
Sebelum membaca, jangan lupa like dulu ya β€
Makasih... π€
Kediaman Orang tua angkat Nisha ...
Bu Ani dan Pa Adi, adalah pasangan suami istri yang sudah belasan tahun menikah. Pa Adi kini berusia 47 tahun, dan Bu Ani berusia 42 tahun. Mereka sudah lama sekali mendambakan seorang anak. Tapi, mereka tak kunjung diberikan seorang anak. Setelah di periksa, ternyata Bu Ani mandul. Hal itulah yang menyebabkan Pak Adi dan Bu Ani menyerah.
Hingga akhirnya Bu Ani mengadopsi anak dari panti asuhan. Bu Ani menginginkan seorang anak laki-laki, tapi Pak Adi menginginkan anak perempuan. Karena Bu Ani yang mandul, Bu Ani terpaksa mengalah dari suaminya karena di posisi ini ialah yang salah karena tak bisa hamil.
~FLASHBACK setelah kejadian Andra mencium Nisha.~
Bu Ani kini sibuk mengurus restorannya, sejak pagi sekali, ia sudah berangkat ke restorannya. Nisha tak berangkat kuliah, karena ia malu oleh semua temannya, dan Ibunya pun terlihat mendiamkan Nisha. Ia berpikir didalam kamarnya, dan merenungi perkataan orang tuanya kemarin.
Orang tua angkat nya meminta Nisha untuk pergi. Mungkin itu hanya gertakan saja, karena mereka kecewa pada Nisha, tapi Nisha betul-betul memikirkan kata-kata itu. Setega itukah kedua orang tuanya mengusir Nisha? Tiba-tiba, pintu kamar Nisha ada yang membuka. Ternyata, itu adalah Pak Adi. Ia masuk tanpa permisi, dan Nisha kaget. Untung saja Nisha sedang tak berganti pakaian.
"Pa-Pah ..." Nisha sedikit kaget.
Pak Adi mendekati Nisha yang sedang duduk di ranjang. Nisha heran, kenapa Pak Adi begitu membuatnya ketakutan. Nisha sedikit canggung, ia menggeser duduknya, karena Pak Adi terus mendekatinya.
"Kenapa menghindar?" tanya Pak Adi.
"Enggak kok, Pah. A-ada apa Papa kesini?" tanya Nisha begitu gugup.
"Aku akan memberimu keringanan, dan aku akan membiarkanmu tetap tinggal di rumah ini. Asalkan, kau harus mengikuti perintahku." ucap Pak Adi.
"Ma-maksud Papa, apa? Nisha gak ngerti." ucap Nisha sedikit takut.
"Kamu jangan pura-pura tak tahu! Kamu ini sudah dewasa, kamu harusnya mengerti. Ada hal yang aku inginkan darimu, jika kamu ingin tetap berada di rumah ini." ucap Pak Adi.
"Apa yang Papa inginkan dariku?" tanya Nisha.
"Aku ingin tubuhmu, untuk itu, layani aku, dan kamu bisa tetap tinggal disini, dan berkuliah seperti biasanya." Pak Adi menyeringai.
"Astaga, Papah ..." Nisha sungguh tak percaya dengan apa yang diucapkan Ayahnya.
Mata Nisha terbelalak. Itu sungguh tak mungkin, Nisha benar-benar tak ingin melakukan itu. Tapi, bagaimana Nisha menolaknya? Kalau Nisha menolak, mungkin saja Pak Adi pasti akan memaksanya. Nisha bingung, ia tak tahu harus bagaimana. Ia tak menyangka, jika Papa-nya seperti itu. Sakit hati, ternyata Papanya tak seperti apa yang Nisha bayangkan.
"Kenapa? Kita tidak ada ikatan darah. Aku tak akan membuatmu hamil, dan cukup layani saja aku ketika Mama mu tak ada di rumah." ucap Pak Adi.
"Ta-tapi, kenapa harus begitu, Papa? Kenapa Papa tak menyayangi aku selayaknya anak sendiri? Kenapa aku harus melakukan itu denganmu?" tanya Nisha.
