" tanya sekretaris Dika lagi.

__ADS_1


"Selesai apa?" jawabnya.


"Banjir bandang yang menghalangi anaconda-ku masuk. Kapan selesainya?" tanya sekretaris Dika.


Uhuk, uhuk. Nadya kaget, ia refleks tersedak, "Mm, i-itu, anu, tiga hari lagi juga selesai." jawab Nadya tak enak.


"Baiklah. Aku sudah tak sabar, Nad. Aku akan menunggu saat-saat itu!" ucap sekretaris Dika.


"Mm, ba-baiklah," Nadya benar-benar malu.


Sekretaris Dika pun duduk kembali di kursinya dan ia meneruskan sarapannya yang tertunda. Nadya pun memakan sarapannya, walaupun ia sudah tak fokus karena ciuman pertamanya dengan sang suami.


Sekretaris Dika akan mengantar Davian, dan Nadya akan pulang ke rumahnya. Nadya akan membawa baju-bajunya, dan mengontrol minimarket ke rumah Ibu Diah, Ibu dari sahabatnya. Sekretaris Dika akan mengantar Nadya terlebih dahulu sebelum menjemput sang Bos.


...🌸🌸🌸...


Sekretaris Dika sudah selesai mengantar Nadya pulang, dan ia pun kini sudah berada di rumah besar Davian. Hari ini, Davian ada meeting dan sekretaris Dika sudah berjanji akan menemani Davian. Davian sudah menolak, karena Sekretaris Dika harus cuti, namun Sekretaris Dika akan tetap masuk kerja saja, sebagai loyalitasnya pada Davian.


"Pagi Bro. Seger banget nih pengantin baru!" tegas Davian.


"Aeh, si Bos! Jangan gitulah, Bos. Cepet masuk!" ujar Davian.


"Woles dong, curut! Elu udah jadi pengantin pengennya cepet-cepet masuk aja deh. Kan harus pemanasan dulu," Davian terkekeh.


"Ah, sialan lu. Kemana aja tu mulut!" sekretaris Dika kesal.


Davian masuk kedalam mobil dengan berkas-berkas yang ia bawa. Sekretaris Dika segera melajukan mobilnya, dan mereka akan berangkat menuju perusahaan.


"Gimana, Dik?" tanya Davian.


"Apaan, Bos?"


"Anaconda lu pasti udah gak perjaka sekarang!" jawab Davian.


"Ah, elu bahasnya kesitu mulu. Diem ngapa. Gue lagi bawa mobil, ntar gue gak fokus!" tegas sekretaris Dika.


"Biasanya juga elu nyerocos mulu. Kenapa sekarang nyuruh gue diem? Lu berapa ronde, Dik?" tanya Davian.


"Bos, diem lu!" sekretaris Dika kesal.


"Kalo gue, ritme-nya cuma sepuluh menit. Tapi, gue selalu lakuin tujuh ronde, Dik. Lu itung aja, sepuluh menit kali tujuh udah berapa lama tuh. Ayo dong, lu cerita malam pertama lu. Payah lu!" sindir Davian.


Bos kampret. Gue belum malam pertama! Gimana bisa gue ngasih tahu elu berapa lama gue ngelakuinnya. Sialan emang nih orang, bikin gue naek darah aja. Kalau bukan Bos gue, udah gue ceburin lu ke got di kantor! Gerutu sekretaris Dika dalam hati.


"Males ah gue, ngapain ngomongin masalah pribadi. Elu malu-maluin aja, Bos!" tegas sekretaris Dika.


"Lu juga dulu nanya-nanya gue lu kampr*t! Emang nyebelin ku, licik sendiri." Davian kesal.


"Ah, sorry Bos. Dulu ya dulu, beda lagi sama sekarang." elak sekretaris Dika.


"Ayo dong cerita! Kita berbagi pengalaman sesama pria, Dik!" Davian terkekeh.


"Kagak bisa gue cerita, Bos." sekretaris Dika kekeh, tapi ia malu mengakui.