Pak Adi sengaja memanfaatkan kesempatan ini. Kesalahan Nisha dijadikan alasan untuknya, agar bisa membuat Nisha takluk padanya. Sejak dulu Pak Adi selalu berpikir bagaimana cara agar bisa mendapatkan Nisha. Dan inilah saat yang tepat.
"Karena aku bosan dengan istriku, dan aku tertarik padamu. Untuk masalah uang, kamu tenang saja, Nisha ..." Pak Adi mulai mendekati Nisha.
Jantung Nisha berdebar tak karuan. Ia takut, ia sedih, ia ingin menjerit meminta tolong. Tapi, jika ia melakukan itu, mungkin Pak Adi akan semakin gila dan memaksanya. Nisha harus menggunakan cara cantik, agar Pak Adi tak curiga. Lelaki paruh baya itu mulai mendekati Nisha dan memegang tangan lembut Nisha. Ingin rasanya Nisha menampar lelaki gila itu, namun ia tetap sabar dan menahannya.
"Pa-Pah, maaf!" Nisha menahan tangan Pak Adi.
"Kenapa? Kamu mau menolak?" Pak Adi mulai terlihat emosi.
Nisha bergetar ketakutan, "Bu-bukan itu, Pah. Ni-Nisha, Nisha sedang halangan. Maafkan Nisha, jangan sekarang ya? Nisha gak mau kecewakan Papa." Nisha berpura-pura.
__ADS_1
Pak Adi terlihat kaget, "Ah, iya. Baiklah, maafkan aku. Akan kutunggu hingga jadwal mu selesai. Jangan bilang-bilang pada Mama-mu ya," bisik Pak Adi sambil mencium telinga Nisha.
"I-iya, Pah." Nisha terus berpura-pura.
Nisha benar-benar muak, dan ia jijik sekali pada Papa angkatnya. Pak Adi pun keluar dari kamar Nisha, karena kecewa tak bisa meniduri Nisha. Setelah Pak Adi pergi ke kantor, Nisha pun membereskan baju-bajunya dan segala perlengkapan pentingnya. Nisha sudah bertekad, akan kabur dari rumah ini.
Keadaan tak akan membaik jika ia terus menetap. Lebih baik Nisha hidup sendiri tapi ia bahagia, daripada Nisha harus melakukan hal itu dengan Papa angkat nya yang baj1ngan itu. Nisha pun pergi tanpa pamit dan diam-diam. Tak lupa, Nisha menuliskan surat untuk kedua orang tuanya, terutama sang Ibu. Dari sinilah, kehidupan Nisha dimulai, hingga beberapa bulan setelah itu, ia bertemu kembali dengan Calandra.
Flashback OFF.
...πΈπΈπΈ...
Davian sudah berada di rumah kedua orang tua angkat Nisha. Davian hanya mengajak Nisha dan Calandra. Arini tak ikut dengan mereka, karena Arini sibuk di rumah sakit, ada pasien yang harus di operasi sesar malam ini juga. Ketika mereka tiba, Bu Ani begitu kaget melihat Nisha bersama orang yang paling disegani dalam dunia bisnis, yaitu Davian Raharsya.
"Ni-Nisha ..." Ibu Ani memeluk Nisha.
Pak Adi yang melihat Nisha bersama dengan Davian begitu kaget dan tak percaya. Sungguh pemandangan yang tak dibayangkan sebelumnya, seorang Davian berada di rumah mereka. Bu Ani pun mempersilahkan Nisha masuk, dan menyambut Davian dengan segala hormat. Bu Ani sangat bahagia melihat Nisha berada di rumah ini lagi.
"Nisha, sayang ... Mama rindu sama kamu, ke mana aja kamu selama ini, Nish? Mama begitu merindukan kamu." Bu Ani terus memegangi tangan Nisha.
"Nisha baik, Ma. Nisha kangen sama Mama." Nisha tersenyum.
"Bukankah anda adalah Pak Davian? Pemilik Raharsya grup? Kenapa Pak Davian bisa datang ke rumah saya bersama Nisha?" tanya Pak Adi.
"Ada hal yang perlu saya bicarakan dengan kalian, selaku orang tua Nisha. Saya tak menyangka, ternyata Bapak ini orang tua Nisha. Bukankah kita pernah bertemu dan Bapak pernah mengajukan proposal kerja sama dengan perusahaan saya? Mohon maaf, siapa nama Bapak ya?" tanya Davian.
"Ah, iya, Pak. Tapi dari pihak perusahaan Bapak menolak kami. Saya Adi, Pak." ucap Pak Adi.
"Maksud Pak Davian?" tanya Pak Adi.
"Calandra, bicaralah ..." perintah Davian.
"Begini, Pak, Bu ... Saya Calandra, saya anak Papa Davian. Dan saya kesini, saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas perlakuan saya dulu pada kalian. Saya adalah penyebab Nisha diusir dari rumah ini. Saya adalah lelaki yang merusak dan mempermalukan Nisha. Oleh karena itu, saya mohon maaf sekali. Saya menyesal telah membuat Nisha diperlakukan tak adil seperti ini. Padahal, jelas-jelas ini adalah kesalahan saya." ucap Calandra.
Kedua orang tua Nisha sudah tahu, kalau memang anak Davian yang mencium dan mempermalukan mereka. Bu Ani dan Pak Adi pun meminta Andra agar tak terus-menerus meminta maaf. Mereka ingin lebih tahu, kabar Nisha, dan Nisha tinggal dimana sekarang.
"Nisha tinggal dimana sekarang? Mama rindu Nisha, Mama ingin Nisha tinggal disini lagi bersama Mama. Mama kesepian, Nisha. Maafkan Mama ..." ucap BU Ani.
Deg. Mendengar kata tinggal lagi disini membuat Nisha sedih dan kecewa. Nisha sudah tak ingin tinggal lagi di rumah ini. Ia sudah muak dengan Ayah angkatnya yang mengecewakan.
"Nisha tinggal di rumahku." jawab Davian tiba-tiba sebelum keduluan oleh Nisha.
Nisha menoleh tak mengerti. Tapi, ada baiknya Davian berkata begitu, daripada berkata Nisha ngontrak. Nisha takut, kalau Bu Ani memintanya untuk kembali tinggal di rumah ini.
"Kenapa Nisha bisa tinggal di rumah Pak Davian?" tanya Bu Ani.
"Saya suka dengan pribadi Nisha yang pintar dan cerdas. Saya memintanya untuk menjadi guru les bagi anak saya yang paling kecil." ucap Davian.
"Apa Nisha betah di sana, Nak?" tanya Bu Ani lagi.
"Betah banget, Ma. Nisha betah. Apalagi, istri Pak Davian benar-benar baik sekali pada Nisha." ucap Nisha.
"Sayang sekali, padahal Mama ingin Nisha tinggal disini lagi. Melihat Nisha sekarang ada dihadapan Mama lagi, rasanya Mama seperti mimpi. Mama butuh Nisha, karena Mama sibuk mengurus restoran, dan Mama ingin ada Nisha di samping Mama. Mama begitu kesepian, apalagi semenjak Ina mengundurkan diri, Mama jadi gak ada temen lagi. Hanya ada Bik Min saja. Mama begitu kesepian, Nisha." ucap Bu Ani seraya merayu Nisha.
__ADS_1
"Bu, siapa nama anda, maaf?" tanya Davian.
"Saya Bu Ani, Pak Davian. Saya Mama angkat Nisha." ia tersenyum.
"Apa benar pembantu Ibu mengundurkan diri? Kenapa Bu?" tanya Davian sambil melirik kearah Adi.
"Gak tahu, dia pergi gitu aja, dia bilang mau pulang kampung. Sedih saya, Nisha pergi, pembantu juga pergi. Saya kesepian sekali." ucap Bu Ani.
Davian tersenyum, "Bu Ani, maafkan saya. Saya tak bisa membuat Nisha tinggal di rumah ini lagi. Karena, saya sangat membutuhkan Nisha untuk mengajari anak saya. Tapi, apakah Ibu Ani membutuhkan seorang pembantu lagi? Jika iya, mungkin saya bisa membantu. Tapi maaf, saya tak bisa membiarkan Nisha tinggal disini lagi. Sebagai gantinya, saya akan memberikan pembantu untuk Ibu, karena bukankah kebetulan pembantu Ibu mengundurkan diri?" Davian tersenyum.