"Ayo cerita lu, dulu lu juga maksa gue!" Davian terus memaksa.


"Kagak, Bos!"


"Eh, kenapa sih lu lebay banget hari ini? Apa jangan-jangan?" Davian tersenyum jahil.


"Jangan-jangan apa?" sekretaris Dika sewot.


"Hahaha, apa aja boleeeeeeh!" Davian terus tertawa.


"Puas banget lu ya," sekretaris Dika marah.


"Ya makanya cerita."


Sekretaris Dika menghela nafas, "Gak ada yang bisa gue ceritain, Bos. Semalem gue sama dia tidur. Kita capek."


"Jadi, elu belum malam pertama sama istri lu? Kok bisa sih, secapek apapun, kalau itu tentang malam pertama, pasti semua orang juga akan semangat, Dik! Kok lu gak asik, sih." Davian puas.


"Banjir bandang Bos, banjir bandang! PUAS LO, HAH!" sekretaris Dika emosi.


Davian tak kuat menahan gelak tawanya, "Hahaha, sialan lu! Kenapa gak terus terang aja dari tadi? Sumpah, ngakak gue dengernya. Pantesan aja elu gak semangat. Ternyata, elu ular welang lu masih di penjara ye, Dik!"


"Anaconda, Bos. Anaconda! Lu puas banget sih, tunggu aja tiga hari lagi juga selesai kok! Gue bakalan ngeluarin jurus anaconda terhebat gue!" tegas sekretaris Dika.


"Hahaha, sumpah pengen ketawa gue. Ternyata, elu emang belum ngerasain surga dunia itu. Payah lu emang, kenapa tanggal nikah nya gak nanya dulu kapan jadwal si Nadya banjir? Kecewa kan lu." Davian tertawa puas.


"Heh, mana gue tahu kejadiannya kayak gitu. Elu bisa aja mencemooh orang. Emangnya, elu pas nikah gimana? Elu juga sama kan, bahkan lebih parah dari gue. Udah SAH, tapi malemnya elu gak bisa malam pertama. Padahal, Nona Arin gue yakin saat itu lagi gak halangan! Iya kan? Hahaha, sesama ngenes gak usah saling ngatain deh Bos! Elu bahkan lebih lama ngelakuin malam pertamanya. Iya kan?" sekretaris Dika membalas Davian.


"Si kampret emang! Itu kan beda kasus. Lu tahu kan gue nikah karena apa? Jangan samain sama elu, dong!" Davian membela diri.


"Ah, pokoknya lebih ngenes elu dari pada gue, Bos. hahahaha." sekretaris Dika puas sekali.


"Sialan, Dika kampret! Bisa aja lu balik-balikin omongan gue!" Davian kesal.


"Makanya, jangan mancing-mancing gue. Gue begini, karena siapa? Karena diajarin elu, Bos!"


"Ngomong lagi lu, gue potong gaji lu bulan ini!" Davian mengancam.


"Ah, mulai deh! Gak asyik lu, bawaannya ngancam-ngancam mulu."


"Lu harus ingat, peraturan paling paten di dunia ini. Satu, Bos tak pernah salah. Dua, jika Bos salah, kembali ke peraturan nomor satu. Paham kagak lu?" Davian membalas.


"Ah, rese emang lu. Harusnya, kita 1-1 Bos. Dah lah, gue ngalah. Karena, yang waras lebih baik ngalah aja!" ujar sekretaris Dika.


"Heh? Apa lu bilang? Jadi, secara gak langsung, lu bilang gue gak waras, Dik?" Davian emosi.


"Hahaha, baperan lu! Ternyata, selain bucin, elu juga Bos baperan ye! Paket lengkap deh gue punya Bos."


"Sialan curut! Gue potong gaji lu beneran, baru rasa lu!"


"Ah, ampun Bos ampun. Gue becanda! Gitu aja dimasukin ke hati lu!" ujar sekretaris Dika mengalah.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2