"Iya, kebetulan saya memang butuh pembantu. Karena Bik Min sudah tua, sudah tak bisa kerja berat-berat lagi. Di rumah ini saya selalu kesepian." ucap Bu Ani.
"Tapi, pembantunya masih muda, seusia dengan Nisha, apakah Ibu tak keberatan?" Davian menatap Pak Adi yang mati kutu.
"Tentu saja tidak. Saya dan suami saya sudah saling percaya. Kita tak akan terganggu, sekalipun pembantunya masih muda. Karena saya paham betul, suami saya begitu mencintai saya. Iya, kan Mas?" Bu Ani tersenyum pada suaminya.
"Ah, i-iya, Mama." Pak Adi malu.
Kenapa bisa kebetulan begini? Ternyata, mudah sekali kau masuk kedalam perangkap ku, Adi ... Batin Davian.
"Saya tak bisa mengembalikan Nisha pada Ibu, semoga Ibu mengerti. Tapi, sebagai gantinya, saya akan memberikan seorang wanita yang bisa menggantikan posisi Nisha di rumah ini. Dia bisa dipekerjakan, karena dia bekas pembantu di rumah sekretaris saya." jelas Davian.
Nisha semakin bingung kemana arah pembicaraan ini. Tapi, Nisha mencoba mengerti. Karena semua yang dilakukan oleh Davian itu pasti yang terbaik untuk Nisha.
"Mas, tidak keberatan kan kalau aku menerima tawaran Pak Davian soal pembantu baru?" tanya Bu Ani pada Pak Adi.
Tentu saja tidak, karena tadi dia bilang, pembantunya masih muda, bukan? Tentu saja itu membuatku tambah bersemangat. Batin Pak Adi.
"Tentu saja aku tidak keberatan, sayang. Jika kamu kesepian tanpa Nisha, mungkin wanita pengganti Nisha bisa mengisi kekosongan mu dalam menjalani hari-hari." Pak Adi merangkul Bu Ani.
"Terima kasih, kalau kalian mau menerimanya. Kebetulan, rumah sekretaris saya tak jauh dari sini. Apakah kalian ingin berkenalan dengan pembantu itu? Jika iya, saya bisa memanggil mereka sekarang." ucap Davian.
"Apa itu tidak merepotkan, Pak Davian?" tanya Bu Ani.
"Tentu saja tidak, Bu. Sekretaris saya terlalu banyak pembantu, dan karena istrinya cemburuan, jadi gadis itu diberhentikan. Sebentar, saya telepon dulu ya." Davian berbohong.
Davian pun pura-pura menelepon. Setelah selesai menelepon, Davian berbincang-bincang dengan Pak Adi. Davian berjanji, akan menerima projects kerja sama dengan perusahaan Pak Adi. Hal itu tentu saja membuat Pak Adi bersemangat dan berulang kali mengucapkan terima kasih pada Davian.
Selang lima belas menit kemudian, pintu rumah besar Bu Ani ada yang mengetuk. Davian sudah bisa menduga, itu adalah sekretaris Dika bersama dengan wanita yang sangat Davian tunggu-tunggu kehadirannya.
"Bu, mungkin itu sekretaris saya." ucap Davian.
"Ah, baiklah, tunggu biar saya buka pintunya." Bu Ani pun pergi membuka pintu rumahnya.
Nisha tak mengerti, karena ia memang tak diberi tahu sama sekali mengenai pembantu untuk kedua orang tua angkatnya. Davian hanya berkata pada Andra dan Nisha, agar mereka tetap diam dan mengikuti apa yang Davian perintahkan. Tak lama, pintu pun terbuka .... tiba-tiba,
"Selamat malam, semuanya ..." Sekretaris Dika menunduk bersama wanita yang berada di sampingnya.
Seketika itu pula, mata Pak Adi melotot tak berkedip. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
RENA? Batin Pak Adi, ia benar-benar kaget bukan main, melihat wanita itu ada dihadapannya.
*Bersambung*
__ADS_1